Tampilkan postingan dengan label PKI 1948. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PKI 1948. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 29 Februari 2020
Kisruh di Awal Kemerdekaan
Andreas JW - 29 Februari 2020
Tidak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan, Pemerintah RI
mengeluarkan Maklumat Pemerintah 3 November 1945 tentang seruan pembentukan
partai-partai politik, dalam kaitan rencana Pemilu pada 1946. Sejumlah partai
pun berdiri, antara lain Partai Masjumi, Partai Kristen Nasional, PNI, Partai
Sosialis, Partai Katolik, PBI, PKI dll.
Sedangkan Mr. Mohammad Jusuf dan Mr. Suprapto
(Yusuf-Suprapto) telah mendeklarasikan berdirinya "PKI", sejak 21
Oktober 1945. Tapi partai pimpinan Yusuf-Suprapto itu belakangan menimbulkan
masalah. Karena, banyak kaum komunis dan tokoh-tokoh komunis eks-Digul tidak
mau bergabung.
Rewang dalam memoarnya, "Saya Seorang
Revolusioner", mendeskripsikan suasana di Kota Solo begini: "...
Suatu hari, ketika sedang tugas jaga di suatu tempat, saya melihat ada orang
memasang plakat yang berisi pengumuman dibangunnya kembali PKI. Sontak saya
tertarik... Maka selesai menjalankan tugas, saya bersama seorang teman bernama
Suripto, medaftarkan diri ke kantor pendaftaran di daerah Laweyan, Solo...
... Namun saya merasakan ada gejala lain yang menunjukkan
ketidakwajaran. Sebab sejumlah tokoh-tokoh eks-Digoel serta aktivis-aktivis
revolusioner muda di Solo, justru tidak mau bergabung dengan PKI pimpinan
Yusuf, S.H. dan Suprapto, S.H., tersebut. Setahu saya, mereka antara lain
Ronomarsono, Achmad Dasuki Sirad, A. Rojis, Daliman, Sunaryo, Suprapto,
Suharti, dan Tumini. Gejala yang tidak wajar ini mencerminkan adanya
ketidakberesan, pikir saya..."
Dideklarasikannya partai pimpinan Yusuf-Suprapto memang
bermasalah dan salah. Sebab, PKI yang didirikan 23 Mei 1920, pada saat
meletusnya Revolusi Agustus1945, masih ada. Partai mempertahankan kedudukannya
yang ilegal persisnya sejak gagalnya pemberontakan tahun 1926.
Namun partai yang didirikan kelompok Yusuf-Suprapto,
markas besarnya berada di Jakarta, tidak menghiraukan. Mereka malah menerbitkan
Majalah Bintang Merah, yang edisi perdananya terbit pada 17 November 1945,
dengan alamat redaksi di Jl. Petjenongan No. 48 C, Jakarta. Bahkan dalam edisi
ini diturunkan pula sebuah berita dengan judul "PKI Australia akan
menggaboengkan diri dengan PKI disini". Mungkin melalui pemberitaan ini,
dimaksudkan untuk meyakinkan khalayak ramai yang berkepentingan.
Kelompok Yusuf-Suprapto memang cukup punya pengaruh di
kalangan pemuda-pemuda pergerakan terpelajar di Jakarta, misalnya Grup Menteng
31. Mereka juga mengklaim mendapat sambutan dari sejumlah daerah di Jawa Barat,
Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Lantas pada 11 Desember 1945 mendirikan Laskar
Merah.
Selanjutnya tanggal 6 hingga 10 Februari 1946, mereka
menyelenggarakan kongres di Cirebon. Namun terjadi insiden antara Laskar Merah
dengan CPM, yang berujung dilucutinya Laskar Merah oleh TKR. Insiden ini meluas
hingga sekitar wilayah Cirebon, dan baru berakhir setelah Yusuf-Suprapto
ditahan.
Mengapa tokoh-tokoh maupun kader partai yang didirikan
pada 23 Mei 1920, tidak mau bergabung?
Karena mereka berpendapat bahwa Jusuf-Suprapto tidak
berwenang menyatakan dirinya sebagai pimpinan partai. Sementara itu tokoh-tokoh
“partai illegal” tidak segera berinisiatif membangun partai legal, pada saat
situasi memungkin untuk itu. "Menurut saya, di sinilah letak kesalahannya.
Di Solo, pimpinan partai illegal adalah Suhadi alias Pak Karto. Sementara
Suhadi sendiri tampil secara legal dengan bendera organisasi massa GRI,"
papar Siswoyo dalam memoarnya.
Kelak hal tersebut dikritik sebagai suatu kesalahan
organisasi. Dan kesalahan organisasi ini baru terbuka ketika Muso mengoreksi
kesalahan-kesalahan dan kelemahan-kelemahan partai pada waktu itu
Di tengah-tengah kekisruhan itu, awal tahun 1946, mulai
berdatangan sejumlah tokoh eks-Digul; seperti Sulaiman, Sabarman, Ngadiman,
Ruskak, termasuk Sardjono. Sejak kalah dalam pemberontakan tahun 1926, Sardjono
dibuang ke Digul, selanjutnya diungsikan ke Australia oleh pemerintah Hindia
Belanda, menyusul pecah Perang Dunia II. Selain itu, datang pula tokoh-tokoh
partai dari Belanda dan negeri-negeri lainnya; antara lain Drs. Maruto
Darusman, Mr. Abdul Madjid, Drs. Setiajid, dan Jusuf Muda Dalam. Dua yang disebut
terdahulu adalah anggota CPN.
Masalah partai pimpinan Jusuf-Suprapto memang akhirnya
dapat diselesaikan dengan baik. Dan Jusuf-Suprapto mengakui kesalahannya,
akibat ketidaktahuannya. Ini terjadi setelah ada pertemuan antara Maruto
Darusman dengan Mr. Soetan Moehamad Sjah.
Kemudian dalam bulan Maret 1946, ...kelompok-kelompok ini
mengadakan rapat di Jakarta, yang memutuskan untuk mengadakan pembersihan di
kalangan PKI. Juga diputuskan akan diadakan konperensi partai di Solo, pada
akhir April... (Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan, Soe Hok Gie 1997: 63).
Bersamaan dengan diumumkannya pembangunan kembali PKI,
Laskar Merah, organisasi kekuatan bersenjata di bawah pimpinan PKI, usai
Peristiwa Cirebon ditata kembali. Seperti diketahui, waktu itu salah satu ciri
kehidupan politik pada awal revolusi di Indonesia ialah partai politik
mempunyai pasukan bersenjata. Misalnya, PKI mempunyai Laskar Merah, atau
Masyumi mempunyai Laskar Hizbullah.
"Tetapi orang-orang komunis di Solo yang mengambil
bagian dalam perjuangan bersenjata tidak semuanya berada di dalam Laskar Merah.
Hanya sebagian kecil yang bergabung," jelas Rewang. Sebagian lainnya ada
yang masuk Laskar Rakyat, pimpinan Ir. Sakirman, juga seorang komunis. Kemudian
ada pula yang berada dalam Laskar Buruh, Laskar Pemuda Sosialis Indonesia
(Pesindo), Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI), dan ada juga yang
membangun Angkatan Laut RI di Solo.
Pada Juli 1946, Kantor CC sudah pindah ke Kota Solo, di
Jalan Purwosari No. 313, menyatu dengan redaksi Bintang Merah. Hal ini menyusul
perkembangan baru, pada 4 Januari 1946, Ibukota RI pindah dari Jakarta ke
Jogjakarta. Kepindahan ibukota dilakukan karena Belanda datang kembali ke
Indonesia dengan membonceng Sekutu, dan Jakarta berhasil diduduki pada 29
September 1945.
Akhirnya, bertempat di Sitihinggil Keraton Surakarta,
dari tanggal 11 hingga 13 Januari 1947, diselenggarakan Konferensi Nasional,
yang kemudian dinyatakan sebagai Kongres IV, karena menghasilkan Konstitusi dan
memilih CC baru.
Peserta yang hadir mayoritas eks-Digulis. Mereka datang
ke Solo sebagai utusan daerah, dan sebagian besar menginap di Kantor GRI.
Melalui Pak Suradi, Siswoyo sempat diperkenalkan dengan K.H. Tb. Achmad Chatib
. “Ini lo Bung Sis, kenalkan kawan kita Kyai Chatib,” begitu kata Suradi,
eks-Digulis kepala batu. Kyai Chatib, adalah Ketua SC Banten, dan tercatat
sebagai Residen Banten yang pertama.
Konfernas atau Kongres IV menghasilkan pengurus baru;
yakni Ketua I Sardjono, Ketua II Drs. Maruto Darusman, Ketua III Djokosoedjono,
Sekum I Ngadiman Hardjosubroto, Sekum II Soetrisno. Politbiro terdiri dari
Alimin, Sardjono, Maruto Darusman, Ngadiman Hardjosubroto, Soeripno. Kemudian
Biro Organisasi terdiri dari Djokosoedjono, D.N. Aidit (Agitprop), Soekisman
(Agitprop), dan Roeskak (Bendahara), Koenadi (penghubung). Lalu Pembantu
Sekretariat Umum terdiri Sabariman (urusan ketentaraan dan laskar), Boeyoeng
Saleh (urusan buruh), Koebis (urusan tani), Karsali (urusan pemuda),
SÃ pardiatmi (urusan wanita).
Struktur organisasi partai masih menggunakan pola lama,
seperti yang digunakan PKI Angkatan 1926. Yakni, badan tertinggi adalah CC,
kemudian SC untuk tingkat karesidenan, OSC untuk tingkat kabupaten, Resort
untuk tingkat kecamatan, dan Sarikat Rakyat sebagai onderbouw resmi partai.
Sedangkan Pesindo, BTI, dan SOBSI, masih tergabung di
dalam Sayap Kiri. Oleh karena itu, secara organisatoris, mereka tidak punya
hubungan langsung dengan partai.
