HUTAN MONGGOT

“Menurut taksiran, korban yang dieksekusi dan dibuang di lokasi ini tak kurang dari 2.000 orang”, kata saksi sejarah sambil menunjukkan lokasinya [Foto: Humas YPKP]

SIMPOSIUM NASIONAL

Simposium Nasional Bedah Tragedi 1965 Pendekatan Kesejarahan yang pertama digelar Negara memicu kepanikan kelompok yang berkaitan dengan kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66; lalu menggelar simposium tandingan

ARSIP RAHASIA

Sejumlah dokumen diplomatik Amerika Serikat periode 1964-1968 (BBC/TITO SIANIPAR)

MASS GRAVE

Penggalian kuburan massal korban pembantaian militer pada kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66 di Bali. Keberadaan kuburan massal ini membuktikan adanya kejahatan kemanusiaan di masa lalu..

TRUTH FOUNDATION: Ketua YPKP 65 Bedjo Untung diundang ke Korea Selatan untuk menerima penghargaan Human Right Award of The Truth Foundation (26/6/2017) bertepatan dengan Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Korban Kekerasan [Foto: Humas YPKP'65]

Tampilkan postingan dengan label Lekra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lekra. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Maret 2020

Semua Adalah PKI


Oleh : Dandhy Dwi Laksono

Seperti halnya 'Genjer-Genjer" yang diciptakan M Arief, lagu "Garuda Pancasila" juga diciptakan seniman Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Ia bernama Sudharnoto, pada 1956.

Karena militer dan Orde Baru menganggap Lekra sama dengan PKI, Sudharnoto yang pernah bekerja di RRI Jakarta kemudian ikut dikejar-kejar dan dibui. Setelah keluar penjara sekitar 1968-1969, ia bekerja sebagai penjual es dan sopir taksi. Nasibnya memang sedikit lebih beruntung daripada M Arief yang hilang setelah peristiwa 30 September.

Di mata Orde Baru, kesalahannya sangat fatal: Menciptakan lagu "Genjer-Genjer" pada tahun 1942 dengan konteks penderitaan rakyat menghadapi invasi Jepang, dan lalu lagu itu digemari Njoto (tokoh PKI) yang sedang singgah ke Banyuwangi.

Lho, apa hubungannya dengan dia sebagai pencipta lagu? Sejak kapan watak fasis perlu alasan yang masuk akal atas segala sesuatu?

LBH Jakarta dan YLBHI yang secara historis membela semua kelompok dan ideologi (termasuk kubu Islam garis keras), dihasut sebagai "sarang PKI" dan diserang.

Patung Tani yang merupakan simbol mobilisasi umum untuk merebut Papua dari Belanda juga disebut simbol PKI. Buku "Das Kapital" yang berisi dasar-dasar pemikiran komunisme, justru disebut "mengajari generasi muda menjadi kapitalis".

Hanya karena sama-sama berjenggot, foto Mikhail Bakunin yang dicetak di kaos merah salah satu peserta yang datang ke LBH, dikira foto Karl Marx dan dianggap sebagai bukti keberadaan komunis di acara itu. Padahal Bakunin penentang komunisme (negara) seperti yang terjadi di Soviet yang dianggapnya sama menindasnya dengan kapitalisme.

Kelompok fasis yang membalut identitasnya dengan agama ini bahkan ngotot menyebut Jokowi adalah komunis meski kebijakan dan proyek-proyek pembangunannya justru sangat kapitalistik dan menimbulkan konflik di mana-mana, seperti reklamasi Teluk Jakarta, sawah sejuta hektar di Papua yang akan dikelola perusahaan (bukan rakyat), atau PLTU-PLTU dan bendungannya yang tidak mencerminkan keadilan ekologis.

Kelompok ini tidak mau tahu dan tidak peduli.

Jokowi dan Istana tetap disebut mendukung kebangkitan PKI. Padahal ia tidak merebut dan membagi-bagikan tanah kepada petani seperti BTI atau PKI. Ia hanya membagi-bagikan sertifikat yang secara jelas menguatkan konsep kepemilikian pribadi terhadap tanah. Jauh dari ide tanah sebagai faktor produksi yang harus dikuasai secara komunal.

Dengan disertifikasi, tanah yang milik pribadi, lebih mudah dibeli dan dikuasai modal, seperti kasus komunitas Sunda Wiwitan di Kuningan, Jawa Barat. Beda dengan tanah di Baduy Dalam atau Tenganan Pegringsingan di Karangasem yang tak dapat diperjualbelikan ke pemodal resort atau hotel karena milik adat.

Jokowi harus disebut PKI. Begitu juga PDIP yang dalam sejarahnya merupakan fusi partai nasional seperti PNI dan agama (non-Islam). Meski dalam sejarahnya PNI dan PKI sengit berkonflik (sesengit saling serang antara koran Suluh Indonesia-PNI dan Harian Rakyat -PKI), tapi gerombolan ahistoris ini tak peduli.

PDIP dianggap sama dengan komunis. Padahal menjadi Marhaenis saja, partai ini gagapnya setengah mati. Kader-kadernya seperti Ganjar Pranowo di Jawa Tengah, lebih sibuk membela pabrik semen daripada para petani seperti Pak Marhaen yang sedang mempertahankan sumber air untuk mengairi sawahnya sendiri yang sepetak-dua petak.

Partai ini bahkan mendukung Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama yang kebijakan pembangunannya menggusur, bahkan dengan melibatkan tentara. Ahok sendiri adalah pejabat yang dengan enteng menyebut warga bantaran Waduk Pluit sebagai "komunis", karena dianggap menduduki "tanah negara".

Tapi bagi kelompok sejenis "massa 299" ini, semua itu tak penting dan tak relevan. Mereka kawin mawin dengan para jenderal dan pensiunan yang rindu masa-masa kejayaan Dwifungsi ABRI di era Orde Baru. Yang bisa memegang tongkat komando, tapi juga bisa duduk di pemerintahan sebagai pejabat yang mengatur APBN atau APBD. Yang bisa mengerahkan pasukan, tapi juga bisa duduk di DPR ikut membuat Undang Undang. Yang tetap mempertahankan baret dan seragamnya, tapi juga bisa duduk di komisaris perusahaan negara, daerah, dan swasta.

Siapa yang tak rindu masa-masa itu? Dan jalan paling murah untuk mewujudkannya adalah menggalang sentimen anti-komunisme, dibalut agama. Karena itu semua harus di-PKI-kan. Semua adalah PKI. Padahal merekalah yang PKI: Penduduk Kurang Informasi.

