HUTAN MONGGOT

“Menurut taksiran, korban yang dieksekusi dan dibuang di lokasi ini tak kurang dari 2.000 orang”, kata saksi sejarah sambil menunjukkan lokasinya [Foto: Humas YPKP]

SIMPOSIUM NASIONAL

Simposium Nasional Bedah Tragedi 1965 Pendekatan Kesejarahan yang pertama digelar Negara memicu kepanikan kelompok yang berkaitan dengan kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66; lalu menggelar simposium tandingan

ARSIP RAHASIA

Sejumlah dokumen diplomatik Amerika Serikat periode 1964-1968 (BBC/TITO SIANIPAR)

MASS GRAVE

Penggalian kuburan massal korban pembantaian militer pada kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66 di Bali. Keberadaan kuburan massal ini membuktikan adanya kejahatan kemanusiaan di masa lalu..

TRUTH FOUNDATION: Ketua YPKP 65 Bedjo Untung diundang ke Korea Selatan untuk menerima penghargaan Human Right Award of The Truth Foundation (26/6/2017) bertepatan dengan Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Korban Kekerasan [Foto: Humas YPKP'65]

Tampilkan postingan dengan label Kanigoro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kanigoro. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Januari 2018

13 Januari 1965 | Peristiwa Kanigoro: Teror PKI kepada Aktivis Islam

Oleh: Petrik Matanasi - 13 Januari 2018


Ilustrasi peristiwa Kanigoro. tirto.id/Gery


Kilat celurit.
Menyala api dendam
di dalam sekam.
Desa Kanigoro terletak di Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, 16 km dari pusat kota. Sejarah Indonesia lebih mengenalnya sebagai tempat terjadinya Peristiwa Kanigoro. 

Dalam historiografi Orde Baru, Peristiwa Kanigoro diingat sebagai bukti kekejian Partai Komunis Indonesia (PKI) kepada umat Islam, bahkan lebih dikenang ketimbang Peristiwa Tanjung Priok 1984. Peristiwa Kanigoro meletus di awal era yang disebut Bung Karno sebagai tahun vivere pericoloso (menyerempet bahaya) 1965. 

Pada 1960-an, menurut Sari Emingahayu dalam Sisi Senyap Politik Bising (2007: 84-86), “Kanigoro terkenal sebagai basis PKI.” Kawasan ini penghasil tebu untuk Pabrik Gula Ngadirejo. Buruh tani di sana kebanyakan berafiliasi dengan Barisan Tani Indonesia (BTI). 

Di masa itu, gerakan dan mobilisasi partai politik makin meningkat, baik berupa kampanye maupun pawai. Hebatnya, meski sudah tahu Kanigoro adalah basis PKI, Pelajar Islam Indonesia (PII) Jawa Timur berbesar nyali mengadakan Mental Training (Mantra) di desa itu. PII merupakan organisasi yang terkait dengan Partai Masyumi. Sejak 1960, status Masyumi adalah terlarang. 

“Pertanyaan yang sulit terjawab adalah mengapa PII mengadakan kegiatan dengan kapasitas kegiatan yang cukup besar di tengah-tengah basis PKI?” tulis Sari Emingahayu. 
Meski sulit dijawab, Sari Emingahayu tak lupa menyebut “ada konspirasi yang berkembang di seputar penyelenggaraan Mantra tersebut, di mana elit-elit PII telah dapat perintah dari Jenderal Nasution agar mengintensifkan kegiatan-kegiatan mantra di daerah-daerah basis PKI.” Kanigoro salah satunya. 

Setidaknya PPI mengantongi izin, termasuk surat Nomor Sek.77/U/28/A.A dari Kantor Kabupaten, serta jaminan dari Camat Kras, Kepala Sektor Polisi, Komandan Urusan Teritorial Perlawan Rakyat (Koramil) Kras. Tokoh Nahdlatul Ulama H. Said jadi penasehat acara. Tempat yang digunakan PII adalah sekitar langgar (musala) K.H. Jauhari. 

Acara dimulai sejak 9 Januari 1965, tepat di bulan puasa. Pesertanya berjumlah 127 dan panitianya 36 orang. M. Samelan, mantan aktivis Masyumi, yang direncanakan akan mengisi ceramah, rupanya kena larangan dari Komandan Kodim Kediri. Namun Anis Abiyoso, panitia yang merupakan Pengurus PII Jawa Timur, memaksa ceramah Samelan dilakukan. 

Itulah rupanya yang bikin gerah BTI dan Pemuda Rakyat. Puncaknya, pada 13 Januari 1965, tepat hari ini 53 tahun lalu, Mantra PII di Kanigoro itu pun digeruduk. 