Senin, 24 Februari 2020
Zaman Peralihan
Andreas
JW – 24 Februari 2020
Meski sangat singkat, hanya tiga bulan, tapi Muso sempat
mewujudkan beberapa langkah strategis buat partainya. Ia kembali ke Tanah Air
medio Juli 1948, dan gugur akhir Oktober 1948. Diawali dengan mengeluarkan
otokritik Resolusi Jalan Baru, rencana selanjutnya, berlandaskan resolusi ini
akan diadakan kongres fusi tiga parpol, yakni PKI, Partai Sosialis, dan PBI;
menjadi satu partai ML bernama PKI.
Sebenarnya, sebelum kehadiran Muso, PKI dan FDR sudah
mengadakan otokritik, menyusul jatuhnya Kabinet Amir Sjarifuddin. Tapi isi
otokritik tidak cukup mendalam. Meski begitu, beberapa materi kemudian menjadi
bahan masukan Resolusi Jalan Baru.
"Dugaan saya, Alimin dianggap kurang berhasil. Sehingga Kominform memutuskan agar Muso segera pulang," kata Siswoyo.
Sebelum pulang, kabarnya, Muso terlebih dahulu berdiskusi
dengan pimpinan Kominform (sebelumnya Komintern) untuk mengoreksi garis politik
kanan PKI, yang dinilai melemahkan perjuangan nasional Revolusi Agustus 1945.
Dalam diskusi tersebut, yang bertempat di Praha, hadir Sekjen CPN Paul de Grost
dan Ketua PK Cekoslovakia Clement Goswald.
Diskusi menyimpulkan bahwa PKI maupun CPN akan berjuang
membatalkan Perjanjian Linggarjati. Karena, tercapainya Perjanjian Linggarjati,
telah menempatkan RI dan Kerajaan Belanda dalam ikatan Unie Verband, di bawah
kekuasaan Raja Belanda. Sebab itu, harus dibatalkan.
Dalam sidang Pimpinan Pusat FDR, Muso, Drs. Maruto
Darusman, Tan Ling Djie, dan Ngadiman Harjosubroto, masuk dalam formasi
Sekretariat Umum (CC sementara), yang membawahi beberapa departemen.
Adapun Kepala Departemen Pertahanan dipegang Amir
Sjarifuddin, dengan anggota terdiri Mayjen. Ir. Sakirman (Laskar Rakyat/Partai
Buruh), Mayjen. Djokosujono (Kepala Biro Perjuangan RI, Pesindo), Ruslan
Widjajasastra (Ketua Pesindo). Departemen Tani, dikepalai dr. Cokronegoro
(Partai Sosialis), dengan anggota Asmu dan D.N. Aidit. Departemen Buruh terdiri
dari Drs. Setiajid, Djoko Sujono, Achmad Sumadi, serta Harjono. Departemen
Agitprop terdiri dari M.H. Lukman, Alimin, dan Sarjono.
Sedangkan Wikana (Pesindo) menangani Departemen Pemuda.
Departemen Organisasi, dipegang Sudisman. Departemen Luar Negeri, dipercayakan
pada Suripno. Nyoto menangani Departemen Perwakilan. Adapun Departemen
Keuangan/Bendahara, dipercayakan pada Ruskak.
Siapa Maruto Darusman? Ia adalah kader CPN, yang lama
bermukim di Negeri Belanda, dan baru kembali ke Indonesia kira-kira pada awal
Agresi I, sekitar tahun 1947. Sebelum kedatangan Muso, ia berfungsi sebagai
Wakil Ketua, di bawah Ketua CC PKI Sarjono.
Sementara Tan Ling Djie berasal dari Partai Sosialis.
Tidak banyak informasi mengenai sejarah perjuangannya, termasuk bagaimana ia
bisa begitu cepat menjadi tokoh Partai Sosialis dan FDR.
Akan halnya Ngadiman Harjosubroto. Ia Angkatan 1926, dan
pernah dibuang ke Boven Digul, Tanah Merah. Dari Australia, ia pulang ke
Indonesia akhir 1946, bersama dengan Sarjono, Winanta, Dita Wilasta, dan
Suratno. Pada Kongres IV PKI tahun 1947, di Solo, Ngadiman terpilih sebagai
Sekretaris Umum.
"Saya tidak ikut dalam sidang PP FDR. Karena saya hanya salah seorang pimpinan PKI/FDR Karesidenan Surakarta." Meski begitu, lanjut Siswoyo salah seorang pimpinan FDR Pusat pernah memberikan kepadanya notulen lengkap hasil pertemuan tersebut.
Notulen berupa tulisan mesin ketik di
atas kertas doorslag berwarna kuning. Dari notulen ini diketahui ada sejumlah
tokoh FDR yang tidak sepenuhnya menyetujui garis Resolusi Jalan Baru.
Seperti seorang tokoh wanita SK Trimurti dari PBI, ia
justru mengecam PKI tidak mampu memimpin revolusi. Sebaliknya ia cenderung
memuji Tan Malaka. Begitu pun Sumarsono dari Pesindo, mendesak Muso segera
memimpin kudeta guna melancarkan perjuangan. Tapi Muso menolak semua itu, dan
dengan tegas mengatakan bahwa kudeta bukan jalan kaum revolusioner.
Sejarah mencatat, gagalnya penyelenggaraan Kongres Fusi,
merupakan akibat tidak langsung dari terjadinya Peristiwa Madiun, yang
memunculkan sejumlah masalah yang cukup rumit dalam kehidupan organisasi
partai.
Misalnya, secara yuridis formal Resolusi Jalan Baru belum
sah. Sementara itu, menyusul gugurnya Muso dan Maruto Darusman, otomatis Tan
Ling Djie menjadi orang pertama dalam CC Sementara. Padahal dia bukan dari
unsur PKI, tapi dari unsur Partai Sosialis. Ditambah lagi Partai Sosialis
pimpinan Tan Ling Djie belum mengadakan kongres istimewa untuk menghadapi
kongres fusi. Dan Tan Ling Djie sendiri tidak setuju dengan Resolusi Jalan
Baru, dengan alasan belum disahkan oleh Kongres Fusi.
Lalu muncul ide dari Tan Ling Djie bahwa Partai Sosialis
perlu dibangun kembali untuk selanjutnya menyelenggarakan kongres istimewa.
Buktinya, pada medio 1950, seorang utusan PP Partai Sosialis menemui Bung
Istijab, ketua Partai Sosialis Cabang Klaten. Ia diinstruksikan untuk
menghidupkan kembali Partai Sosialis. Dengan tegas Bung Istijab menolak, karena
Partai Sosialis Klaten sudah bubar, dan meleburkan diri ke dalam PKI.
Ide Tan Ling Djie juga ditolak sebagian besar anggota CC
Sementara. Begitu pula sejumlah anggota Partai Sosialis yang berada di
Yogyakarta, di markas PP Partai Sosialis, seperti Oloan Hutapea, Kadaruzaman,
Munir, Hartoyo, dan Yusuf Adjitorop, tidak mendukung ide tersebut.
Sebelumnya, pada akhir 1949 datang utusan CC Sementara,
Djoko Sujono dan Ruslan Wijayasastra, menemui pimpinan SC Surakarta. Dalam
beberapa kali kesempatan diskusi, keduanya tidak pernah mempermasalahkan
Resolusi Jalan Baru. Keduanya tahu, jika dipersoalkan pasti akan ditentang
keras. Keduanya tahu SC yang sependirian dengan SC Surakarta cukup banyak
jumlahnya. Selanjutnya Djoko Sujono menjadi petugas penghubung CC Sementara
dengan SC Surakarta.
Ketika itu partai secara resmi tidak dilarang pemerintah.
Tapi demi keamanan, dilakukan sistem “open office”. Dengan pengertian, ada
kantor resmi SC, tapi yang bekerja sehari-hari bukan pimpinan partai. Sedangkan
kantor yang sesungguhnya berada di tempat lain, dan sifatnya tertutup. Open
office SC Surakarta semula ada di Tipes, lalu pindah ke Jalan Honggowongso.
Sehari-hari dipimpin Pak Suratno, seorang kader Angkatan 26.
Karena sering bertemu, "Hubungan saya dengan Djoko
Sujono menjadi akrab. Dia respek dengan SC Surakarta, terutama karena punya
banyak kader, punya akar di kalangan massa, punya pasukan bersenjata (PSR), dan
banyak simpatisannya berada di TNI. Saya tahu, sebenarnya Djoko Sujono
sependapat dengan pendirian SC Surakarta, daripada dengan Tan Ling Djie,"
papar Siswoyo.
Masalah itu semakin jelas ketika Djoko Sujono datang ke
Solo membawa sejumlah petunjuk kerja dan beberapa instruksi dari CC Sementara.
Isinya berbagai macam soal-soal kecil dan bersifat teknis, justru dibahas
sangat detil, seperti urusan koperasi, usaha kecil, PMI, UU Peraturan
Pemerintah.
Yang mencengangkan, adalah tulisan Tan Ling Djie mengenai
idenya tentang Republik Federal Indonesia. Jalan berpikirnya, karena setelah
terjadi Peristiwa Madiun, NKRI menjadi sebuah negara yang anti-komunis. Ketika
itu Irian Barat belum termasuk wilayah Indonesia. Karena itu PKI perlu
mengerahkan gerakannya masuk ke Irian Barat untuk membentuk Republik Demokrasi
Rakyat Irian Barat, kemudian membentuk Negara Federal dengan Republik
Indonesia. Selanjutnya melalui Republik Federal mengubah NKRI yang anti-komunis
menjadi pro-komunis.
Setelah mempelajari isi dokumen itu, SC Surakarta
menyimpulkan sepenuhnya menolak; karena isinya ruwet, tidak masuk akal, dan
sama sekali tidak realistis. Dan SC Surakarta kembali menegaskan tetap memegang
teguh garis Resolusi Jalan Baru.
Sejak itu SC Surakarta tidak lagi berhubungan dengan CC Sementara
pimpinan Tan Ling Djie, karena ada perkembangan situasi baru yang lebih
penting.
Kira-kira medio 1950 datanglah Bung Aidit dan Lukman dari
Jakarta ke Solo. Setibanya di Solo, Aidit dan Lukman segera mencari Siswoyo
.dan Bung Suhadi alias Pak Karto, kader tua dan salah seorang pimpinan SC
Surakarta. Dalam kesempatan itu Aidit menjelaskan situasi intern CC Sementara.