***
(Matipa, Refleksi_Menolak Lupa,01-03-2020)

Rabu, 22 Mei 2019

Senandung Sendu Seniman Ketoprak Ketika Terseret Pusaran Geger 1965


Mahandis Yoanata Thamrin - Rabu, 22 Mei 2019 | 16:00 WIB

Seorang pemain ketoprak baru saja menyelesaikan rias wajahnya. Malam itu dia berperan sebagai warok yang digambarkan berbadan perkasa dengan bulu dada, wajahnya berkumis dan bercambang lebat. Rombongan ketopraknya berpentas di Wado, pinggiran Blora.
“Di zaman PKI seniman sangat diperhatikan,” ujar Randimo. “Ya, karena ditunggangi itu setiap desa punya gamelan. Kok, setelah gestok gamelan pada hilang entah kemana.”

Randimo lahir 76 tahun silam di Prambanan. Lelaki sepuh yang masih bersemangat itu merupakan pegiat kesenian ketoprak di Balekambang, Surakarta. Dua tahun silam, saya menjumpai lelaki itu di kediamannya di Sumber, yang berada tak jauh dari tembok keliling Balekambang. 

Boleh dikata, dia merupakan sesepuh di paguyuban kesenian itu lantaran sudah banyak makan asam garam di panggung ketoprak sejak lebih dari 60 tahun silam. Bahkan, Randimo masih bergiat membina paguyuban ketoprak di tempat kelahirannya.

Dia berkisah kepada saya. Petualangannya dalam seni pertunjukan bermula ketika Randimo turut kelompok srandul, ketoprak jalanan yang bermain di pelataran tanpa tobong.  Kemudian, dia bergabung dengan ketoprak Balekambang pada awal 1960-an, hingga menjadi saksi sejarah kelam tatkala geger politik pada 1965. Singkatnya, lelaki itu adalah pemain ketoprak kawakan. Ketoprak sudah menjadi jalan hidupnya, pun nada dering gawainya melantunkan seruling dan rebab yang menyayat-nyayat.

Randimo, sesepuh paguyuban ketoprak di Taman Balekambang, Surakarta. Lebih dari 50 tahun dia telah bertualang di pentas ketoprak, dari pentas srandul sampai ketoprak modern.

Sekitar 1964-65 Randimo berpentas bersama Krido Mardi di Prambanan. Kelompok ketoprak di bawah naungan Lembaga Kebudajaan Rakjat (LEKRA) itu tengah berada di tajuk kesohorannya. Randimo mengenang lakon-lakon yang dipentaskan dari “Romeo Juliet” hingga “Pilistine dan Nazareth”.
“Dulu nama karawitan Paguyuban LEKRA itu disegani,” kata Randimo.
 Memang, ungkapnya, orang-orang tidak mengerti tentang apa itu LEKRA.
Mereka bergabung dalam wadah kesenian yang anggotanya direkrut oleh carik setempat.
 “Semua tidak tahu-menahu, yang penting dibayar,” ujarnya. “Tidak ada rasa takut, karena tidak tahu.”
Pada 1955-65 kelompok ketoprak telah terbagi dua aliran: PNI (Partai Nasional Indonesia) yang berafiliasi dengan Lembaga Ketoprak Nasional, dan PKI (Partai Komunis Indonesia) yang berafiliasi dengan LEKRA.

Meskipun “berafiliasi”, kadang orang sulit mengungkapkan fakta kaitan langsung PKI dan LEKRA, lantaran organisasi seniman itu bukan paguyuban resmi milik partai.
“Dulu nama karawitan Paguyuban LEKRA itu disegani,” kata Randimo. “Semua tidak tahu-menahu, yang penting dibayar. Tidak ada rasa takut, karena tidak tahu.”
BAKOKSI (Badan Kontak Organisasi Ketoprak Seluruh Indonesia) yang dibentuk LEKRA telah menaungi paguyuban ketoprak dari 275 pada 1957 menjadi  371 pada 1964. Lakon-lakon ketoprak dan kesenian panggung lainnya diadaptasi sebagai propaganda partai. Kesenian rakyat pun menjadi sebuah kegiatan seni yang kritis, progresif, dan radikal. Lewat seni, pandangan dan ide partai disisipkan sehingga masyarakat lebih memahami esensi pesannya.

Para seniman dan budayawan terseret dalam pusaran politik—disadari atau tidak. Ketika bahtera Sukarno terempas badai politik, PKI pun menjadi bulan-bulanan. Peristiwa itu menggayang para seniman LEKRA yang umumnya tak bekerja untuk politik partai.

Randimo bersaksi atas nasib pemain ketoprak menyusul terjadinya penculikan dan pembunuhan para jenderal di Jakarta dan Yogyakarta, akhir September 1965.  Sebuah peristiwa yang lekat dengan ingatan warga Indonesia sebagai sebuah percobaan kup.

Beberapa seniman profesional ketoprak Balekambang Surakarta tengah bersiap pentas.

Ketika itu orang-orang yang diduga terkait dengan LEKRA diganyang habis.
 “Di Prambanan, lurah dan stafnya habis.” Dia juga mengenang kejadian yang membinasakan teman-teman sejawatnya, “Pemain ketoprak habis!”
“Meledak pertama di Pandan Simping,” ingatan Randimo melayang ke suatu tempat tak jauh dari kompleks Candi Prambanan.
Di kolong jembatan yang menghubungkan Yogyakarta dan Klaten, ratusan warga dan pemain ketoprak yang diduga simpatisan LEKRA dibantai. “[Ketika itu] saya berada di barat jembatan sedang klonengan—bermain gamelan.”
Randimo menyaksikan jalanan sudah dijejali tentara. Sampai saat itu pun dia belum menyadari apa yang sesungguhnya terjadi, sementara dengan keheranan dia mendengar orang-orang berbisik, “Geger PKI! Geger PKI!”
Sejak munculnya upaya pembersihan orang-orang yang diduga terkait  PKI pasca-September 1965, banyak teman-teman Randimo yang menghilang. Pemain ketoprak diambil satu-satu saat pentas, bahkan pesinden turut terciduk. Kelompok yang aman adalah para niyaga, atau penabuh gamelan—mungkin dianggap tidak terlalu berbahaya.