Digeruduk, Diarak, Lalu Dibalas

Usai sahur di sepertiga terakhir Ramadhan 1384 itu mencekam. Peristiwa tersebut terjadi pada pukul 04.30 pagi, ketika kaum Muslim menunaikan salat Subuh. Anis Abiyoso tak pernah lupa kejadian yang disebut Peristiwa Kanigoro itu. Dia menuliskan kisahnya dalam buku berjudul Teror Subuh di Kanigoro (1995), yang ditulis bersama ‎Ahmadun Yosi Herfanda. 
“Karena agak kelelahan, saya dan beberapa teman bersembahyang di asrama. Dingin udara dan air wudhu yang menggigilkan tubuh tak mengurangi kekhusyukan salat kami,” tulis Anis Abiyoso (hlm. 1). 
Sayangnya, kekhusyukan itu diganggu para penggeruduk. Anis ingat ada suara tembakan yang memecah keheningan di subuh yang dingin. 
“Ketika saya sedang dalam posisi duduk tasyahud, tiba-tiba terdengar suara gebrakan keras. Pintu kamar saya didobrak, diiringi teiakan-teriakan 'Bunuuuh! Bunuuuh! Ganyanggg!' Saya membaca shalawat dan salam. Salatpun selesai, dan sebuah tendangan menghantam punggung saya,” lanjut Anis. 
“Bangun, ayo! Bangun!” teriak penggruduk. 
Mereka berpakaian lusuh dan bersenjata tajam. Anis yakin, gerombolan penggeruduk itu pasti masuk masjid tanpa lepas alas kaki. Sepatu-sepatu dan sandal-sandal, juga kaki telanjang yang kotor, menginjak lantai masjid seenaknya. 

Seperti tercatat dalam Komunisme di Indonesia Jilid IV: Pemberontakan G30S/PKI dan Penumpasannya (2009: 129), yang dirilis Pusat Sejarah TNI (Pusjarah), jumlah penggeruduk adalah 2000 orang. Dengan jumlah sebanyak itu, membubarkan para pelajar yang hanya ratusan orang bukan hal sulit. Apalagi dengan senjata tajam. 

“Saya sempat melihat, salah seorang di antara mereka mengambil Al-Quran, merobek-robeknya, membantingnya ke lantai, dan menginjak-injaknya,” aku Anis. Ia dibawa keluar, terlihat olehnya ribuan massa. Para penggeruduk itu tak lupa mengikat orang-orang yang mereka temukan. Anis melihat ada kawannya yang kena gebuk juga. 
“Bunuh! Ganyang! Hidup PKI! Hidup BTI! Balas Peristiwa Madiun! Ganyang antek Nekolim! Ganyang antek Malaysia! Ganyang santri!” teriak para penggeruduk. 

infografik mozaik peristiwa kanigoro


Menurut Sari Emingahayu, pimpinan BTI yang terlibat adalah Suryadi dan Pemuda Rakyat dipimpin oleh Harmono (hlm. 86). Dua kelompok ini punya sekutu di kalangan pelajar, yakni Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI). Setelah penggerudukan, sekitar 98 peserta dan panitia diarak ke kantor polisi. Dari tempat kejadian ke kantor polisi berjarak 7 km. Ribuan orang menyaksikan penggiringan itu. Dalam rombongan yang diarak juga terdapat K.H. Jauhari. 

Mereka tiba sekitar pukul 07.00. Kepada Polisi, para penggeruduk menyerahkan para anggota PII nan malang itu. Bulan puasa membuat mereka harus lebih kuat. Selain mesti menahan lapar, mereka juga harus sabar menerima nasib yang malang itu.

“Yang mengherankan kemudian adalah bahwa seluruh personil Polsek telah kelihatan siap sedia dalam keadaan siaga. Dari situ kemudian diisukan bahwa kepolisian telah berpihak kepada kelompok kiri atau PKI,” tulis Sari Emingahayu. 
Kabar Peristiwa Kanigoro dengan cepat menyebar. Barisan Ansor Serbaguna (Banser) NU di Kediri mendengar hal itu dan bersiap. Gus Maksum, putra K.H. Jauhari, pegang komando. 

Lima hari kemudian, delapan truk Banser dikerahkan menyerang desa Kanigoro. Kini giliran BTI dan Pemuda Rakyat jadi sasaran. Beritanya pun menyebar juga. Polisi lalu mengambil langkah untuk meredam keadaan dengan menangkap Suryadi dan Harmono pada akhir Januari 1965. 