Antara lain ia mengatakan bahwa terdapat perbedaan besar dalam berbagai soal,
terutama yang menyangkut sikap mengenai Resolusi Jalan Baru. Baik Aidit maupun
Lukman sepenuhnya setuju dengan pendirian SC Surakarta, yang tetap memegang
teguh garis Resolusi Jalan Baru. Aidit juga menjelaskan bahwa CC Sementara
membentuk open office yang dipimpin Sudisman. Dan disepakati hanya berhubungan
dengan open office saja.
Belakangan baru diketahui bahwa sebelum open office
dipindah ke Jakarta, sejumlah kader partai sudah terlebih dahulu dikirim
kesana. Kader-kader dari Yogyakarta ini merintis jaringan partai di Jakarta.
Mereka ialah Munir, Kadaruzaman, Hartoyo, Achmad Sumardi, Iskandar Subekti, dan
lain-lainnya.
Pada akhir tahun 1950 berlangsung Sidang Pleno CC
Sementara. Selain mempertegas berlakunya Resolusi Jalan Baru, juga terjadi
perubahan anggota Politbiro. Komposisinya terdiri dari Ketua D.N. Aidit; Wakil
Ketua M.H. Lukman; Wakil Ketua Nyoto; Sekretaris Sudisman, Alimin, Asmu, Ruslan
Wijayasastra, dan Sakirman. Juga dipromosikan sejumlah kader untuk mengisi
posisi Komisaris CC, yakni Oloan Hutapea untuk Jawa Timur, Suhadi untuk Jawa
Tengah dan DIY, Peris Pardede untuk Jawa Barat dan Ibukota Jakarta, Zaelani
untuk Sumatera Selatan, Bachtarudin untuk Sumatera Tengah, dan Jusuf Ajitorop
untuk Sumatera Utara. Mereka sekaligus dipromosikan sebagai anggota CC. Sidang
Pleno juga memutuskan untuk mendegradasi Tan Ling Djie dan Ngadiman dari
keanggotaan CC.
Tetapi keduanya tetap sebagai anggota partai.
Jumat, 14 Februari 2020
Palu Arit di Ladang NU
Oleh Budi Setiyono
Peristiwa Madiun kerap menjadi titik bakar penentangan NU
terhadap komunis.
Ketua CC PKI DN Aidit melirik ke arah Menteri Agama Saifuddin Zuhri
yang menerima ucapan selamat dari Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan
Jenderal TNI AH NAsution pada Maret 1962. Foto: repro: "Berangkat dari
Pesantren."
Sejak lama NU antipati terhadap PKI. Menurut Greg Fealy
dan Katharine McGregor dalam “Nahdlatul Ulama and the Killing of 1965-66:
Religion, Politics, and Remembrance”, dimuat jurnal Indonesia 89,
April 2010, sejak didirikan pada 1926, para pemimpin NU secara konsisten
menentang komunisme, mencela doktrinnya sebagai ateis, serta cita-cita mengenai
kepemilikan kolektif atas kekayaan dan properti sebagai laknat menurut ajaran
Islam.
“Tapi anti-komunisme NU, sampai akhir 1940-an, kurang intens dibandingkan rekan agamawan mereka dari kelompok modernis dalam organisasi seperti Muhammadiyah dan Persis,” tulis mereka.
Sikap itu berubah setelah sejumlah kiai NU, yang saat itu
tergabung dalam Masyumi, menjadi korban dalam Peristiwa Madiun 1948.
Menghadapi PKI
Setelah menjadi partai politik, dalam beberapa isu NU
mempertahankan sikap oposisinya terhadap PKI. Antara lain ditunjukkan dengan
menolak pelibatan PKI dalam kabinet pada 1953 dan 1956. NU juga memprotes
pembukaan Kedutaan Besar Uni Soviet di Jakarta, penggunaan tanda gambar “PKI
dan orang-orang tak berpartai” dalam pemilu, dan dukungan menteri pertahanan
terhadap dipersenjatainya veteran-veteran komunis untuk melawan Darul Islam.
Namun, tak seperti Masyumi, selama 1950-an NU cenderung
akomodatif. NU, misalnya, mengutuk pembentukan Front Anti Komunis yang disokong
sayap kanan ekstrem Masyumi. Ketika Masyumi menginisiasi acara Muktamar Ulama
di Palembang pada 8-11 September 1957, yang menghasilkan rekomendasi
mengharamkan komunisme, NU tak bersedia mengirimkan delegasi.
Menurut Choirul Anam dalam Pertumbuhan dan
Perkembangan Nahdlatul Ulama, NU secara politik memang tak setuju dengan
keberadaan PKI, tapi banyak elite NU merasa bisa bersanding dengan pihak
komunis, ketimbang terhadap kelompok muslim reformis.
PKI sendiri mengulurkan tangan atas kesediaan NU menjalin
kerjasama dengan partai nasionalis dan kiri. Pada September 1954, PKI
mengirimkan ucapan selamat atas penyelenggaraan Muktamar NU di Surabaya.
Bahkan, editorial Harian Rakjat, koran PKI, selalu menempatkan NU di
antara “partai-partai demokratik”.
Kekhawatiran NU mencuat setelah PKI meraih peningkatan
luar biasa, termasuk di basis-basis NU, dalam pemilu DPRD.
“Seusai pelaksanaan pemilu daerah, cabang-cabang NU di daerah lebih memandang PKI, dan bukan Masyumi, sebagai ancaman terbesar mereka,” tulis Greg Fealy dalam Ijtihad Politik Ulama: Sejarah NU 1952-1967.
Meningkatnya pengaruh PKI dan kedekatannya dengan Sukarno
memaksa NU mengadopsi kebijakan akomodatif dan berpartisipasi dalam semua
kabinet dan lembaga di era Demokrasi Terpimpin. Sikap ini mendapatkan kritik
dari kelompok militan yang antikomunis seperti M. Munasir, Jusuf Hasyim,
Subchan ZE, dan Bisri Syamsuri.
“Berbeda dengan para pemimpin moderat NU yang memandang PKI semata-mata sebagai masalah politik, kelompok militan memandang PKI sebagai ancaman fisik yang membahayakan Islam,” tulis Fealy.
Hubungan NU dan PKI memburuk pada 1960-an ketika PKI
mengkampanyekan “aksi sepihak” sebagai upaya melaksanakan reformasi agraria
(landreform) yang diamanatkan dalam UU No. 5/1960 atau Undang-undang Pokok
Agraria (UUPA).
Aksi Sepihak
Pada Oktober 1961, sebulan setelah Panitia Landreform
mulai bekerja, Pengurus Besar Syuriah NU menggelar Bahtsul Masail atau forum
diskusi untuk membahas masalah agraria. Forum menghasilkan fatwa yang
mengharamkan landreform. Alasannya, melanggar himayatul mal (perlindungan
properti) yang menjadi salah satu tujuan syariah.
Gita Anggraini dalam Islam dan Agraria menyebut,
pengharaman itu bukanlah terhadap program landreform, “tetapi terhadap hal-hal
yang mencederai prinsip dasar landreform, karena program landreform itu sendiri
mendapat dukungan dari kalangan ulama.” Salah satunya DPR-GR, yang mensahkan UUPA,
diketuai KH Zainul Arifin dari NU.
Namun, sebulan kemudian, rapat Dewan Partai menyimpulkan,
UUPA “boleh” hukumnya kalau memang diperlukan untuk membantu fakir miskin dan
meningkatkan taraf hidup masyarakat, sedangkan jalan lain tidak ada.
Dalam praktiknya, banyak kiai atau pemilik tanah muslim
tak rela kehilangan tanah mereka.
Terkait keengganan tuan tanah muslim, Deliar Noer
dalam Partai Islam di Pentas Nasional menekankan perlunya memahami
persoalan tanah dalam hubungan dengan wakaf; bahwa tanah bisa dimiliki
masyarakat, sedangkan pengelolaannya bisa dilakukan seseorang atau sekelompok
orang. Mereka yakin tanah wakaf tak masuk kategori tanah landreform.
Namun, kaum komunis punya cara pandang berbeda.
Karena pelaksanaan UUPA berjalan lamban, PKI menggiatkan
aksi ofensif melalui aksi sepihak. Selain PNI, aksi ini mendapat perlawanan
dari NU, terutama para kiai dan pemimpin Ansor di daerah. Bentrokan, bahkan
disertai kekerasan, pun tak terelakkan.
Presiden Sukarno turun tangan dan mengundang
partai-partai dalam pertemuan di Bogor, yang menghasilkan Deklarasi Bogor.
Namun, bentrokan masih terjadi di sana-sini.
Dalam putusan sidang dewan partai 20 Desember 1964, NU
menyatakan siap melaksanakan Deklarasi Bogor. Namun NU juga meminta pelaksanaan
UUPA secara konsekuen, “yang di dalamnya mengatur pelaksanaan land reform dan
land use dan menjamin hak milik wakaf, waris, dan hak-hak lain yang diatur oleh
Agama Islam.
“Mengenai tanah wakaf, jika merupakan tanah hibah palsu akan dikutuk,” ujar Idham Chalid dalam rapat dengan Dewan Pertimbangan Agung (DPA), 19 Januari 1965.
Di jantung kekuatan NU di Jawa Timur, PKI bersikap
defensif dan akhirnya menarik diri dari kampanye aksi sepihak. Bagi NU
“kemenangan” itu peningkatan kepercayaan diri mereka dalam berhadapan dengan
PKI.
Aksi Militan
Peristiwa 30 September 1965 mencemaskan para pemimpin NU.
Beberapa kiai dan tokoh senior NU disembunyikan di tempat yang aman. Sementara
yang lainnya, terutama tokoh-tokoh muda militan, pindah ke rumah Wahid Hasyim
di Matraman dan Subchan ZE di Jalan Banyumas, Menteng; keduanya di Jakarta
Pusat.
Sementara tokoh-tokoh senior bersembunyi, kelompok
militan mengadakan pertemuan dengan para pejabat militer, yang dekat dengan
Soeharto, yang merebut kembali kendali ibukota keesokan harinya.