Celakanya, warga yang tidak tahu menahu soal LEKRA pun dibasmi.  
“Satu kelurahan pria tinggal lima—semuanya kena,” ujarnya. “Teman ketoprak saya banyak sekali yang kena. Tapi, alhamdulillahada yang tidak dibunuh. Saya selamat.”
“Satu kelurahan pria tinggal lima—semuanya kena,” ujarnya. “Teman ketoprak saya banyak sekali yang kena. Tapi, alhamdulillah ada yang tidak dibunuh. Saya selamat.”
Saya bertanya kepada Randimo, bagaimana dia bisa selamat?
Randimo mengatakan bahwa dia selamat karena saat geger itu dia berganti peran, bukan sebagai pemain ketoprak melainkan sebagai petugas berseragam tentara. Dia bertugas di sebuah kantor kecamatan selama tiga tahun.
“Saya jaga dengan baret merah berlambang PNI banteng, keliling operasi dengan sepatu kedodoran karena lungsuran,” ujarnya jenaka. “Bangga sekali sampai pulang pun malas untuk melepas sepatu. Saya aman!”
Meskipun terjadi guncangan yang hebat bagi dunia kesenian pada akhir 1965ketoprak mulai bangkit tertatih-tatih pada tahun berikutnya dan eksis kembali sekitar 1968.
“Memang ketoprak pasca-G-30-S bukan tidak diperbolehkan atau dilarang,” ujar Randimo sambil menjepit sebatang rokok kretek dengan bibirnya. Dia memantik korek api, lalu mengembuskan asapnya. “Cuma takut!”

Adegan tawur atau perang menjadi daya tarik pemirsanya. Pemain ketoprak membutuhkan kekuatan otot dan nyali. Tidak seperti tayangan film atau sinetron, sedikit lengah badan pemain pun memar.

Ketoprak tersangkut dalam keruwetan masalah politik, meskipun pemainnya tidak berpolitik. Pemain ketoprak saat itu umumnya tidak bersekolah.  Para pemainnya tidak mengerti soal uang, mereka hanya mengharap bisa menunaikan ibadah makan, sehingga pernah ada istilah kotoprak madhang — atau ketoprak makan.

Ketika militer dipakai untuk menumpas orang-orang yang terlibat PKI, Randimo dan rekan-rekan sejawatnya justru ditanggap untuk menghibur satu batalyon asal Jawa Timur yang sedang bertugas di Cilacap. 
 “Tiga bulan di Cilacap bersama Ranto Gudel,” kenangnya tentang suatu masa pada awal Orde Baru. “Penghibur tentara pascagestok.”
Kekerasan budaya itu dianggap sebuah kewajaran, sekaligus merupakan pembenaran terhadap antikomunisme. Propaganda politik lewat kesenian—sastra dan film—pada masa itu telah membuat masyarakat Indonesia terjangkiti paranoia.

Selama Orde Baru, lagi-lagi kesenian digunakan untuk melegitimasi kekerasan dalam peristiwa pembantaian massal orang-orang yang diduga terkait komunisme. Kekerasan budaya itu dianggap sebuah kewajaran, sekaligus merupakan pembenaran terhadap antikomunisme. Propaganda politik lewat kesenian—sastra dan film—telah membuat masyarakat Indonesia terjangkiti paranoia. Kendati sebagian orang telah menyadarinya, dampak kebijakan itu masih dirasakan hingga hari ini.

Ketoprak memang telah menjadi corong paling cerdas yang mudah ditangkap oleh indera masyarakat. Keterlibatan ketoprak dalam panggung politik pada awal Republik ini berdiri, akhirnya nyaris membinasakan ketoprak  itu sendiri—dan juga nyawa para senimannya. 
Bagi Randimo, perjalanan hidupnya telah menyimpulkan bahwa para pemain ketoprak itu “belajar dipanggung, pandai juga dari panggung. Tidak berpolitik tetapi dipakai untuk politik.”

Rabu, 20 Maret 2019

Membongkar Pasung "Ronggeng Kunes"

TRIBUTE TO KUNES: Repertoar Ronggeng Kunes digelar oleh komunitas "Titik Kumpul" di Roemah Martha Tilaar Gombong (16/3) mengingatkan pada tragedi politik 1965 yang memicu gelombang "genosida" dan merambah wilayah budaya di Banyumas [Foto: Ar]

Keberanian mbarang lengger komunitas “Titik Kumpul” di Roemah Martha Tilaar, pantas mendapatkan apresiasi luas. Pilihan mengangkat repertoar berbingkai Tribute to Kunesyang dipersiapkan bagi panggung Asia di Taiwan April-Mei mendatang; membuat penonton terpengarah (16/3/2019) malam itu. Namun sedikit dari yang terpengarah itu memahami kesima “Kunes” dalam konteks sejarah dan lokalitasnya. Penari tradisi bumi Banyumas selatan yang lahir seabad lalu, sedikit diketahui, pada zaman berikutnya telah menjadi bagian langsung dari sejarah kelam kejahatan atas kemanusiaan (crimes against humanity)pada medio dekade 60-an. 

Dalam perspektif genosida dimana pembasmian meluas atas sekelompok tertentu manusia di sebuah negara, maka tragedi yang dalam idiom lokal disebut Geger Gestok 65, telahmerambah masuk pula ke dalam wilayah budaya sebagai obyek penghancurannya. Perjalanan penari Ronggeng Kunes yang berhilir tragis; memang jadi linier dengan apa yang pernah ditulis novelis Ahmad Tohari pada novel triloginya Ronggeng Dukuh Paruk(berikut 2 novel lainnya, Lintang Kemukus Dinihari, Jentera Bianglala) yang usai melampaui batas bahasa di beberapa negara itu.

Pada kasus booming novel karya sastranya Ahmad Tohari mengakui realitas masih lekatnyacommunisto-phobia, yang pada gilirannya telah cukup membuat repot penulisnya. Bahwa masa itu telah lewat, ya. Tetapi sejarah memiliki cara tutur dan jalan takdirnya sendiri, termasuk dalam berhadapan dengan segala phobia; yang mungkin hari ini pun masih ada karena memang dipelihara. Tak terkecuali perjalanan tragik Ronggeng Kunes yang sepintas nampak sebagai kisah personal yang literer dengan segala romantismenya.  

Namun Ronggeng Kunes dalam dimensi sejarah memiliki alur dan memori kolektif yang lebih dari sekedar magnet ingatan akan segala kisahnya. Karena “karir dan marwah” Kunessebagai penari tradisi tidak lah berdiri sendiri. Meskipun -boleh jadi- komunitas “Titik Kumpul” tak bertendensi lebih jauh, tetap saja kisah tragis Ronggeng Kunes yang dipanggungkan, lepas dari apakah kisi-kisi kelam ini tersingkap; repertoar ini akan menemukan pijak dan kekuatan konteksnya yang menyejarah itu.

