Tampilkan postingan dengan label Lekra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lekra. Tampilkan semua postingan
Minggu, 01 Maret 2020
Semua Adalah PKI
Oleh : Dandhy Dwi Laksono
Seperti halnya 'Genjer-Genjer" yang diciptakan M
Arief, lagu "Garuda Pancasila" juga diciptakan seniman Lekra (Lembaga
Kebudayaan Rakyat). Ia bernama Sudharnoto, pada 1956.
Karena militer dan Orde Baru menganggap Lekra sama dengan
PKI, Sudharnoto yang pernah bekerja di RRI Jakarta kemudian ikut dikejar-kejar
dan dibui. Setelah keluar penjara sekitar 1968-1969, ia bekerja sebagai penjual
es dan sopir taksi. Nasibnya memang sedikit lebih beruntung daripada M Arief
yang hilang setelah peristiwa 30 September.
Di mata Orde Baru, kesalahannya sangat fatal: Menciptakan
lagu "Genjer-Genjer" pada tahun 1942 dengan konteks penderitaan
rakyat menghadapi invasi Jepang, dan lalu lagu itu digemari Njoto (tokoh PKI)
yang sedang singgah ke Banyuwangi.
Lho, apa hubungannya dengan dia sebagai pencipta lagu?
Sejak kapan watak fasis perlu alasan yang masuk akal atas segala sesuatu?
LBH Jakarta dan YLBHI yang secara historis membela semua
kelompok dan ideologi (termasuk kubu Islam garis keras), dihasut sebagai
"sarang PKI" dan diserang.
Patung Tani yang merupakan simbol mobilisasi umum untuk
merebut Papua dari Belanda juga disebut simbol PKI. Buku "Das
Kapital" yang berisi dasar-dasar pemikiran komunisme, justru disebut
"mengajari generasi muda menjadi kapitalis".
Hanya karena sama-sama berjenggot, foto Mikhail Bakunin
yang dicetak di kaos merah salah satu peserta yang datang ke LBH, dikira foto
Karl Marx dan dianggap sebagai bukti keberadaan komunis di acara itu. Padahal
Bakunin penentang komunisme (negara) seperti yang terjadi di Soviet yang
dianggapnya sama menindasnya dengan kapitalisme.
Kelompok fasis yang membalut identitasnya dengan agama
ini bahkan ngotot menyebut Jokowi adalah komunis meski kebijakan dan
proyek-proyek pembangunannya justru sangat kapitalistik dan menimbulkan konflik
di mana-mana, seperti reklamasi Teluk Jakarta, sawah sejuta hektar di Papua
yang akan dikelola perusahaan (bukan rakyat), atau PLTU-PLTU dan bendungannya
yang tidak mencerminkan keadilan ekologis.
Kelompok ini tidak
mau tahu dan tidak peduli.
Jokowi dan Istana tetap disebut mendukung kebangkitan
PKI. Padahal ia tidak merebut dan membagi-bagikan tanah kepada petani seperti
BTI atau PKI. Ia hanya membagi-bagikan sertifikat yang secara jelas menguatkan
konsep kepemilikian pribadi terhadap tanah. Jauh dari ide tanah sebagai faktor
produksi yang harus dikuasai secara komunal.
Dengan disertifikasi, tanah yang milik pribadi, lebih
mudah dibeli dan dikuasai modal, seperti kasus komunitas Sunda Wiwitan di Kuningan,
Jawa Barat. Beda dengan tanah di Baduy Dalam atau Tenganan Pegringsingan di
Karangasem yang tak dapat diperjualbelikan ke pemodal resort atau hotel karena
milik adat.
Jokowi harus disebut PKI. Begitu juga PDIP yang dalam
sejarahnya merupakan fusi partai nasional seperti PNI dan agama (non-Islam).
Meski dalam sejarahnya PNI dan PKI sengit berkonflik (sesengit saling serang
antara koran Suluh Indonesia-PNI dan Harian Rakyat -PKI), tapi gerombolan
ahistoris ini tak peduli.
PDIP dianggap sama dengan komunis. Padahal menjadi
Marhaenis saja, partai ini gagapnya setengah mati. Kader-kadernya seperti
Ganjar Pranowo di Jawa Tengah, lebih sibuk membela pabrik semen daripada para
petani seperti Pak Marhaen yang sedang mempertahankan sumber air untuk mengairi
sawahnya sendiri yang sepetak-dua petak.
Partai ini bahkan mendukung Basuki "Ahok"
Tjahaja Purnama yang kebijakan pembangunannya menggusur, bahkan dengan
melibatkan tentara. Ahok sendiri adalah pejabat yang dengan enteng menyebut
warga bantaran Waduk Pluit sebagai "komunis", karena dianggap
menduduki "tanah negara".
Tapi bagi kelompok sejenis "massa 299" ini,
semua itu tak penting dan tak relevan. Mereka kawin mawin dengan para jenderal
dan pensiunan yang rindu masa-masa kejayaan Dwifungsi ABRI di era Orde Baru.
Yang bisa memegang tongkat komando, tapi juga bisa duduk di pemerintahan
sebagai pejabat yang mengatur APBN atau APBD. Yang bisa mengerahkan pasukan,
tapi juga bisa duduk di DPR ikut membuat Undang Undang. Yang tetap
mempertahankan baret dan seragamnya, tapi juga bisa duduk di komisaris
perusahaan negara, daerah, dan swasta.
Siapa yang tak rindu masa-masa itu? Dan jalan paling
murah untuk mewujudkannya adalah menggalang sentimen anti-komunisme, dibalut
agama. Karena itu semua harus di-PKI-kan. Semua adalah PKI. Padahal merekalah
yang PKI: Penduduk Kurang Informasi.
***
(Matipa, Refleksi_Menolak Lupa,01-03-2020)Rabu, 22 Mei 2019
Senandung Sendu Seniman Ketoprak Ketika Terseret Pusaran Geger 1965
16.01
Article, Genosida 65, Kisah, Kliping #65, Lekra, Pembantaian Massal, Persekusi, PKI, Sejarah, Stigma PKI, Tragedi
No comments
Mahandis Yoanata Thamrin - Rabu, 22 Mei 2019 | 16:00 WIB
Seorang pemain ketoprak baru saja menyelesaikan rias
wajahnya. Malam itu dia berperan sebagai warok yang digambarkan berbadan
perkasa dengan bulu dada, wajahnya berkumis dan bercambang lebat. Rombongan
ketopraknya berpentas di Wado, pinggiran Blora.
“Di zaman PKI seniman sangat diperhatikan,” ujar Randimo. “Ya, karena ditunggangi itu setiap desa punya gamelan. Kok, setelah gestok gamelan pada hilang entah kemana.”
