Jumat, 30 September 2016

Menyembuhkan Luka Perang; Catatan untuk sisa-sisa eks Tapol'65

Penulis: M. Faried Cahyono*

Pekerja di Monumen Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur, Rahmat saat membersihkan diorama Meyjen S Parman yang disiksa dalam tragedi G30SPKI. (Antara)

[1]


Persiapan pesta desa begitu meriah. Umbul-umbul dipasang oleh penduduk mengelilingi lapangan. Beberapa ternak dan unggas dipotong. Para ibu sibuk di dapur memasak makanan terbaik. Malam itu, warga desa keseluruhan,  laki-laki-perempuan, tua-muda, besar kecil akan menyampaikan penghormatan kepada Batalyon Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Pasukan Belanda sudah pergi dan Indonesia benar-benar mendapatkan kemerdekaannya pasca Agresi Militer II Belanda di akhir 1950-an itu. 

Malam pun datang. Lapangan desa penuh dengan manusia. Berturut-turut, kepala desa dan para tetua berganti menyampaikan sambutan. Mereka mengelu-elukan para tentara pelajar yang sudah mempertaruhkan jiwa dan raga, mempertahankan kemerdekaan. Kenyataannya, banyak tentara pelajar tewas dalam pertempuran melawan tentara Belanda. 

Tetapi, ketika sampai pada sambutan puncak yang disampaikan Komandan TRIP Jawa Timur, Mas Isman yang dihormati, suasana heroik yang tercipta mencapai anti klimaks. Di hadapan massa warga desa, Mas Isman meminta agar warga desa, para orang tua, para sesepuh desa tidak mengelu-elukan para pemuda tentara pelajar sebagai pahlawan. 

“Kami bukan pahlawan. Di usia kami yang masih sangat muda ini, tangan kami sudah penuh dengan darah. Kami sudah menjadi pembunuh sesama manusia. Jangan elu-elukan kami sebagai pahlawan. Tetapi, bantulah kami kembali ke masyarakat, agar bisa kembali menjadi manusia normal,” ujar Mas Isman sebagaimana diceritakan mendiang Yusuf Bilyarta (YB) Mangunwijaya kepada saya, saat wawancara panjang untuk Majalah Berita Mingguan (MBM) Tempo pada akhir Maret 1994. Wawancara panjang untuk rubrik memoar di Tempo itu tak sempat naik cetak. Lantaran majalah tempat saya bekerja waktu itu ditutup oleh rezim Orde Baru pada 21 Juni 1994. 

Ilustrasi di atas, saya sampaikan untuk menunjukkan kebesaran Mas Isman sebagai pemimpin perang. Begitu perang usai, ia ingin segala sesuatu kembali normal. Para pelajar yang tugasnya belajar harus kembali ke sekolah. Lantaran negara belum memiliki institusi konseling, maka dia minta masyarakat mengembalikan para pelajar yang tangannya sudah bersimbah darah itu kembali menjadi pelajar yang normal.

Mangunwijaya muda, yang kala itu usianya sekitar 17 tahun, bergabung dalam pasukan TRIP sebagai kelompok pelajar paling muda. Ia mengaku ikut berbangga menjadi tentara, meski di batalyon yang dipimpin Mas Isman hanya jadi unthul alias figuran tak penting. Tugasnya sebagai tukang angkut barang, bengkel mobil, dan pekerjaan yang dinilai tak penting lain di dalam pasukan besar pelajar itu. Tetapi, pidato Mas Isman itulah yang mengubah hidup Mangunwijaya. Seusai perang, Mangun memutuskan menjadi pastur untuk mengabdikan hidupnya bagi kemanusiaan.  