Kedaulatan Panggung


Pemahaman atas Tribute to Ronggeng Kunes boleh datang kemudian dalam berbagai interpretasinya. Demikian ini bukan hanya berlaku bagi siapa pun yang menonton repertoar ini, namun juga bagi komunitas “titik kumpul” dalam proses kreatifnya. Proses yang telah menghasilkan perform seputar kebiasaan-kebiasaan ronggeng seperti gilir sampur hingga kedaulatannya dalam menghidupkan gairah panggung.

Ronggeng Kunes yang dinarasikan tak terpisah dengan fenomena indang seperti tersirat melalui properti ambeng yang dibawa keluar penarinya telah cukup menjelaskan kekuatan magis tradisionalnya. Kebanyakan seni tradisi memang senantiasa lekat dengan aspek itu. Kesinambungannya terjaga melalui ritual-ritual sebagai manifestasi nilai-nilai yang berlaku di masyarakat kebudayaanya.

Repertoar Ronggeng Kunes mengangkat relasi di lapangan kebudayaan itu dari timbulnya ketimpangan yang menjadi bidikannya. Bagaimana Ronggeng membangun kedaulatangender dengan mengeksplorasi tata nilai menjadi bias hegemoni dalam relasi sosialnya ke atas panggung. Pentas tribute ini menampilkan Ronggeng Kunes yang tengah mencapai puncak emasnya, saat sang ronggeng menjadi kiblat puja.

Tapi makin tinggi pohon tumbuh, makin besar tiupan angin menerpanya; begitu pepatah berkata. Realitas sejarah tak pernah bisa sepenuhnya lepas dari intervensi berbagai kepentingan, termasuk kepentingan politik. Nah, pandangan pragmatis akan bisa menjerumuskan perjalanannya. Bias ini dialami Ronggeng Kunes dalam masa yang menenggelamkannya dan menjadi tonggak yang menandai genosida budaya pasca 1965, khususnya di daerah Banyumas.

Ronggeng Kunes terbelenggu bukan oleh lintasan balok yang memasung kakinya, melainkan oleh badai politik yang memicu gelombang genosida budaya yang mengiringiGeger Gestok pada masa itu. [ap]

Jumat, 08 Maret 2019

“Apa itu Lekra?”

Apuet Machfud | Mar 8, 2019

Aku sedang memainkan peran untuk naskahku sendiri.

Pada awalnya, Aku hanya seorang seniman otodidak. Aku belajar hanya dari melihat dan memperhatikan gerak serta membaca buku-buku seni budaya dan menulis puisi.

Orang yang paling berpengaruh dalam karyaku adalah mentor pertamaku, Kak Oik (begitu aku memanggilnya). Ia seorang individualis, penari sekaligus pemain teater. Kak Oik-lah yang pertama kali mengenalkanku pada Lembaga Kebudayaan Rakyat atau lebih dikenal dengan Lekra.

Saat itu, Lekra adalah sebuah tanda tanya besar buatku. Apa itu Lekra?

Sejauh ini, aku berkesenian hanya untuk diriku sendiri. Hingga mentorku, Kak Oik, mengenalkanku pada sastrawan Putu Oka Sukanta.

Putu Oka yang pernah menjadi anggota Lekra dan dipenjara rezim Orde Baru tanpa pengadilan ini, telah menulis banyak kisah mengenai tragedi pembantaian 1965.

Karya-karya Putu Oka berupa cerita pendek, seperti Rindu Terluka, Lobakan, dan sebagainya. Salah satu fokus dalam karyanya adalah tentang perempuan dan masyarakat Bali.

Beberapa buku yang telah ditulisnya antara lain: I Belog (cerita anak-anak, 1981), Selat Bali (kumpulan puisi, 1982), Salam/Greetings (kumpulan puisi, 1986), Tas/Die Tasche (kumpulan cerpen, 1986), Luh Galuh (Kumpulan Cerpen, 1987), Buruan (novel), dan sebagainya.

Meski umurnya sudah tak muda lagi, 80 tahun, ia masih tetap produktif menulis. Ia selalu membuat aku kagum. Kadang aku bertanya-tanya, bagaimana ia mempertahankan ketajaman berpikir dan di saat yang sama memelihara semangat berkreatifitasnya? Ia juga masih rajin mengamati perkembangan kesusastraan dewasa ini. Aku penasaran mengapa ia demikian.

Karena itu, pada pertengahan 2016, aku memutuskan untuk berkunjung ke rumah Putu Oka di Rawamangun, Jakarta. Aku bermaksud untuk melihat bagaimana Putu Oka menulis.

Sesampainya di sana, tepat sekali, Putu Oka memang sedang menulis. Mulanya, ia merahasiakan tulisannya. Tapi pada akhirnya, aku tahu ia sedang menulis tentang Cahaya Mata Sang Pewaris yang rencananya akan diterbitkan pada tahun berikutnya, 2017.

Membaca karyanya, lambat laun, pengetahuaku tentang Lekra bertambah. Pun juga tentang karya-karya Putu Oka. Aku mengadaptasi pemikiran Putu Oka, yang kemudian menuntunku untuk menemukan caraku dalam berkesenian. Aku merasa selaras dengannya karena menurutku berkesenian juga tidak bisa dilepaskan dari sisi kesejarahan.

Setelah mempelajari Lekra dan Putu Oka, aku menyadari bahwa hubungan seniman sangatlah setara dan humanis. Baik seniman junior maupun yang senior. Tidak ada yang memberikan indoktrinasi maupun instruksi.

Putu oka juga yang menegaskan padaku tentang Lekra dan PKI. Ia menegaskan 
“Ia bukan PKI, Ia adalah Lekra. Lekra itu sebuah paguyuban seninam-seniman yang punya cita-cita ingin mengembangkan tradisi rakyat dan anti feodalisme. Kenapa? Karena tanah ini dikuasai oleh feodal,” katanya.
Dari situlah, aku mulai terinspirasi menulis puisi. Tentu saja yang masih ada kaitannya dengan sejarah kelam bangsa ini.

Ini beberapa sajak puisi yang aku buat tentang 65:

Ia dicabik oleh parang hingga robek punggungnya
matahari ta’ marah, ia diam saja menjadi penonton
Lelaki dalam ruangan itu digagahi kawanan loreng yang ingin terlihat menakutkan serupa harimau
dalam pandangan yang semakin redup lelaki itu tergeletak menyaksikan hal tersebut.

Matahari masih diam namun sepertinya langit sudah ganti baju
Lelaki itu terbangun di sebuah ruang kosong
Tergeletak bersamanya kawan-kawan tertumpuk kaku dihadapan.
Pulau itu menjemputnya pergi, tanpa suara, tanpa hak, tanpa wanitanya; lelaki itu sendirian.