Randimo lahir 76 tahun silam di Prambanan.
Lelaki sepuh yang masih bersemangat itu merupakan pegiat kesenian ketoprak di
Balekambang, Surakarta. Dua
tahun silam, saya menjumpai lelaki itu di kediamannya di Sumber, yang berada
tak jauh dari tembok keliling Balekambang.
Boleh dikata, dia merupakan sesepuh di
paguyuban kesenian itu lantaran sudah banyak makan asam garam di panggung ketoprak sejak
lebih dari 60 tahun silam. Bahkan, Randimo masih bergiat membina paguyuban ketoprak di
tempat kelahirannya.
Dia berkisah kepada saya. Petualangannya dalam
seni pertunjukan bermula ketika Randimo turut kelompok srandul, ketoprak jalanan
yang bermain di pelataran tanpa tobong. Kemudian, dia bergabung dengan ketoprak Balekambang
pada awal 1960-an, hingga menjadi saksi sejarah kelam tatkala geger politik
pada 1965. Singkatnya,
lelaki itu adalah pemain ketoprak kawakan. Ketoprak sudah
menjadi jalan hidupnya, pun nada dering gawainya melantunkan seruling dan rebab
yang menyayat-nyayat.
Randimo, sesepuh paguyuban
ketoprak di Taman Balekambang, Surakarta. Lebih dari 50 tahun dia telah
bertualang di pentas ketoprak, dari pentas srandul sampai ketoprak modern.
Sekitar
1964-65 Randimo berpentas bersama Krido Mardi di Prambanan. Kelompok ketoprak di bawah
naungan Lembaga Kebudajaan Rakjat (LEKRA) itu tengah berada di tajuk kesohorannya.
Randimo mengenang lakon-lakon yang dipentaskan dari “Romeo Juliet” hingga
“Pilistine dan Nazareth”.
“Dulu nama karawitan Paguyuban LEKRA itu disegani,” kata Randimo.
Memang,
ungkapnya, orang-orang tidak mengerti tentang apa itu LEKRA.
Mereka
bergabung dalam wadah kesenian yang anggotanya direkrut oleh carik setempat.
“Semua tidak tahu-menahu, yang penting dibayar,” ujarnya. “Tidak ada rasa takut, karena tidak tahu.”
Pada
1955-65 kelompok ketoprak telah
terbagi dua aliran: PNI (Partai Nasional Indonesia) yang berafiliasi dengan
Lembaga Ketoprak Nasional,
dan PKI (Partai
Komunis Indonesia) yang berafiliasi dengan LEKRA.
Meskipun
“berafiliasi”, kadang orang sulit mengungkapkan fakta kaitan langsung PKI dan LEKRA,
lantaran organisasi seniman itu bukan
paguyuban resmi milik partai.
“Dulu nama karawitan Paguyuban LEKRA itu disegani,” kata Randimo. “Semua tidak tahu-menahu, yang penting dibayar. Tidak ada rasa takut, karena tidak tahu.”
BAKOKSI
(Badan Kontak Organisasi Ketoprak Seluruh
Indonesia) yang dibentuk LEKRA telah menaungi paguyuban ketoprak dari 275
pada 1957 menjadi 371 pada 1964. Lakon-lakon ketoprak dan kesenian
panggung lainnya diadaptasi sebagai propaganda partai. Kesenian rakyat pun
menjadi sebuah kegiatan seni yang kritis, progresif, dan radikal. Lewat seni,
pandangan dan ide partai disisipkan sehingga masyarakat lebih memahami esensi
pesannya.
Para seniman dan budayawan
terseret dalam pusaran politik—disadari atau tidak. Ketika bahtera Sukarno terempas
badai politik, PKI pun
menjadi bulan-bulanan. Peristiwa itu menggayang para seniman LEKRA yang
umumnya tak bekerja untuk politik partai.
Randimo
bersaksi atas nasib pemain ketoprak menyusul
terjadinya penculikan dan pembunuhan para jenderal di Jakarta dan Yogyakarta,
akhir September 1965.
Sebuah peristiwa yang lekat dengan ingatan warga Indonesia sebagai sebuah
percobaan kup.
Beberapa seniman profesional ketoprak Balekambang
Surakarta tengah bersiap pentas.
Ketika
itu orang-orang yang diduga terkait dengan LEKRA diganyang habis.
“Di Prambanan, lurah dan stafnya habis.” Dia juga mengenang kejadian yang membinasakan teman-teman sejawatnya, “Pemain ketoprak habis!”
“Meledak pertama di Pandan Simping,” ingatan Randimo melayang ke suatu tempat tak jauh dari kompleks Candi Prambanan.
Di kolong jembatan yang menghubungkan Yogyakarta dan Klaten, ratusan warga dan pemain ketoprak yang diduga simpatisan LEKRA dibantai. “[Ketika itu] saya berada di barat jembatan sedang klonengan—bermain gamelan.”
Randimo menyaksikan jalanan sudah dijejali tentara. Sampai saat itu pun dia belum menyadari apa yang sesungguhnya terjadi, sementara dengan keheranan dia mendengar orang-orang berbisik, “Geger PKI! Geger PKI!”
Sejak
munculnya upaya pembersihan orang-orang yang diduga terkait PKI pasca-September 1965, banyak teman-teman
Randimo yang menghilang. Pemain ketoprak diambil
satu-satu saat pentas, bahkan pesinden turut terciduk. Kelompok yang aman
adalah para niyaga, atau penabuh gamelan—mungkin dianggap tidak terlalu
berbahaya.
Celakanya,
warga yang tidak tahu menahu soal LEKRA pun dibasmi.
“Satu kelurahan pria tinggal lima—semuanya kena,” ujarnya. “Teman ketoprak saya banyak sekali yang kena. Tapi, alhamdulillahada yang tidak dibunuh. Saya selamat.”
“Satu kelurahan pria tinggal lima—semuanya kena,” ujarnya. “Teman ketoprak saya banyak sekali yang kena. Tapi, alhamdulillah ada yang tidak dibunuh. Saya selamat.”
Saya
bertanya kepada Randimo, bagaimana dia bisa selamat?
Randimo
mengatakan bahwa dia selamat karena saat geger itu dia berganti peran, bukan
sebagai pemain ketoprak melainkan
sebagai petugas berseragam tentara. Dia bertugas di sebuah kantor kecamatan
selama tiga tahun.
“Saya jaga dengan baret merah berlambang PNI banteng, keliling operasi dengan sepatu kedodoran karena lungsuran,” ujarnya jenaka. “Bangga sekali sampai pulang pun malas untuk melepas sepatu. Saya aman!”
Meskipun
terjadi guncangan yang hebat bagi dunia kesenian pada akhir 1965, ketoprak mulai
bangkit tertatih-tatih pada tahun berikutnya dan eksis kembali sekitar 1968.
