Jumat, 27 Mei 2016

Sosok Putmainah Ternyata Masih Keturunan dari Sunan Tembayat

Jumat, 27 Mei 2016 | 20:31


Putmainah semasa hidup. (Foto: sindonews)

BLITAR – Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Rabu (25/05/2016), pukul 02.30 WIB, Putmainah, tokoh gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) di Kabupaten Blitar tutup usia.

Mendiang Putmainah yang pernah menjabat anggota dewan (DPRGR), Fraksi Partai Komunis Indonesia (PKI) itu, meninggal dunia di usia yang ke 90 tahun.
Ia meninggal di kampung halamannya di Desa Pakisrejo, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar.
Putmainah merupakan eks tahanan politik (tapol) peristiwa 30 September 1965. Bahkan ia pernah merasakan disiksa dan menikmati pengabnya udara penjara wanita di Plantungan, Kabupaten Kendal, selama kurun waktu 10 tahun.
Penjara Plantungan yang ia tempat adalah bekas rumah sakit penderita kusta. Ia menikmati ruangan itu selama sepuluh tahun lamanya.
Di rumah duka, terpajang lukisan berukuran besar seorang lelaki tua, dengan kumis tebal melintang memakai udeng di kepalanya. Sosok yang ada dalam foto itu adalah almarhum KH Abdurrahman, kakek dari Putmainah.
Siapa KH Abdurahman itu? Ia merupakan pentolan anggota Laskar Pangeran Diponegoro yang bertugas memerangi pasukan Belanda pada zamannya.
KH Abdurahman adalah seorang pejuang dari Mataraman yang lari ke Jawa Timur, setelah pasukannya kalah dari Belanda. Sepanjang hidupnya, almarhum KH Abdurahman memiliki seorang putra bernama Haji Mansyur, yang tak lain adalah bapak dari Putmainah.
Haji Mansyur adalah seorang tokoh agama yang hafal Al Quran (hafidz) dan saat itu ia juga menjabat sebagai Ketua Sarikat Islam Merah Kabupaten Blitar.
Bahkan, dari catatan keluarganya, Putmainah sendiri masih memiliki hubungan darah dengan sosok penyebar Islam di Jawa Tengah, yakni Sunan Tembayat.
Selanjutnya, H Mansyur sendiri, pernah ditahan oleh penjajahan Belanda, karena terlibat peristiwa pemberontakan PKI tahun 1926.
Tidak hanya itu, H Mansyur juga terlibat dalam pemberontakan PKI Madiun 1948 yang dipimpin Muso dan membuatnya ditangkap kemudian dijebloskan ke penjara.
Dari perjuangan sang ayah, Putmainah banyak dikenalkan dengan dunia komunis. Namun, tak cukup mengenal apa itu komunis. Untuk memperdalam ajaran tentang Komunis, Putmainah dititipkan oleh sang ayah kepada Umi Sarjono, seorang tokoh Gerwani yang menjadi guru dan pelatih faham komunis.
Atas inisiatif Umi Sarjono, Putmainah ditempatkan di rumah Ibu Wardoyo, kakak kandung Bung Karno, yang berlokasi di Istana Gebang Kota Blitar.
Tak lama mendapat didikan langsung dari ayahnya, Putmainah ditinggal wafat ayahnya H Mansyur, pada tahun 1948.
Setelah ayahnya wafat, Putmainah memutuskan untuk aktif di organisasi Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Di organsasi itu, Putmainah digembleng untuk menjadi kader militan Gerwani.
Saat itulah, ia dipercaya menjadi anggota DPRGR Kabupaten Blitar, dari Fraksi PKI.
Sejak mendapat mandat itu, karir Putmainah terus naik. Ia menjadi sosok yang disegani.
Saat itu, Putmainah mulai berpisah dengan suaminya (Subandi) untuk selamanya. Subandi sendiri adalah Ketua PKI Kota Blitar, Ketua Front Nasional Blitar dan Ketua DPRGR (Sekarang DPRD) Kota Blitar.
