HUTAN MONGGOT

“Menurut taksiran, korban yang dieksekusi dan dibuang di lokasi ini tak kurang dari 2.000 orang”, kata saksi sejarah sambil menunjukkan lokasinya [Foto: Humas YPKP]

SIMPOSIUM NASIONAL

Simposium Nasional Bedah Tragedi 1965 Pendekatan Kesejarahan yang pertama digelar Negara memicu kepanikan kelompok yang berkaitan dengan kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66; lalu menggelar simposium tandingan

ARSIP RAHASIA

Sejumlah dokumen diplomatik Amerika Serikat periode 1964-1968 (BBC/TITO SIANIPAR)

MASS GRAVE

Penggalian kuburan massal korban pembantaian militer pada kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66 di Bali. Keberadaan kuburan massal ini membuktikan adanya kejahatan kemanusiaan di masa lalu..

TRUTH FOUNDATION: Ketua YPKP 65 Bedjo Untung diundang ke Korea Selatan untuk menerima penghargaan Human Right Award of The Truth Foundation (26/6/2017) bertepatan dengan Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Korban Kekerasan [Foto: Humas YPKP'65]

Tampilkan postingan dengan label Luweng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Luweng. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 September 2012

Luweng Grubug, Saksi Diskriminasi Korban 1966


30 September 2012 23:14 WIB

Mahasiswa pencinta alam Universitas Indonesia (UI) Jakarta melakukan penelusuran goa dan sungai bawah tanah di Luweng Grubug di Dusun Jetis Wetan, Desa Pacarejo, Semanu Gunungkidul, Juni lalu. Luweng Grubug berada di Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu menjadi saksi bisu sejarah penghilangan sekitar 600 orang yang menjudi korban dalam pemberantasan sisa-sia PKI di era tahun 1966-1968. Luweng vertival berkedalaman 90 meter ini kini menjadi wisata minta khusus yang dikelola pihak swasta. (Foto: Desi Suryanto/JIBI/Harian)

GUNUNGKIDUL – Organisasi masyarakat Lakpesdam dibawah Nadhlatul Ulama (NU) mengajak seluruh masyarakat untuk tidak lagi memadang sebelah mata dan bersikap diskriminatif terhadap anggota masyarakat yang menjadi korban penumpasan PKI di era 1966-1968 silam.

Pejabat Divisi Advokasi Lakpesdam NU Gunungkidul Heri Kriswanto mengatakan lambat laun korban kekerasan dalam peristiwa sejarah tahun 1966-1968 di Gunungkidul sudah menunjukkan perkembangan cukup bagus.

Sedikit demi sedikit pendampingan bagi korban PKI mulai memperoleh haknya kembali baik dalam akses ekonomi, sosial dan politik.
“Untuk hak sosial masih terus kami upayakan agar tidak ada diskriminasi dari masyarakat sekitar tinggal. Ini yang memang masih terus diupayakan agar tidak ada lagi pembedaan masyarakat,” kata Heri Kriswanto ditemui JIBI/Harian Jogja di Playen, Gunungkidul, Minggu (30/9/2012).
Menurut Heri, puluhan korban pemberantasan PKI 1966-1968 dampingan Lakspedam NU telah mulai mendapatkan persamaan hak seperti jaminan kesehatan, raskin, dan akses modal serta hak politik baik persamaan KTP hingga penggunaan hak pilih.
“Justru masyarakat awam sendiri yang masih sering memnadang sebelah mata dan bersikap diskriminatif. Ini yang harus terus dipahamkan kepada masyarakat agar diskriminasi sosial tidak terjadi lagi,” katanya.
Lakpesdam NU Gunungkidul kini tengah memperbaiki pendataan korban 1966-1968 di Gunungkidul bekerja sama dengan wadah paguyuban dipimpin Margiyo korban pengasingan pulau buru karena tuduhan keterlibatan langsung PKI.

Selama ini pendampingan pemberdayaan ekonomi baru menyasar tiga kelompok korban kekerasan 1966-1968 yang dalam waktu dekat akan dilakukan kunjungan ke beberapa home indutry untuk memberikan pelatihan produksi dan pemasaran usaha kecul menenagh untuk peningkatan usaha produktif sebagai tindak lanjut dari program PNPM tahun lalu.

Tiga kelompok masyarakat binaan tersebut Mawar Indah di Sumbermulyo, Kepek, Wonosari beranggotakan 30 anggota, Sido Maju di Ponjong beranggotakan 30 orang dan kelompok Nggowo Berkah di daerah Rongkop beranggotakan 21 orang.
“Masih banyak lagi lainnya yang perlu mendapatkan persamaan hak baik ekonomi, akses modal, sosial dan politik,” ujarnya.
Terpisah, penasehat Lakpesdam NU Gunungkidul Zaenuri Iksan menambahkan menambahkan pemulihan hak-hak korban penumpan PKI perlu terus dilakukan semua elemen masyarakat. Terlebih di Gunungkidul korban ini dikatakan ‘korban sejarah’ yang tidak tahu apapun soal PKI.
“Banyak yang di-PKI-kan padahal dulu hanya sekolah dan nonton pertunjukan Lekra. Ini yang harus dipahamkan pada masyarakat luas agar tidak sebelah mata memandang korban PKI,” pungkas Iksan.
Sementara dari pantauaan selama sepekan mendekati peringatan 30 September di gua Grubug di tengah ladang Desa Pacarejo Kecamatan Semanu terdapat beberapa keluarga yang berziarah menabur bunga dan berdoa.

Rombongan keluarga dari Jogja yang enggan disebutkan namanya itu memiliki keyakinan dari berbagai penelusuran dilakukan, salah satu kerabat terakhir dibuang di gua grubug bersama ratusan korban lain pada era pemberantasan PKI di era tahun 1968 silam. 
 “Kami hanya pasrah. Dan berdoa untuk simbah saya di gua,” kata seorang pengusaha wanti-wanti namanya tidak disebut.
Kepastian adanya Gua Grubuk digunakan pemerintah untuk mengekskusi masal ratusan korban peristiwa pada tahun 1966 dari DIY dan Jateng dibenarkan sumber Harian Jogja bernama Hadi Tukiran, 87, pensiunan TNI–Angkatan Darat (AD) warga RT 007/100 Jeruksari Kepek Wonosari.