“Memang ketoprak pasca-G-30-S bukan tidak diperbolehkan atau dilarang,” ujar Randimo sambil menjepit sebatang rokok kretek dengan bibirnya. Dia memantik korek api, lalu mengembuskan asapnya. “Cuma takut!”
Adegan tawur atau perang menjadi
daya tarik pemirsanya. Pemain ketoprak membutuhkan kekuatan otot dan nyali.
Tidak seperti tayangan film atau sinetron, sedikit lengah badan pemain pun
memar.
Ketoprak tersangkut
dalam keruwetan masalah politik, meskipun pemainnya tidak berpolitik.
Pemain ketoprak saat
itu umumnya tidak bersekolah. Para pemainnya tidak mengerti soal uang,
mereka hanya mengharap bisa menunaikan ibadah makan, sehingga pernah ada
istilah kotoprak madhang — atau ketoprak makan.
Ketika
militer dipakai untuk menumpas orang-orang yang terlibat PKI, Randimo dan
rekan-rekan sejawatnya justru ditanggap untuk menghibur satu batalyon asal Jawa
Timur yang sedang bertugas di Cilacap.
“Tiga bulan di Cilacap bersama Ranto Gudel,” kenangnya tentang suatu masa pada awal Orde Baru. “Penghibur tentara pascagestok.”
Kekerasan
budaya itu dianggap sebuah kewajaran, sekaligus merupakan pembenaran terhadap
antikomunisme. Propaganda politik lewat kesenian—sastra dan film—pada masa itu
telah membuat masyarakat Indonesia terjangkiti paranoia.
Selama
Orde Baru, lagi-lagi kesenian digunakan untuk melegitimasi kekerasan dalam
peristiwa pembantaian massal orang-orang yang diduga terkait komunisme.
Kekerasan budaya itu dianggap sebuah kewajaran, sekaligus merupakan pembenaran
terhadap antikomunisme. Propaganda politik lewat kesenian—sastra dan film—telah
membuat masyarakat Indonesia terjangkiti paranoia. Kendati sebagian orang telah
menyadarinya, dampak kebijakan itu masih dirasakan hingga hari ini.
Ketoprak memang telah
menjadi corong paling cerdas yang mudah ditangkap oleh indera masyarakat.
Keterlibatan ketoprak dalam
panggung politik pada awal Republik ini berdiri, akhirnya nyaris membinasakan ketoprak itu
sendiri—dan juga nyawa para senimannya.
Bagi Randimo, perjalanan hidupnya telah menyimpulkan bahwa para pemain ketoprak itu “belajar dipanggung, pandai juga dari panggung. Tidak berpolitik tetapi dipakai untuk politik.”
Rabu, 20 Maret 2019
Membongkar Pasung "Ronggeng Kunes"
TRIBUTE TO KUNES: Repertoar Ronggeng Kunes digelar oleh komunitas "Titik Kumpul" di Roemah Martha Tilaar Gombong (16/3) mengingatkan pada tragedi politik 1965 yang memicu gelombang "genosida" dan merambah wilayah budaya di Banyumas [Foto: Ar]
Keberanian mbarang lengger komunitas “Titik Kumpul” di Roemah Martha Tilaar, pantas mendapatkan apresiasi luas. Pilihan mengangkat repertoar berbingkai Tribute to Kunesyang dipersiapkan bagi panggung Asia di Taiwan April-Mei mendatang; membuat penonton terpengarah (16/3/2019) malam itu. Namun sedikit dari yang terpengarah itu memahami kesima “Kunes” dalam konteks sejarah dan lokalitasnya. Penari tradisi bumi Banyumas selatan yang lahir seabad lalu, sedikit diketahui, pada zaman berikutnya telah menjadi bagian langsung dari sejarah kelam kejahatan atas kemanusiaan (crimes against humanity)pada medio dekade 60-an.
Dalam perspektif genosida dimana pembasmian meluas atas sekelompok tertentu manusia di sebuah negara, maka tragedi yang dalam idiom lokal disebut Geger Gestok 65, telahmerambah masuk pula ke dalam wilayah budaya sebagai obyek penghancurannya. Perjalanan penari Ronggeng Kunes yang berhilir tragis; memang jadi linier dengan apa yang pernah ditulis novelis Ahmad Tohari pada novel triloginya Ronggeng Dukuh Paruk(berikut 2 novel lainnya, Lintang Kemukus Dinihari, Jentera Bianglala) yang usai melampaui batas bahasa di beberapa negara itu.
Pada kasus booming novel karya sastranya Ahmad Tohari mengakui realitas masih lekatnyacommunisto-phobia, yang pada gilirannya telah cukup membuat repot penulisnya. Bahwa masa itu telah lewat, ya. Tetapi sejarah memiliki cara tutur dan jalan takdirnya sendiri, termasuk dalam berhadapan dengan segala phobia; yang mungkin hari ini pun masih ada karena memang dipelihara. Tak terkecuali perjalanan tragik Ronggeng Kunes yang sepintas nampak sebagai kisah personal yang literer dengan segala romantismenya.
Namun Ronggeng Kunes dalam dimensi sejarah memiliki alur dan memori kolektif yang lebih dari sekedar magnet ingatan akan segala kisahnya. Karena “karir dan marwah” Kunessebagai penari tradisi tidak lah berdiri sendiri. Meskipun -boleh jadi- komunitas “Titik Kumpul” tak bertendensi lebih jauh, tetap saja kisah tragis Ronggeng Kunes yang dipanggungkan, lepas dari apakah kisi-kisi kelam ini tersingkap; repertoar ini akan menemukan pijak dan kekuatan konteksnya yang menyejarah itu.
Kedaulatan Panggung
Pemahaman atas Tribute to Ronggeng Kunes boleh datang kemudian dalam berbagai interpretasinya. Demikian ini bukan hanya berlaku bagi siapa pun yang menonton repertoar ini, namun juga bagi komunitas “titik kumpul” dalam proses kreatifnya. Proses yang telah menghasilkan perform seputar kebiasaan-kebiasaan ronggeng seperti gilir sampur hingga kedaulatannya dalam menghidupkan gairah panggung.
Ronggeng Kunes yang dinarasikan tak terpisah dengan fenomena indang seperti tersirat melalui properti ambeng yang dibawa keluar penarinya telah cukup menjelaskan kekuatan magis tradisionalnya. Kebanyakan seni tradisi memang senantiasa lekat dengan aspek itu. Kesinambungannya terjaga melalui ritual-ritual sebagai manifestasi nilai-nilai yang berlaku di masyarakat kebudayaanya.