Jakarta, 2018

Karya puisiku ini merupakan gabungan seni instalasi dan seni performance art. Instalasi disajikan dengan kain putih menjuntai lurus dengan dibalut lakban. 

Lewat seni instalasi ini, aku ingin menyampaikan pesan bahwa teror dan maut selalu menunggu kala itu (1965), kain putih (kafan) mewakili kesucian kematian, dan lakban putih adalah malaikat, yang setiap saat dapat menutup segala hal.

Seni performance art yang kutampilkan adalah eksplorasi tubuh yang dililit oleh sebuah benang merah dan putih ke sekujur tubuh sebagai metafora altruisme yang menjadi obyek yang menderita dan melakukan interaksi terhadap obyek dan subyek.

Selanjutnya aku tekuni saat ini adalah berjibaku dengan berkesenian, yaitu menyadarkan bahwa pentingnya seni sastra dan seni pertunjukan, yang selama ini sudah terjalin oleh seniman-seniman yang secara jelas sudah tahu dan paham apa dan bagaimana perjuangan seni Lekra kala itu.

Aku terus berkarya sembari terus mengingat semangat Putu Oka.

Jakarta, 30 Januari 2019

Source: Ingat 65 

Minggu, 21 Oktober 2018

85 Tahun Amrus Natalsya

Ulang Tahun Ke-85 Perupa Amrus Natalsya
Catatan: Misbach Tamrin 

Kredit Foto: Misbach Tamrin
Amrus Natalsya! Hanya dia seorang diri saja lagi yang tertinggal alias tersisa. Sebagai tokoh eksponen dari komunitas seniman ASRI Sore yang pernah eksis dan berkibar di era awal tahun 1950-an.
Kini, pada tanggal 21 Oktober 2018, telah berulang tahun yang ke-85, menjelang ke-86 tahun.

Ultahnya telah dirayakan secara sederhana. Di Galerinya Amrus Bumi Tarung, di jalan Bata Alam, Lido - Cigombong, Bogor, Jawa Barat.

Disamping oleh keluarga dan kerabatnya. Juga dihadiri para seniman sahabat dekatnya. Antara lain Martin Aleida (sastrawan), EZ Halim (kolektor), Dolorosa Sinaga (pematung), Salim M. (Pelukis), isteri penyair Oey Hay Djoen. Dan beberapa seniman pelukis kalangan aktivis pejuang HAM lainnya. Termasuk di antaranya Yayak Yatmaka dan Yohanes Andreas Iswinarto.
Dalam satu dan dua tahun belakangan ini telah meninggal dunia 2 tokoh seniman komunitas ASRI Sore. Yaitu Arby Samah, dikenal selaku pematung abstrak asal dari Padang, dalam usia 83 tahun. Dan Soenarto PR, pelukis realis, dan ketua sesepuh Sanggar Bambu dalam usia 84 tahun. Menyusul kawan-kawan almarhum terdahulu, seperti Arwan Isa, Abdullah Siddiq, Abdullah Saleh, Gani Lubis dan Widodo.

Foto: Misbach Tamrin
Generasi mereka mewakili suatu angkatan penerus generasi pejuang kemerdekaan Revolusi Agustus 1945. Yang dipelopori triumvirat maestro legendaris "SAH" : Sudjojono, Affandi dan Hendra Gunawan. Yang tak asing lagi di khazanah senirupa Indonesia.
Amrus Natalsya, selain itu di samping pernah sebentar sebagai warga sanggar "Pelukis Rakyat" pimpinan Hendra, sebelumnya. Juga selaku ketua pendiri Sanggar Bumi Tarung (SBT) selama 4 tahun (1961 - 1965) di Yogyakarta. Sebelum tergusur rezim Orde Baru di peristiwa '65.

Kredit Foto: Misbach Tamrin
Hingga sekarang, jam terbang berkaryanya telah beranjak 64 tahun (1954 - 2018). Dengan berjibun karya-karya senirupanya yang tak terhitung. Tersebar dari di tanah air hingga di manca negara. Meliputi 3 genre media karya : patung kayu, lukisan kayu dan lukisan kanvas. Sekaligus 3 orde zaman, dirambah karier juang kesenimanannya : orde lama, orde baru dan orde reformasi.
Rencana Amrus Natalsya, jika masih ada khayat dikandung badan. Ia akan berupaya menyempatkan kesempatan pameran tunggal retropektif usia senjanya. Di ruang gedung Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki (TIM) pada tanggal 16 Februari 2019 mendatang
***

Jumat, 05 Oktober 2018

Kisah Eks-Cakrabirawa Penjemput Jenderal Nasution Melawan Stigma PKI


Muhamad Ridlo - 05 Okt 2018, 04:01 WIB

Sulemi dan istri adalah sepasang orang tua yang bahagia. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Purwokerto - Mendadak Sulemi (77) mengangkat kedua kakinya ke meja. Mantan prajurit Cakrabirawa ini memperlihatkan kedua jempolnya yang bengkok. Kukunya bergelombang dan tumbuh tak normal.

Cacat di jempol kaki dan bekas luka di sekujur tubuhnya itu adalah kenangan yang didapatnya ketika meringkuk di tahanan, sebelum Mahkamah Luar Biasa atau Mahmilub. Ia ditangkap, tepatnya menyerahkan diri, lantaran dituduh terlibat G30S PKI.

Sepanjang waktu selama di tahanan, bekas anggota pasukan elite pengawal presiden ini dipaksa mengaku PKI. Namun, ia bersikukuh bahwa dia hanya menjalankan perintah komandan untuk menjemput Jenderal Nasution.
"Saya prajurit hanya menjalankan perintah atasan. Dalam umur saya, tidak pernah terlibat politik. Kalau perwira menengah, mayor ke atas mungkin," ucapnya bercerita saat diinterogasi Provost.
Tiap jawaban itu meluncur dari mulutnya, ia sadar bakal menghadapi siksaan. Pukulan, tendangan, dipukul popor bedil dan diseret adalah derita yang mesti dirasakan tiap kali diinterogasi.

Bekas prajurit Cakrabirawa dengan pangkat sersan satu ini dipaksa mengaku sebagai anggota PKI.

Tulang punggungnya patah. Belikatnya melesak remuk ke dada akibat pukulan benda keras dan tendangan bertubi-tubi.

Namun, di antara siksaan yang diterimanya, yang paling menyakitkan adalah ketika jempol kakinya ditindih dengan kaki meja. Lantas, meja itu diduduki oleh interogator.
"Kemudian kukunya dicopot dengan tang. Rasanya seperti disambar halilintar. Sakitnya minta ampun. Kedua bola mata saya seolah copot keluar," kata bekas prajurit Cakrabirawa ini. Dia tak pernah lupa peristiwa ini.