Pada 1 Februari 1965, rapat akbar digelar ratusan anggota PII. Rapat dilanjutkan dengan pelemparan kantor PKI, yang merupakan induk dari Pemuda Rakyat dan BTI. Anis Abiyoso menjadi buronan polisi gara-gara kejadian ini. Akhirnya, Anis menyerahkan diri pada 12 Februari 1965 di Malang. Kasus pun danggap selesai.

_______

PII kena geruduk Pemuda Rakyat, BTI, dan IPPI di Kanigoro, Kediri, pada bulan puasa 1965.

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan

Sumber: Tirto.Id 

Selasa, 03 Oktober 2017

Agar Umat Islam Tak Lagi Galak dengan Komunis

Senin, 27 Februari 2017

Genjer di sekitaran rumah

Feb 27, 2017

  • Satu percakapan di Kediri selatan
Mass Graves, Misbach Thamrin

Hanya ada aku dan nenek di rumah siang itu. Sekarang nenek tak lagi berjualan di warung depan rumah setelah beberapa minggu yang lalu jatuh dan terpeleset. Sebab itu ia diminta istirahat oleh anak-anaknya. 
Dagingnya sudah hampir hilang dimakan usia. Punggungnya kian membungkuk. Kaki dan pundaknya tiap malam basah minyak oles. Mata dan rambut makin memutih. Makin menjadi pula setelah tak bekerja.
“Bagaimana waktu Belanda dulu, Mak?” Tanyaku padanya. Aku memanggil nenekku dengan sebutan Mak’e. Ia tak terlalu lancar memakai bahasa Indonesia. Setiap percakapanku dengannya digelar dalam Jawa. Sejak naik sekolah menengah, aku bicara dalam Jawa Inggil dengannya. Sebelumnya tidak.
“Orangnya tinggi-tinggi, bagus, bersih. Mereka banyak di daerah dekat pabrik gula. Pernah sekali waktu mereka datang dengan mobil besar-besar. Perang. Orang-orang sini, Mbah Kung juga, merobohkan pohon-pohon di jalan supaya mereka tak bisa lewat. Yang sengsara itu waktu kedatangan Jepang. Orangnya kecil-kecil, kulitnya kuning. Sipit-sipit. Sengsara itu, Le. Waktu Belanda, aku jual sayur-sayuran di pasar. Waktu Jepang aku diperintah kerja di pabrik kapas. Bikin benang. Bareng dengan yang lain. Orang-orang pakai pakaian dari karung. Jalan kaki dari rumah. Berangkat subuh pulang malam. Beras susah. Makanan susah. Seadanya saja.”
“Rumah ini Mbah Yut yang buat, Mak? Siapa nama Mbah Yut?” 
“Ya. Namanya Mbah Kromo. Kartodikromo. Tapi rumah ini dulu belum seperti ini. Dulu masih gubuk. Ditembok tinggi kemudian oleh Mbah Kung. Dibangun lagi kan baru kemarin-kemarin sama ayahmu.”  
“Kerja apa Mbah Yut?”  
“Ya tani. Nggelak cikar, Le. Sampai ke Blitar, Tulungagung.”
Kutanyakan juga bagaimana akhirnya bisa kenal dan bersama dengan Mbah Kung, seorang yang kukenal selama lebih kurang tiga tahun saja, itu pun hanya tiap akhir pekan. Dan itu juga tak rutin. Dari tutur saudara-saudaraku, juga cerita dari tetangga, aku tahu ia orang yang cukup disiplin, atau jika aku tak keliru maka boleh dibilang keras. Cukup terpandang dan disegani. Waktu sekolah dasar, saat lebaran aku datang sendirian ke tetangga-tetangga hingga cukup jauh — sekitar 3 km dari rumah — kurasai perlakuan mereka padaku sedikit berubah setelah kujawab pertanyaan mereka cucu siapa aku ini. Dari mereka-mereka juga aku tahu di rumah inilah mereka dulu bisa menonton televisi. Itu lebaran bertahun-tahun lalu.

Sekarang aku tak pernah berkunjung sejauh itu. Dua tiga rumah sudah bagus. Pernah tidak ke tetangga sama sekali. Padahal tak yakin juga aku apakah setiap lebaran maka begitu saja akan saling memaafkan tanpa perlu pertemuan yang menjelaskan untuk apa maaf itu dan untuk apa memaafkan. Apakah benar akan lunas segala dosa sesama manusia setelah lewat satu lebaran saja. Dan aku tahu jawabannya dari keluarga juga: tidak.