Repertoar Ronggeng Kunes mengangkat relasi di lapangan kebudayaan itu dari timbulnya ketimpangan yang menjadi bidikannya. Bagaimana Ronggeng membangun kedaulatangender dengan mengeksplorasi tata nilai menjadi bias hegemoni dalam relasi sosialnya ke atas panggung. Pentas tribute ini menampilkan Ronggeng Kunes yang tengah mencapai puncak emasnya, saat sang ronggeng menjadi kiblat puja.
Tapi makin tinggi pohon tumbuh, makin besar tiupan angin menerpanya; begitu pepatah berkata. Realitas sejarah tak pernah bisa sepenuhnya lepas dari intervensi berbagai kepentingan, termasuk kepentingan politik. Nah, pandangan pragmatis akan bisa menjerumuskan perjalanannya. Bias ini dialami Ronggeng Kunes dalam masa yang menenggelamkannya dan menjadi tonggak yang menandai genosida budaya pasca 1965, khususnya di daerah Banyumas.
Ronggeng Kunes terbelenggu bukan oleh lintasan balok yang memasung kakinya, melainkan oleh badai politik yang memicu gelombang genosida budaya yang mengiringiGeger Gestok pada masa itu. [ap]
Jumat, 08 Maret 2019
“Apa itu Lekra?”
Apuet Machfud | Mar 8, 2019
Source: Ingat 65
Aku sedang memainkan peran untuk naskahku sendiri.
Pada awalnya, Aku hanya seorang seniman otodidak. Aku
belajar hanya dari melihat dan memperhatikan gerak serta membaca buku-buku seni
budaya dan menulis puisi.
Orang yang paling berpengaruh dalam karyaku adalah mentor
pertamaku, Kak Oik (begitu aku memanggilnya). Ia seorang individualis, penari
sekaligus pemain teater. Kak Oik-lah yang pertama kali mengenalkanku pada
Lembaga Kebudayaan Rakyat atau lebih dikenal dengan Lekra.
Saat itu, Lekra adalah sebuah tanda tanya besar buatku.
Apa itu Lekra?
Sejauh ini, aku berkesenian hanya untuk diriku sendiri.
Hingga mentorku, Kak Oik, mengenalkanku pada sastrawan Putu Oka Sukanta.
Putu Oka yang pernah menjadi anggota Lekra dan dipenjara
rezim Orde Baru tanpa pengadilan ini, telah menulis banyak kisah mengenai
tragedi pembantaian 1965.
Karya-karya Putu Oka berupa cerita pendek, seperti Rindu
Terluka, Lobakan, dan sebagainya. Salah satu fokus dalam karyanya adalah
tentang perempuan dan masyarakat Bali.
Beberapa buku yang telah ditulisnya antara lain: I Belog
(cerita anak-anak, 1981), Selat Bali (kumpulan puisi, 1982), Salam/Greetings
(kumpulan puisi, 1986), Tas/Die Tasche (kumpulan cerpen, 1986), Luh Galuh
(Kumpulan Cerpen, 1987), Buruan (novel), dan sebagainya.
Meski umurnya sudah tak muda lagi, 80 tahun, ia masih
tetap produktif menulis. Ia selalu membuat aku kagum. Kadang aku
bertanya-tanya, bagaimana ia mempertahankan ketajaman berpikir dan di saat yang
sama memelihara semangat berkreatifitasnya? Ia juga masih rajin mengamati
perkembangan kesusastraan dewasa ini. Aku penasaran mengapa ia demikian.
Karena itu, pada pertengahan 2016, aku memutuskan untuk
berkunjung ke rumah Putu Oka di Rawamangun, Jakarta. Aku bermaksud untuk
melihat bagaimana Putu Oka menulis.
Sesampainya di sana, tepat sekali, Putu Oka memang sedang
menulis. Mulanya, ia merahasiakan tulisannya. Tapi pada akhirnya, aku tahu ia
sedang menulis tentang Cahaya Mata Sang Pewaris yang rencananya akan
diterbitkan pada tahun berikutnya, 2017.
Membaca karyanya, lambat laun, pengetahuaku tentang Lekra
bertambah. Pun juga tentang karya-karya Putu Oka. Aku mengadaptasi pemikiran
Putu Oka, yang kemudian menuntunku untuk menemukan caraku dalam berkesenian.
Aku merasa selaras dengannya karena menurutku berkesenian juga tidak bisa
dilepaskan dari sisi kesejarahan.
Setelah mempelajari Lekra dan Putu Oka, aku menyadari
bahwa hubungan seniman sangatlah setara dan humanis. Baik seniman junior maupun
yang senior. Tidak ada yang memberikan indoktrinasi maupun instruksi.
Putu oka juga yang menegaskan padaku tentang Lekra dan
PKI. Ia menegaskan
“Ia bukan PKI, Ia adalah Lekra. Lekra itu sebuah paguyuban seninam-seniman yang punya cita-cita ingin mengembangkan tradisi rakyat dan anti feodalisme. Kenapa? Karena tanah ini dikuasai oleh feodal,” katanya.
Dari situlah, aku mulai terinspirasi menulis puisi. Tentu
saja yang masih ada kaitannya dengan sejarah kelam bangsa ini.
Ini beberapa sajak puisi yang aku buat tentang 65:
Ia dicabik oleh parang hingga robek punggungnya
matahari ta’ marah, ia diam saja menjadi penonton
Lelaki dalam ruangan itu digagahi kawanan loreng yang
ingin terlihat menakutkan serupa harimau
dalam pandangan yang semakin redup lelaki itu tergeletak
menyaksikan hal tersebut.
Matahari masih diam namun sepertinya langit sudah ganti
baju
Lelaki itu terbangun di sebuah ruang kosong
Tergeletak bersamanya kawan-kawan tertumpuk kaku
dihadapan.
Pulau itu menjemputnya pergi, tanpa suara, tanpa hak,
tanpa wanitanya; lelaki itu sendirian.
Jakarta, 2018
Karya puisiku ini merupakan gabungan seni instalasi dan
seni performance art. Instalasi disajikan dengan kain putih menjuntai
lurus dengan dibalut lakban.
Lewat seni instalasi ini, aku ingin menyampaikan
pesan bahwa teror dan maut selalu menunggu kala itu (1965), kain putih (kafan)
mewakili kesucian kematian, dan lakban putih adalah malaikat, yang setiap saat
dapat menutup segala hal.
Seni performance art yang kutampilkan adalah
eksplorasi tubuh yang dililit oleh sebuah benang merah dan putih ke sekujur
tubuh sebagai metafora altruisme yang menjadi obyek yang menderita dan
melakukan interaksi terhadap obyek dan subyek.