Pertemuan-pertemuan itu menghasilkan kampanye anti-PKI,
termasuk pembentukan Kesatuan Aksi Pengganyangan Gestapu (KAP-Gestapu) dan
Badan Koordinasi Keamanan Jam’iyah Nahdlatul Ulama (BKKJNU).
Inisiatif diambil kelompok militan tanpa berkonsultasi
dengan Idham Chalid, yang masih bersembunyi, atau Wahab Chasbullah, yang sedang
berada di Jombang.
“Bahkan jika Idham dan Wahab ada, mereka mungkin tak berdaya menghentikan kelompok militan,” tulis Fealy dan McGregor.
Dengan dua organ itu dimulailah aksi pengerahan massa
hingga pengganyangan PKI, dengan persetujuan Angkatan Darat. Yang terparah
terjadi di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Menurut Fealy, ada beberapa faktor
penyebab. Yang paling kuat adalah pengaruh psikologis bahwa mereka hanya punya
dua pilihan: dibunuh atau membunuh. Mereka juga mengambil pelajaran dari
Peristiwa Madiun dan aksi sepihak.
“Aksi kekerasan cenderung lebih banyak terjadi di daerah-daerah yang lebih sering mengalami aksi sepihak,” tulis Fealy.
Kekerasan terhadap PKI mulai berhenti pada Februari 1966.
Persoalan belum rampung karena Presiden Sukarno enggan
membubarkan PKI. Tokoh-tokoh senior NU, yang sudah mengambilalih kendali
partai, juga masih merapat ke Sukarno.
Namun kedudukan Sukarno terus melemah. NU akhirnya
mengakhiri hubungannya dengan Sukarno dan mendukung rezim baru, Soeharto.
Senin, 30 September 2019
Ahmad Jadau: Komandan TLRI dalam Pusaran Peristiwa Madiun 1948
Oleh: Petrik Matanasi - 30
September 2019
Jenderal Soedirman. FOTO/ wikipedia
Kisah Ahmad Jadau, mantan komandan TLRI Divisi Panembahan
Senopati yang terlibat Peristiwa Madiun 1948.
Pada 2 Juli 1948, Divisi Panembahan Senopati kehilangan
komandannya, Letnan Kolonel Soetarto.
Komandan Brigade VIII divisi tersebut, yakni Letnan Kolonel Soejoto, lalu mengirim beberapa perwira—yang salah satunya Mayor Esmara Sugeng—untuk mencari komandannya. Namun, berdasarkan penelitian Harry Poeze dalam Madiun 1948: PKI Bergerak (2011: 110), Esmara Sugeng terbunuh oleh anggota Divisi Siliwangi atas tuduhan menculik istri prajurit Siliwangi, sementara perwira lainnya hilang.
Kejadian itu membuat Mayor Soetarno komandan batalyon dari Brigade TLRI (Tentara Laut Republik Indonesia) yang berada di bawah Divisi Panembahan Senopati mendatangi markas Siliwangi di Srambatan, Solo.
Dikawal oleh anggotanya dalam satu truk, Mayor Soetarno hendak meminta penjelasan. Namun, begitu ia dan pasukannya turun dari kendaraan, mereka diberondong tembakan. Ia dan beberapa anggotanya tewas.
Peristiwa tersebut membuat Letnan Kolonel Jadau, salah
satu komandan Brigade TLRI di Divisi Penembahan Senopati, marah dan bersumpah
akan mengusir Divisi Siliwangi dari Solo.
Sebagai catatan, karena saat itu armada perang laut ALRI terbatas, maka serdadu angkatan laut ikut bergerilya bersama angkatan darat di pergunungan. Mereka kemudian dijuluki sebagai ALRI Gunung. Selain itu, banyaknya pasukan Siliwangi yang hijrah ke Jawa Tengah akibat Perjanjian Renville, membuat wilayah tersebut memanas dan kerap diwarnai kontak senjata antara Divisi Siliwangi dengan Divisi Panembahan Senopati.
Menurut Poeze, peristiwa "perang saudara" itu membuat Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman memanggil Kolonel Abdul Haris Nasution sebagai Panglima Komando Jawa, dan Letnan Kolonel Abimanju selaku komandan Brigade dalam Divisi Siliwangi.
Soedirman memerintahkan kepada mereka berdua agar Divisi Siliwangi angkat kaki dari Solo. Namun, pasukan dari Jawa Barat itu bergeming. Panglima Besar kemudian menemui komandan Divisi Siliwangi, Letnan Kolonel Sadikin. Hasilnya sama, Siliwangi menolak angkat kaki, dan susana pun kian memanas.
Sebagai catatan, karena saat itu armada perang laut ALRI terbatas, maka serdadu angkatan laut ikut bergerilya bersama angkatan darat di pergunungan. Mereka kemudian dijuluki sebagai ALRI Gunung. Selain itu, banyaknya pasukan Siliwangi yang hijrah ke Jawa Tengah akibat Perjanjian Renville, membuat wilayah tersebut memanas dan kerap diwarnai kontak senjata antara Divisi Siliwangi dengan Divisi Panembahan Senopati.
Menurut Poeze, peristiwa "perang saudara" itu membuat Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman memanggil Kolonel Abdul Haris Nasution sebagai Panglima Komando Jawa, dan Letnan Kolonel Abimanju selaku komandan Brigade dalam Divisi Siliwangi.
Soedirman memerintahkan kepada mereka berdua agar Divisi Siliwangi angkat kaki dari Solo. Namun, pasukan dari Jawa Barat itu bergeming. Panglima Besar kemudian menemui komandan Divisi Siliwangi, Letnan Kolonel Sadikin. Hasilnya sama, Siliwangi menolak angkat kaki, dan susana pun kian memanas.
“Ketika di Solo dalam keresahan Slamet Rijadi, Soeadi dan Jadau sudah pergi ke Madiun untuk minta bantuan Soemarsono,” tulis Poeze.Soemarsono yang bekas pemimpin laskar dan dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) memang punya sisa kekuatan untuk membantu mereka. Namun, imbuh Poeze, “Soemarsono mendapat perintah keras dari pimpinan PKI untuk melokalisasi konflik. Madiun harus tetap netral.”
Puncak perseteruan antara Divisi Siliwangi dengan Divisi Panembahan Senopati terjadi di pekan-pekan awal setelah terjadi Peristiwa Madiun 1948. Jadau dan sejumlah tentara dari divisi yang bermarkas di Jawa Tengah itu memang condong ke barisan orang-orang Kiri sehingga digempur oleh Siliwangi. Jadau berperang di sekitar Gunung Lawu.
Siliwangi berhasil melumat PKI dan orang-orang Kiri lainnya di Madiun serta sejumlah tokoh pentingnya seperti Musso dan Amir Sjarifuddin.
Setelah peristiwa itu, Jadau kabur dan dipecat dari TNI. Anak buahnya diajak Gubernur Militer di Solo, Kolonel Gatot Subroto untuk meninggalkannya. Orde Baru menyebut Jadau dan tentara dari TLRi yang terlibat Peristiwa Madiun sebagai “bekas dari tentara laut jang dibubarkan, karena tak ada gunanja”. Mereka juga disebut sebagai elemen pengacau di Divisi Penembahan Senopati.
Serdadu Kesayangan
Bung Tomo dan Musso
Kiprah Jadau di dunia militer jauh sebelum ia bertempur
melawan pasukan Divisi Siliwangi. Ia pernah berperang melawan Inggris dan Jepang
di beberapa front sekitar Semarang.
Sebagai seorang petempur, Jadau pernah terluka dalam akibat terkena ledakan mortir hingga muntah darah. Namun setelah dirawat di rumah sakit di Salatiga ia maju lagi ke front pertempuran.
Di Semarang, ia pernah menjadi anggota Barisan Pemberontakan Rakjat Indonesia (BPRI) pimpinan Bung Tomo alias Sutomo. Di laskar tersebut, ia menjadi bawahan Mardjoeki, seorang bekas supir dan tukang catut yang dulunya buta huruf.
Ketika laskar ditentarakan, Bung Tomo selaku Jenderal Mayor mengusulkan Jadau dijadikan letnan kolonel dan Mardjoeki jadi kolonel. Karena Semarang adalah kawasan dekat pelabuhan, maka banyak anggota laskar yang bergabung dengan tentara itu masuk masuk ALRI, termasuk Jadau.
Setelah Agresi Militer pertama para Juli 1947, pasukan Mardjoeki dan Jadau berada di Solo. Pada saat itu, seperti dilaporkan Sin Po, Mardjoeki menajdi garong yang menyusahkan rakyat sehingga disikat oleh TNI, ia ditangkap dan dibunuh. Sementara Jadau menjadi pimpinan tertinggi komandan Brigade TLRI yang dimasukkan ke Divisi Penembahan Senopati.
Sebagai seorang petempur, Jadau pernah terluka dalam akibat terkena ledakan mortir hingga muntah darah. Namun setelah dirawat di rumah sakit di Salatiga ia maju lagi ke front pertempuran.
Di Semarang, ia pernah menjadi anggota Barisan Pemberontakan Rakjat Indonesia (BPRI) pimpinan Bung Tomo alias Sutomo. Di laskar tersebut, ia menjadi bawahan Mardjoeki, seorang bekas supir dan tukang catut yang dulunya buta huruf.
Ketika laskar ditentarakan, Bung Tomo selaku Jenderal Mayor mengusulkan Jadau dijadikan letnan kolonel dan Mardjoeki jadi kolonel. Karena Semarang adalah kawasan dekat pelabuhan, maka banyak anggota laskar yang bergabung dengan tentara itu masuk masuk ALRI, termasuk Jadau.
Setelah Agresi Militer pertama para Juli 1947, pasukan Mardjoeki dan Jadau berada di Solo. Pada saat itu, seperti dilaporkan Sin Po, Mardjoeki menajdi garong yang menyusahkan rakyat sehingga disikat oleh TNI, ia ditangkap dan dibunuh. Sementara Jadau menjadi pimpinan tertinggi komandan Brigade TLRI yang dimasukkan ke Divisi Penembahan Senopati.