Terlibat Penjemputan Jenderal Nasution

Bekas prajurit Cakrabirawa, Sulemi. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Keadaan lantas membaik saat Palang Merah Internasional berkunjung ke tahanan. Saat itu, ia menyebut sudah tak lagi bisa berjalan. Saat buang air besar, ia mesti merayap seperti kadal.
"Daripada saya mengaku PKI, lebih baik mati," ucapnya tegas.
Akibat terlibat upaya penculikan Jenderal Nasution, ia divonis mati. Seluruh harapannya buyar. Ia mesti melepas istri dan anak semata wayangnya.

Namun, oleh pengacara militernya, ia dibujuk untuk mengajukan banding dan berhasil. Dari vonis mati hukumannya berubah menjadi seumur hidup.

Lantas ia dipindah ke Pamekasan, Madura, bersama 32 tahanan politik lainnya. Selama 15 tahun, ia menghabiskan waktu di balik jeruji penjara hingga akhirnya bebas pada Oktober 1980, bulan ini 38 tahun lalu.

Bebas dari penjara bagi Sulemi bukan berarti lepas dari penderitaan. Pulang ke Purbalingga, ia mendapati kakaknya yang seorang PNS di Dinas Pertanian dipecat. Padahal, sang kakak sama sekali tak tahu peristiwa yang terjadi di Jakarta pada Oktober 1965.

Keluarganya juga mesti menanggung perundungan, lantaran dianggap sebagai keluarga pengikut PKI. Penderitaan itu rupanya mesti ditanggung oleh keluarga besarnya.
"Seharusnya yang dihukum itu pimpinan. DI/TII Kartosuwiryo, yang dihukum juga para pimpinan," dia menuturkan.
Terseok-seok, ia mulai mencari pekerjaan. Pekerjaan didapat, tak lama kemudian, dipecat begitu bos mengetahui latar belakangnya sebagai bekas prajurit Cakrabirawa.

Secercah Harapan Usai Reformasi 1998


Sulemi dan istri di kediamannya di Purbalingga, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Di kala susah itu, Tuhan memberi secercah berkah dengan mengirimkan sosok Sri Murni, seorang janda. Mantan istri rekannya sendiri.

Berdua, mereka mulai mendayung biduk di tengah gelombang masa 80-an yang tak ramah. Untuk menyambung hidup, ia memutuskan untuk mematung.

Keahlian ini didapatnya ketika dipenjara di Pamekasan. Salah satu napi adalah seniman yang juga seorang dosen seni rupa. Rekannya ini masuk penjara karena menjadi anggota Lekra.

Sesekali, patungnya laku. Tetapi, di saat lain, tak ada yang mencarinya. Singkat kata, mematung tak bisa menjamin dapurnya tetap mengepul.

Lantas, ia dan istrinya sepakat untuk membuat warung makan. Tak mudah untuk hidup dari sektor jasa. Apalagi, usaha ini membuatnya mesti berinteraksi dengan bermacam konsumen.

Ada kalanya, pelanggan tak lagi kembali begitu mengetahui sang pemilik warung adalah bekas prajurit Cakrabirawa, yang pada masa Orde Baru selalu diembuskan berasosiasi dengan PKI. Tetapi, ia selalu berusaha berlapang dada.
"Saya juga beribadah sebagaimana biasa. Kebetulan rumah saya dekat dengan masjid,” tuturnya.
Ekonomi keluarga Sulemi berangsur pulih. Masalah muncul ketika anak-anaknya beranjak besar dan membutuhkan biaya pendidikan. Istrinya rela membuka kios daging di pasar, sendirian.

Kemudian, seperti mimpi, reformasi bergulir. Gus Dur menjadi presiden. Masa ini ditandai dengan pulihnya hak-hak bekas tahanan politik seperti Sulemi.

Perlahan tapi pasti, semuanya membaik. Bahkan, anak bungsunya menjadi aparat. Sesuatu yang amat haram pada masa Orde Baru.


Rabu, 03 Oktober 2018

Anak Njoto, Svetlana: Bapakku Orang Sabar dan Penyayang


Pebriansyah Arief - Rabu, 03 Oktober 2018 | 13:12 WIB

Svetlana Dayani, putri sulung anggota CC PKI Njoto. [Suara.com/Abdus Somad]

Svetlana sebagai anak pertama Njoto menceritakan semua yang dilakukan Njoto tidak bisa lepas dari nalurinya untuk peduli antar sesama bahkan mempunyai karakter kuat untuk menyanyangi semua manusia.

Suara.com - Sebagai seorang anak yang lahir dari seoarang pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) banyak hal yang didapat seperti pengetahuan, kebahagiaan sampai penderitaan. Itulah yang dirasakan oleh Svetlana anak dari Njoto yang merupakan pemimpin PKI.

Di balik kecerdasannya Njoto yang telah mendirikan Lembaga Kebudyaan Rakyat (Lekra) menghidupkan kembali semangat juang PKI sampai pada memberikan napas pemersatu rakyat yang berorientasi pada kesejahteraan bagi rakyat Indonesia berjuang bersama rakyat. Njoto adalah orang yang sabar dan penyayang.

Ia membuat segalanya untuk keluarga, di saat ia senggang waktu dibuat untuk keluarganya.

Svetlana sebagai anak pertama Njoto menceritakan semua yang dilakukan Njoto tidak bisa lepas dari nalurinya untuk peduli antar sesama bahkan mempunyai karakter kuat untuk menyanyangi semua manusia.

Namun sayangnya keberadaanya tak dapat diketahui sampai saat ini. Ia hilang setelah peristiwa G 30 September (Gestok) terjadi. Meskipun sempat menengok keluarga pada dua hari setelah Gestok terjadi, Njoto dalam pengakuan Svetlana tidak pernah bertatap muka maupun berkomunikasi kembali bahkan sampai saat ini.

Suara.com menemui Svetlana yang berada di Yogyakarta dari ceritanya kita mengetahui lebih dekat bagaimana Njoto dari kaca mata seorang anak yang kala itu masih berusia 9 tahun.

Bapak Anda pada saat kabinet Soekarno menjabat sebagai menteri. bagaimana Anda melihat hal itu?

Kami dapat mobil dinas menteri, bapakku nggak bisa nyopir jadi selalu ada sopirnya, sudah gitu saja, yang lainya normal nggak seperti menteri-menteri di era kemudian yang mengalami kenyamanan hidup. Bapak saya biasa saja wong ke sekolah saya diantar naik becak. Itupun kalau jadwalnya berdekatan dengan bapak, kalau di jemput juga naik becak.