Selanjutnya aku tekuni saat ini adalah berjibaku dengan
berkesenian, yaitu menyadarkan bahwa pentingnya seni sastra dan seni
pertunjukan, yang selama ini sudah terjalin oleh seniman-seniman yang secara jelas
sudah tahu dan paham apa dan bagaimana perjuangan seni Lekra kala itu.
Aku terus berkarya sembari terus mengingat semangat Putu
Oka.
Jakarta, 30 Januari 2019
Source: Ingat 65
Minggu, 21 Oktober 2018
85 Tahun Amrus Natalsya
Ulang Tahun Ke-85 Perupa Amrus Natalsya
Catatan: Misbach Tamrin
Kredit Foto: Misbach Tamrin
Amrus Natalsya! Hanya dia seorang diri saja lagi yang tertinggal alias tersisa. Sebagai tokoh eksponen dari komunitas seniman ASRI Sore yang pernah eksis dan berkibar di era awal tahun 1950-an.
Kini, pada tanggal 21 Oktober 2018, telah berulang tahun yang ke-85, menjelang ke-86 tahun.
Ultahnya telah dirayakan secara sederhana. Di Galerinya Amrus Bumi Tarung, di jalan Bata Alam, Lido - Cigombong, Bogor, Jawa Barat.
Disamping oleh keluarga dan kerabatnya. Juga dihadiri para seniman sahabat dekatnya. Antara lain Martin Aleida (sastrawan), EZ Halim (kolektor), Dolorosa Sinaga (pematung), Salim M. (Pelukis), isteri penyair Oey Hay Djoen. Dan beberapa seniman pelukis kalangan aktivis pejuang HAM lainnya. Termasuk di antaranya Yayak Yatmaka dan Yohanes Andreas Iswinarto.
Dalam satu dan dua tahun belakangan ini telah meninggal dunia 2 tokoh seniman komunitas ASRI Sore. Yaitu Arby Samah, dikenal selaku pematung abstrak asal dari Padang, dalam usia 83 tahun. Dan Soenarto PR, pelukis realis, dan ketua sesepuh Sanggar Bambu dalam usia 84 tahun. Menyusul kawan-kawan almarhum terdahulu, seperti Arwan Isa, Abdullah Siddiq, Abdullah Saleh, Gani Lubis dan Widodo.
Foto: Misbach Tamrin
Generasi mereka mewakili suatu angkatan penerus generasi pejuang kemerdekaan Revolusi Agustus 1945. Yang dipelopori triumvirat maestro legendaris "SAH" : Sudjojono, Affandi dan Hendra Gunawan. Yang tak asing lagi di khazanah senirupa Indonesia.
Amrus Natalsya, selain itu di samping pernah sebentar sebagai warga sanggar "Pelukis Rakyat" pimpinan Hendra, sebelumnya. Juga selaku ketua pendiri Sanggar Bumi Tarung (SBT) selama 4 tahun (1961 - 1965) di Yogyakarta. Sebelum tergusur rezim Orde Baru di peristiwa '65.
Kredit Foto: Misbach Tamrin
Hingga sekarang, jam terbang berkaryanya telah beranjak 64 tahun (1954 - 2018). Dengan berjibun karya-karya senirupanya yang tak terhitung. Tersebar dari di tanah air hingga di manca negara. Meliputi 3 genre media karya : patung kayu, lukisan kayu dan lukisan kanvas. Sekaligus 3 orde zaman, dirambah karier juang kesenimanannya : orde lama, orde baru dan orde reformasi.
Rencana Amrus Natalsya, jika masih ada khayat dikandung badan. Ia akan berupaya menyempatkan kesempatan pameran tunggal retropektif usia senjanya. Di ruang gedung Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki (TIM) pada tanggal 16 Februari 2019 mendatang
***
Jumat, 05 Oktober 2018
Kisah Eks-Cakrabirawa Penjemput Jenderal Nasution Melawan Stigma PKI
04.04
Documentary, Kisah, Kliping #65, Lekra, Purwokerto, Stigma PKI, Tapol, Tjakrabirawa
No comments
Muhamad Ridlo - 05 Okt
2018, 04:01 WIB
Sulemi dan istri adalah sepasang orang tua yang bahagia. (Foto:
Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Purwokerto - Mendadak Sulemi (77) mengangkat kedua
kakinya ke meja. Mantan prajurit Cakrabirawa ini memperlihatkan kedua jempolnya yang
bengkok. Kukunya bergelombang dan tumbuh tak normal.
Cacat di jempol kaki dan bekas luka di sekujur tubuhnya
itu adalah kenangan yang didapatnya ketika meringkuk di tahanan, sebelum
Mahkamah Luar Biasa atau Mahmilub. Ia ditangkap, tepatnya menyerahkan diri,
lantaran dituduh terlibat G30S PKI.
Sepanjang waktu selama di tahanan, bekas anggota pasukan
elite pengawal presiden ini dipaksa mengaku PKI. Namun, ia bersikukuh
bahwa dia hanya menjalankan perintah komandan untuk menjemput Jenderal
Nasution.
"Saya prajurit hanya menjalankan perintah atasan. Dalam umur saya, tidak pernah terlibat politik. Kalau perwira menengah, mayor ke atas mungkin," ucapnya bercerita saat diinterogasi Provost.
Tiap jawaban itu meluncur dari mulutnya, ia sadar bakal
menghadapi siksaan. Pukulan, tendangan, dipukul popor bedil dan diseret adalah
derita yang mesti dirasakan tiap kali diinterogasi.
Bekas prajurit Cakrabirawa dengan pangkat sersan satu ini dipaksa
mengaku sebagai anggota PKI.
Tulang punggungnya patah. Belikatnya melesak remuk ke
dada akibat pukulan benda keras dan tendangan bertubi-tubi.
Namun, di antara siksaan yang diterimanya, yang paling
menyakitkan adalah ketika jempol kakinya ditindih dengan kaki meja. Lantas,
meja itu diduduki oleh interogator.
"Kemudian kukunya dicopot dengan tang. Rasanya seperti disambar halilintar. Sakitnya minta ampun. Kedua bola mata saya seolah copot keluar," kata bekas prajurit Cakrabirawa ini. Dia tak pernah lupa peristiwa ini.
Terlibat
Penjemputan Jenderal Nasution
Bekas prajurit Cakrabirawa, Sulemi. (Foto:
Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Keadaan lantas membaik saat Palang Merah Internasional
berkunjung ke tahanan. Saat itu, ia menyebut sudah tak lagi bisa berjalan.
Saat buang air besar, ia mesti merayap seperti kadal.
"Daripada saya mengaku PKI, lebih baik mati," ucapnya tegas.
Akibat terlibat upaya penculikan Jenderal Nasution, ia
divonis mati. Seluruh harapannya buyar. Ia mesti melepas istri dan anak semata
wayangnya.
