Kamis, 22 September 2016

Dalhar Muhammadun: Penulis Tanah Berdarah di Bumi Merdeka


22 September 2016

Foto : Dalhar Muhammadun, Penulis Tanah Berdarah di Bumi Merdeka di kediamannya di dukuh Ngampon Kecamatan Blora

Blora- Tragedi kemanusiaan penumpasan simpatisan PKI (Partai Komunis Indonesia) terjadi di banyak tempat di tanah air, salah satunya di Blora.
Sekalipun PKI pernah menjadi partai penguasa di Blora, dendam politik yang terjadi pada masa lampau membuat PKI diposisikan sebagai musuh bersama. Tak ayal, ribuan simpatisan partai berlambang palu-arit ini meregang nyawa di Kota Mustika.

Dalhar Muhammadun adalah salah satu penulis tentang peristiwa berdarah ini. Ayah dua anak ini lahir di Blora tanggal 10 Maret 1971. Keluarganya memiliki kultur pesantren yang kental, hal ini dikemudian hari membuatnya aktif di berbagai organisasi bernuansa NU. Ketika menjalani studi di IAIN Sunan Kalijaga, Dalhar bergabung dengan PMII.
Ketika kembali ke Blora, Dalhar bergabung dengan GP Ansor Blora.

Bersama dengan komunitasnya, LPAW (Lembaga Penelitian Aplikasi dan Wacana) Dalhar mengumpulkan ingatan-ingatan yang tersisa dari para pelaku sejarah kelam Indonesia ini. Tujuannya, untuk meletakkan peristiwa penumpasan PKI tahun 1965-1966 di Blora sebagai suatu fakta sejarah.
“Tujuannya adalah penyelamatan data. Narasumber yang ada, saat itu telah berusia lanjut kini beberapa dari mereka telah meninggal dunia” jelasnya.
Dibutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk melakukan riset sebelum buku ini mulai ditulis. Banyak tangan terlibat dalam penyusunan buku ini. Tidak hanya dari Blora, bahkan dari beberapa komunitas dan perkumpulan turut serta membantu penyusunan satu-satunya dokumentasi sejarah penumpasan PKI 1965-1966 di Blora ini.
“Untuk proses penelitiannya membutuhkan waktu sekitar satu tahun, banyak yang terlibat dan sebagian besar riset ini dilakukan oleh anak-anak muda NU yang saat itu tinggal di Posko (Gedung NU Blora)” jelas Dalhar.
Sepanjang penyusunan buku Tanah Berdarah di Bumi Merdeka ini, Dalhar dan LPAW kerap menerima pandangan miring dari lingkungannya, komunitas masyarakat santri. Dalhar melalui bukunya ini berhasil mendokumentasikan kesaksian dari puluhan saksi mata dan pelaku sejarah penumpasan PKI 1965-1966 di Blora. 
“Reaksi lingkungan (masyarakat santri) sangat berat. Bahkan pernah ada pernyataan bahwa saya ini santrinya Pram (Pramoedya Ananta Toer) kok dijadikan sekretaris partai santri. Hehe” kenangnya.
Buku Tanah Berdarah di Bumi Merdeka : Menelusuri luka-luka sejarah 1965-1966 di Blora ditulis oleh Dalhar Muhammadun bersama dengan tujuh orang lainnya sebagai tim investigasi. Diterbitkan secara bersama oleh tiga lembaga, Yayasan Advokasi Transformasi Masyarakat (ATMA), Lembaga Penelitian dan Aplikasi Wacana, dan Perkumpulan Elsam. [.]

Repurter: Sahal Mamur
Foto: Tim Grafis Bloranews.com

0 komentar:

Posting Komentar