Sementara masa awal 1990-an itu, saya adalah wartawan muda yang beruntung. Kehausan ilmu yang sulit dipenuhi dengan membaca buku, banyak digantikan dengan mewawancarai berbagai tokoh. Sebagian di antaranya saya anggap sebagai guru. Ibarat santri kalong di pesantren jalanan, saya bisa memilih guru mengaji secara bebas ketika menjadi wartawan muda. Hasil wawancara saya rasakan luar biasa ketika saya tengok kembali saat ini. Dari pejabat, orang biasa, hingga para terpelajar berbagai kelompok. Bahkan mereka dengan status penjahat. Semua memberikan pelajaran penting dalam hidup.

Tentu saja saya mewawancarai banyak terpelajar Islam, karena saya berasal dari sana. Termasuk kalangan terpelajar Kristen-Protestan, Hindu-Budha, kebatinan, partai-partai yang tak diakui rezim Orde Baru, maupun yang bukan. Begitu pula wawancara dengan para mantan tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI), juga partai-partai Islam yang terlarang. Mereka terbuka diwawancara. Mereka meluangkan waktu ketika saya dalam tugas reportase atau hanya memanfaatkan waktu luang sekedar mencari tahu yang sesungguhnya terjadi pada masa lalu. Sekaligus minta penilaian mereka atas kejadian terkini.

Cerita Mangunwijaya tentang langkah Mas Isman, saya sampaikan kepada pembaca yang budiman untuk menjadi pembanding atas peristiwa konflik sosial 1965 yang ternyata masih belum dianggap selesai hingga saat ini. Ada kelompok orang yang masih merasa hidup dalam suasana perang melawan komunis dan menularkan situasi itu. Mereka merasa bahaya paham komunis harus diantisipasi dan dicegah. Apakah memang demikian? 

Saya sendiri memiliki pendapat atas peristiwa ini, juga bagaimana harusnya meresolusinya. Biar kongkrit, saya akan menceritakan lebih dulu tentang keluarga besar saya, sebelum sampai ke kesimpulan dimaksud. Maaf cukup panjang ceritanya.


[2]


Saya adalah generasi yang lahir pada 1965. Sejak saya dalam kandungan hingga saya berusia sekitar 10 bulan, keluarga kami selalu dalam kecemasan. Suasana perang antara PKI dan Islam terjadi di kecamatan Randublatung, Blora. Ayah saya seorang naib, penghulu tingkat kecamatan. Artinya, dia salah satu satu sasaran utama tingkat kecamatan. Suasana mencekam di tempat kami, sama dengan tempat-tempat lain, dimana basis PKI berimpitan dengan basis Islam.

Blora adalah daerah konflik berdarah. Dalam peristiwa pemberontakan komunis 1948 yang berpusat di Madiun, Blora ikut mendapat limpahan konflik. Pertempuran yang meluber hingga Blora, sebagaimana diceritakan beberapa narasumber saya, menewaskan banyak orang. Sesudah 1948, sekali lagi pada 1965, Blora kembali berdarah.

Selama saya tumbuh menjadi dewasa, berkali-kali ibu bercerita mengenai kejamnya situasi sebelum, selama, dan sesudah 1965 di Blora. Setiap malam, selama berbulan-bulan, seusai Magrib, bapak selalu keluar rumah hingga subuh hari. Para laki-laki yang bergabung dalam Partai Masyumi, baik dari NU maupun Muhammadiyah berkumpul di Balai Desa Randublatung, bersama tokoh-tokoh birokrasi desa dan kecamatan. Mereka meyakini pasti akan mati kalau PKI berkuasa. Karena itu, mereka siap mati dalam persiapan perang melawan PKI.


Ibu di rumah ditemani oleh kakak sulung saya yang masih kelas 5 SD dan adik-adiknya, termasuk saya yang masih dalam kandungan, dan kemudian lahir bayi. Suatu kali, saking takutnya, pernah ada seekor kodok yang sedang melompat dilempar dengan sandal. Sekedar mengecek, apakah kodok yang melompat itu kodok betulan atau bukan. 