Dia menyatakan dirinya sebagai saksi kejadian karena menjalankan tugas kedinasan selaku eksekutor penembak aktivis PKI sebelum mayatnya dibuang di dasar sungai bawah tanah berkedalaman hampir 100 meter. Tugas itu diterima Hadi Tukiran oleh semasa Komandan Kodim Gunungkidul dijabat Letkol Suwondo dan Projo Manggolo Pemkab Gunungkidul dan Inspektur (pol) Parno.

Orang-orang diduga kuat aktivis sayap PKI seperti Lembaga Kesenian rakyat (Lekra), Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), PR (Pemuda Rakyat), Barisan Tani Indonesia (BTI), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI-Non Fak Sentral), (Ikatan Pelajar Pemuda Indonesia (IPPI) termasuk Persatuan Pamong Desa Indonesia (PPDI) dari berbagai daerah dieksekusi diGrubuk berada ditengah ladang yang sepi ini.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Pembantaian Terbesar Di Indonesia Setelah G30S PKI

1 Oktober 2011



Paska peristiwa G30S PKI tidak hanya menyimpan misteri, tetapi ternyata menyisakan cerita yang sangat mengerikan. Pembantaian dan pembunuhan kepada anggota PKI terjadi dimana-mana di seluruh wilayah Indonesia.
Dalam sebuah Konferensi Tiga Benua di Havana di bulan Februari 1966, perwakilan Uni-Sovyet berusaha dengan segala kemampuan mereka untuk menghindari pengutukan atas penangkapan dan pembunuhan orang-orang yang dituduh sebagai PKI, yang sedang terjadi terhadap rakyat Indonesia. Pendirian mereka mendapatkan pujian dari rejim Suharto.
Parlemen Indonesia mengesahkan resolusi pada tanggal 11 Februari, menyatakan “penghargaan penuh” atas usaha-usaha perwakilan-perwakilan dari Nepal, Mongolia, Uni-Sovyet dan negara-negara lain di Konperensi Solidaritas Negara-Negara Afrika, Asia dan Amerika Latin, yang berhasil menetralisir usaha-usaha para kontra-revolusioner apa yang dinamakan pergerakan 30 September, dan para pemimpin dan pelindung mereka, untuk bercampur-tangan di dalam urusan dalam negeri Indonesia.”