Aku juga kenal Mbah Kung dari catatan harian yang ditulisnya. Peristiwa kelahiranku ada di situ. Terkisah di satu buku bersampul cokelat, dengan huruf bersambung miring, yang ditulis dengan pena pancur bersama peristiwa-peristiwa lain yang sama kecilnya. Juga dari buku harian itu kudapati nama siapa-siapa yang pernah tinggal di rumah itu. Nama siapa-siapa yang pernah membantu keluarga kami. Yang diceritakan padaku sebagai siapa-siapa yang oleh keluarga sedang dibantu. Atau dalam Jawa: diopeni. Yang sebagian aku kenal, sebagian besar lain tidak. Dan tak pernah kupertanyakan.

Juga dari cerita Mak’e kemudian aku tahu, keluarganya termasuk keluarga-keluarga awal di dusun itu. Dan banyak tetangga-tetangga juga ternyata masih saudara. Mak’e menyebut nama-nama, hubungan kekerabatannya, juga cerita yang menyertainya yang aku tak hafal semuanya. Dan kubalasi cerita-cerita itu dengan nggih dan anggukan kepala. Kuisap kopiku yang mulai dingin. Kuseduh tadi sebelum menyantap makan siang. Sambil juga membayangkan bagaimana keluarga Mbah Yut, yang aku yakin bukan dari keluarga bangsawan atau priyayi, bisa punya cukup tanah untuk diwariskan ke putrinya yang seorang itu, dan lalu ke cucu-cucunya yang berjumlah sepuluh. Belum terjawab sampai sekarang.
“Bagaimana waktu PKI, Mak?”  
“Biyen aku diseneni Mbah Kung melu nyanyi genjer,” katanya.
Mak’e bercerita ia ditegur oleh Mbah Kung karena ikut melagukan genjer-genjer.

Aku membayangkan Mak’e, ketika ia masih segar sekitar tahun 1965 silam. Pagi hari di depan rumah, dengan rambut digelung, mengenakan kain jarit, kemben, serta stagen yang melilit perutnya. Ia sedang menyapu halaman depan rumah yang cukup luas. Jalanan masih berbatu. Matahari masih samar, embun masih bersisa. Dari timur, serombongan orang, mungkin dua puluh, laki-laki dan perempuan, melintas depan rumah. Menyanyikan lagu genjer. Mengingatkan bahaya setan desa.
“Banyak orang naik sepeda rombongan. Nyanyi genjer-genjer,” ceritanya ke Mbah Kung dalam Jawa.
“Orang-orang komunis itu,” jawabnya, juga dalam Jawa.
Di sekitar waktu itu, tiap pekan mereka — kader Partai Komunis Indonesia dan organisasi pendukungnya seperti Barisan Tani Indonesia, Pemuda Rakyat, Ikatan Pemuda dan Pelajar Indonesia, Serikat Buruh Seluruh Indonesia — berkumpul dan melakukan agitasi di alun-alun Kota Kediri.

Membikin panggung rakyat. Mendeklarasikan siapa musuh rakyat — tujuh setan desa dan tiga setan kota. Bersamaan dengan itu juga, kelompok santri juga sedang sekuat tenaga menyebarkan selebaran, mengingatkan kepada kaum “beriman” tentang apa yang telah dilakukan oleh komunis di Madiun tahun 1948 dan apa yang terjadi di Kanigoro pada awal 1965.

Ramadhan di Januari 1965, terdengar kabar bahwa masjid pesantren Aljauhar, Kanigoro, Kecamatan Kras, yang diasuh oleh H Jauhari itu diserbu oleh komunis. Yang sampai di rumah waktu itu mungkin adalah kabar seperti ini: Waktu sembahyang subuh, segerombolan PKI datang ke masjid, masuk dengan masih menggunakan alas kaki, membubarkan pelatihan yang digelar oleh Pelajar Islam Indonesia (PII), mengobrak-abrik masjid, mengalungkan arit ke leher imam, merobek dan menyebar halaman Alquran ke seluruh penjuru halaman masjid.

Dan kabar seperti itu juga yang mungkin sampai ke Mbah Kung. Dan itu sebab ia kemudian meminta Mak’e untuk tidak ikut seperti komunis menyanyikan genjer-genjer.