Peristiwa 1965 itupun terjadi terlalu cepat dari rencana PKI. Itu memungkinkan pertempuran antar warga dengan warga yang di dalamnya ada tentara, dimenangkan oleh kelompok Islam. Yang menang di antara tentara, tentu saja tentara hijau. Saya ingin sampaikan cerita orangtua kami, bahwa TNI pun terbelah.  TNI merah di Blora yang kalah mengamuk membakar rumah penduduk. 
Ketika sampai di Kecamatan Randublatung, mereka sudah membakar toko-toko yang sebagian besar milik warga Tionghoa nasionalis dan kantor-kantor pemerintah. Kalangan Tionghoa pun terbelah, antara yang pro-PKI dan yang bukan. 

Ayah saya dan Pak Lurah Randublatung waktu itu, menurut ceritanya melakukan negosiasi yang berbahaya dengan pecahan kompi TNI merah yang membakar rumah, toko-toko Cina  di Randublatung. Negosiasi berhasil sehingga pembakaran bisa dihentikan dan tentara Banteng Raiders yang ngamuk diminta mundur. 

Mungkin karena peristiwa itu, keluarga kami dan keluarga pak lurah secara tradisional dihormati para orangtua di Randublatung, termasuk para Tionghoa sepuh waktu itu. Masa kecil itu, saya masih menyaksikan sisa-sisa rumah tetangga Cina pro-komunis dibakar persis di depan rumah kami serta beberapa petak lainya. Ibu dan bapak hanya cerita, bahwa rumah itu terbakar. Titik. Tentu belakangan saya dapat cerita dari kakak dan teman-temannya yang menyaksikan peristiwa itu.
Saya juga dapat cerita, bagaimana bapak terlibat penghentian perang dan berusaha menghentikan pembantaian.  Betapa sulitnya, karena apabila membela orang-orang yang dituduh PKI, salah-salah bisa dituduh pro-PKI. 

Tak hanya itu, bagaimana sulitnya mengatur keluarga sendiri yang ikut terlibat pula dalam pembantaian. Salah seorang paman jauh kami, astaghfirullah, sempat menjadi salah satu tim eksekusi PKI. Cerita begitu absurd. Suatu kali, dia bercerita pada kakak saya, ketika parang akan menghujam ke tubuh tertuduh PKI, ada tawanan yang sebelum tewas, berteriak “Allahu Akbar”. Ibu yang mendengar keterlibatan adik jauhnya itu lantas melarang keras dia bergabung dengan tentara.

Selama bertahun-tahun sesudah 1965, Blora masih saja panas. Semasa kecil, saya masih mendengar cerita tentang Mbah Suro Nginggil, seorang lurah dukun. Padepokannya menjadi tempat berlindung eks PKI yang kemudian dihancurkan TNI dengan penyerbuan berat. Pasti yang mati banyak. Anak-anak kadang menirukan bagaimana penyerbuan TNI itu, berdasar cerita kakak-kakaknya.  

Tetangga depan rumah saya, kebetulan pembuat cinderamata khas yang dijual ke padepokan Mbah Suro Nginggil, bangkrut sesudah padepokan hancur. Semasa kecil, ketika bermain menyusuri desa-desa, saya juga pernah menemukan gundukan tanah. Penduduk desa mengatakan itu kuburan orang-orang tak bernama. 

Apakah di antara keluarga kami tidak ada yang menjadi korban, dituduh sebagai PKI? Tentulah ada. Kakek saya dari pihak ibu, yang biasa dipanggil Mbah Nang, kebetulan bekerja di  Perusahaan Migas Cepu. Organisasi buruhnya dianggap bergabung dengan PKI. Akhirnya kakek yang sinder minyak dengan penghasilan mapan itu dikeluarkan dari kantor. Dia mengubah profesi menjadi juragan tahu. Saban sore, juga banyak santri mengaji di rumahnya. Tetap saja, Mbah Nang saya dicap PKI. 