Penangkapan Simpatisan PKI
Dalam bulan-bulan setelah peristiwa ini, semua anggota dan pendukung PKI, atau mereka yang dianggap sebagai anggota dan simpatisan PKI, semua partai kelas buruh yang diketahui dan ratusan ribu pekerja dan petani Indonesia yang lain dibunuh atau dimasukkan ke kamp-kamp tahanan untuk disiksa dan diinterogasi. Pembunuhan-pembunuhan ini terjadi di Jawa Tengah (bulan Oktober), Jawa Timur (bulan November) dan Bali (bulan Desember). Berapa jumlah orang yang dibantai tidak diketahui dengan persis – perkiraan yang konservatif menyebutkan 500.000 orang, sementara perkiraan lain menyebut dua sampai tiga juga orang. Namun diduga setidak-tidaknya satu juta orang menjadi korban dalam bencana enam bulan yang mengikuti kudeta itu.
Dihasut dan dibantu oleh tentara, kelompok-kelompok pemuda dari organisasi-organisasi muslim sayap-kanan seperti barisan Ansor NU dan Tameng Marhaenis PNI melakukan pembunuhan-pembunuhan massal, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ada laporan-laporan bahwa Sungai Brantas di dekat Surabaya menjadi penuh mayat-mayat sampai di tempat-tempat tertentu sungai itu “terbendung mayat”.
Pada akhir 1965, antara 500.000 dan satu juta anggota-anggota dan pendukung-pendukung PKI telah menjadi korban pembunuhan dan ratusan ribu lainnya dipenjarakan di kamp-kamp konsentrasi, tanpa adanya perlawanan sama sekali.
Sewaktu regu-regu militer yang didukung dana CIA menangkapi semua anggota dan pendukung PKI yang terketahui dan melakukan pembantaian keji terhadap mereka, majalah “Time” memberitakan: “Pembunuhan-pembunuhan itu dilakukan dalam skala yang sedemikian sehingga pembuangan mayat menyebabkan persoalan sanitasi yang serius di Sumatra Utara, di mana udara yang lembab membawa bau mayat membusuk. Orang-orang dari daerah-daerah ini bercerita kepada kita tentang sungai-sungai kecil yang benar-benar terbendung oleh mayat-mayat. Transportasi sungai menjadi terhambat secara serius.”
Di pulau Bali, yang sebelum itu dianggap sebagai kubu PKI, paling sedikit 35.000 orang menjadi korban di permulaan 1966. Di sana para Tamin, pasukan komando elite Partai Nasional Indonesia, adalah pelaku pembunuhan-pembunuhan ini. Koresponden khusus dari Frankfurter Allgemeine Zeitung bercerita tentang mayat-mayat di pinggir jalan atau dibuang ke dalam galian-galian dan tentang desa-desa yang separuh dibakar di mana para petani tidak berani meninggalkan kerangka-kerangka rumah mereka yang sudah hangus.
Di daerah-daerah lain, para terdakwa dipaksa untuk membunuh teman-teman mereka untuk membuktikan kesetiaan mereka. Di kota-kota besar pemburuan-pemburuan rasialis “anti-Tionghoa” terjadi. Pekerja-pekerja dan pegawai-pegawai pemerintah yang mengadakan aksi mogok sebagai protes atas kejadian-kejadian kontra-revolusioner ini dipecat.
Basis PKI Blitar
Blitar Selatan adalah basis PKI. Cap itu masih melekat hingga sekarang meski PKI sudah dinyatakan sebagai partai terlarang. Ketika negara mengejar anggota serta mereka yang dianggap sebagai pendukung PKI pada tahun 1965, ribuan nyawa melayang. Dieksekusi tanpa peradilan. Sebagian dari mereka dikuburkan secara massal di sejumlah desa di Blitar Selatan, Jawa Timur. Peristiwa 1965 memang masih menyisakan beribu tanda tanya. Membongkar makam massal punya nilai penting, tidak hanya bagi mereka yang dikuburkan di dalamnya, tapi penting bagi kebenaran itu sendiri. Namun rupanya ada yang tak setuju makam dibongkar.
Markus Talam dan Sanjoyo, bekas narapidana di Pulau Buru, mengatakan, di makam Bakung inilah pertama kali terjadi pembantaian massal terhadap orang-orang yang dianggap terlibat PKI. 
“Di sini ini saja ada 48, disitu ada 7. Mati itu bukan semuanya ditembak. Ya ada yang dipukul, digorok, disembelih,” ujar Markus Talam.
Sementara Sanjoyo berkata: “Sekitar 25 atau 30 orang itu dalam satu lobang.”
Ini kuburan massal PKI, begitu kata warga Blitar. Kuburan ini adalah buntut dari Operasi Trisula yang digelar tahun 1966 di Blitar Selatan, ketika itu warga yang dicap PKI dikejar dan dibunuh. Lebih jauh Markus Talam berkata: 
“Itu gencar sekali, istilahnya operasi Tumpes Kelor!!!! Jumpa kelihatannya itu orang mencurigakan langsung dibawa, termasuk saya. Tinggal yang di rumah itu cuma perempuan-perempuan. Ada orang yang bertani dibawa, direntengi sampe 10, 7, 4 itu dibunuh. Pembunuhannya ya di tempat-tempat itu aja. Yang dibunuh di sini juga ada, yang dibawa di gunung di luar desa juga ada.”