Karena kondisi negara saat itu sedang genting,  mengharuskan ia pergi untuk menghindari tentara yang ketika itu sangat agresif menangkap siapapun yang teridentifikasi dalam barisan wanita (Gerwani),  kaum buruh (SOBSI), Pemuda (Pemuda Rakyat), petani (BTI) dan kebudayaan (Lekra).
Saat itu, Subandi, sang suami Putmainah, masih berada di Jakarta menghadiri Kongres PKI. Dalam pelarian politik dan menghindari kejaran tentara Angkatan Darat (AD) itu, tak ada secuilpun harta yang dibawa.
Selama tiga tahun, Putmainah hidup di hutan belantara. Diketahui, dia bersembunyi di gua gayas, di wilayah perbukitan kapur Blitar Selatan.
Untuk bertahan hidup, dari penulusuran penulis, Putmainah hanya bertahan hidup dengan makan dedaunan dan minum tetesan air di dalam gua.
Di dalam gua yang sempit itu, ia harus berbagi tempat dengan para pelarian politik lainnya. Ia hidup seperti kelelawar, malam hari baru bisa keluar gua untuk mencari makan dan air.
Sementara, siang harinya,  ia memilih untuk diam di dalam gua. Semua dia lakukan untuk menghindari kejaran tentara yang sangat agresif ketika itu.
Namun, persembunyian Putmainah pada akhirnya diketahui pihak tentara. Ia kemudian berhasil ditangkap. Diketahui, karena ada seorang pengikut PKI yang membelot melaporkan keberadaan Putmainah di dalam gua Gayas.
Akhirnya, Putmainah berhasil ditangkap. Setelah penangkapan itu, Putmainah langsung di tahan di Koramil daerah Lodoyo, Kabupaten Blitar. 
Dari Lodoyo, kemudian dipindah ke Kediri. Tak lama dari Kediri, Putmainah kembali dipindah ke penjara militer Madiun dan akhirnya di buang ke penjara Plantungan, Kabupaten Kendal.
Di Penjara Plantungan, Putmainah dikurung di penjara selama sepuluh tahun. Tak mau membuang waktu sia-sia selama di penjara, Putmainah mengisi kesehariannya dengan bercocok tanam.
Ia banyak membuat kerajinan tangan dan bermain kesenian. Setelah menjalani pengasingan dan tahanan politik selama 10 tahun, akhirnya Putmainah pulang ke kampung halamannya di Desa Pakisrejo, Kecamatan Srengat.
Bermodalkan dari menjual harta warisan mendiang suaminya, ia kemudian berdagang sayuran dan sembako.
Kemudian ia besarkan anak-anaknya seorang diri. Seluruh anak Putmainah mengenyam bangku perguruan tinggi kecuali si sulung yang hanya lulusan Sekolah Dasar, karena ia merupakan korban dari sejarah hitam G30 S/PKI 1965.
Putmainah sendiri, hanya lulusan Sekolah Taman Siswa di Tulungagung (setingkat SMP). Tahun 2003, setempel eks tapol terhapus dari  identitasnya (KTP) dan dia tidak lagi melakukan absen rutin di Koramil Srengat.
Putmainah juga kerap diundang sebagai pelaku sekaligus korban sejarah 1965. Tahun 2009, Putmainah dibawa ke Korea Selatan untuk menceritakan peristiwa kejahatan kemanusian G30 S/PKI 1965.
Banyak LSM, peneliti, mahasiswa yang datang ke rumahnya hanya mencari informasi untuk bahan penelitian.
Putmainah juga dikenal sebagai seorang tokoh yang suka dengan anak muda, tak heran jika ia didatangi oleh mahasiswa ia selalu menggelorakan semangat perjuangan.
Menurut pengakuan Farida Masrurin, yang pernah terlibat rekonsiliasi peristiwa 1965 bersama Lakpesdam Blitar, meski negara ketika itu melakukan perlakuan seperti itu, Putmainah mengatakan tidak merasa dendam meskipun ia juga tidak bisa melupakan apa yang dialaminya selama belasan tahun.
Masih dalam ingatan Farida Masrurin, sosok Putmainah dinilai adalah sosok yang sangat bijak dalam berpikir. (*)
Pewarta:Aunur Rofiq
Editor:Yatimul Ainun
Sumber: TimesIndonesia 

0 komentar:

Posting Komentar