Selasa, 11 Agustus 2015

Selurik Sejarah Dan Kehangatan Dari Plantungan


Tuesday, August 11, 2015


"Nang, bisakah Jumat pagi ngantar mama monitoring?", tanya mama kepada saya malam itu.

Saya mengangguk. Ah, monitoring. Dulu ketika saya masih kecil, saya paling anti kalau diajak mama monitoring. Meski masih dalam kawasan Provinsi Jawa Tengah, tapi kegiatan tersebut bakal membuat kami menjelajah jauh ke pelosok suatu kabupaten atau kota. Saking pelosoknya, terkadang kami harus siap menghadapi segala kejutan yang bakal terjadi - seperti: jalan rusak parah, menembus jalan kecil di tengah hutan lebat, atau berjalan kaki melewati genangan rob dan pinggiran tambak.

Namun seiring bertambahnya usia serta semenjak saya menggemari traveling, saya mulai bisa berdamai dengan ajakan mama ini. Bahkan, saya mulai menikmati dan mensyukurinya. Dari monitoring-lah, saya justru bisa mengunjungi tempat-tempat asing, bertemu orang-orang baru, serta acapkali mendapat cerita dan pelajaran dari sana.

Termasuk, perjalanan mengantar monitoring pada Jumat pagi itu. Siapa sangka, kami bakal terdampar ke suatu daerah di Kabupaten Kendal yang ternyata memiliki nilai sejarah tinggi, agak kelam sekaligus seram. Kami juga bisa melihat pemandian air hangat yang tak pernah saya kira bakalan ada disana.

***

Dusun Plantungan, Desa Tirtomulyo, Kecamatan Plantungan, Kabupaten Kendal. Tulisan itu terbaca dari tanda yang menempel pada salah satu dinding rumah tepat di sekitar tempat mobil kami parkir. Seorang wanita berkerudung biru muda bernama Mbak Siti - menyambut mama, saya dan sopir dengan begitu ramah. Mbak Siti inilah yang menjadi tujuan monitoring mama saya.

Untuk menuju kesana, kami harus menempuh sekitar 1 jam perjalanan dari pusat Kota Kendal dan berjalan ke arah Sukorejo - melewati jalan berliku dengan tulisan "kawasan rawan tanah longsor" di beberapa titik. 

Mbak Siti berulang kali mengucapkan kata maaf karena telah membuat kami harus berkunjung ke desanya -yang menurut dia sendiri- begitu terpelosok. Saya dan mama hanya bisa tersenyum. Bagi kami: Dusun Plantungan meski jauh, tapi jalanannya sudah bagus dan nyaman. "Banyak yang lebih parah dari ini, mbak...", kata saya mencoba menenangkan.

Mbak Siti adalah salah satu mahasiswa di universitas tempat mama saya mengajar. Dia adalah salah seorang penerima bantuan dimana mama saya menjadi panitia penyeleksinya. Tujuan kedatangan mama - tentu saja untuk meninjau apakah bantuan yang diberikan telah digunakan sebagaimana mestinya. 

Sembari menunggu mama bekerja, saya pun keluar dari rumah dan melihat ke sekeliling. Rumah Mbak Siti tampak sederhana dengan dinding bangunan yang mayoritas masih menggunakan kayu. Sebuah taman kecil ada tepat di halaman depan rumah dimana dari taman itu saya bisa melihat pemandangan perbukitan hijau yang terserak di sekitar rumah.

Mengintip dari balik jendela rumah Mbak Siti

Saya langsung jatuh hati. Rumah Mbak Siti ini adalah bentuk rumah idaman kelak ketika saya telah menua. Rumah berdinding kayu dengan halaman yang bisa saya pakai untuk bercocok tanam seadanya. Ah, pasti hidup akan terasa begitu damai.

Menjemur kopi. Di Plantungan, banyak sekali orang yang menjemur kopi di sepanjang jalan. Kopi ini kebanyakan ditanam di kebun mereka sendiri. Kopi ndeso katanya.

