“Menurut taksiran, korban yang dieksekusi dan dibuang di lokasi ini tak kurang dari 2.000 orang”, kata saksi sejarah sambil menunjukkan lokasinya [Foto: Humas YPKP]
SIMPOSIUM NASIONAL
Simposium Nasional Bedah Tragedi 1965 Pendekatan Kesejarahan yang pertama digelar Negara memicu kepanikan kelompok yang berkaitan dengan kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66; lalu menggelar simposium tandingan
Sejumlah dokumen diplomatik Amerika Serikat periode 1964-1968 (BBC/TITO SIANIPAR)
MASS GRAVE
Penggalian kuburan massal korban pembantaian militer pada kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66 di Bali. Keberadaan kuburan massal ini membuktikan adanya kejahatan kemanusiaan di masa lalu..
TRUTH FOUNDATION: Ketua YPKP 65 Bedjo Untung diundang ke Korea Selatan untuk menerima penghargaan Human Right Award of The Truth Foundation (26/6/2017) bertepatan dengan Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Korban Kekerasan [Foto: Humas YPKP'65]
Dia berkampanye memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, bergerilya-kota melawan Nazi-Jerman, serta membela kemerdekaaan Indonesia saat agresi Belanda.
Aboeprijadi Santoso, Kontributor/Amsterdam
Senin 24 Februari 2014 WIB
RM Djajeng Pratomo di usia tua (kiri) dan mengenakan kostum tari Jawa (kanan).
Foto: Aboeprijadi Santoso.
RADEN Mas Djajeng Pratomo genap seabad pada 22 Februari 2014. Hidup mandiri di apartemen di desa ‘t Zand...
8:41 AM
“Kita wajib membikin peraturan guna membongkar fitnah, tanpa memandang apa bangsa dan agamanya.”[1] – Mohammad Misbach
Misbach berseru kepada kaum Muslim untuk fisabillilah melawan
penindasan. Rentang waktu antara bulan Desember 1918 hingga 7 Mei 1919,
Misbach membikin tulisan-tulisan provokator, mencoba menggerakkan kaum
Muslimin, dalam hal ini petani. Tulisannya mengajak massa petani
bersatu-padu menggalang kekuatan lewat...
Penulis: Ignatius Dwiana - 07:27
WIB | Minggu, 23 Februari 2014
Dari kiri ke kanan, Basuki
Raharjo, Indro Suprobo, dan moderator Ruth Indiah Rahayu. (Foto: Ignatius
Dwiana)
JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Kuatnya tekanan tidak menghilangkan ingatan. Tetapi dapat
membuat orang kehilangan kata-kata tentang riwayat kehidupan keluarga untuk
sementara. Hal ini dialami Basuki Raharjo.
Basuki Raharjo mempunyai bapak seorang anggota PETA
(Pembela...
20 Februari 2014 | 21:22
Sosok Tan Malaka memang pantang surut. Kendati sudah
lama mati berkalang tanah, tetapi pikirannya masih sangat ‘diwaspadai’.
Seperti katanya sendiri: “Dari dalam kubur suaraku akan jauh lebih keras
daripada diatas bumi.”
Tanggal 7 Februari lalu, acara bedah buku Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia jilid
IV, yang sedianya digelar di Perpustakaan C2O di Jalan Dr Cipto,
Surabaya, gagal terlaksana. Penyebabnya,...
15 February 2014 | Fathimah Fildzah Izzati
POGROM ’65 bukan hanya sekedar menghancurkan gerakan massa yang kuat, lebih dari itu adalah dihancurkannya karakter kebangsaan yang penuh dengan harga diri. Suatu karakter kebangsaan yang menempatkan nilai-nilai solidaritas, kesetaran, keadilan sosial sampai dengan kemandirian dalam kesadaran normatif masyarakatnya. Tidak heran, jika pasca ’65 Indonesia hampir bisa dikatakan kehilangan...