Selasa, 27 September 2016

Islam Ternyata Agama yang Paling Sosialis dan Komunis

Eki Caesar Marhaban | 27 Sep 2016

Sumber gambar: http://marmusberdakwah.blogspot.co.id
Kebanyakan umat muslim menentang dan menolak keras paham Sosialisme dan Komunisme. Dengan alasan bahwa paham tersebut merupakan paham yang mengesampingkan agama dalam bagian kehidupan umat manusia.
Hal ini umum terjadi semenjak peristiwa tragedi G 30 S PKI. Dengan segala propaganda dan kepentingan asing pada pemerintahan saat itu, maka rakyat mempercayai bahwa paham Sosialis dan Komunis identik dengan ketidak percayaan terhadap Tuhan. Konspirasi tersebut sudah menjadi rahasia umum di era sekarang.
Idologi Sosialis dan Komunis berawal dari pemikiran Karl Marx yang pada masa industrial di Eropa banyak terjadi penyalahgunaan kekuasaan atas nama agama. Sehingga muncul iedologi tersebut yang mempengaruhi pemikiran masyarakat di era modern.
Sayangnya di Indonesia dan di sebagian belahan bumi yang lain, dengan mudahnya seseorang menghakimi sesat terhadap suatu paham tanpa menelitinya terlebih dahulu secara dalam. Hanya karena ada isu bahwa paham tersebut mengsampingkan agama lalu segera divonis sesat.
Janganlah dulu bersusah meneliti paham orang lain, prinsip dan paham yang dianut dirinya sendiri pun belum seutuhnya diresapi. Sehingga timbul generasi-generasi yang fundamental dan dogmatif. Mudah memvonis golongan di luarnya dan sulit memahami perbedaan.
Kesalahan terbesar manusia adalah ketika ia merasa benar dengan kebenarannya sendiri. Kebenara itu sifatnya relatif. Yang seharusnya dilakukan adalah menyerukan kebikan yang bersiat universal. Dengan itu maka ia telah melakukan yang benar.
Marilah kita ulas sesuai dengan judul tulisan ini bahwa Islam Ternyata Agama yang Paling Sosialis dan Komunis. Itulah yag jarang disadari kebanyakan kaum muslim itu sendiri. Yang malah berkoar menolak keras paham Sosialis dan Komunis.
Mari kita renungkan, dalam ajaran Islam, Allah menciptakan manusia tiada lain untuk beribadah kepada Allah, menjadi khalifah Allah di muka bumi dan memakmurkan bumi. Dengan cara bukan hanya ibadah ritual semata. Tapi juga sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama.
Dengan esensi tujuan penciptaan manusia saja membuktikan bahwa manusia hidup bukan untuk kesenangan diri dan memperkaya diri. Tapi untuk kepentingn memakmurkan bumi yang hasilnya tidak untuk dimonopoli sendiri tapi untuk umat manusia juga. Kekayaan dan karya dibaktikan untuk kepentingan sesama, sama rasa dan sama rata.
Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama. sudah tentu ini menitikberatkan bagi kepentingan sosial dan umat yang merupakan komunitas manusia. Komunis adalah demi komunitas yang dalam Islam disebut umat atau jama'ah.
Bahkan dalam ajaran islam, ditekankan menjadi manusia yang bermanfaat bagi alam semesta. Rahmatan lil 'alamin. Bukan hanya untuk umat Islam saja. Ini membuktikan ajaran Islam lebih banyak mengandung unsur Sosialis dan Komunis.
Dalam ibadah ritual shalat saja, laki-laki seharusnya shalat berjamaah yang akan menciptakan komunitas/ jamaah. dalam melakukan shalat pun sudah diatur dalam syariat secara detail sesuai mazhab-mazhab yang berlaku.
Ketika masuk masjid, tidak ada yang namanya si kaya, si miskin, pemimpin, bawahan, bangsawan, rakyat jelata, ulama ataupun awam. Semuanya sama rata dalam shaf shalat di masjid. Siapa yang datang lebih dulu, dialah yang berhak menempati shaf paling depan.
Begitu pula dalam hal berpuasa. Umat Islam selain berlatih mengendalikan diri juga dilatih untuk berempati terhadap saudara-saudaranya yang kelaparan di luar sana. Bagaimana rasanya tidak makan dan minum seharian seperti orang-orang yang tidak mampu.
Dalam ibadah zakat, banyak sekali jenis zakat yang diajarka dalam Islam. mulai dari zakat fitrah, zakat pendapatan, zakat kekayaan, zakat mal dan amal shodaqoh. Itu berarti umat islam diharuskan punya kepedulian dan ketangguhan sosial, bukan hanya ketanggugan pribadi.
Lihatlah umat muslim yang sedang beribadah haji, mereka semua menggunakan pakaian yang sama yaitu pakaian ihram sambil bersama-sama secara kolosal melakukan rukun haji. Semua sama rasa dan sama rata tanpa terkecuali.
Adapun yang belum bisa berangkat haji, masih bisa berkurban di tanah airnya, membagikan sebagian hartanya untuk yang lain, utamanya untuk kaum yang kurang mampu. Berbagi pengorbanan demi kebahagiaan orang lain.
Belum lagi dalam syariat-syariat yang lain, hampir sebagian aspek kehidupan umat islam telah diatur dalam kitab suci Al Quran yang bisa dikaji secara dalam dan ilmiah sesuai jaman. Tidak semaunya sendiri, ada kaidah-kaidah yang harus diikuti.
Kecuali syariat Islam yang dibuat oleh penguasa dan ulama pada masa lalu demi keefisienan di masa lalu, dikarenakan itu buatan manusia, masih mungkin untuk direvisi sesuai jaman saat ini dengan musyawarah ulama sesuai kemajuan teknologi.
Justru ideologi Islam banyak kemiripan dengan ideologi Sosialis dan Komunis. walaupun terdapat perbedaan fundamental, tetapi esensinya hampir sama. Dalam Islam lebih terdapat kebijaksanaan, keadilan tidak selalu harus sama rata tapi disesuaikan secara proporsiaonal.
Beda halnya dengan Demokrasi dunia barat. Segala sesuatu demi kebebasan individu. yang akhirnya malah memicu untuk berlomba memperkaya diri dan obsesi, bukan untuk kemaslahatan orang lain.
Memilih pemimpin pun dengan suara terbanyak. padahal yang terbanyak itu belum tentu baik. Tapi seharusnya dimusyawarahkan dan disepakati bersama sehingga adil bagi semua dan ditemukan pilihan terbaik.  
Untuk itulah, sebagai umat yang beragama, sudah sepantasnya meneliti dulu paham sendiri sebelum menghakimi paham yang lain. berintrospeksi dulu sebelum mengintrospeksi orang lain. Jangan langsung ikut-ikutan kebayakan orang, sabar dan teliti dahulu.
Bukankah yang banyak belum tentu benar, bisa jadi yang sedikit itu justru yang benar. Islam mengajarkan umatnya untuk berfikir. Karena Islam diperuntukan bagi orang-orang yang berfikir. Bukan untuk orang yang menelan mentah-mentah dalil lalu berkoar-koar tanpa berfikir dan meresapi, apalagi merasa paling benar dan menyalahkan orang lain.
Sumber: Qureta.Com 

0 komentar:

Posting Komentar