***

Seusai dijamu oleh keramahan ala masyarakat pedesaan, Mbak Siti dan salah seorang tetangganya mengajak kami berkeliling dengan berjalan kaki. Mereka pun berubah bak pemandu, menjelaskan apa saja yang bisa dilihat di Dusun Plantungan.

Melewati jalan kecil dengan rumah-rumah tua terbengkalai di sisinya.

Menurut Mbak Siti, dusunnya memiliki cerita sejarah yang panjang dan agak kelam. Disinilah, pemerintah kolonial Hindia Belanda membangun rumah sakit khusus bagi penderita lepra atau penyakit hensen. Konon, penyakit tersebut dulunya dianggap sebagai penyakit berbahaya sehingga para penderitanya perlu diisolasi di tempat terpencil seperti Plantungan ini.

Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, Plantungan memasuki babak baru. Bekas rumah sakit itu kemudian dialihfungsikan menjadi kamp pengasingan bagi para wanita yang didakwa terlibat dalam aksi Gerakan 30 September. Para petinggi dan anggota Gerakan Wanita Indonesia (GERWANI) merupakan penghuni terbesar kamp, selain beberapa organisasi bawahan dari Partai Komunis Indonesia.

Kamp Plantungan pun berubah bak Pulau Buru-nya tahanan wanita. Setidaknya mungkin ada 500 wanita yang ditahan selama bertahun-tahun disini oleh karena "dianggap" (saya memakai tanda kutip, paham kan maksudnya?) berasosiasi dengan PKI. Tentu, mereka tidak sekedar ditahan tapi juga mengalami tindakan yang tak menyenangkan dan kelewat batas.

Kini, bangunan itu dipakai sebagai Lembaga Permasyarakatan Pemuda Kelas IIB. Beberapa tersangka tindak pidana korupsi di Provinsi Jawa Tengah pernah merasakan dinginnya sel tahanan disana. Namun, tak seperti suasana lembaga permasyarakatan pada umumnya - LP Plantungan terkesan tenang, bebas dan damai. Bahkan, ada semacam area berkemah yang bisa dipakai oleh umum di sekitaran sana.

Pos utama LP Plantungan

Beberapa bangunan yang dulu dipakai oleh petugas rumah sakit atau penjaga kamp pengasingan masih bisa dilihat sampai sekarang. Ada yang masih dihuni, ada pula yang dibiarkan terbengkalai. Kabarnya, bangunan tak terpakai itu kemudian telah berubah menjadi rumah bagi para penghuni tak kasat mata. Hal yang baru saya tahu belakangan.

Kabarnya, bangunan ini dulu adalah garasi kendaraan
 milik petugas rumah sakit

Rumah petugas LP

Saya suka jendela semacam ini.

Didorong oleh rasa cinta saya kepada bangunan tua, saya pun nekat berjalan ke salah satu bangunan dan mencoba mengabadikannya via kamera digital. Tiba-tiba, Mbak Siti menghardik saya dan berbisik pelan: 
"Mas, cepat mas. Keburu mereka menyadari.",bisiknya sembari menggerakkan salah satu tangannya - mengisyaratkan untuk segera menjauh.

A moment of freeze...and run.
Saya yang tak melihat satu pun petugas lembaga permasyarakatan berada di sekitar kami hanya bisa menunjukkan rasa bingung, "Hah? Kenapa mbak?".
"Keburu mereka tahu mas. Itu yang kamu foto - semacam markas mereka", bisik Mbak Siti kembali, sambil membentuk tanda mengutip dengan jari manakala menyebut kata mereka.
Glek! Saya paham sekarang!

Tanpa menunggu lama, saya langsung kabur menjauh. Kata ibu tetangga Mbak Siti yang ikut menemani, makhluk tak kasat mata macam apa saja ada di bangunan itu.
"Masnya mau ditinggal buat uji nyali apa?", tukasnya sambil tersenyum.
OH, TIDAK. TERIMA KASIH.