Bapak saya pernah melihat tukang becak yang biasa mangkal di depan rumah, sama bapak malah dikasi tempat tidur di belakang rumah, nah tukang becak itu yang biasa antar dan jemput saya.

Njoto (kanan berkacamata) dan Ketua CC PKI DN Aidit. [Dok. majalah Life]

Nah bicara soal sabar tadi sabar tadi pernah suatu ketika saya bermain di tempat kerja bapak saya, saat itu saya recokin kerjaan bapak saya tapi dia gak pernah marah. Saya malah dipangku disuruh ngetik bersama, belajar nulis.

Pokoknya sabar banget. Banyangkan dulu kalau salah ngetik pakai mesin ketik kan susah banget memperbaiki, akan tetapi bapak mau melakukan itu. Ia sabar ketika direcokin.

Bagaimana kesan Anda melihat bapak Anda?

Ayah saya itu buat saya setelah dewasa itu ia sabar dia penyanyang kepada semua orang, tidak hanya kepada anak. Itu juga saya ketahui setelah tinggal di Solo. Bahkan ponakan saya sangat sayang dan hormat pada bapak saya.
Biasanya balik ke Indonesia atau pulang dari luar negeri selalu ada buah tangan yang di bawa untui dibangikan kepada ponakannya dan bapak ingat apa yang disenangi ponakannya. Selain itu bapak saya senang main musik, kalau berada di rumah ngajak bernyanyi.

Kalau di rumah bapak sering main akordian dan piano meskipun di rumah itu ada seksofon. Dulu sering dimainkan lagu anak-anak. Bahkan diajarin main piano. Kalau bapak senggang dia milik keluarga.

Kalau perkara minta jangan minta mainan akan jarang dikasi, sesekali kalau pergi luar negeri kalau minta bacaan pasti dibelikan. Dari hal itu saya terbiasa membaca.

Svetlana Dayani, putri sulung anggota CC PKI Njoto, berpose bersama anggota Gerwani yang menjadi tahanan politik. [dok. Svetlana]

Anda juga kenal dan tahu D. N Aidit saat Anda masih kecil?

Tahu, saya kenal namanya teman-teman bapak saya sering ke rumah saya jadi tahu, tapi kegiatan apa yang dilakukan saya nggak tahu. Di rumah itu saling berkunjung itu biasa, pernah om Lukman, om Aidit. Pak Hesri ingat bapakku ketika ada tamu saya sering lari-lari di ruangan kerja bapakku.

Anda juga sering diajak ke Sekretarian pusat Lekra di Cidurian 19?

Iya, pada waktu itu kan anak kecil hanya main-main, saya memang tahu kegiatan seni, di sana itu kadang ada yang nyanyi, ada yang melukis ada yang sedang membuat patung-patung sering kali karnyanya Lekra ada disana, waktu itu usiaku masih 9 tahun, saya di ajak bapak.

Saya kalau sekolah lalu pulang gak sempat ada yang jemput, saya biasanya di Cidurian 19 sampai tukang becak jemput dan ibu saya jemput baru pulang. Jaraknya TK Melati dengan rumah saya lumayan jauh sih.

Bicara soal TK Melati, itu sekolah siapa yang menderikan?

Belakangan saya tahu TK milik ibu-ibu Gerwani, tapi di sana itu tahunya gurunya bebas. Ketika tidak ada guru pernah ibu saya ngajar, saya gak ingat banget di TK itu. Namun saya ingat di sana itu sih main-main, nyanya-nyanyi, kadang melipat kertas.

Seingat saya juga anak-anak yang bersekolah di sana kebanyakan anak-anak yang orang tunya ikut partai, akan tetapi ada juga yang di luar partai itu bagi anak-anak yang rumahnya dekat dengan sekolah TK Melati.

Svetlana Dayani, putri sulung anggota CC PKI Njoto. [Suara.com/Abdus Somad]

Saat peristiwa G 30 September (Gestok) itu terjadi, apa yang Anda ketahui?
Saya tidak tahu apa-apa, saya ingat bapak saya sedang dinas di Sumatera. Peristiwa terjadi saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya ingat tanggal 1 Oktober anakanya saudara saya ulang tahu. Karena tidak ada bapakku, saya kemudian diajak nginep di rumah saudara untuk merayakan ulang tahun sepupu. Saya dan ibu kemudian bermalam di sana.

Pas tanggal 1 oktober juga, masih dalam suasana ulang tahu, ibu saya dikasi tahu saudara untuk pulang, pesan itu didapat dari tantenya yang suaminya tentara. Kamu pulang, Menurut ibu saya jalannya sepi banget.

lalu Tanggal 2 Oktober 1965 bapak saya pulang, kita dibawa pergi dari rumah. Di sana kita mulai berpindah-pindah. Pagi hari di sini, malam hari di mana, pokoknya berpindah-pindah.

Sampai akhirnya saya terpisah dari bapak. Sedangkan saya dan ibu beserta anak-anak yang lainnya-adik saya tinggal di sebuah rumah yang terletak di Gunungsari, itu dulu kontrakannya CMGI. Di sana saya agak lama tinggal.
Lama tinggal di sana, tiba-tiba kami digrebek tentara Angkatan Darat (AD) kemudian kami semua dibawa ke penjara termasuk saya sebab ibu saya tidak mau meninggalkan anak saya sendiri. Ibu saya bilang ke tentara itu,” Saya mau ikut asal anak-anak saya di bawa nah saat itu kami dibawa.

Digrebek Tentara Angkatan Darat, kapan itu terjadi?

Saya ingatnya bulan Oktober tahun 1966 setahun setelah Gestok. Peristiwa selalu terjadi rata-rata malam. Saya ingat malam itu tidak terlalu larut banget. Kala itu saya main screbel bersama adik-adik, datang seorang tentara bernama Kapten Suroso yang kemudian mendekati tempat bermain screbel dan menyusun huruf berbentuk bapak saya - Njoto. Ia menyusun itu maksudnya dia tahu kami anaknya.

Mulai saat itu kami dibawa ke Kodim 0501, Kodim air mancur namanya, sekarang kalau nggak salah dekat dengan Gedung BI yang ke arah Kebun Siri.

Svetlana Dayani, Putri Njoto

Nah saat dibawa kami dimasukkan ke sel perempuan di sana kami jadi satu ada banyak tahanan. Selnya lumayan besar namun ketika hendak tidur harus berimpitan. Sel yang kami tempati benar yang bentuknya jeruji besi.
Nah di sana deket dengan kantor yang dipakai introgasi saya tahu lokasiny dekat sekali.