Namun, oleh pengacara militernya, ia dibujuk untuk
mengajukan banding dan berhasil. Dari vonis mati hukumannya berubah menjadi
seumur hidup.
Lantas ia dipindah ke Pamekasan, Madura, bersama 32
tahanan politik lainnya. Selama 15 tahun, ia menghabiskan waktu di balik jeruji
penjara hingga akhirnya bebas pada Oktober 1980, bulan ini 38 tahun lalu.
Bebas dari penjara bagi Sulemi bukan berarti lepas dari
penderitaan. Pulang ke Purbalingga, ia mendapati kakaknya yang seorang PNS di
Dinas Pertanian dipecat. Padahal, sang kakak sama sekali tak tahu peristiwa
yang terjadi di Jakarta pada Oktober 1965.
Keluarganya juga mesti menanggung perundungan, lantaran
dianggap sebagai keluarga pengikut PKI. Penderitaan itu rupanya mesti
ditanggung oleh keluarga besarnya.
"Seharusnya yang dihukum itu pimpinan. DI/TII Kartosuwiryo, yang dihukum juga para pimpinan," dia menuturkan.
Terseok-seok, ia mulai mencari pekerjaan. Pekerjaan
didapat, tak lama kemudian, dipecat begitu bos mengetahui latar belakangnya
sebagai bekas prajurit Cakrabirawa.
Secercah Harapan
Usai Reformasi 1998
Sulemi dan istri di kediamannya di Purbalingga, Jawa Tengah. (Foto:
Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Di kala susah itu, Tuhan memberi secercah berkah dengan
mengirimkan sosok Sri Murni, seorang janda. Mantan istri rekannya sendiri.
Berdua, mereka mulai mendayung biduk di tengah gelombang
masa 80-an yang tak ramah. Untuk menyambung hidup, ia memutuskan untuk
mematung.
Keahlian ini didapatnya ketika dipenjara di Pamekasan.
Salah satu napi adalah seniman yang juga seorang dosen seni rupa. Rekannya ini
masuk penjara karena menjadi anggota Lekra.
Sesekali, patungnya laku. Tetapi, di saat lain, tak ada
yang mencarinya. Singkat kata, mematung tak bisa menjamin dapurnya tetap
mengepul.
Lantas, ia dan istrinya sepakat untuk membuat warung
makan. Tak mudah untuk hidup dari sektor jasa. Apalagi, usaha ini membuatnya
mesti berinteraksi dengan bermacam konsumen.
Ada kalanya, pelanggan tak lagi kembali begitu mengetahui
sang pemilik warung adalah bekas prajurit Cakrabirawa, yang pada masa Orde Baru
selalu diembuskan berasosiasi dengan PKI. Tetapi, ia selalu berusaha berlapang
dada.
"Saya juga beribadah sebagaimana biasa. Kebetulan rumah saya dekat dengan masjid,” tuturnya.
Ekonomi keluarga Sulemi berangsur pulih. Masalah muncul
ketika anak-anaknya beranjak besar dan membutuhkan biaya pendidikan. Istrinya
rela membuka kios daging di pasar, sendirian.
Kemudian, seperti mimpi, reformasi bergulir. Gus Dur
menjadi presiden. Masa ini ditandai dengan pulihnya hak-hak bekas tahanan
politik seperti Sulemi.
Perlahan tapi pasti, semuanya membaik. Bahkan, anak
bungsunya menjadi aparat. Sesuatu yang amat haram pada masa Orde Baru.
Rabu, 03 Oktober 2018
Anak Njoto, Svetlana: Bapakku Orang Sabar dan Penyayang
13.13
Dialita, Genosida 65, Interview, Kisah, Kliping #65, Lekra, Nyoto, PKI, Sejarah, Sejarah #Gerwani, Svetlana
No comments
Pebriansyah Arief - Rabu, 03
Oktober 2018 | 13:12 WIB
Svetlana Dayani, putri sulung anggota CC PKI Njoto. [Suara.com/Abdus
Somad]
Svetlana sebagai anak pertama Njoto menceritakan semua
yang dilakukan Njoto tidak bisa lepas dari nalurinya untuk peduli antar sesama
bahkan mempunyai karakter kuat untuk menyanyangi semua manusia.
Suara.com - Sebagai seorang anak yang lahir dari
seoarang pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) banyak hal yang didapat seperti
pengetahuan, kebahagiaan sampai penderitaan. Itulah yang dirasakan oleh Svetlana anak dari Njoto yang merupakan pemimpin
PKI.
Di balik kecerdasannya Njoto yang telah mendirikan
Lembaga Kebudyaan Rakyat (Lekra)
menghidupkan kembali semangat juang PKI sampai pada memberikan napas pemersatu
rakyat yang berorientasi pada kesejahteraan bagi rakyat Indonesia berjuang
bersama rakyat. Njoto adalah orang yang sabar dan penyayang.
Ia membuat segalanya untuk keluarga, di saat ia senggang
waktu dibuat untuk keluarganya.
Svetlana sebagai anak pertama Njoto menceritakan semua
yang dilakukan Njoto tidak bisa lepas dari nalurinya untuk peduli antar sesama
bahkan mempunyai karakter kuat untuk menyanyangi semua manusia.
Namun sayangnya keberadaanya tak dapat diketahui sampai
saat ini. Ia hilang setelah peristiwa G 30 September (Gestok) terjadi. Meskipun
sempat menengok keluarga pada dua hari setelah Gestok terjadi, Njoto dalam
pengakuan Svetlana tidak pernah bertatap muka maupun berkomunikasi kembali
bahkan sampai saat ini.
Suara.com menemui Svetlana yang berada di Yogyakarta
dari ceritanya kita mengetahui lebih dekat bagaimana Njoto dari kaca mata
seorang anak yang kala itu masih berusia 9 tahun.
Bapak Anda pada
saat kabinet Soekarno menjabat sebagai menteri. bagaimana Anda melihat hal itu?
Kami dapat mobil dinas menteri, bapakku nggak bisa nyopir
jadi selalu ada sopirnya, sudah gitu saja, yang lainya normal nggak seperti
menteri-menteri di era kemudian yang mengalami kenyamanan hidup. Bapak saya
biasa saja wong ke sekolah saya diantar naik becak. Itupun kalau jadwalnya
berdekatan dengan bapak, kalau di jemput juga naik becak.
Bapak saya pernah melihat tukang becak yang biasa mangkal
di depan rumah, sama bapak malah dikasi tempat tidur di belakang rumah, nah
tukang becak itu yang biasa antar dan jemput saya.
Njoto (kanan berkacamata) dan Ketua CC PKI DN Aidit. [Dok. majalah
Life]
Nah bicara soal sabar tadi sabar tadi pernah suatu ketika
saya bermain di tempat kerja bapak saya, saat itu saya recokin kerjaan bapak
saya tapi dia gak pernah marah. Saya malah dipangku disuruh ngetik bersama,
belajar nulis.