Berkali-kali, kakek saya menjelaskan kepada petugas Kodim dan Koramil, bahwa ia adalah seorang kiai. Bahwa ia adalah guru ngaji keluaran pesantren besar ternama di Cepu dengan Kiai Usman sebagai gurunya. Tentu saja bukan dan tidak mungkin komunis. Tak ada kata ampun apalagi pengertian. Kakek saya tetap kena cap PKI.

Setiap pemilu di zaman Orba harus berkumpul di kantor Koramil dalam pengawalan tentara agar tidak mengacau situasi. Kakek dipermalukan begitu di sepanjang hidupnya. Hingga SMP sebelum pindah ke Yogyakarta, saya tumbuh bersama teman-teman yang sebagian tidak memiliki bapak. Sebagian besar Jawa, tapi juga beberapa Cina. 

Sekitar 1990-an akhir, ketika saya sudah tinggal di Yogyakarta, seorang tukang becak sepuh yang mangkal di dekat markas tentara Kenthungan, Jalan Kaliurang Sleman, bercerita. Tentang bagaimana batalyon TNI di Kentungan yang bergabung dengan PKI harus diganti, dievakuasi keluar batalyon, dalam suasana menegangkan. 


[3]

Mengapa perang tak juga selesai?
 
Sesudah perang dimenangkan tentara dan kelompok Islam, penyelesaian perang bukanlah mudah bagi semua. Kecurigaan berlebihan dan semangat menghabisi semua yang terdefinisi lawan terjadi.  


Saya ingin mengambil contoh kongkrit. Kali ini dari keluarga istri saya yang berasal dari Temanggung, Jawa Tengah. Almarhum ayah mertua saya sebelum peristiwa 1965 bekerja sebagai pegawai tata usaha di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP), Temanggung. Organisasi guru SMEP  dianggap berafiliasi ke PKI. Bapak mertua  yang mantan pejuang Islam Hisbulah itu, akhirnya harus keluar dari pekerjaannya.

Ketika melamar menjadi kondektur bus milik tetangga  pengusaha Tionghoa, dia dilaporkan intel ke penguasa tentara. Batal pekerjaan pengganti yang sudah di tangan. Juragan bus itu meminta maaf karena tak berani melawan perintah penguasa lokal yang mendapat masukan dari intel amatir yang juga tentangga sendiri. Keluarga ini akhirnya kesulitan ekonomi. Salah seorang kakak istri saya sempat dititipkan untuk diasuh pamannya.

Pemecahan masalah ekonomi akhirnya didapat. Bapak mertua yang ahli administrasi sekolah itu pindah profesi sebagai penjual makanan di rumah. Dia menjual hasil masakan ibu mertua. Sementara ibu mertua tetap mengajar sebagai guru SD. Hari yang berat dilalui dengan ibu mempersiapkan dagangan bapak sejak dini hari selama bertahun-tahun. Pekerjaan ini baru berhenti ketika anak-anak sudah selesai kuliah, bekerja dan menikah.

Penderitaan keluarga kakek saya dan keluarga mertua saya itu menguatkan secara mental. Semua anak mertua berhasil menjadi sarjana dan jadi orang. Semua anak kakek saya yang mantan sinder minyak dan berubah jadi juragan tahu, sukses semua jadi orang.  Sebagai orang beragama, kami mengatakan ini adalah berkah dari penderitaan. Tapi, sebagai seseorang yang mendapat kesempatan mendalami ilmu sosial,  saya bekesimpulan lain. Ada yang tak selesai dan itu membahayakan kehidupan berbangsa.

Ketika perang usai dan tak ditutup dengan usaha saling maaf, tak saling menyembuhkan luka bersama, maka perang akan berlangsung kembali. Teori konflik memang sesederhana itu jalannya.