Jadi orang habis disiksa serta diintrogasi darahnya yang berserakan dilap itu bagian yang membuat saya trauma. Saya melihat orang berdarah-darah kadang diseret, kadang dipapah. Perempuan yang selesai disiksa masuk kembali ke sel kami di sana mereka diobati sama teman-temanya di rawat.

Ibu saya dan adik saya kalau tidur kadang terbangun dan nangis karena ada bunyi sabetan serta teriakan yang jelas banget terengar, wong itu deket, saya bahkan menatap langsung orang yang disiksa.

Anda katakan ada siksaan, alat apa saja yang digunakan pada saat itu?

Macam-macam yang saya lihat dengan nyata dan pahami waktu itu cambuk yang bentuknya ikan pari. Kan itu ada di meja nah saya setiap pagi bersihakan meja di sana juga ada puntung rokok.

Saya sering bersihkan untuk tugas pagi itu dilakukan karena saya membantu tahanan perempuan yang bertugas. Bahkan ada kabar juga ada yang diinjak kukunya di duduki pakai kaki meja, lalu disundut pakai rokok. Saat saya bersihkan itu saya lihat ekor pari masih berdarah-darah sih jumlahnya hanya satu sampai dua.

Selama dalam tahanan, Anda melihat bapak Anda?

Di tahanan bapak tidak ketemu lagi terkahir di Gunugsari, itupun sempat tenggok malam sekali. Udah itu saya gak tahu lagi bapakku ada di mana. Waktu itu sempat melihat Martin Aleida lalu Putu Oka, bahkan ibu saya ingat ada Sudisman ditangkap dan dibawanya ke situ.

Teman-teman bapak Anda juga tidak pernah cerita di mana keberadaan Njoto?

Nggak ada sama sekali, terkahir itu diketahui jelas saat ada sidang kebinet terkahir di Bogor. Itu sidang kabinet Soekarno terakhir. Orang bilangnya peristiwa itu terjadi pada 6 Oktober, itu sidang terkahir bersama Lukman.

Nah kalau lukman anaknya sendiri yang tahu kalau Lukman dieksekusi di depan rumahnya di Kebayoran, kalau bapak saya nggak tahu.

Kembali bicara soal Anda ditahan, kalau boleh cerita berapa tahun ada ditahan saat itu?

Nggak lama kami sekitar 3 bulan atau lebih saya agak lupa waktunya apa akhir tahun apa awal tahun. Saat itu kami dijemput kakak saya di Solo kami boleh pulang ke Solo entah bagaimana menjaminya.

Lalu selama di Solo apa yang Anda lakukan?

Ibu saya kan masih di tahan beberapa kali, setelah di Solo dua tahun kemudian saya masuk SD, saya lulus SD masuk SMP. Saya waktu kelas 1 SMP harus mengurus adik-adik saya yang jumlahnya lima. Saya nggak ngerti bagaimana saja menjadi ibu dari adik saya meksipun ada bule saya ada pembantu dan ada saudara yang ikut membantu, namun saya berpikiran apa yang aku bisa lakukan, saat itu aku paling bisa memberi contoh yang baik pada adikku dan aku sekolah yang benar.

Saya mulai berpikiran harus berupaya untuk meringankan beban keluarga. Saya punya kesadaran untuk membelikan adik saya alat tulis. Dari sana saya mulai bekerja, dari kelas 1 SMP saya sudah kerja, kerja pertama itu menempelkan amplop.

Dari sana saya dapat uang. Selain itu kadang membantu teman belajar sehabis belajar bareng kadang dikasi uang hanya nemani belajar tetangga. Pernah juga saya merajut pakaian bayi lalu dikardusin, satu set ada baju ada sarung tangan, dari situ saya dapat uang lagi.

Selain itu kalau adik saya sakit, saya disuruh bawa ke dokter waktu itu saya yang bawa. Bulek saya kan sibuk karena harus nengok anaknya di Riau.
Ibu saya kan di tahan lagi kemudian dibawa ke Semarang. Adik saya yang bungsu dibawa ibu saya ke tahanan Mbulu setelah itu dipindah lagi dari Semarang ke Bukit Duri. Ibu saya bebas tahun 79. jadi hidup saat itu benar-benar mandiri.

Anda tahu bapak Anda adalah seorang pemimpin Partai Komunis Indonesia?

Saat kecil ya ndak tahu, saya tahu bapak saya ikut partai waktu duduk dibangku SMP, tepatnya di SMP Negeri Solo. Itupun saya taju dari buku sejarah, di buku itu ada tulusan Aidit, Lukman Njoto gembong PKI, tulisannya gitu.

Saya berpikiran, wau ini berarti yang menyebabkan saya seperti ini sekarang. Saya sebelumnya tidak mengerti kenapa bapak saya dicari-cari, saya sendiri tidak pernah tahu kenapa pindah rumah, saya tidak mengerti sama sekali. Owh ternyata karena bapak.
Meskipun saya tidak percaya bapakku ada kaitannya dengan pembunuhan Jenderal, akan tetapi saya jadi mengerti ini lho peristiwa yang menyebabkan hidup saya seperti ini.

Sampai saat ini meskipun sistem reformasi serta demokrasi diterapkan, Anda masih mengalami Stigma?

Masih dirasakan, ada pihak tertentu yang tahu siapa saya, namun saya bersyukur keluarga kami memahami, di luar saya ada banyak keuarga lain tidak diterima bahkan diusir karena takut itu ada.

Bagaimana dengan diskriminasi?

Saya merasa kadang seperti saya punya penyakit disingkirkan orang diaggap bagaimana gitu, dilihat bagaimana gitu, sekarang pun gitu.
Saya pernah satu keluarga pergi dari rumah selama beberapa bulan karena ada FAKI. Saat itu sedang ada kegiatan diskusi kejadiannya tangga 27 Oktober 2013. Orang FAKI mengrebek diskusi itu.

Saya lalu diminta berlindung, saya-pun pergi tanpa bawa-bawa apa-apa dan itu bersama anak saya saya pergi dari rumah. Saya merasakan tepat 48 tahun sama seperti apa yang saya alami dulu. Saya merasa anak saya juga merasakan diskriminasi. Banyak yang hilang dari hidup ini, seperti kesempatan hilang, saya mencari kerja terbatas, sekolah juga saya terbatas.
 Namun saya tetap bersyukur menjalani hidup ini.

Kontributor : Abdus Somad