Rabu, 07 September 2016

HTI Lebih Berbahaya Dibanding PKI

September 7, 2016
Oleh:  


Mahasiswa UI, Boby Febri Krisdiyanto, kemarin sempat menjadi pusat perhatian. Bukan karena prestasinya yang cemerlang, tapi karena mahasiswa keperawatan ini berpidato di depan gedung UI menggunakan jas almamater dan menyerukan menolak pemimpin kafir Ahok.

Bagaimanapun Boby meminta maaf secara resmi. Dalam suratnya dia mengaku bersalah karena menggunakan properti UI seperti jas almamater dan depan gedung rektorat. Sebatas itu. Tidak ada pengakuan berasalah dalam ideologi dan pendapatnya yang meghimbau masyarakat Jakarta untuk tidak memilih Ahok karena kafir.

Dari video 3 menit yang diunggah, saya melihat ada sesuatu yang sangat buruk dari pola pikir anak ini. Dia tidak hanya menolak Ahok karena kafir, tapi juga menyerukan agar mengubah sistem pemerintahan yang syariah dan khilafah. Lengkap dengan pekikan nama Tuhan.

Video ini muncul bersamaan dengan aksi HTI menolak Ahok. Boby ini ibarat Felix, tidak turun ke jalan tapi bergerak di sosmed. Materi mereka sama, khilafah, syariah, hukum Allah dan rujukan Alquran.

Jika saya rektor UI, hari ini Boby pasti sudah saya drop out karena alasan menyinggung SARA dan ini melanggar UU ITE Pasal 28 ayat (2):
“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).”

Tapi ya sudah, apapun keputusan UI itu merupakan otoritas mereka. Soal hukum, biar pihak berwenang yang memprosesnya. Di sini saya akan membahas tentang ideologi terstruktur, sistematis dan massif yang dilakukan oleh HTI.


HTI lebih berbahaya ketimbang PKI

Beberapa bulan lalu ada isu kebangkitan PKI. Isu ini bukan dihembuskan oleh anak kemarin sore atau mahasiswa, tapi mantan Jenderal. Kivlan Zein. Beliau serius menyatakan PKI sudah terbentuk dan memiliki ribuan kader pendukung tersebar di seluruh Indonesia.

“Sebelum mereka bangkit, pukul duluan. Perang… perang.. perang…!” ucap Kivlan Zein saat berorasi di depan FPI.

Banyak yang penasaran dan sudah takut duluan, terutama mereka yang tak paham PKI itu apa. Beruntung provokasi tersebut mendapat respon dari menteri-menteri Jokowi. Dengan jelas membantah itu semua hanya dongeng fiksi, omong kosong.

Hal menarik dari isu ini adalah embel-embel pelengseran dan tuduhan hoax bahwa Jokowi PKI. Media dibuat sangat berisik terkait PKI, padahal semua hanya karangan fiksi.

Tapi mengapa masih banyak yang takut dan terprovokasi isu PKI? jawabnya karena dulu PKI melawan pemerintah, berontak dan terjadilah perang saudara. Masyarakat menakutkan hal tersebut terjadi lagi. Sebenarnya wajar. Namun melihat kondisi politik dan arus informasi di Indonesia sudah jauh lebih baik, seharusnya kita perlu mengkhawatirkan kebangkitannya.

Sekarang partai politik ada banyak. Jangankan partai baru, yang sekelas Demokrat pemenang dua kali pemilu pun bisa jatuh sangat dalam dalam pemilu 2014 lalu. Bahkan di pilkada, Demokrat hanya jadi partai gurem. Jadi kalau PKI mau bangkit, secara hitungan politik, tidak akan ada yang tertarik, apalagi kalau tidak ada donaturnya.

Dibanding isu kebangkitan PKI, ada sesuatu yang jauh lebih buruk, yakni HTI. Ormas ini sangat terorganisir dan terus mendengungkan “khilafah.” Menolak demokrasi, tidak mengakui pancasila atau UUD. Apalagi hormat bendera, haram bagi mereka.

FPI juga sebenarnya sama, kerap menyerukan khilafah, ingin mengubah sistem demokrasi yang kita pakai saat ini. Bedanya HTI melalukan pengkaderan yang sangat massif dengan beragam modus.

Pernah seorang teman diajak untuk ziarah ke makam wali. Rombongan. Gratis dan diberi makan. Teman saya tersebut girang. Tapi hasilnya? Memang diajak ziarah, tapi sangat sebentar, sekitar sejam. Sementara lebih dari 5 jam tausiyah khilafah dan doktrin HTI.

Cerita semacam ini dialami oleh banyak orang. Saya yakin mayoritas pembaca seword.com pernah mendengarnya dari teman atau keluarga terdekat.
Selain upaya perekrutan dan doktrin, HTI juga memiliki buku yang terbit setiap tahun. Belum lagi buletin dan sebagainya. Salah satu bukunya yang saya baca berisi artikel dangkal dan hoax. Mereka tak peduli dengan materi isu dan hoax, yang penting bisa menyudutkan pemerintah. Salah seorang ibu-ibu yang mendapat buku tersebut awalnya diajak seminar gratis. Temanya juga tentang “wanita.” Namun sepanjang seminar ternyata malah didominasi doktrin khilafah.