Selama beberapa tahun mendapat kesempatan menyusuri bekas daerah perang seluruh Indonesia dan mengunjungi beberapa bekas daerah perang di negara-negara ASEAN, saya mendapat pelajaran. Tentang usaha para pihak di negara-negara itu. Tentang cara penyelesaian yang baik dan tentu saja ada contoh penyelesaian yang buruk.

Salah satu contoh penyelesaian ini,  silakan menilai baik atau buruknya. Di ladang pembantaian pinggiran Pnom Penh, Kamboja, saya menyaksikan di antara sisa-sisa mengerikan timbunan jenazah, tulang belulang, yang sesudah sekian tahun, tetap saja menyisakan bau anyir, Raja Norodom Sihanoek memerintahkan untuk mendirikan Pagoda.  

Sebagian kerangka yang jumlahnya amat banyak di tumpuk di Pagoda. Para pendeta Budha diminta mendoakan agar para arwah dihormati dan ruhnya tidak gentayangan. Di luar kepercayaan tentang dunia sesudah mati yang bisa saja berbeda-beda, kita melihat bagaimana negara membuat sebuah tindakan pengakhiran tragedi. Bahkan untuk para si mati.

Dalam kasus Indonesia, jika boleh menilai, Suharto sebagai pemenang perang membuat kesalahan dengan tak segera menutup perang dengan baik. Tentu saja menyalahkan Suharto yang sudah mati dan tak berkuasa lagi itu tidak ada gunanya. Saya mohon maaf untuk pak Harto dan pendukungnya. 

Tetapi, mengikuti Syariah Islam dalam praktek, memuliakan yang kalah dalam perang adalah wajib bagi pemenang. Gunanya agar perang tidak lagi terjadi, dan luka perang segera dipulihkan.  Kalau boleh menilai, rejim Suharto tidak melakukan itu sebagai pilihan.


Ia memilih jalan ekonomi populis bagi seluruh rakyat sebagai cara penyembuh luka. Cara membuat rakyat sejahtera agar lupa masa lalunya ini tak beda dengan yang dilakukan di Jerman. Kesejahteraan akan menyebabkan penderitaan rakyat terlupakan. Tetapi, jelas konteks Jerman yang kalah perang melawan sekutu, berbeda dengan Indonesia, yang perangnya terjadi antar warganya sendiri.
Tentu saja, tidak bisa diabaikan peran asing sebagaimana catatan-catatan sejarawan kita. Juga, dokumentasi CIA yang baru saja dibuka menyangkut peristiwa 1965, menambah catatan penting akan arti peristiwa ini. 

Menurut saya, catatan-catatan itu menegaskan bahwa peristiwa 1965 ini adalah bagian dari peristiwa perang semesta, yang kejadiannya terjadi di wilayah-wilayah pinggiran. Bukan terjadi di wilayah pusat Amerika, Eropa.

Tetapi tetap mensikapi para lawan bekas PKI dengan cara politik menghabisi, bahkan hingga ke keturunannya. Ada litsus, cap eks tapol bagi para bekas narapidana PKI. Anak-anak bekas PKI juga sulit mendapat akses sebagai pegawai negeri.

Riset yang kami lakukan dengan narasumber para bekas PKI dan keturunannya menunjukkan fakta  yang boleh mengurusi negara hanyalah mereka yang berasal dari keturunan bersih saja. Ibu saya, yang seorang ustadzah pun, dan berniat menyumbangkan pemikiran sebagai wakil rakyat di Blora, sudah menang pemilu. Ia yang dinilai mampu menarik suara terbanyak pada pemilu 1982, mewakili Golkar, gagal dilantik tanpa penjelasan. Dan segera tahu, statusnya sebagai anak kakek, yang tertuduh PKI, pasti sebabnya.


Bisa terjadi, ayah adalah pejuang anti PKI, sementara ibu (istri beliau) dituduh tak bersih lingkungan karena anak tertuduh PKI. Keluarga kami akhirnya tak lagi mendiskusikan soal itu.