Pokoknya sabar banget. Banyangkan dulu kalau salah ngetik
pakai mesin ketik kan susah banget memperbaiki, akan tetapi bapak mau melakukan
itu. Ia sabar ketika direcokin.
Bagaimana kesan
Anda melihat bapak Anda?
Ayah saya itu buat saya setelah dewasa itu ia sabar dia
penyanyang kepada semua orang, tidak hanya kepada anak. Itu juga saya ketahui
setelah tinggal di Solo. Bahkan ponakan saya sangat sayang dan hormat pada
bapak saya.
Biasanya balik ke Indonesia atau pulang dari luar negeri
selalu ada buah tangan yang di bawa untui dibangikan kepada ponakannya dan
bapak ingat apa yang disenangi ponakannya. Selain itu bapak saya senang main
musik, kalau berada di rumah ngajak bernyanyi.
Kalau di rumah bapak sering main akordian dan piano
meskipun di rumah itu ada seksofon. Dulu sering dimainkan lagu anak-anak.
Bahkan diajarin main piano. Kalau bapak senggang dia milik keluarga.
Kalau perkara minta jangan minta mainan akan jarang
dikasi, sesekali kalau pergi luar negeri kalau minta bacaan pasti dibelikan.
Dari hal itu saya terbiasa membaca.
Svetlana Dayani, putri sulung anggota CC PKI Njoto, berpose bersama
anggota Gerwani yang menjadi tahanan politik. [dok. Svetlana]
Anda juga kenal dan
tahu D. N Aidit saat Anda masih kecil?
Tahu, saya kenal namanya teman-teman bapak saya sering ke
rumah saya jadi tahu, tapi kegiatan apa yang dilakukan saya nggak tahu. Di
rumah itu saling berkunjung itu biasa, pernah om Lukman, om Aidit. Pak Hesri
ingat bapakku ketika ada tamu saya sering lari-lari di ruangan kerja bapakku.
Anda juga sering
diajak ke Sekretarian pusat Lekra di Cidurian 19?
Iya, pada waktu itu kan anak kecil hanya main-main, saya
memang tahu kegiatan seni, di sana itu kadang ada yang nyanyi, ada yang melukis
ada yang sedang membuat patung-patung sering kali karnyanya Lekra ada disana,
waktu itu usiaku masih 9 tahun, saya di ajak bapak.
Saya kalau sekolah lalu pulang gak sempat ada yang
jemput, saya biasanya di Cidurian 19 sampai tukang becak jemput dan ibu saya
jemput baru pulang. Jaraknya TK Melati dengan rumah saya lumayan jauh sih.
Bicara soal TK
Melati, itu sekolah siapa yang menderikan?
Belakangan saya tahu TK milik ibu-ibu Gerwani, tapi di
sana itu tahunya gurunya bebas. Ketika tidak ada guru pernah ibu saya ngajar,
saya gak ingat banget di TK itu. Namun saya ingat di sana itu sih main-main,
nyanya-nyanyi, kadang melipat kertas.
Seingat saya juga anak-anak yang bersekolah di sana
kebanyakan anak-anak yang orang tunya ikut partai, akan tetapi ada juga yang di
luar partai itu bagi anak-anak yang rumahnya dekat dengan sekolah TK Melati.
Svetlana Dayani, putri sulung anggota CC PKI Njoto. [Suara.com/Abdus
Somad]
Saat peristiwa G 30 September (Gestok) itu terjadi, apa
yang Anda ketahui?
Saya tidak tahu apa-apa, saya ingat bapak saya sedang
dinas di Sumatera. Peristiwa terjadi saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya ingat
tanggal 1 Oktober anakanya saudara saya ulang tahu. Karena tidak ada bapakku,
saya kemudian diajak nginep di rumah saudara untuk merayakan ulang tahun
sepupu. Saya dan ibu kemudian bermalam di sana.
Pas tanggal 1 oktober juga, masih dalam suasana ulang
tahu, ibu saya dikasi tahu saudara untuk pulang, pesan itu didapat dari
tantenya yang suaminya tentara. Kamu pulang, Menurut ibu saya jalannya sepi
banget.
lalu Tanggal 2 Oktober 1965 bapak saya pulang, kita dibawa pergi dari rumah. Di sana kita mulai berpindah-pindah. Pagi hari di sini, malam hari di mana, pokoknya berpindah-pindah.
lalu Tanggal 2 Oktober 1965 bapak saya pulang, kita dibawa pergi dari rumah. Di sana kita mulai berpindah-pindah. Pagi hari di sini, malam hari di mana, pokoknya berpindah-pindah.
Sampai akhirnya saya terpisah dari bapak. Sedangkan saya
dan ibu beserta anak-anak yang lainnya-adik saya tinggal di sebuah rumah yang
terletak di Gunungsari, itu dulu kontrakannya CMGI. Di sana saya agak lama
tinggal.
Lama tinggal di sana, tiba-tiba kami digrebek tentara
Angkatan Darat (AD) kemudian kami semua dibawa ke penjara termasuk saya sebab
ibu saya tidak mau meninggalkan anak saya sendiri. Ibu saya bilang ke tentara
itu,” Saya mau ikut asal anak-anak saya di bawa nah saat itu kami dibawa.
Digrebek Tentara
Angkatan Darat, kapan itu terjadi?
Saya ingatnya bulan Oktober tahun 1966 setahun setelah
Gestok. Peristiwa selalu terjadi rata-rata malam. Saya ingat malam itu tidak
terlalu larut banget. Kala itu saya main screbel bersama adik-adik, datang
seorang tentara bernama Kapten Suroso yang kemudian mendekati tempat bermain
screbel dan menyusun huruf berbentuk bapak saya - Njoto. Ia menyusun itu
maksudnya dia tahu kami anaknya.
Mulai saat itu kami dibawa ke Kodim 0501, Kodim air
mancur namanya, sekarang kalau nggak salah dekat dengan Gedung BI yang ke arah
Kebun Siri.
Svetlana Dayani, Putri Njoto
Nah saat dibawa kami dimasukkan ke sel perempuan di sana
kami jadi satu ada banyak tahanan. Selnya lumayan besar namun ketika hendak
tidur harus berimpitan. Sel yang kami tempati benar yang bentuknya jeruji besi.
Nah di sana deket dengan kantor yang dipakai introgasi
saya tahu lokasiny dekat sekali.
Jadi orang habis disiksa serta diintrogasi darahnya yang
berserakan dilap itu bagian yang membuat saya trauma. Saya melihat orang
berdarah-darah kadang diseret, kadang dipapah. Perempuan yang selesai disiksa
masuk kembali ke sel kami di sana mereka diobati sama teman-temanya di rawat.
