Minggu, 18 September 2016

Jong Madioner: Bela si Jawa Miskin, Lawan Penjilat Pantat Priyayi (Bagian 02)


Madioner. Frase itu aneh untuk nama samaran penulis di tahun 1914. Kata itu mirip Newyorker untuk menyebut orang-orang New York (Amerika Serikat), Londoner untuk warga kota London (Inggeris), dan Parisian untuk penduduk kota Paris (Perancis). Terkesan ada keinginan menjadikan orang Madiun sebagai kota masa depan yang khas, kosmopolit. Tak usah terlalu wah seperti Newyorker atau Londoner, cukup setara saja dengan Bataviasche, untuk
menyebut orang-orang Batavia. Kota Batavia yang kini menjadi ibukota RI,
selain sebagai pusat dagang VOC dan pemerintahan kolonial, juga menjadi kota
yang diangankan serupa Manhattan di Amerika Serikat.

“Madioner” adalah nama yang diciptakan koran mingguan Doenia Bergerak yang dihelat Mas Marco Kartodikromo dari Surakarta. Nama ini nyaris setiap edisi muncul di Doenia Bergerak bertarikh 1914. Artikel-artikel si Madioner ini umumnya menyangkut hubungan asimetris antara orang Jawa kecil dengan para penjabat pemerintahan, baik penjabat berdarah pribumi maupun kolonial. Tulisannya juga khas “laporan daerah” di seputar Karesidenan Madiun, termasuk Kedu dan bahkan hingga Denpasar dan Malang.
Baca DB No 5, “Menjamboet karangan Toean-toean Sambermata dan Wisanggeni”. Pembuka karangan ini menunjukkan bagaimana si Jong Madioner berbahasa dan si Jawa macam apa yang dibelanya: lugas tanpa basa-basi: 

Setelah kita batja karangan Toean-toean terseboet jang beralamat nasib tjilaka dan penjakit loemboeng desa, sesaklah dada kita, hati amat doekatjita mengeloearkan airmata karena belas kesihan merasakan nasib si Djawa”.

Si Djawa yang dimaksud Jong Madioner adalah si Djawa yang dihisap penguasa lokal yang berzirah seperti malaikat keadilan. Si Jong Madioner mengingatkan manusia busuk yang berkolaborasi dengan Kapitalisten macam begini dengan menulis: 

Ada seorang Regent mengakoe kaoem moeda, betoel-betoel aken membantoe orang ketjil membela kebenaran anak boehnja dan memegang adil. Kebetulan pada kaboepatennja hendak didirikan oleh Kapitalisten seboeh fabriek goela, waktoe itoe Kandjeng Regent tiada moefakat dan menjangkal keras akan berdirinja fabriek: apalagi menerangkan pandjang lebar betapa kesoesahan orang ketjil kalau disitoe ada seboeah fabriek, sebab sawah orang ketjil soedah terlaloe sempit. Dari ini dan itoe sampai maoe dibatalkan maksoed Toen Fabriek itoe. Akan tetapi dari pengaroehnja wang koewasanja harta moeloet telinga dan matanja Kandjeng Regent itoe, laloe ditoetoep dengan seboeah kereta motor (automobiel) djeboel mak kelekep si Regent-Rakoes tiada ambil keberatan sedikitpoen….”

Telak betul artikel ini untuk mengingatkan penguasa kabupaten yang rakus dan menindas rakyatnya sendiri demi uang si pemodal. Saya memang langsung mengingat artikel si Jong Madioner ini ketika memasuki perlimaan kota Madiun yang persis berada di gerbang kota dari arah timur saat melintasi “monumen” Pabrik Gula Rejo Agung yang masih beroperasi.
Kehadiran pabrik seperti ini, kata si Jong Madioner, menghancurkan sawah-sawah si Jawa Kecil.
Beginilah “Bangsa Tjeleng”, tulis Jong Madioner di DB No 7, 9 Mei 1914. Artikel ini bergenre satir saat Jong Madioner menyebut dirinya si Tjeleng. Tahu celeng kan? Betul, celeng itu babi, Sodara! B.A.B.I. Si Jong Madioner ini menamai dirinya si Tjeleng: 

Wel neen heeren! Biarpoen saja diseboet manoesia klas I, tetapi saja seneng sekali pakai ta’biat tjeleng, sifat manoesia ati tjeleng. Koerang pertjaja? Batjalah perdjalanan saja jang soedah saja lakoekan ini: 

1. Saja tida perloe toeloeng sesama manusia. Sebab, apakah perloenja? Saja ini manoesia klas I, kalau saja soeka toeloeng manoesia klas II nanti ta’oeroeng si klas II bisa djadi klas I, laloe sama dengan saja; itoe saja tida senang sekali. Bisa saja diseboet pinter itoe, lantaran ta’ada jang sama dengan saja. Djadi kalau manoesia klas II naik di klas I barang pasti, saja djadi orang loemrah sadja. Ha, itoe saja tida senang, mengerti?

2. Lagi, kalau jang djadi manoesia klas II tadi sebangsa dengab saja (bangsa sendiri lo, bangsa sendiri, djangan kliroe batja). Itoelah saja ada lebih tida soeka sama sekali kalau bisa sama dengan saja….”

Saya melihat karakter Madioner yang terbangun di panggung jurnalisme keras dan galak semacam Doenia Bergerak adalah “toekang kritik, toekang nyinyir”. Madioner adalah si kecil yang terus-menerus berteriak betapa “si toekang pendjilat” bukanlah teman, melainkan musuh. Mereka yang mau menjadi modern ala Eropa dengan cara-cara menjilat pantat. Inlanders yang payah yang mudah betul merendahkan bangsanya sendiri, namun kepada Eropa ia adalah penghamba dan penjilat pantat, kehilangan keberanian dan nyali sama sekali. Si Madioner ini menulis dalam DB No 10, 30 Mei 1914, “Toekang Pendjilat Pantat”: 

Tengoklah, bangsa sendiri dilarang bersepatoe, sedang bangsa pendatang ta’dilarangnja, bagoes; inilah namanja ‘Tjinta Bangsa’; jaaa??? Kita bandingkan begini sadja, oempama seorang Ass Wedana datang kehadepan Regent, bagaimanakah ia? Tentoe djongkok; bagaimanakah kalau seorang Tjina, bangsa particulier? Oempama datang kehadapan Regent itoe, tentoe dapat doedoek dikoersi atau berdiri, boekan?
Djadi, njatalah jang merendahkan bangsa kami itoe, ialah bangsa kami sendiri
joega. Oleh karena itoe bilamanakah lagi bangsa kami, Indiers, akan dipandang
moelia oleh bangsa2 jang moesafir ke NOI….”

Berada di Kota Madiun, walau cuma beberapa jenak, saya
selalu mengingat anak-anak muda Madiun sebagaimana karakter si Jong Madioner.
Modern, kosmopolit, dan maju dalam berpikir, tapi juga berangasan, pemarah,
kritis, dan pemberani ketika berhadapan dengan pribumi penindas yang
berkolaborasi dengan Kapitalisten. 
Jong Madioners, kalian keren!


“Nu, saluut!” tulis si Madioner.
(Bersambung)
Muhidin M Dahlan 

0 komentar:

Posting Komentar