***

Selain bangunan tua, masih ada peninggalan jaman pendudukan Belanda tepat di belakang area lembaga pemasyarakatan berupa jembatan gantung. Jembatan sepanjang sekitar 20 meter ini membelah tepat di atas Sungai Lampir.

Sungai Lampir yang mengalir di bawah jembatan gantung

Tak ada yang tahu pasti kapan jembatan itu dibangun. Namun yang pasti, baik sejak Mbak Siti dan tetangganya masih kecil jembatan tersebut sudah ada. Selain alas jembatan yang telah diganti dengan anyaman bambu, seluruh komponen jembatan masih asli. Kami pun merasakan sensasi jembatan yang bergoyang-goyang ketika dilewati orang maupun tertiup angin.

Bambu jembatan gantung

Uniknya, jembatan gantung ini juga menjadi semacam garis pembatas wilayah antara dua kabupaten yang berbeda. Kalau tadi kami masuk melalui Plantungan yang masih merupakan wilayah dari Kabupaten Kendal, sedangkan sisi seberang merupakan wilayah dari Desa Sangubanyu, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang. 

Tepat setelah memasuki wilayah Kabupaten Batang, kami bisa menjumpai sebuah loket sederhana berwarna biru dengan tulisan "Tiket Masuk Per Orang Rp 3.000,00" tertempel di dinding atapnya. Seorang wanita tua tampak berjaga sembari terkantuk-kantuk ketika kami tiba.

Loket tiket

Ibu penjaga

Mbak Siti kemudian menjelaskan, kalau kami telah tiba di suatu kawasan pemandian air panas bernama Pesanggrahan. Dulu, pemandian air panas ini masuk wilayah Kabupaten Kendal tapi kemudian banjir bandang memisahkan area tersebut.

Saya berfoto di atas batu besar bukti keganasan
banjir bandang di masa lalu,


Ada semacam kebun binatang mini juga.Dan, ada kera di atas kera ini yang lepas ketika kami tiba. Semua pengunjung langsung lari menyingkir.
   
Sumber air panasnya sendiri ternyata berasal dari Kawasan Gunung Berapi Dieng. Ya, rupa-rupanya perbukitan yang tadi saya lihat dari rumah Mbak Siti ternyata adalah Gunung Prau dan beberapa bagian dari Dieng.

Terdapat bangunan pemandian permanen dengan kolam-kolam kecil disana, selain sebuah kolam renang yang saat kami tiba tengah disurutkan. Jika ingin yang lebih alami, pengunjung juga bisa memilih berendam pada kolam alami sepanjang aliran Sungai Lampir.

Tempat berendam

Namun, tidak semua tempat mengeluarkan air panas. Hanya beberapa - yang sekilas bisa dibedakan melalui batu warna kekuningan di sekitar cerukan air. Hati-hati, pada jam tertentu katanya terkadang yang keluar justru gas berbahaya.

Batu kuning. Oh, airnya agak sedikit berminyak.

Sayang, kami tak sempat mencicipi rasanya air panas disana. Kumandang adzan yang mengisyaratkan kalau waktu Sholat Jumat telah tiba - terdengar dari kejauhan. Belum lagi, kami harus mengunjungi subyek monitoring di tempat lain.

Kami pun berpisah dengan Mbak Siti serta tetangganya. Berulang kali, kami mengucapkan rasa terima kasih karena sudah dijamu dengan begitu hangat sekaligus telah diantar berkeliling desanya yang begitu luar biasa.

***

Kembali saya mengucap syukur. Ternyata, Allah selalu membuka jalan bagi saya untuk bisa melihat dunia dan seisinya melalui cara-cara yang tak terduga. Dan, mengantar monitoring ini adalah salah satu cara yang telah ditunjukkan lewat kuasa-Nya. 

Saya - Mbak Siti - Mama - Tetangga Mbak Siti - Mas Dwi.

0 komentar:

Posting Komentar