“Bung Tomo (pimpinan BPRI 10 November 1945) dulunya amat sayang kepadanya, dan sekarang Musso yang sayang padanya,” tulis Sin Po saat terjadi Peristiwa Madiun 1948.
Si Pemilik Suara
Tarzan
Jadau adalah anak seorang Digulis bernama Raden Markam
Markoto yang masih kerabat Keraton Mangkunegara. Pada masa pendudukan Jepang,
ia aktif di dunia kesenian, khususnya di dunia tarik suara.
Ia Dia tahu
teknik jadolen (menurunkan dan menaikan suara) seperti tengah
menirukan suara Tarzan.
Menurut koran Sin Po (30/10/1948), ia seorang yang menggemari musik, pandai memetik gitar, dan suaranya merdu.
“Di zaman Jepang, Jadau seringkali memperdengarkan suaranya yang istimewa ini di atas panggung,” tulis Sin Po.Nama asli Jadau adalah Ahmad. Karena pandai jadolen, ia pun dikenal sebagai Ahmad Jadolen dan orang-orang Jepang menyebutnya Ahmad Jadao.
Usai masa Revolusi, Jadau sempat terjun ke dunia politik dengan menjadi anggota Konstituante wakil dari PKI. setelah itu, ia akhirnya kembali ke dunia seni seperti yang dilakukannya pada zaman pendudukan Jepang. Namun, kali ini ia tak lagi bernyanyi, melainkan menjadi sutradara film.
Film-film yang digarapnya, seperti dicatat JB Kristanto dalam Katalog Film Indonesia 1926-2005 (2005), antara lain: Badai Selatan (1961) dan Malam Tak Berembun (1963). Di masa-masa itu, ia tak lagi memakai nama Jadau, tapi Ahmad Wiro Sardjono alias AW Sardjono dan pernah menjadi bos CV Ibukota.
Pasca 1965, rumahnya di Jalan Oto Iskandar Di Nata dirampas tentara dan ia menjadi tahanan politik. Setelah dibebaskan, ia pernah sebentar jadi pemegang saham di PT Mondial Motion Pictures sebelum akhirnya mundur karena banyak tekanan.
Kemampuan Jadau tak hanya bertempur, bernyanyi, dan membuat film, ia juga mampu menulis esai kebudayaan yang dibukukan dalam Ismaya Tiwikrama (1965) dan Wayang Purwa (1977).
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
"Bung
Tomo dulunya amat sayang kepadanya, dan sekarang Musso yang sayang
padanya."
Sabtu, 21 September 2019
Solo dan Madiun (2)
Oleh: R. Kreutzer
Mengingat organisasi FDR di Madiun relatif kuat dan
tangguh, maka pucuk pimpinan FDR di Yogyakarta mengambil keputusan untuk
menggunakan Madiun sebagai basis kekuatan bila terjadi sesuatu kejadian.
Sehubungan dengan itu Madiun harus diperkuat dengan kesatuan-kesatuan kekuatan
bersenjata yang bersedia mempertahankan dan membela FDR [51].
Di Madiun sudah ditempatkan beberapa kesatuan TNI yang
pro-FDR/PKI. Juga ada beberapa pasukan yang diambil dari garis demarkasi – yang
merupakan tapal batas antara daerah kekuasaan Republik dengan daerah yang
diduduki oleh tentara Belanda – sebab pertahanan Madiun pada waktu itu dianggap
menjadi lebih penting daripada pertahanan garis demarkasi.
Pucuk pimpinan FDR juga mengeluarkan perintah-perintah
khusus untuk merealisasi secepat mungkin program agraria di daerah Madiun,
seperti pembagian tanah yang lebih adil. Demikian pula soal bagi hasil untuk
memperbesar pengaruh FDR Madiun secara politis dan ekonomis di kalangan rakyat,
sambil menelanjangi tingkah laku Kabinet Hatta. Madiun harus menjadi basis
kekuatan yang tidak terpatahkan [52].
Akan tetapi agak tidak menguntungkan bagi FDR/PKI, sebab
daerah Madiun sudah sejak awal September 1948 sudah dirembesi (diinfiltrasi)
oleh kesatuan-kesatuan tentara dan kelompok-kelompok bersenjata yang
anti-komunis, serta yang berdiri di belakang Pemerintah Hatta. Corps Polisi
Militer yang anti-komunis langsung mengambil tindakan keras terhadap golongan
buruh yang melakukan pemogokan di Kotapraja Madiun. Juga Polisi Militer
melakukan pengejaran terhadap anggota-anggota SOBSI.
Menjelang pertengahan September 1948 PKI telah
mengundurkan diri dengan semua kekuatannya ke basisnya yang terakhir, Madiun.
Seandainya dia kalah di sini dan kehilangan Madiun, maka kedudukannya di
bagian-bagian lain di Indonesia juga akan terjepit secara nyata. Kira-kira
dalam waktu yang bersamaan tersiar berita yang bersumber pada bagian informasi
FDR sendiri maupun dari beberapa pejabat Kepolisian Negara, yang menunjukkan
dengan meyakinkan bahwa CPM, kesatuan-kesatuan Siliwangi (misalnya Brigade
Tengkorak) dan kesatuan-kesatuan Polisi Negara menyiapkan gerakan-gerakan
operasional untuk melucuti barisan-barisan bersenjata, kesatuan-kesatuan
tentara yang bersimpati kepada FDR/PKI.
Dan setelah itu barulah pimpinan FDR/PKI. Benar saja.
Sekira waktu itu kesatuan Siliwangi mulai memindahkan pasukannya secara
berangsur-angsur ke Madiun. Di kalangan masyarakat beredar desas-desus bahwa
pasukan ini akan melucuti barisan bersenjata TNI pro-FDR, yang menentang
penetapan Presiden No.13.
Penduduk juga memperhatikan bahwa pada hari-hari
belakangan secara mencolok banyak Polisi Militer dan kesatuan-kesatuan
Siliwangi melakukan patroli di dalam Kota Madiun. Kesatuan itu ada juga yang
mengawal bagian kota tertentu. Kesatuan-kesatuan bersenjata FDR yang
dikonfrontasikan dengan kegiatan-kegiatan dari Polisi Militer dan
kekuatan-kekuatan Siliwangi, telah bersiap siaga menghadapi serta
mempertahankan hak hidupnya dari posisinya yang terakhir di Madiun. Bahkan
mereka telah siap tempur untuk menukar posisi bertahan (defensif) menjadi
posisi menyerang (offensif) apabila itu perlu, dalam arti bahwa “menyerang
adalah pertahanan terbaik”. Keadaan menjadi tambah gawat (kritis) [53].
Anderson melukiskan posisi pimpinan FDR/PKI yang
menyesakkan dada itu sebagai berikut: “Keadaan makin memburuk. Berita diterima
bahwa Siliwangi dan Barisan Banteng telah mengalahkan Divisi Senopati di Solo
padang tanggal 17 September dan sedang mengadakan persiapan untuk menyerbu ke
pusat pertahanan Pesindo di Madiun, guna menyempurnakan kemenangannya. Dalam
keadaan seperti ini para pemimpin laskar dihadapkan kepada dua tindakan yang
mungkin diambil: Mereka dapat memutuskan untuk bersikap demikian pasif dan
tidak melawan, serta membiarkan tentara pro-Pemerintah menghancurleburkan
organisasi kemiliteran mereka di Madiun, dan di mana saja atas pertimbangan
memelihara keamanan dalam negeri, atau mengambil alih kekuasaan Pemerintah
Republik di dalam Kepresidenan... dimana orang-orang FDR sudah pasti lebih
berdominasi di dalam ibukotanya... dan kebenaran petunjuk untuk mengambil
keputusan dramatis itu akan dapat menyelamatkan mereka dan akan memadai efeknya
untuk menghentikan gerak maju pasukan-pasukan pro-Pemerintah”. [54]
Sumarsono menceritakan tentang tugas yang harus
dijalankannya untuk di luar kota Madiun menghubungi bagian anggota Pucuk
Pimpinan FDR/PKI yang masih mengembara di daerah Madiun guna menerima
instruksi-instruksi lebih lanjut. Sumarsono dan pimpinan FDR/PKI yang sedang
mengembara waktu itu mengambil kesimpulan bahwa FDR/PKI harus mendahului dan
melucuti senjata CPM, Polisi Negara, dan Siliwangi, sebelum mereka sebaliknya
dapat melucuti senjata kesatuan-kesatuan tentara tertentu yang memihak FDR.
Akan tetapi tidak ada instruksi sama sekali untuk menduduki jabatan, instansi-instansi
dan kedinasan-kedinasan pemerintah, apalagi mengambi alih kekuasaan [55].
Pada pagi-pagi sebelum fajar tanggal 18 September 1948
FDR/PKI mulai melancarkan serangan terhadap unsur-unsur pemerintahan pro-Hatta
di dalam kota Madiun. Dalam beberapa jam saja urusan itu cepat diselesaikan,
tanpa setetes darah pun yang tertumpah. Maka kota Madiun sudah di bawah kontrol
FDR/PKI. Kemudian ternyata bahwa seorang Kapten dari tentara pro-Hatta tewas.
Akan tetapi itu disebabkan oleh peluru nyasar [56].
Setiajid dan Wikana berada di Madiun. Dan mereka
memutuskan untuk mengambil alih kekuasaan baru, yang dinamakan Pemerintah Front
Nasional Daerah Madiun, tatkala mereka untuk pertama kalinya mendengar tentang
kejadian-kejadian yang dramatis di Madiun, ketika Sumarsono sedang berpidato
melalui radio dengan semangat dan penuh antusiasme. Pada malam harinya
disiarkan komentar dalam bahasa Belanda melalui Radio Gelora Pemuda. “Madiun
telah memberontak untuk menumpas semua musuh revolusi. Polisi, Polisi Militer,
dan tentara telah dilucuti senjatanya oleh rakyat. Kaum buruh dan tani telah
membentuk suatu pemerintahan yang baru. Senjata-senjata tidak diam sebelum
seluruh Indonesia dibebaskan. Dan revolusi sudah berbunyi.” [58]
Jika komentar tersebut benar, ternyatalah bahwa para
pemimpin FDR/PKI setempat telah mengambil keputusan atau inisiatif sendiri
tentang peningkatan kegiatan. Pemimpin-pemimpin FDR/PKI yang sedang mengadakan
perjalanan (tourne) seketika menghentikan kegiatan mereka dan segera berangkat
ke Madiun.