Markus Talam lolos dari pembunuhan karena kabur saat diangkut tentara dari tempat persembunyiannya di Trenggalek, menuju Markas Kodim di Blitar. Tapi selama ia melarikan diri, giliran anggota keluarganya yang jadi sasaran. Ditangkap, lantas dieksekusi.
“Saya ini nggak kurang dari 30 dik, korban. Keponakan, terus saudara-saudara sepupu, banyak! Orang-orang yang nggak tahu apa-apa itu, petani. Ya mereka itu ditembak di sini saja, yang deket sungai ya dibuang ke sungai, kalo nggak ya ditaruh begitu saja, nggak dikubur.
Kuburan massal bagi mereka yang dicap PKI juga bisa ditemukan di Kecamatan Nglegok, Blitar Utara. Jaraknya sekitar 50 kilometer dari desa pertama. Sanjoyo adalah bekas Kepala Desa Kedawung. Di desa ini, kata dia, ada dua kuburan massal PKI. Sementara di desa lain seperti Selorejo, Penataran, Bangsri dan Karanganyar terdapat tiga hingga lima makam. Total di Kecamatan Nglegok saja, ada puluhan kuburan massal. Sanjoyo salah seorang saksi dalam peristiwa pembantaian massal bagi mereka yang dicap PKI. Ketika Operasi Trisula digelar TNI, hampir setiap malam di Desa Tumpakoyot, Kecamatan Bakung, terdengar bunyi rentetan senjata. Setiap pagi pun ia harus mencari potongan bambu sepanjang dua meter, untuk mendorong puluhan mayat yang bergelimpangan di sungai belakang rumahnya.
“Kalau di Blitar Selatan malah lebih ngeri lagi karena cuma diceburkan di kali aja. Pada waktu peristiwa Gestapu itu airnya nggak putih lagi atau cokelat lagi tapi merah! Itu karena banyak jenazah-jenazah yang dibuang begitu saja.”
Bagi warga Blitar, makam massal yang paling terkenal, di antara ratusan yang ada, adalah Goa Tikus di Desa Lorejo. Letaknya di pegunungan kapur Blitar Selatan, yang dikenal sebagai lokasi pembuangan mayat. Goa Tikus adalah lubang selebar 2,5 meter dengan kedalaman 20 meter. Tampak puluhan tengkorak manusia menyembul di antara air berlumpur. Tulang belulang juga terserak bercampur serpihan kain.
Begitu peluit dibunyikan, Santiko dan Jumani menarik tubuh saya ke atas. 
“Saya baru saja melihat sebuah pemandangan yang sangat mengerikan, didalam gua tikus tadi ada tumpukan tulang manusia yang sudah tak utuh lagi setinggi 2 meter. Dan tulang tulang itu bercampur dengan lumpur serpihan kain, sandal karet dan batu. Dari banyaknya tulang yang ada, sepertinya benar yang dikatakan warga, bahwa jenazah yang dibuang di gua Tikus mencapai ratusan orang.”
Bu Put, dikenal warga Desa Pakisrejo, Kecamatan Srengat, Blitar, sebagai tokoh Gerwani Jawa Timur. Gerwani adalah organisasi perempuan di bawah Partai Komunis Indonesia, PKI. Posisinya cukup tinggi, ia sempat menjabat sebagai anggota DPRD Blitar. Tahun 1965, ia lari ke Blitar Selatan. 
“Ya lari, he….he…. kenapa Bu ?. Ya takut to saya, wong orang orang pada disembelih, rumahnya dibakar harta bendanya diambilin.” 
Put Mainah sudah kenyang merasakan penjara 10 tahun karena keputusannya bergabung dengan PKI. Ia tak pernah menyesal menjadi anggota PKI. Satu-satunya penyesalan adalah karena negara tak menghargai keyakinan dan jalan hidup orang lain.
Upaya pembongkaran kuburan massal PKI di Blitar bukannya tak pernah dilakukan. Pemkab Blitar beberapa kali melontarkan gagasan ini, tapi selalu ditentang. Penentang utama datang dari kelompok tentara. Sukirno seorang pensiunan Komandan Kodim di Blitar berpendapat, pembongkaran kuburan massal PKI di Blitar lebih banyak sisi negatifnya. 
“Kalau itu dilaksanakan menurut saya justru akan menimbulkan efek yang negatif. Baik korban maupun yang dikorbankan pada tahun 65-66 itu, bahkan mungkin akan mereview pada tahun 48.”
Pemerintah Kabupaten Blitar akhirnya meminta meminta Komnas HAM meneliti keberadaan kuburan massal tersebut. Kuburan dirasa perlu dibongkar, untuk membuktikan adanya pelanggaran HAM berat saat berlangsung Operasi Trisula.
 “Peristiwa tahun 65 itu merupakan tidak hanya pelanggaran tidak hanya HAM, tapi lebih dalam pada perikemanusiaan itu. Tidak bisa menghilangkan nyawa orang itu seenaknya sendiri tanpa proses yang jelas. Oleh karena itu saya sangat mendukung upaya upaya itu dan mudah mudahan setelah bukti bukti kongkrit, kebenaran bisa ditegakkan.”
Paling sedikit 250,000 orang pekerja dan petani dipenjarakan di kamp-kamp konsentrasi. Diperkirakan sekitar 110,000 orang masih dipenjarakan sebagai tahanan politik pada akhir 1969. Eksekusi-eksekusi masih dilakukan sampai sekarang, termasuk belasan orang sejak tahun 1980-an. Empat tapol, Johannes Surono Hadiwiyino, Safar Suryanto, Simon Petrus Sulaeman dan Nobertus Rohayan, dihukum mati hampir 25 tahun sejak kudeta itu.
Sumber: Perambah 