Ibu saya dan adik saya kalau tidur kadang terbangun dan
nangis karena ada bunyi sabetan serta teriakan yang jelas banget terengar, wong
itu deket, saya bahkan menatap langsung orang yang disiksa.
Anda katakan ada
siksaan, alat apa saja yang digunakan pada saat itu?
Macam-macam yang saya lihat dengan nyata dan pahami waktu
itu cambuk yang bentuknya ikan pari. Kan itu ada di meja nah saya setiap pagi
bersihakan meja di sana juga ada puntung rokok.
Saya sering bersihkan untuk tugas pagi itu dilakukan
karena saya membantu tahanan perempuan yang bertugas. Bahkan ada kabar juga ada
yang diinjak kukunya di duduki pakai kaki meja, lalu disundut pakai rokok. Saat
saya bersihkan itu saya lihat ekor pari masih berdarah-darah sih jumlahnya
hanya satu sampai dua.
Selama dalam
tahanan, Anda melihat bapak Anda?
Di tahanan bapak tidak ketemu lagi terkahir di Gunugsari,
itupun sempat tenggok malam sekali. Udah itu saya gak tahu lagi bapakku ada di
mana. Waktu itu sempat melihat Martin Aleida lalu Putu Oka, bahkan ibu saya
ingat ada Sudisman ditangkap dan dibawanya ke situ.
Teman-teman bapak
Anda juga tidak pernah cerita di mana keberadaan Njoto?
Nggak ada sama sekali, terkahir itu diketahui jelas saat
ada sidang kebinet terkahir di Bogor. Itu sidang kabinet Soekarno terakhir.
Orang bilangnya peristiwa itu terjadi pada 6 Oktober, itu sidang terkahir
bersama Lukman.
Nah kalau lukman anaknya sendiri yang tahu kalau Lukman
dieksekusi di depan rumahnya di Kebayoran, kalau bapak saya nggak tahu.
Kembali bicara soal
Anda ditahan, kalau boleh cerita berapa tahun ada ditahan saat itu?
Nggak lama kami sekitar 3 bulan atau lebih saya agak lupa waktunya apa akhir tahun apa awal tahun. Saat itu kami dijemput kakak saya di Solo kami boleh pulang ke Solo entah bagaimana menjaminya.
Nggak lama kami sekitar 3 bulan atau lebih saya agak lupa waktunya apa akhir tahun apa awal tahun. Saat itu kami dijemput kakak saya di Solo kami boleh pulang ke Solo entah bagaimana menjaminya.
Lalu selama di Solo
apa yang Anda lakukan?
Ibu saya kan masih di tahan beberapa kali, setelah di
Solo dua tahun kemudian saya masuk SD, saya lulus SD masuk SMP. Saya waktu
kelas 1 SMP harus mengurus adik-adik saya yang jumlahnya lima. Saya nggak
ngerti bagaimana saja menjadi ibu dari adik saya meksipun ada bule saya ada
pembantu dan ada saudara yang ikut membantu, namun saya berpikiran apa yang aku
bisa lakukan, saat itu aku paling bisa memberi contoh yang baik pada adikku dan
aku sekolah yang benar.
Saya mulai berpikiran harus berupaya untuk meringankan
beban keluarga. Saya punya kesadaran untuk membelikan adik saya alat tulis.
Dari sana saya mulai bekerja, dari kelas 1 SMP saya sudah kerja, kerja pertama
itu menempelkan amplop.
Dari sana saya dapat uang. Selain itu kadang membantu
teman belajar sehabis belajar bareng kadang dikasi uang hanya nemani belajar
tetangga. Pernah juga saya merajut pakaian bayi lalu dikardusin, satu set ada
baju ada sarung tangan, dari situ saya dapat uang lagi.
Selain itu kalau adik saya sakit, saya disuruh bawa ke
dokter waktu itu saya yang bawa. Bulek saya kan sibuk karena harus nengok
anaknya di Riau.
Ibu saya kan di tahan lagi kemudian dibawa ke Semarang.
Adik saya yang bungsu dibawa ibu saya ke tahanan Mbulu setelah itu dipindah
lagi dari Semarang ke Bukit Duri. Ibu saya bebas tahun 79. jadi hidup saat itu
benar-benar mandiri.
Anda tahu bapak
Anda adalah seorang pemimpin Partai Komunis Indonesia?
Saat kecil ya ndak tahu, saya tahu bapak saya ikut partai
waktu duduk dibangku SMP, tepatnya di SMP Negeri Solo. Itupun saya taju dari
buku sejarah, di buku itu ada tulusan Aidit, Lukman Njoto gembong PKI,
tulisannya gitu.
Saya berpikiran, wau ini berarti yang menyebabkan saya
seperti ini sekarang. Saya sebelumnya tidak mengerti kenapa bapak saya
dicari-cari, saya sendiri tidak pernah tahu kenapa pindah rumah, saya tidak
mengerti sama sekali. Owh ternyata karena bapak.
Meskipun saya tidak percaya bapakku ada kaitannya dengan
pembunuhan Jenderal, akan tetapi saya jadi mengerti ini lho peristiwa yang
menyebabkan hidup saya seperti ini.
Sampai saat ini
meskipun sistem reformasi serta demokrasi diterapkan, Anda masih mengalami Stigma?
Masih dirasakan, ada pihak tertentu yang tahu siapa saya,
namun saya bersyukur keluarga kami memahami, di luar saya ada banyak keuarga
lain tidak diterima bahkan diusir karena takut itu ada.
Bagaimana dengan
diskriminasi?
Saya merasa kadang seperti saya punya penyakit
disingkirkan orang diaggap bagaimana gitu, dilihat bagaimana gitu, sekarang pun
gitu.
Saya pernah satu keluarga pergi dari rumah selama
beberapa bulan karena ada FAKI. Saat itu sedang ada kegiatan diskusi
kejadiannya tangga 27 Oktober 2013. Orang FAKI mengrebek diskusi itu.
Saya lalu diminta berlindung, saya-pun pergi tanpa
bawa-bawa apa-apa dan itu bersama anak saya saya pergi dari rumah. Saya
merasakan tepat 48 tahun sama seperti apa yang saya alami dulu. Saya merasa
anak saya juga merasakan diskriminasi. Banyak yang hilang dari hidup ini,
seperti kesempatan hilang, saya mencari kerja terbatas, sekolah juga saya
terbatas.
Namun saya tetap
bersyukur menjalani hidup ini.
Kontributor : Abdus
Somad
Langganan:
Postingan (Atom)



