Setibanya di sana, baru saja 20 jam sesudah dimulainya
operasi, mereka mengadakan rapat untuk mendiskusikan situasi yang tidak
diduga-duga itu. Tetapi sebelum mereka sempat memberikan keterangan pers,
mereka juga telah dihadapkan dengan fakta kedua yang tak terduga. Yakni, pda
tanggal 19 September 1948 pukul 8 malam Presiden Sukarno menyatakan perang
dengan “PKI Musso”. Dalam pidato radionya ia antara lain mengucapkan:
“teranglah sudah bahwa kegiatan-kegiatan itu hanya mempunyai satu tujuan, yaitu
menjatuhkan Pemerintah Republik Indonesia... kemarin malam Musso dari PKI telah
melancarkan sebuah kup. Di Madiun pemerintah yang sah dikuasai dan dibentuk
sebuah Pemerintah Soviet di bawah pimpinan Musso.” Sukarno menyuruh rakyat
Indonesia membuat pilihan antara “Musso dengan PKI-nya yang akan membawa
cita-cita kemerdekaan Indonesia kepada kehancuran atau Sukarno dan Hatta yang
dengan bantuan atau restu Tuhan yang memimpin negara kepada Indonesia yang
merdeka, bebas dari semua penguasaan asing”.
Adalah tidak jelas apakah Sukarno pada saat itu sudah
mengetahui tentang usul kompromi atau pendekatan dari pihak FDR/PKI yang
berisi, bahwa mereka hanya membatasi diri sampai pendudukan kota Madiun saja
sebagai imbalan dari pihak penguasa di Yogyakarta untuk sungguh-sungguh
menerima elemen-elemen yang progresif di dalam pemerintahan. Akan tetapi
Pemerintah Hatta sudah kegirangan dengan terbukanya kesempatan yang sangat baik
dengan adanya usul kompromi itu untuk menyapu bersih kaum kiri dari muka bumi,
tentu saja setelah kini dia jauh lebih kuat. Belum tentu apakah kelak imbangan
kekuatan akan lebih membaik, maka oleh karena itu lebih baik sekarang
kemungkinan yang terbuka ini dimanfaatkan sebaik-baiknya. Tambahan pula Kabinet
Hatta sekarang ini sudah mampu memenuhi persyaratan dari Amerika untuk
mendapatkan bantuan, seperti yang telah dikemukakan oleh Cochran pada waktu
kunjungannya kepada Sukarno dan Hatta tanggal 19 September 1948 itu juga
(barulah Sukarno mengucapkan pidato radionya. [59]
Musso atas pernyataan perang dari Sukarno itu memberi
jawaban dengan segera secara tandas dan keras. Satu jam setengah setelah pidato
Sukarno ia menjawab: “Selama tiga tahun ini rakyat sudah muak dan bosan
terhadap Sukarno Hatta. Mereka dengan Belanda dan Inggris telah menjalankan
politik kapitulasi dan sekarang ini sedang bergiat untuk lagi-lagi menyerahkan
rakyat Indonesia kepada imperialisme Amerika.
”Musso merasa yakin bahwa rakyat Indonesia akan berdiri
di pihaknya dan bukan di pihak “pengkhianat-pengkhianat” dan
“tengkulak-tengkulak romusha, Sukarno-Hatta” [60]. Alers berkomentar atas
pidato Musso begini: “Hal ini agaknya merupakan suatu cukilan jiwa politik yang
paling buruk yang menandai sejarah bangsa Indonesia”. [61]
Sesudah itu jelas terlihat timbulnya suatu selisih
pendapat antara Musso di satu pihak dan para pemimpin FDR/PKI yang lainnya di
pihak lain. Hal ini dapat disimpulkan dari dua kenyataan. Yang pertama pidato
Musso tersebut adalah keterangan Musso resmi yang paling akhir, yang keluar
dari mulutnya sendiri. Hal kedua adalah munculnya para pemimpin FDR/PKI yang
lain dengan pernyataan-pernyataan lain yang sifatnya agak lunak dan bernada
seakan mengharapkan kerujukan. Sebagai contoh pada tanggal 20 September
berucaplah Suripno lewat radio, bertalian dengan kata-kata Sukarno yang
mengharuskan rakyat memilih antara Sukarno-Hatta atau Musso, bahwa rakyat
“tidak diharuskan memilih, melainkan harus melanjutkan perjuangan kemerdekaan” [62].
Pada hari itu juga Djokosudjono menerangkan: “Affair Madiun
bukanlah satu kup, dan bukanlah itu suatu usaha untuk membunuh Republik, akan
tetapi itu adalah suatu upaya untuk mengecilkan pengaruh anasir-anasir kolonial
dan feodal.” Dan Amir Syarifuddin menyatakan: “Undang-undang Dasar kami adalah
UUD RI, bendera kami adalah Sang Saka Merah Putih. Dan lagu kebangsaan kami tak
lain dari pada Indonesia Raya” [63].
Akan tetapi blok yang dibentuk oleh Hatta, Nasution dan
Masyumi tidak mau tahu tentang perujukan atau kompromi dengan “kaum kiri”.
Mereka sudah berniat dan berketetapan hati untuk menaklukkan kaum kiri.
Bukankah sudah terbuka kesempatan yang mereka nanti-nanti dan yang telah mereka
provokasikan sendiri. Bahkan tatkala Letkol. Suharto datang ke Yogyakarta [64] dengan membawa konsepsi kompromi yang jelas atas
perintah Pak Dirman, setelah menyelidiki masalahnya dan menerangkan situasi di
Madiun lain “daripada apa yang oleh Pemerintah diumumkan lewat radio” untuk
diketahui oleh masyarakat, tetap saja Hatta, Nasution, dan pimpinan Masyumi
menolak untuk berbicara dengan para pemimpin FDR/PKI [65].
Mereka yang akan memilih Musso harus dibunuh dan barang
siapa yang memilih Sukarno harus memusnahkan mereka sampai ke akar-akarnya.
Tidak boleh ada kerja yang setengah-setengah [66]. Muryanto menerangkan tidak
ada sama sekali “kup” di Madiun. Keadaan di kota itu selama ini tenang dan
biasa-biasa saja. Tidak ada orang yang ditangkap dan dibunuh. Menurut Muryanto
yang ada ialah cuma suatu sengketa militer, yang digerakkan oleh Hatta untuk
menyerang dan mengamuk [67].
Bahan-bahan keterangan (informasi) yang baru tentang
peristiwa Madiun menjurus kepada suatu kesimpulan, terutama bagi penulis bahwa
sudah terang dan nyata di Madiun tidak ada suatu perebutan kekuasaan (coup
d’etat). Paling banter orang dapat berbicara tentang penguasaan kota
(stadsgreep, “bukan staatsgreep”).
Tidak ada perencanaan untuk menggulingkan Pemerintah
Hatta. Yang ada cuma upaya FDR/PKI untuk bersama kekuatan bersenjata dan
tentara yang anti-rasionalisasi mengubah iklim dan suasana, serta menghentikan
serangan blok reaksioner dan kontra-revolusioner bentukan Hatta, Nasution, dan
pemimpin Masyumi.
Suatu fakta nyata adalah bahwa pemerintah dengan mudah saja dapat menangkap sejumlah besar pemimpin dan anggota FDR/PKI di Yogyakarta. Hal mana lebih meyakinkan tentang tidak adanya rencana coup d’etat. Bahkan wakil-wakil yang duduk dalam Badan Pekerja KNIP hadir dalam suatu sidang badan tersebut yang diadakan ada tanggal 20 September 1948 [68]. Orang-orang yang merenanakan coup pasti tidak akan bertingkah seperti itu, melainkan mereka semuanya akan menghilang.
Hari-hari berikutnya pemerintah masih juga dengan sama gampangnya dapat menangkapi ribuan politisi, orang-orang serikat buruh, wartawan dan lainnya [69]
Ada lagi fakta, yang dari padanya orang dapat menarik
kesimpulan bahwa tidak ada permasalahan “kup”, sebab banyak yang mengetahui
bahwa sebagian pemimpin FDR/PKI bepergian dalam tourne, sedang bagian yang lain
tenang saja berada di Yogyakarta.
Hatta memerintahkan tindakan kekerasan dan berdarah tanpa
mengenal kompromi dan ampun lagi. Kota Madiun telah ditaklukkan dalam tempo 10
hari oleh kesatuan-kesatuan tentara pemerintah dengan berintikan Divisi
Siliwangi. Setelah perlawanan gigih para pemimpin FDR/PKI terpaksa menyingkir
bersama-sama dengan pasukan mereka yang kecil saja. Mereka dikejar dan
kesudahannya ditangkap satu per satu. Musso gugur dalam suatu pertempuran
sengit. Ia menghembuskan nafas yang penghabisan dengan senjata di tangan. Amir
Syarifuddin, Maruto Darusman, Suripno, Djokosujono dan pemimpin-pemimpin lain
pada bulan Desember 1948 ditembak mati oleh Gatot Subroto atas perintah Hatta.
Begitulah Indonesia telah kehilangan sejumlah
pejuang-pejuang revolusionernya, patriot-patriot sejati yang berjuang bagi
kepentingan rakyatnya. Akhirnya Indonesia melalui tangan-tangan Hatta, Nasution
dan pemimpin-pemimpin Masyumi yang reaksioner, jatuh di bawah penindasan
imperialisme Amerika. Untung saja sejumlah pemimpin-pemimpin PKI luput dari
teror Hatta. Mareka kemudian menjadi pemimpin PKI yang tertinggi.
Dan dalam proses dekolonisasi-ekonomi pada tahun 1958-an [70] mereka itu cukup mampu membuktikan tuduhan PKI dan
para pengikutnya bukan patriot adalah tidak berdasar sama sekali. Di dalam
perjuangan melawan imperialisme Amerika, Inggris dan Belanda pada tahun 1950-an
dan 1960-an mereka teguh dalam garis paling depan di antara pejuang-pejuang
sejati dalam melawan imperialisme dan neo-kolonialisme.