Senin, 29 Agustus 2011

#4 Wonogiri (Bag 4): Pembuangan Akhir Mayat-mayat Merah

29 Agustus 2011 | Purwantoro | Km 198 | Pkl 12.02


Jika terminal Purwantoro adalah persinggahan “akhir” banyak bus besar dari pelbagai jurusan seperti Solo, Semarang, Bandung, Jakarta, bahkan beberapa kota di Sumatera, maka rumah Mas Yahya Perwita di belakang terminal bus Purwantoro, Wonogiri, itu menjadi persinggahan terlama dalam perjalanan mudik saya yang bertajuk #syawalitumerah.
Dua jam saya beristirahat di belakang gereja jawa itu. Ya, saya datang sekira pukul 10 dan berangkat lagi pukul 12 setelah disuguhi kopi pahit ukuran gelas jumbo dan makan siang dengan opor ayam, tahu, dan daging sapi.
Menurut pendeta yang ditahbiskan pada 1992 ini, memasak makanan lebaran itu sebagai cara menyambut lebaran yang belum jelas jatuh pada hari apa, Selasa atau Rabu, 30 atau 31. Di atas meja ruang tamu di rumah yang masih dikelilingi pohon dan tegalan, terhampar sekira 5 toples berisi kue lebaran dan juga permen. Itu juga untuk menyambut tamu-tamu lebaran yang dirayakan setiap tahun oleh umat Islam itu.
Di rumah yang riuh oleh dua ekor anjing dewasa dan lima bayi anjing itu dikepungi oleh buku-buku. Rak-rak ada di luar (pintu belakang gereja), di dapur, di ruang tamu, bahkan di dapur. Kata Bu Asrie Lesningtyas, buku dan majalah itu adalah koleksi perpustakaan keliling KiRaNa yang didirikan sebulan setelah kopdar Apresiasi Sastra dilangsungkan di rumah ini, Mei 2007.
Mas Yahya adalah lulusan teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, sementara Mbak Asrie lulusan ekonomi IKIP Semarang.
Di luar semua gambaran dan keramahan Mas Yahya dan Mbak Asrie menyambut “tamu mudik” seperti saya ini, saya beruntung mendapatkan jamuan puisi. Ya, Pak Yahya menghadiahkan sekuplet puisi merah yang dibacakannya sendiri dari laptopnya. Saya merekamnya dengan recorder dan kamera handycam.
Puisi itu berkisah tentang sebuah kawasan pembuangan akhir mayat-mayat kaum kiri hasil bersih-bersih serdadu dengan dukungan golongan masyarakat yang berseberangan pergerakan dengan PKI, seperti NU, PNI, Masyumi dan semua organ jejaring bawahnya. Kisah tentang daerah bernama Luweng Mloko di tepi Desa Johonut, Kecamatan Paranggupito.
Inilah puisi yang diberi judul “Luweng Mloko” dan ditujukan kepada penyair Lekra JJ Kusni a.k.a Kusni Sulang. Saya kutipkan bait awal puisi yang dibikin pada 15 Agustus 2003 ini.
Dengan kehilangan kata-kata di hadapan Luweng Mloko
Tanpa menaburkan bunga peziarahan ini kurasa tetap sah saja
38 tahun berlalu sudah
Dan tetap tergambar jelas
Rentetan tembak dan teriak mengiring jatuh tawanan-tawanan
Terbanting di dinding-dinding bebatuan
Terkapar di dasar kegelapan
Masih hidup, luka-luka, atau langsung mati bukan lagi urusan
Setelah puisi panjang itu dibacakan, Mas Yahya berkisah bagaimana perjalanannya bersama tiga rekannya yang lain pada Agustus 2003 itu ke Luweng Mloko. Mereka berangkat pagi setelah sarapan di warung Pak Tarsa yang belum buka dan beberapa saat mampir menelpon di Slogohimo.
Perjalanan mereka sempat tertunda untuk menolong tiga orang pengendara dua motor bebek yang tergelincir jalan licin dan bertabrakan di tikungan jembatan sebelah timur Pom Bensin Jatisrono, mencegat mobil, mengantar ke Puskesmas Slogohimo yang lebih dekat jaraknya, diserahkan petugas jaga di Puskesmas yang ternyata sedang mempersiapkan pesta pelepasan dan penyambutan dokter baru, motor diantarkan ke bengkel.
Kengerian melihat kecelakaan motor sebelumnya mengarahkan rombongan ini untuk memilih rute jalan yang lebih sepi. Maka diputuskan berbelok di Jatisrono, lewat Jatiroto, gunung Tunggangan, turun di Tirtomoyo, belok di Kayangan, Batuwarno, sampai di Pastori Baturetno pk. 09.10 WIB. Termasuk cepat melewati jalur ini. Pdt. Sunu Prakosa ternyata sudah menunggu rombongan kecil ini.
Sesuai informasi yang mereka terima sebelumnya, mereka kemudian menuju rumah Pak Misdi di desa Selur, Ngargoharjo. Menunggu di rumah adalah Bu Suratmi, Pak Misdi yang sedang mempersiapkan tegalnya untuk persiapan tanam bila nanti turun hujan. Pak yahya ikut Bu Misdi menyusul ke tegalan, baru beberapa rumah berjalan ternyata sudah bertemu. Sesudah berkenalan, pahamlah Pak Misdi maksud tujuan kedatangan mereka.
“Yang saya ceritakan ini apa adanya ya, tidak ditambah-tambah atau dikurangi. Kalau tidak tahu saya juga bilang tidak tahu. Waktu itu saya masih kelas 6 SD (lahir tahun 1950), jadi masih kecil. Waktu kejadian orang-orang yang sudah besar berjaga-jaga di batas kampung, di luar rumah. Anak-anak kecil dilarang keluar rumah. Meski demikian dari cerita-cerita orang kami tahu semuanya karena beritanya memang sudah tersebar sehari sebelum kejadian. Malam itu ada kiriman orang PKI ke Luweng Mloko, jumlahnya berapa saya tidak tahu. Nanti tanya saja penghuni yang dekat luweng itu. Penduduk setempat tidak tahu menahu, pokoknya ada perintah dari atas iya sudah dijalankan tidak ada yang bertanya-tanya. Sesudah kejadian itu, sampai tiga bulan sesudahnya angin membawa bau bangkai ke desa-desa sekitarnya, bau bangkai menyebar ke arah mana angin membawanya. Lebih baik kita meninjau langsung tempat kejadiannya saja.”
Pak Misdi yang ditemui Mas Yahya dan teman-temannya itu asli kelahiran Selur. Selulus SD Pak Misdi melanjutkan SMP Kanisius di belakang Balaikota Solo. Hanya satu tahun di sana, dijemput pulang karena ayahnya meninggal dunia, dan tidak sekolah lagi. SMP Kanisius bersebelahan dengan bangunan militer yang dijadikan kamp tahanan orang-orang PKI di Solo.
“Saya dan teman-teman mengintip dengan memanjat dari celah pagar, mereka yang ditahan kurus-kurus, biasanya hanya duduk-duduk saja. Kalau mereka (tahanan) melambaikan tangan mengusir kami, iya kami lari, takut.”
Mata pencarian sehari-hari adalah bertani. Pak Midi tidak menanam ketela pohon, lebih memilih menanam kacang tanah, jagung, dan padi (tadah hujan) yang bisa dijual dengan harga lebih tinggi dari ketela. Bila ada pesanan, Pak Midi menukang kayu, mengerjakan perabot rumah atau bakal rumah (kusen, pintu dll.). Putri satu-satunya sudah lulus D-3 Akademi Uang dan Bank di Solo, dan sekarang melanjutkan sarjana di Universitas Slamet Riyadi Solo.