Gerakan Reformasi
 
Sesudah reformasi, situasi ini dipecahkan oleh Habibie. Di Sleman, saya menyaksikan teman main bola masa saya jadi mahasiswa, yang anak PKI Sleman keluaran pulau Buru, dapat menjadi anggota DPRD dari PAN. Hak-hak politik dipulihkan. Namun, keteraturan berpolitik di Indonesia baru dalam tahap belajar. Habibie sang pembuka pintu demokrasi tak diinginkan duduk berlama-lama jadi presiden. Ia diganti Gus Dur, tapi juga hanya sebentar duduk sebagai presiden, karena lemah dalam manajemen orang.


Dalam penyelesaian konflik dengan cara menghindari konflik berdarah, juga masih sulit dilakukan. Ketika Megawati menjadi presiden, pada awal pemerintahan dia melakukan kunjungan ke Aceh. Di Masjid Baiturahman Banda Aceh, anak Sukarno ini dengan berani mengakui kesalahan pemerintah RI terhadap Aceh. Namun kita tahu, sesudah itu ada darurat militer di Aceh yang ditandatangani oleh Megawati.
Apa yang terjadi, baik di pihak pemerintah RI ada faksi TNI yang ingin perang, dan di pihak Aceh, ada tokoh-tokoh GAM yang ingin perang? MPR maupun para aktivis perdamaian tak mampu menahan itu.

Apa yang menjadi latar belakang perang itu? Salah satunya, menurut sumber-sumber yang saya wawancara, adalah ada ketakutan di pihak pemerintah RI, bahwa pihak-pihak yang terlibat kekerasan di masa Orba, dalam hal Aceh adalah soal daerah operasi militer , akan diadili. Sementara dari pihak Gerakan Atjeh Merdeka (GAM) waktu itu, jika damai tercapai, maka perannya akan surut.
Partai-partai politik di Aceh pasca Orba, masih kuat dibanding GAM, jika dilakukan demokrasi penuh.

Sisi yang lain, menurut analisisis seorang jurnalis senior Aceh yang saya wawancarai, ketika Megawati menyampaikan permintaan maaf di masjid Baiturrahman itu, seharusnya segera ditindaklanjuti dengan mendata berapa jumlah korban DOM di Aceh, berapa janda dan anak-anak akibat DOM. Itulah yang kemudian disantuni negara. Perang pun selesai tanpa harus mengadili para jenderal. 


Prinsip hukum Islam substantif ketika pengadilan tidak bisa diterapkan atas terdakwa yang mewakili negara, tidak diterapkan di Aceh. Pada kenyataannya, wilayah-wilayah konflik di Indonesia pasca reformasi, seperti Ambon, Poso, Aceh, Kalbar, Papua, diselesaikan dengan tanpa pengadilan.

Karena itu, ada dua soal menyangkut, bagaimana menutup perang berdasar nilai-nilai Islam dan nilai agama itu, dimasukkan berdasar prinsip HAM yang saat ini digunakan secara universal.

Untuk kasus 1965, ketika negara tidak menyelesaikan menyelesaikan perang dengan sebaik-baiknya, tidak membangun peradaban berdasar nilai-nilai kemanusiaan yang utuh, dimana yang menang memuliakan yang kalah, sudah pasti perang akan berkelanjutan.

Dan karena puak Islam yang menang, mestilah mengambil nilai-nilai yang baik dari nilai ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Termasuk, sebagaimana yang dilakukan Mas Isman, mengembalikan para pelaku perang, kembali menjadi manusia normal. Pelakunya tidak hanya masyarakat, tetapi negara.
__________________
* M. Faried Cahyono, Jurnalis senior, peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian UGM

https://kabarkota.com/menyembuhkan-luka-perang-catatan-untuk-sisa-sisa-eks-ae65-tulisan-pertama/

0 komentar:

Posting Komentar