Sebagai penutup berikut ini disertakan beberapa tambahan
penjelasan yang terasa perlu mengenai hal-hal yang tersebut dalam tulisan ini
yang dicukil dari catatan kaki (foot note) no.60 dan 70.
*Fasisme Jepang yang menduduki Indonesia dan seluruh Asia
Tenggara membutuhkan tenaga kerja murah untuk mendirikan dan membuat
sarana-sarana pertahanan. Mereka memaksakan kepada para penguasa (pemimpin)
yang di bawah kontrol mereka di Asia Tenggara – kalau di Indonesia adalah
Sukarno dan Hatta – untuk menyediakan tenaga kerja yang murah, dalam bahasa
Jepang disebut romusha. Dalam praktek terjadilah “kerja perbudakan” yang bengis
dan kejam. Puluhan ribu romusha mati lantaran kelaparan, kekurangan makan,
penyakit-penyakit tropis yang tidak mendapat pengobatan. Juga banyak romusha
yang mati lantaran kerja berat yang yang tidak berkeperimanusiaan, juga yang
mati lantaran pemboman-pemboman yang dahsyat menjelang akhir perang.
Musuh-musuh politik Sukarno-Hatta menganggap dua pemimpin itu menyerahkan
bangsanya secara sukarela untuk menjadi romusha [60]
*Tahun 1958 semua milik Belanda di Indonesia
dinasionalisasi. Dalam tahun 1963 terjadi nasionalisasi semua milik Inggris di
Indonesia [70].
Catatan:
[44] Lihat catatan [18].
[45] Untuk keterangan Sumarsono, lihat catatan [7] dan untuk Suripno lihat catatan [38].
[46] Kahin, Nationalism and Revolution (Nasionalisme dan Revolusi), p. 287.
[47] Menurut keterangan-keterangan Sumarsono pada tanggal 11 November 1949 (lihat catatan kaki 7, p. 2).
[48] D.C. Anderson, “The Military Aspects” (Aspek-aspek Militer), p. 15.
[49] ibid.
[50] ibid.
[51] Keterangan-keterangan Sumarsono.
[52] ibid.
[53] ibid.
[54] D.C. Anderson, “The Military Aspects” (Aspek-aspek Militer), p. 25.
[55] Keterangan-keterangan Sumarsono, p. 5.
[56] Penuturan dari Moorianto.
[57] Keterangan-keterangan Sumarsono.
[58] Dinas Penyuluhan Pemerintah (RVD), Glashnews No. 2. Kup di Madiun – Kekhususan II, Batavia, 20 September 1948.
[59] Penuturan-penuturan Ruth Mc. Vey kepada D.C. Anderson - “The Military Aspects” (Aspek-aspek Militer), p. 27.
[60] Lihat keterangan tambahan (*).
[61] H.J.H. Alers, Om een rode of groene Merdeka: 10 jaren binnenlandse politiek; (Bagi Merdeka yang merah atau hijau; 10 tahun politik dalam negeri), Indonesia, 1943-1953, Eindhoven, 1956, p. 190.
[62] Kantor Berita Aneta, 20 September 1948.
[63] ibid.
[64] Keterangan-keterangan Sumarsono.
[65] Lihat juga Bintang Merah, Agustus-September 1951.
[66] Dokumen GMI No. 5334 – Terjemhan ke Bahasa Belanda dari pernyataan dari pengurus Dewan Pertahanan dari Pengurus Besar Masyumi 7 Oktober 1948.
[67] Percakapan dengan Moorianto pada tanggal 25 April 1979.
[68] Buku Putih tentang Peristiwa Madiun, Jakarta, tidak ada keterangan tahun.
[69] Percakapan dengan Parna yang juga termasuk salah seorang dari sejumlah besar tahanan.
[70] Lihat keterangan tambahan
(*).
Martin L Mau menanggapi
soal Madiun dijadikan sebagai basis dan daerah pengunduran diri. Ada versi yang
menyatakan, sejak Musso datang dengan Resolusi Jalan Baru-nya, FDR/PKI
mempersiapkan dislokasi pasukan ke demarkasi. Bisa dibaca dalam "Yang
Berlawan: Kumpulan Catatan Untuk Tambahan Bahan Studi", hlm. 195 yang
ditulis oleh S. Kromorahardjo: ”Sebelum memulai Kampanye Jalan Baru, PKI sudah
mempersiapkan dislokalisasi pasukan untuk memimpin dan mengorganisir rakyat
melakukan perlawanan di daerah pendudukan Belanda. Dislokalisasi pasukan ini
memiliki arti strategis, dimana rakyat akan melihat siapa pihak yang paling
konsekwen berjuang melawan Belanda, sekaligus menciptakan situasi tidak stabil
di daerah pendudukan Belanda. Dengan menguatnya dukungan rakyat terhadap PKI
dan terciptanya situasi yang tidak stabil di daerah pendudukan Belanda ini maka
praktis persetujuan gencatan senjata menjadi lumpuh dan persetujuan Renville
menjadi terhapus." Mr. Siregar dalam dalam buku "Tragedi Manusia dan
Kemanusiaan: Holokaus Terbesar Setelah NAZI", hlm. 22, menulis: “Gagasan
mengenai dislokasi pasukan berasal dari hasil-hasil percakapan antara Musso
dengan kader-kader PKI seperti Jenderal Mayor Sudradjat, bekas kepala seksi
amunisi Kementerian Pertahanan, Supeno, bekas Inspektorat Pemuda Biro
Perjuangan, Nata, Bekas Ketua Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia
Keresidenan Kediri serta beberapa komandan-komandan pasukan yang mendukung PKI.
Tidak lama setelah itu, sejumlah komandan lasykar rakyat bergerak menuju
demarkasi. Resimen Tenggor yang dipimpin oleh Sugiri bergerak menuju
Temanggung. Langkah dan tujuan yang sama juga dilakukan oleh batalyon eks-Pesindo
Pekalongan, yang dipimpin oleh Mayor Mahmud. Konsolidasi antar pasukan semakin
diintensifkan untuk mewujudkan perlawanan di daerah pendudukan Belanda ini.
Satuan-satuan dari unsur Pesindo, Lasykar Buruh, Lasykar Merah dan Lasykar
Rakyat yang selama ini berada di bawah berbagai panji, akan disatukan di bawah
satu panji dan satu komando, yang akan diadakan pada Kongres Fusi bulan Oktober
1948."
Solo dan Madiun (1)
Pengantar
Berikut disajikan karya seorang ilmuwan Barat, R. Kreutzer. Meski data dan
analisanya belum lengkap dan sempurna, seperti diakui sendiri oleh penulisnya,
tapi cukup berguna untuk dipelajari serta memperluas pengetahuan. Paling tidak
agar tahu duduk perkara yang sesungguhnya mengenai “Peristiwa Madiun”.
Tulisan R. Kreutzer berjudul, “Hal Ihwal yang Mendahului
(Voorspel) Peristiwa Madiun”, ini terdiri tujuh sub-judul, yakni:
I. Jatuhnya Kabinet Amir Syarifuddin. FDR ambil sikap
oposisi,
II. Politik rasionalisasi Hatta,
III. Perjuangan sekitar Program Nasional,
IV. Pemogokan kaum buruh perkebunan Delanggu,
V. Permasalahan Suripno dan hubungan luar negeri RI,
VI. Kembalinya Musso dan pembentukan FDR,
VII. Solo dan Madiun.
Pada kesempatan ini saya pilihkan bahasan tentang Solo
dan Madiun. Semoga bermanfaat.
Keterangan foto: Tampilan khasnya mengenakan baret hitam dan selalu menyandang senapan Karabin M1. Letkol. Suadi Suromihardjo menjabat komandan pasukan kawal Panglima Besar Jenderal Sudirman.
Solo dan Madiun
(1)
Setelah kejadian pada dua minggu terakhir sebelum Peristiwa Madiun yang tanggalnya jatuh 18 September 1948, dapat dibaca secara jelas dan dirangkaikan baik sekali dalam satu ulasan dari DC Anderson berjudul: “The military aspects of the Madiun Affaire” [44]
Suatu pemandangan ringkas tentang fakta-fakta terdapat
dalam brosur yang diterbitkan oleh PKI pada awal tahun 1950-an dengan judul
“Buku Putih tentang Peristiwa Madiun”. Ada orang yang mengatakan, bahwa brosure
tersebut telah mengungkapkan affair itu secara berat sebelah. Sumber ketiga
yang penting juga adalah keterangan-keterangan yang diberikan oleh Sumarsono
tertanggal 11 November 1949 – Sumarsono dari Pesindo pada tanggal 18 September
menjabat sebagai Gubernur Militer Madiun – dan rangkaian catatan dari Suripno
yang ditulisnya dalam bulan Desember 1948 di dalam penjara Solo, dekat sebelum
pelaksanaan eksekusinya. [45]
Pada pekan-pekan sebelum 18 September percaturan politik
bergerak cepat laksana arus deras air sungai. Sementara sebagian para pemimpin
FDR melakukan perjalanan keliling untuk berpropaganda di Jateng dan Jatim
mengenai cita-cita FDR/PKI di bawah pimpinan Musso, bagian yang lainnya tinggal
di Yogyakarta untuk mengajak pimpinan PNI dan Masyumi membentuk suatu
Pemerintahan Nasional, dimana turut serta duduk wakil-wakil FDR/PKI.
Dalam kenyataannya situasi yang sedang dihadapi oleh
FDR/PKI agak kacau. Proses penyatuan organisasinya sebenarnya belum terwujud.
Hal itu dalam perencanaan baru akan terjadi pada suatu Kongres Penyatuan (fusi)
pada tanggal 1-3 Oktober 1948. Dalam beberapa jajaran baik dari PBI maupun
Partai Sosialis masih ada penentangan terhadap keputusan-keputusan dari
Konferensi PKI tertanggal 26 dan 27 Agustus yang lalu – umpamanya di
Bojonegoro, Jatim.