Kondisi wilayah khas pegunungan karst Gunung Kidul. Batu-batu karang dasar laut purba jutaan tahun lalu menyembul ke daratan, menjadi bukit-bukit kapur tandus. Sepanjang perjalanan ke lokasi ada pipa-pipa dan tandon air minum. Banyak penduduk antre dengan ember dan jerigen air. Sama sekali tidak ada sumur. Telaga-telaga sudah mengering, beberapa kali berpapasan dengan truk tanki air yang membawanya ke rumah penduduk yang memesan, satu tanki air dihargai Rp 40-60 ribu, tergantung jaraknya. Biasanya ada tandon air tadah hujan di rumah penduduk, katanya cukup untuk persediaan rumah 2-3 bulan sesudah hujan terakhir, setelah itu Pak Midi harus antre ke bak-bak penampungan air untuk umum, atau beli.
Luweng Mloko ada di wilayah Desa Bringin, tetapi letaknya tepat di perbatasan desa Johunut. Ada satu bukit kecil di kiri (timur) jalan aspal ke jurusan Paranggupito, tepat di pertigaan jalan tanah ke barat, di kaki bukit selatan ada tanah lapang, dan SD Johunut II, selanjutnya rumah-rumah penduduk Dusun Johunut, Desa Johunut, Kecamatan Paranggupito.
Di hari pertemuan itu Pak Misdi datang bersama Pak Paimo, Pak Lik-nya. Mereka duduk-duduk di teras sekolah yang lenggang siang hari sesudah murid-murid dan guru pulang. Sementara berkenalan dengan Pak Paimo, seseorang bercaping menggembalakan 6 ekor domba yang beberapa lama mengawasi mereka di lapangan datang mendekat.
Setelah tahu maksud kedatangan Pak Yahya dan teman-temannya untuk mencari tahu kisah-kisah peristiwa 1965 berkaitan dengan Luweng Mloko, langsung saja penggembala itu lancar bercerita, sambil berpesan, tidak usah dicatat namanya.
“Waktu itu tahun 1965 PKI mengadakan kudeta, membunuh jendral-jendral di Jakarta, maka di daerah-daerah pengikut-pengikutnya ditahan di penjara. Tahun 1968, bulan Besar, malam Kamis Legi ada satu mobil jeep dan tiga truk RPKAD dari Kandang Menjangan Kartosuro, membawa tahanan kemari. Mereka dibunuh di Luweng Mloko. Benar, tentaranya berbaret merah. Tidak tahu jumlah yang dibunuh ada berapa.”
Penggembala itu, yang kemudian dari Pak Paimo diberikan namanya adalah Kepala SD Johunut, terus pamit setelah Pak Yahya mengkonfirmasi keterangannya bahwa bagaimana bisa tahu tentara itu dari Kandang Menjangan Kartosuro. Apa betul harinya Kamis Legi, apa betul sungguh-sungguh menyaksikan peristiwa itu atau hanya mendengar dari orang lain. Ternyata benar perasaan Mas Yahya. Orang itu hanya menjawab, “Katanya, katanya”. Sambil terus berpesan, jangan menyebut namanya, menyangka bahwa rombongan Mas Yahya adalah wartawan.
Mas Yahya bisa memastikan bahwa orang itu tidak mengatakan yang dia ketahui benar karena RPKAD yang berubah nama jadi Kopasandha lalu Kopassus baru bermarkas di Kandang Menjangan Kartosura sekitar tahun 1970-an.
Pak Paimo jauh lebih apa adanya. Tuturnya:
“Saya hanya cerita apa yang saya tahu. Malam itu adalah malam Jumat Pon, saya catat betul karena keesokan harinya saya mendirikan kandang sapi. Anak saya Satinem waktu itu umurnya masih belum selapan, jadi tahunnya 1965, bukan 1968, ini apa adanya lho. Kamis Pahing sebelumnya ada perintah dari Lurah Dusun untuk membuat jalan ke Luweng Mloko, sedusun ikut serta.
“Tapi kami tak tahu jelas untuk apa pekerjaan itu. Ketika malam, pk. 12.00 tengah malam datang 3 truk tentara, bukan polisi, mereka berhenti di pertigaan di tepi bukit tempat Luweng Mloko itu. Saya tahu betul karena saya berjaga di bukit sebelah selatan itu, mencegat orang-orang yang berangkat ke pasar Giritontro, hari pasarannya itu Pon, waktu itu belum ada kendaraan, maka orang ke pasar jalan kaki saja memikul jualannya. Saya mencegat mereka karena disuruh tentara, supaya orang-orang tidak mendekat ke Luweng Mloko.
“Waktu itu bukit di selatan gundul, tidak ada pohon-pohon jatinya seperti sekarang, maka apa yang terjadi di sini terlihat jelas. Lampu-lampu menyala bersinar di sekitar Luweng Mloko ini. Sunyi sekali, terus ada rentetan tembakan serta teriakan. Orang-orang tidak tahu apa yang terjadi.
“Dua tiga hari setelah kejadian itu, bau bangkai menyebar dari Luweng itu. Oleh karena itu penduduk sekitar dikerahkan untuk menutup luweng itu dengan semak-semak dan daun-daunan. Ada mayat pria bersarung, tangannya diikat di belakang, tersangkut di batu. Saya ikut mendorong mayatnya masuk ke Luweng memakai bambu. Katanya ada juga perempuan yang jadi korban di luweng itu. Sampai tiga bulan angin membawa bau bangkai ke desa-desa sekitarnya.”
Ketika ditanya siapa yang memilih tempat itu untuk membunuh orang-orang PKI, katanya ada seorang tokoh PNI Wonogiri asalnya dari daerah itu, kemudian ia jadi anggota DPRD mewakili PNI pada pemilu 1971).
Semula yang akan dipakai adalah luweng di tengah perumahan Johunut, tetapi penduduk sekitar tidak menyetujui, akhirnya luweng Mloko yang dipilih.
Sudah ada yang pernah menuruni luweng itu, pernah ada tukang becak yang turun ke sana, karena katanya ada harta karun, tetapi tidak ada. Lalu terakhir rombongan mahasiswa KKN 2001 dari Unisri pernah menuruni luweng itu dan luweng-luweng di sekitarnya, ada banyak tulang-tulang manusia ditemukan di Luweng Mloko. Tetapi penduduk tidak pernah mengurus hal itu, jadi tidak tahu menahu.
Demikian kisah Luweng Mloko. Salah satu pembuangan akhir mayat-mayat kiri yang dibunuh secara brutal dan dianggap sewajarnya oleh sebuah rezim dan masyarakat dalam kurun semasa. Luweng Mloko hanyalah salah satu pekuburan massal dari sebuah periode mass murder yang bersembunyi di balik dalih pemberontakan PKI yang tak pernah bisa dibuktikan secara meyakinkan itu.
Dari Purwantoro, kini perjalanan mudik ini akan berlanjut ke Ponorogo. Mengikuti sepotong rute long march yang pernah dilalui Amir Sjarifuddin seusai peristiwa Madiun Affair 48 meletus.
Ya, ya, Purwantoro memang pernah dilalui ribuan pengikut Amir yang terdiri dari laskar merah, perempuan, dan anak-anak keluarga Komunis yang setia. Dan di Purwantoro pula, keluarga besar yang dikejar-kejar tentara KNIL pimpinan persekutuan Nasution-Hatta ini kehilangan satu brigade Abdoel Moetolib yang terpisah dari pasukan induk yang sebagian besar adalah brigade Pesindo. 
(Bersambung ke #5 Ponorogo)
Sumber: Muhidin M Dahlan 