HTI juga pernah mengadakan rapat akbar di stadion GBK, penuh sesak mirip kampanye Prabowo. Mungkin lebih dari 100 ribu orang ada di sana mendengarkan orasi pimpinan HTI. Sepanjang acara, HTI menyerukan sistem syariah islam dan penegakan khilafah. Agar negara ini bebas dari masalah.

Salah seorang teman saya yang waktu itu diajak ke sana bercerita bahwa siapa saja yang mau ikut mendapat fasilitas transport dan makan gratis. Bahasa promosinya “sekalian jalan-jalan gratis ke GBK.”

Di luar itu saya kurang tau bagaimana HTI bergerak menggalan massa. Namun yang patut dicatat adalah biaya operasional mereka luar biasa tinggi. Acara seminar, buku, ziarah sampai rapat akbar semuanya menawarkan fasilitas gratis. Tentu menarik jika HTI bisa diaudit dan dicari tahu siapa donaturnya.


Menyasar berbagai elemen

Mahasiswa merupakan kelompok yang paling rentan dipengaruhi. Mereka masih baru bisa berpikir, idealis dan semangat. Sekali didoktrin “demi tegaknya Islam” mereka bisa melupakan banyak hal.

Strategi ini mirip dengan PKS. Bedanya di PKS ada iming-iming level kaderisasi. Ibarat PNS, ada eselon satu duanya. Semetara di HTI murni demi khilafah, atas nama Allah dan Islam.

Dari dulu saya bertanya-tanya, mengapa mereka menyasar mahasiswa? Belakangan baru saya paham bahwa mahasiswa adalah sasaran paling mudah dan potensial. Setelah mahasiswa lulus dan berkarir, di situlah cengkaraman HTI menancap. Meskipun sejauh pantauan saya masih belum terlalu berhasil karena kebanyakan HTI adalah wiraswasta dan guru. Namun satu dua orang pasti sudah ada yang menjadi anggota HTI. Dalam teori marketing dan promosi, hal seperti ini wajar. Sama seperti mereka mensubsidi orang agar ikut acaranya, tak semua jadi kader HTI, tapi beberapa pasti ada yang berminat.

Pergerakan seperti ini sangat bahaya. Saat mereka menyerukan “jihad jihad jihad,” diiringi misi menegakkan sistem khilafah dan syariat islam di Indonesia, yang terbayang jelas adalah pemberontakan. Ragam pemberontakan kecil seperti tidak mau hormat bendera karena dianggap haram, tidak mengakui pancasila dan menentang sistem demokrasi.

Saya tidak dapat membayangkan jika HTI sudah terlanjur besar dengan massa 1 juta orang. Rasa-rasanya perang saudara dan pertumpahan darah seperti gejolak timur tengau akan terjadi di Indonesia. Satu-satunya alasan mereka hanya bisa berontak dalam pernyataan dan media, karena mereka belum memiliki kekuatan massa yang besar dan sumberdaya.

Catat, massa dan sumberdaya. Satu-satunya alasan mengapa PKI memberontak dan ingin mengubah sistem Indonesia menjadi komunis adalah karena PKI memiliki massa dan sumberdaya. Alur PKI dan HTI sama. Sekarang mereka dalam proses perekrutan dan penggalangan massa.

Bedanya, jika PKI merupakan Partai Komunis dan tidak akan laku lagi di era sekarang, HTI punya alasam mutlak yang tidak mudah dibantah oleh orang awam. Coba sekarang kalau HTI bilang “jangan tinggal di bumi Allah kalau tak mau menegakkan hukum Allah.” Anda yang belum pernah ngaji mungkin akan langsung terhenyak dan tiba-tiba sudah masuk dalam arus doktrin HTI. Unsur fanatisme terhadap agama dan janji surga merupakan unsur yang bisa menghipnotis banyak kalangan.

Target mereka jelas orang islam, kalangan mayoritas warga Indonesia. Selain janji surga tentu saja potensi bagi-bagi kekuasaan jika HTI berhasil mengambil alih Indonesia menjadi sistem khilafah. Coba sekarang bayangkan kalau mereka sudah berhasil terapkan khilafah, elemen pendukung seperti pemimpin dan majelis syuro nya kan harus dari HTI sendiri.

PKI dan HTI sama saja, mereka mengincar kekuasaan dengan dalih menawarkan idologi dan sistem pemerintahan yang lebih baik. Bedanya, HTI juga menjanjikan surga dan mengancam neraka bagi yang menolak. Atas nama Islam, jihad dan Allah. Inilai nilai plus yang membuat saya berkesimpulan seperti judul artikel ini, HTI jauh lebih berbahaya dari PKI. Semakin besar massa dan sumberdaya HTI, semakin besar pulalah kemungkinan Indonesia bergejolak.

Terakhir, entah apakah ada kaitannya antara HTI dan isu PKI yang didengungkan Kivlan Zein saat berorasi di depan anggota FPI. Namun menarik karena kemudian isu PKI mendadak hilang ketika Mendagri menyatakan sudah membubarkan ormas islam besar yang anti pancasila. Dan saat isu PKI usai, janji Mendagri membubarkan ormas anti pancasila terbesar di Indonesia jadi terlupakan. Katakanlah ini sebuah kebetulan, tetap saja kebetulan yang luar biasa.
Begitulah kura-kura.

0 komentar:

Posting Komentar