Dalam waktu-waktu tersebut di atas telah terjadi juga
beberapa pertempuran bersenjata kecil-kecilan antara unsur-unsur pro-Hatta
berupa kesatuan tentara di satu pihak dengan kelompok-kelompok bersenjata
pro-FDR di pihak lain. Ternyata bahwa tentara resmi Republik, TNI yang dibantu
oleh kelompok Trotskis Tan Malaka dan pasukan-pasukan laskar yang pro-Masyumi,
secara tidak nyata telah memulai melucuti pasukan-pasukan militer “kaum kiri”
dan beberapa kesatuan TNI. Juga bertamabh sering terjadi penculikan atau
pembunuhan atas perwira-perwira yang berhaluan kiri. Berikut ini beberapa
contoh:
Sejak permulaan September pemerintah Hatta menyingkirkan
makin banyak perwira-perwira pro-PKI dari jabatan-jabatan kunci pasukan tetap
TNI [46].
Brigade Polisi Bojonegoro yang dipimpin seorang anggota
Partai Sosialis bernama Asmaun, atas perintah Pemerintah Hatta dilucuti oleh
Brigade Polisi Umum Jatim. Atas ihwal ini pihak FDR/PKI membalas dengan
perlucutan senjata beberapa kesatuan dari Brigade Polisi Umum. [47]
Pada tanggal 1 September 2 anggota pimpinan PKI Solo –
Slamet Wijaya dan Pardio diculik. Mereka dipindahkan ke basis tentara di
Tasikmadu dan di sana mereka diperiksa secara dikonfrontasi dengan saksi yang
diperas ialah keterangan-keterangan tentang rahasia Partai di Solo. [48]
Tanggal 7 September hampir semua perwira dan sejumlah
prajurit dari Tentara Laut RI di bawah Komando Yadau (TLRI Brigade Marine)
diculik dengan tipu muslihat yang amat licik. Mereka dipindahkan ke suatu basis
Siliwangi di dekat Srambatan [49].
Kemudian mereka dipindah lagi ke suatu tempat yang oleh
Pemerintah Hatta telah disediakan secara khusus, hingga merupakan kamp
interniran, di dekat Yogyakarta. Dengan demikian cukuplah bukti nyata bahwa
Siliwangi maupun Pemerintah Hatta benar-benar terlibat dalam tindak kejahatan
penculikan dan pembunuhan.
Tanggal 9 September, Suadi, penerus dari Sutarto, sebagai
Komandan Senopati, mendapatkan izin dari Panglima Besar Sudirman untuk
mengadakan pelacakan (penyelidikan) yang cermat tentang perbuatan penculikan
dan pembunuhan yang terjadi. Akan tetapi baru saja pelacakan itu dimulai,
perwira-perwira yang ditugaskan untuk itu, lagi-lagi diculik.
Suharman hilang tanpa meninggalkan jejak, dan Letkol.
Sumarto diculik serta dibawa ke basis dekat Srambatan. Komandan Senopati,
Suadi, menghendaki kembalinya Sumarto dan mengirim ultimatum kepada kesatuan
Siliwangi di Srambatan.
Sejenak sebelum berlakunya ultimatum itu, seorang perwira
dari ALRI, yakni Mayor Laut Sutarno diutus ke Srambatan untuk menerima jawaban.
Tetapi sewaktu tiba di tempat, ia ditembak mati. Segera sesudah itu beberapa
kesatuan Senopati menyerang basis Srambatan. Dan baru setelah ada desakan dari
Panglima Besar Sudirman terjadi perletakan (gencatan) senjata. [50]
Gerombolan Trotskis Tan Malaka melakukan provokasi secara
beruntun. Dalam beberapa pidato, misalnya pidato Rustam Efendi tanggal 5
September 1948, para pemimpin FDR/PKI dicaci maki sebagai “komunis-komunis
Wilhelmina” dan “penjual-penjual tanah air”. Mereka memalsukan dokumen-dokumen
PKI dan kemudian mencetak “bukti-bukti PKI mempersiapkan kup”.
Pada tanggal 8 malam 9 September mereka menyerbu ke dalam
Markas Dewan Pusat Pesindo di Solo, dan mengangkut seluruh arsip Pesindo.
Sebagai pembalasan perbuatan itu, sekelompok anggota FDR/PKI disangka telah
menculik seorang pemimpin dari golongan Trotskis Tan Malaka, yaitu Dr. Muwardi.
Tatkala Dr. Muwardi tidak segera dibebaskan, gerombolan Trotskis sekali lagi
menggempur Markas DP Pesindo.
Tanggal 13 September 1948, sejumlah anggota Pesindo di
Blitar ditangkap oleh Pasukan Pemerintah. Dan pada hari yang sama diadakan apa
yang dinamakan “aksi pembersihan” di kawasan Nganjuk, sebuah kota kecil di
sebelah timur Madiun, oleh sebuah kesatuan militer di bawah komando Suhud,
seorang penganut yang berapi-api dari rasionalisasi Hatta.
Masih ada lagi beberapa contoh yang dapat dikemukakan
untuk membuktikan dengan jelas bahwa Pemerintah Hatta sudah mulai dengan cepat
untuk menggergaji kaki-kaki kursi militer PKI.
Anderson melukiskan dalam karya tulisannya, bagaimana
caranya dengan tekanan para perwira Siliwangi yang bernyala-nyala antikomunis,
dan Nasution mengubah rencana Panglima Besar Sudirman yang berkaitan dengan
sengketa Solo.
Semula ia bermaksud akan menarik Pasukan Siliwangi dari
Solo dan daerah sekitarnya, dan seluruh wilayah termasuk kota Solo, kemudian
akan diserahkan kepada Divisi Senopati. Akan tetapi di bawah tekanan berat dari
Nasution serta rekan-rekannya yang sepaham, akhirnya Sudirman secara total
mengubah pendiriannya dan malah memutuskan menetapkan mengangkat Kolonel Gatot
Subroto (bekas Sersan Mayor KNIL) yang pro-Siliwangi sebagai Gubernur Militer
Solo dan daerah sekitarnya.
Gatot cukup dikenal dengan wataknya yang keras, yang
terbentuk selama dalam tentara zaman penjajahan sebelum perang. Dia sebelumnya
menjabat sebagai Direktur Corps Polisi Militer (CPM).
Dalam kenyataannya oposisi golongan kiri terhadap
Pemerintah Hatta telah menderita kekalahan berat yang mengenai segi terpenting.
Bahkan pada saat sebelum dimulainya pertempuran di medan laga. Kubu pertahanan
terakhir yang kuat dari FDR/PKI adalah Madiun, setelah Yogya dan Solo, kota
terbesar ketiga yang tinggal di bawah kontrol Republik Indonesia.
Batavia (Jakarta) dan Surabaya, sudah jatuh ke tangan
Belanda yang telah kembali di Indonesia. Akan tetapi terpengaruh oleh peristiwa
Solo, kedua belah pihak membuat persiapan lebih jauh untuk menghadapi
pertarungan yang menentukan... (Bersambung)
Martin L: De
Madioen Affair dalam sub-judul Het Proces van de Madioen Affair, hlm. 5
menyebutkan aksi terjadi pada tengah malam antara tanggal 18-19 September 1948.
Menurut kesaksian Soemarsono pada saya, aksi tersebut dilakukan pada pukul
02:00 dinihari (sudah tanggal 19 September 1948).
Soemarsono menjabat Gubernur Militer Madiun pada tanggal 24 September 1948 (de Madioen Affair, hlm 7). Di dokumen tsb dituliskan susunan Front Nasional Daerah Madiun sebagai berikut:
1. Harjono ketua komite Front Nasional Daerah Madiun
2. Soemarsono, gubernur militer Madiun
3. Djokosujono, komandan militer Madiun
4. Muntalip, residen Madiun
5. Oesman, walikota Madiun
6. Sugeng, bupati Madiun
7. Suharjo, bupati Ponorogo
8. Machsudun Sati, bupati Magetan
9. Ngabdu, bupati Ngawi
10. Hutomo Ramelan, bupati Pacitan
Soemarsono menjabat Gubernur Militer Madiun pada tanggal 24 September 1948 (de Madioen Affair, hlm 7). Di dokumen tsb dituliskan susunan Front Nasional Daerah Madiun sebagai berikut:
1. Harjono ketua komite Front Nasional Daerah Madiun
2. Soemarsono, gubernur militer Madiun
3. Djokosujono, komandan militer Madiun
4. Muntalip, residen Madiun
5. Oesman, walikota Madiun
6. Sugeng, bupati Madiun
7. Suharjo, bupati Ponorogo
8. Machsudun Sati, bupati Magetan
9. Ngabdu, bupati Ngawi
10. Hutomo Ramelan, bupati Pacitan
Tentang para komandan batalyon TLRI yang diculik. Dari Brigade VII dibawah komando Letkol Ahmad Yadau ada 3 orang: Mayor Esmara Sugeng, Kapten Sutarto dan Kapten Suradi. Dari Brigade VIII dibawah komando Letkol Sujoto, 2 orang: Kapten Sapardi dan Kapten Mulyono. Tanggal 13 September 1948, Overste Suadi menugaskan Mayor Sutarno, salah seorang komandan batalyon dalam Brigade Yadau untuk berunding dengan Kompi Lukas, dari Batalyon Rukman di Srambatan. Ketika turun dari truk, Sutarno bersama sejumlah pengawalnya gugur dihujani tembakan dari markas Kompi Lukas. Praktis, Yadau kehilangan 4 komandan batalyon. Yang tersisa seorang komandan batalyon, Kapten Achyat Marjono, yang tidak lain adik kandung Yadau. Inilah yang memicu kemarahan Yadau sehingga menyerang Siliwangi di Solo. Belakangan, Komandan Militer Kota Mayor Slamet Riyadi mendapat informasi bahwa 3 batalyon Siliwangi secara diam-diam memperkuat markas Kompi Lukas pada pagi hari tanggal 13 September 1948. (Kesaksian A. Lukito, putera Ahmad Yadau)
Langganan:
Postingan (Atom)


