#4 Wonogiri (Bag 3): Kuburan Merah

29 Agustus 2011 | Purwantoro | Km 198 | Pkl 10.10


Jawa menjadi kuburan bagi PKI dan simpatisannya.Dalam sepotong dialog film propaganda yang terus diputar rezim militer-dagang Suharto, Aidit (Syubah Asa) tampak mengepalkan tangan kiri penuh yakin bahwa pertarungan sejati dan habis-habisan di Jawa, lantaran Jawa adalah kunci. Dan kita tahu kemudian Jawa juga menjadi kuburan bagi keyakinan itu. Yahya Perwita dari belakang terminal bus Purwantoro, Wonogiri, menyimpan cerita dua kuburan yang tertutur oleh Mbah Madi dan Mbah Padmo. Kisah itu tergali dalam sebuah ikhtiar melawan lupa antara tahun 2002-2004.
Cerita Mbah Madi
Suatu malam, semua yang apel disuruh membuat pagar betis di kuburan Kendal (sekira 3 km arah selatan Kec. Girimarto, sebelah barat jalan). Suasana sangat mencekam, dua lubang besar sudah digali di pojok baratlaut kuburan. Ada ratusan orang malam itu.
Akhirnya yang ditunggu datang. Pada pukul 10 malam itu satu truk tentara tiba membawa 6 tawanan. Tangan mereka terikat di belakang. Aku lupa mata mereka ditutup atau tidak, tetapi aku ingat dengan jelas, aku menuntun salah seorang di antara mereka, jalan dari truk sampai kuburan. Katanya 6 orang yang lain sudah ditinggal di Ngledok, belokan irung petruk sebelum Sidoharjo. Jadi hanya 6 orang ini yang dibawa ke kuburan Kendal.
Orang-orang berjejal di sekitar lubang. Jadi aku terhalang melihat langsung apa yang terjadi. Tapi mereka didorong masuk ke lubang, dalamnya lebih dari 2 meter, masing-masing lubang tiga orang. Masih terlalu besar karena sebenarnya tiap lubang disiapkan untuk 6 orang. Selanjutnya orang-orang itu diberi kesempatan untuk berdoa, dan ditembak dengan senapan LE. Satu polisi dari Sidoharjo ngewel, amat sangat gemetar sehingga tak jadi menembak, malah disuruh pergi. Waktu itu semua diam, sama sekali tidak ada sorak.
Di kuburan itu, di lubang-lubang penembakan itu, kedua orangtua dan saudara-saudaraku juga dikubur. Kami memang tinggal tak jauh dari kuburan itu. Sampai sekarang saya selalu memotong dahan kamboja di kuburan itu. Dulu aku yang menanamnya, bibitnya saya bawa dari Wonogiri.
Cerita Mbah Padmo
Waktu itu awal tahun 1966, hujan masih sering datang. Sebagai anggota wanra (hansip) dari unsur agama (gereja), maka aku dan dua teman yang lain ikut berjaga di Kecamatan. Apalagi sebelumnya sudah ada perintah, bahwa malam ini akan ada kiriman hukuman dari Wonogiri ke Bulukerto. Sejak sore sudah berkumpul anggota wanra sekecamatan.
Pukul 12 malam yang ditunggu akhirnya datang. Satu truk dari Wonogiri membawa orang tahanan PKI. Truk berhenti di selatan jembatan Wates, lalu dari sana 14 orang tahanan yang tangannya dikrincung (diikat jempolnya dengan kawat atau tali senar) di depan dan mata tertutup kain hitam dituntun lewat jalan setapak ke kuburan Wates. Lubang makam sudah dibuat oleh warga Kebayanan Dagangan.
Rupanya orang-orang itu baru sadar bahwa mereka akan dibunuh. Oleh karena itu ada yang menyuruh supaya cincin dan jam tangannya dilepas, supaya tidak ikut dikubur. Salah satu di antaranya adalah Kepala Desa di Eromoko. Ia termasuk yang ditembak dua kali, karena tembakan pertama masih saja tegak. Kalau yang lain ditembak satu kali sudah roboh. Satu per satu disuruh lompat ke lubang yang sudah digali dan jongkok, lalu ditembak dari belakang.
Di sebelah Kepala Desa Eromoko itu ada anak kecil, katanya anggota IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia). Ia termasuk korban yang ditembak juga. Nyala api puluhan obor dan lampu petromaks menerangi kuburan malam itu. Hanya ada sekitar 80-an anggota wanra dan tentara serta polisi. Sama sekali tidak ada penduduk. Kemudian tentara menembak satu per satu, mulai dari sebelah timur ke barat. Senapan ditembakkan dari atas liang kuburan, tepat ke belakang kepala orang hukuman itu. Otak dan tulang tempurung kepala ada yang berhamburan ke sekitarnya.
Aku lihat sendiri, kalau ada seorang wanra lari sembunyi karena takut, padahal bawa parang sepanjang lengan kalau pas tugas jaga.
Sesudah selesai, wanra yang ada menimbuni lubang kuburan itu. Semua ditata dibujurkan utara selatan. Sesudah selesai, semua wanra yang bertugas kembali ke kecamatan, di depan pasar disuruh makan soto, lalu pulang.
Kutipan kisah-kisah mereka yang dituduh merah, disangkakan PKI, yang dihimpun dari belakang terminal bus Purwantoro, akan dilanjutkan. Kini ke “tempat pembuangan akhir/TPA” Luweng Mloko. Tujuannya tak lain agar dari Purwantoro, Wonogiri, ini kisah orang-orang dilumpuhkan suara itu terabadikan. Walau masih samar dengan ketakutan yang masih mengiang. (Bersambung)
* Serial catatan mudik #syawalitumerah (Purwantoro, Wonogiri)
Sumber: Muhidin M Dahlan 

#4 Wonogiri (Bag 2): Kisah-Kisah Perburuan 29 Agustus 2011 | Purwa

29 Agustus 2011 | Purwantoro | Km 198 | Pkl 10.10


Kisah-kisah mereka yang dituduh merah, disangkakan PKI, dihimpun Yahya Perwita dari belakang terminal bus antara tahun 2002-2004. Dari Purwantoro, Wonogiri, kisah orang-orang dilumpuhkan suara itu terabadikan. Walau masih samar dengan ketakutan yang masih mengiang. Inilah cerita Mbah Darso, Mbah Kimin, Mbah Sarno, dan Mbah Tiyem.
Cerita Mbah Darso
“Langsung bawa saja ke penjara!”
Dan akhirnya tibalah kami di penjara. Tanpa ba bi bu, kecuali aku dan tiga orang yang lain semua dipukuli, disiksa, dan ditendang, dimasukkan ke dalam sel.
Sel ini normal untuk 7 orang penghuni, akan tetapi sel yang ada sudah penuh sesak, minimal 35 orang. Bahkan sel ukuran besar di sisi barat diisi sampai 80 orang. Semua berdempet, yang kuat berdiri, yang duduk gantian, kepalanya sudah dipepet pantat orang.
Jatah makan hanya satu sendok tiap kali, baik jagung, bulgur atau kadang nasi. Memakai kaleng yang disorongkan di bawah terali. Tetapi lebih dari itu yang paling ditakutkan adalah “bon malam hari”. Selama satu setengah bulan di penjara Wonogiri itu, dari 37 orang sekamar tiap malam ada yang diambil satu dua, sampai akhirnya hanya tinggal enam orang.
Suatu malam ada yang memanggil namaku, pimpinan SD Gondang Purwantoro. Teman-temanku menyuruhku diam saja, karena ternyata salah memanggilnya. Panggilan itu diulang sampai tiga kali, dan karena dianggap tidak ada lalu yang memanggil pergi. Menurut keponakanku yang ajudan inspektur polisi, mereka yang dibon keluar malam hari itu dibunuh, entah di mana kuburnya.
Sekali aku dibawa ke Kejaksaan, di sana aku ditanya, “Benar Saudara ketua Cabang PGRI Purwantoro?” Tentu saja kujawab iya, karena sebagai guru SD aku memang ikut organisasi PGRI ini. “Apakah mengadakan rapat gelap sebanyak 120 kali?”
Apa mungkin mengadakan rapat gelap sampai sebanyak itu? Aku membantah tuduhan itu.
“Apa Saudara pimpinan organisasi?”
“Ya, tetapi ini karena pilihan dan mewakili anggota, bukan kehendak dan ambisi saya pribadi.”
“Pernah ceramah kepada masyarakat?”
“Tentu, tetapi setiap kali ceramah, pasti juga disaksikan wakil dari organisasi tingkat kawedanan, juga tiga pimpinan daerah kecamatan: Camat, komandan polisi dan tentara. Jadi sama sekali tidak ada hal yang disembunyikan, apalagi gerakan gelap.”
Di akhir pemeriksaan, Jaksa yang tahu aku sudah punya anak tiga mengatakan semoga nanti dapat bertemu keluarga dengan selamat. Ditunjukkan pula surat laporan palsu yang dibuat oleh orang yang kukenal, ia guru pula, lebih muda dariku. Sekarang ia sudah mati. Waktu aku kembali dari P. Buru ia datang minta ampun padaku.
Cerita Mbah Kimin
Sebelum goro-goro ’65, tak ada kejadian khusus yang terjadi. Hanya memperjuangkan ideologi antar partai yang ada. Pemilu 1955 PKI menang di desa Nguneng, lebih dari 50%. Ada dilakukan aksi agraria, agar tanah OO Desa yang digarap Perhutani tanpa ada keputusan desa itu bisa diserahkan dan digarap oleh rakyat. Tapi keburu meletus peristiwa 30 September sehingga tinggal sebagai program saja.
Pada 11 November 1965 itu aku dijemput wanra dari PNI: Sarsan dan Marsidi. Bersama Wita anak mantu nomor 2, Yono (BTI), dan Mikun (Badran). Waktu itu PNI Bulukerto memang sewenang-wenang, mungkin merasa sudah jadi pemenang. Tidak ada dari golongan agama yang ikut menangkap. Masyumi kecil sekali jumlahnya. Tak ada tentara sampai Purwantoro. Tahun 1965 itu tiga ijasah yang kupunya dirampas, juga buku-buku. Padi yang disimpan di rumah bahkan yang panen di sawah juga dirampas. Meja almari dibawa ke kecamatan.
Tahun 1968, yang menangkap tentara dari Batalyon 426. Di jalan karena hujan aku dicarikan payung, ditawari rokok, dan dalam perjalanan dengan truk tentara yang jaga berkata, “Maaf Pak, ini hanya menjalankan tugas, berdasarkan surat dari Kepala Desa”. Mungkin karena melihat postur tubuhku yang kecil dan sudah tua, maka ada tentara yang nyelutuk: “Kaya ngono digawa menyang Solo arep ngopo?”
Ideologi PKI sama sekali tidak anti agama. Banyak anggota PKI yang haji. Saya sendiri sekalipun tidak lewat agama tetapi juga berbakti secara langsung kepada Tuhan. Malah dalam organisasi semua agama itu harus bersatu, tidak membeda-bedakan, karena yang baik itu hanya Tuhan.
Aku ikut kursus kader partai, materi utamanya adalah MDH dan filsafat Marxis, materialisme, dialektika dan historis. Bila tidak mambu MDH rasanya ketagihan, maka diadakan self studi terus, sambil ngadep kamus. Untuk materi MDH sampai sekarang masih kesulitan menangkap bagian penjelasan tentang hal ekonomi negara. Sampai sekarang masih tetap mengikuti berita. Paling suka BBC London, biarpun berita jelek tentang negara mereka sendiri tetap disiarkan.
Saat peristiwa 30 September 1965 itu, sama sekali tidak ada berita yang sampai kemari. Pekerjaan tiap hari iya mencangkul dan makan. Lain tidak. Tahu-tahu ditangkap. Jadi berita tentang dewan jendral, kudeta, dan macam-macam itu baru sesudah di penjara. Kalau bisa baca koran itu pun dengan sembunyi-sembunyi. Dan setelah itu sampai pemerintah reformasi (sesudah Mei 1998) adanya hanya intimidasi terus menerus dari Orba. Beda usul dengan yang berkuasa langsung saja dicap PKI!
Sekarang PKI sudah tidak ada. Tapi ilmunya saya yakin masih dipelajari.
Cerita Mbah Sarno dan Mbah Tiyem
Tahun 1964 PGRI Sudihadinoto vs Subandri PGRI Non Fak Sentral yang afiliasi ke PKI. Tahun itu ibu sakit di rawat di Solo, pulang dari sana mampir di kantor P&K ketemu PS Saryoko.
“PGRI pecah, melu sapa?”
Terus dicatatkan ikut PGRI Non Fak Sentral. Ternyata itu yang kemudian membawa ke penjara selama 5 tahun 28 hari.
Desember 1965 ditangkap. Disuruh ke Kecamatan oleh pemuda Masyumi, waktu itu sudah pukul 14.00. Di sana sudah ada Bu Ronggo Gesing, Sugiyarti (Pala Lemah Bang), Pokadi tani, Misiran tani (Lekra) dan ada 25 orang lain. Setelah didaftar, lalu dinaikkan truk. Sampai di Wonogiri di kantor CPM diabsen. Waktu itu hujan deras, disuruh copot baju dan celana, jungkir balik, laku dodok, mbrangkang, lalu dimasukkan penjara Wonogiri malam hari. Apel gelap-gelap.
Mulai Maret 1966 boleh ada kiriman makanan dari rumah, kamar ukuran 3×4 meter diisi 35 orang, tidur gantian, minum satu cangkir kecil untuk 5 orang dua kali sehari, makan kabluk dan gereh, gronthol 40 biji. Kiriman dari rumah biasanya sega aking.
Kami ingat, pernah suatu kali Polisi Perintis Sugeng menyuruh dibawa ke Bengawan Solo untuk mandi dengan kawalan Polisi Warno, “Aja mlayu!” Lha mlaku saja tidak jejeg.
Guru Didik yang ngusut perkara. Lalu ada usul supaya kerja di luar, buat bata di jembatan Suma Ulun yang waktu itu hancur diterjang banjir. Terus kerja di Kismantoro, mindah pasar dari Puskesmas ke lokasi Kelurahan sekarang.
Waktu bebas sempat ngampir ke Sriyono, teman tahanan dari Klitik. Eh malah dituduh buat gerakan PKI bawah tanah. Masuk lagi penjara 1 tahun. Tapi kemudian diperkerjakan tanpa upah. Ya namanya saja tahanan negara. Kami dikerjapaksakan buat jalan dari Kismantoro sampai Nawangan, jalan tanah, dengan sistem padat karya bersama masyarakat, sampai jadi jalan batu beraspal. Dari Kismantoro sampai Trolelo 500 orang tahanan kerja perhari. Bukan hanya tahanan dari Wonogiri, tetapi juga banyak remaja pemuda dari Klaten dan Solo yang ikut. Ketika tahun 1970 banyak remaja yang diambil dibawa ke Pulau Buru.
Yang ngusut itu mahasiswa dari Yogya. Mereka itu kejem-kejem. Mereka bawa dakwaan, kalau jawaban tidak sama dengan catatan yang dibawa langsung main pukul, atau kaki dijepit kaki meja, atau jari-jari tangan dipukul satu satu. (BERSAMBUNG)
* Serial catatan mudik #syawalitumerah (Purwantoro, Wonogiri)
Sumber: Muhidin M Dahlan