Muhidin M Dahlan dalam catatan mudiknya, Syawal itu Merah, pernah membahas peristiwa Kanigoro. Dari tulisan itu kutemukan bantahan orang-orang komunis:
Partai NU Kras dalam statemennja telah melarang Samelan, bekas anggota partai terlarang [Masjumi] untuk melakukan pengadjian2.
Pernjataan serupa telah dikeluarkan djuga oleh Panitia Mental Training Kader PII di Kras pada tgl. 12 Djan. jl. jaitu sehari sebelum terdjadinja penggropjokan. 
Mengenai penggeropjokan jg dilakukan oleh anggota2 BTI dan Pemuda Rakjat itu ialah karena alasan2 tersebut diatas, jaitu di Mental Training PII di Kanigoro, Kras, terdapat unsur jang dapat membahajakan revolusi dan membahajakan persatuan nasional revolusioner berporoskan Nasakom. (Harian Rakjat 11 Februari 1965)

Ada pula kampanje jang untuk waktu tjukup lama di-sebar2kan orang: ,,anggota PKI meng-indjak2 Al Qur’an”. Tema ini sadja pun sudah menundjukkan, bahwa maksud si pembuat kampanje adalah untuk memainkan sentimen2 rendah massa jang terbelakang.

Sekarang tak kurang dari team FN [Front Nasional] dibawah pimpinan Major Said sendiri jang menjangkal kampanje itu. Tidak ada sama sekali kedjadian sematjam itu, malahan, jang ada adalah kongkalingkong kaum Masjumi untuk memetjahbelah FN, chususnja antara PKI dan NU. (Harian Rakjat 13 Februari 1965)

Kediri itu merah. Pada pemilu 1955 PKI menduduki peringkat pertama dengan 33% pemilih. Lebih besar 50% dibandingkan daerah-daerah lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Meningkat jadi 40% di 1957. 
Pada 1961, dari tulisan Kenneth R. Young dapat diketahui ada setidaknya tiga ribu buruh tani menduduki lahan di daerah Jengkol yang waktu itu masih milik pabrik gula yang dijalankan oleh militer.

Pada paruh Oktober 1965, di alun-alun yang pernah dipakai komunis melakukan agitasi, berkumpul para pendekar islam dari Banser/Ansor dan ormas-ormas Islam lainnya. Upacara besar tergelar. Dihadiri oleh tokoh-tokoh Islam di Kediri. Direncanakan oleh Ansor, GPII; dan militer.

Dikomandoi oleh Maksum Jauhari, putra dari H Jauhari yang pesantrennya diserbu PKI beberapa bulan sebelumnya. Aku mengenalinya dengan nama Gus Maksum. Nama itu sering kudengar. Ilmu kanuragannya tinggi. Ada yang pernah bilang padaku, saking hebatnya, kambingnya saja tak mau merasakan nikmat dunia. Sudah melepaskan yang duniawi. Kambingnya hidup memakan sampah. Belum lagi, cerita bahwa ia memiliki naga.
Dipimpin olehnya, orang-orang itu mendeklarasikan siapa musuh islam — setan-setan komunis.
13 Oktober 1965. Maka dimulailah pembantaian besar itu..

Misbach Thamrin

Entah berapa yang tiba-tiba menjadi halal darahnya. Ada yang mencatat, pada hari keempat setelah upacara besar itu, tertangkap setidaknya 40 ribu kader komunis. 
Dan lagi, pembantaian orang-orang komunis di Kediri termasuk yang paling mengerikan. Banyak hasil bantaian itu dibuang ke sungai Brantas dari belakang masjid agung. Mayat-mayat tak berkepala enggan tenggelam, bahkan sampai hanyut ke Surabaya. Saat-saat itulah Kediri benar-benar merah.

Masih terhitung satu kecamatan dengan rumah ini, di kawasan pelacuran, satu kilometer sebelah utara Pabrik Gula Ngadirejo, yang terjadi begitu mengerikan: di depan rumah-rumah banyak bergantungan kemaluan para perempuan Komunis — seperti gantungan pisang-pisang yang dijual. Cerita di Pare pun tak kalah mengerikan. Seorang suami dipenggal kepalanya dan istrinya yang sedang hamil dibelah perutnya dan dicincang janinnya. Tak terbayang menjadi perempuan komunis dan dituduh komunis saat itu.

Diminta membuka jarit, memperlihatkan pahanya bagian dalam, apakah ada lambang palu arit atau tidak. Jika ada, ditelanjangi, dipaksa melakukan tarian harum bunga, diperkosa lalu mati. 
Jika tak ada, disiksa, dipaksa mengaku, ditelanjangi, dipaksa melakukan tarian harum bunga, diperkosa, lalu mati. 
Tentu juga tak pernah ada yang berlambang palu arit pahanya!
Kekejian itu, direncanakan dan dilakukan oleh orang-orang beriman dan beragama. Bahkan oleh mereka yang tinggi ilmu agamanya.
“Komunis itu orang-orang macam apa sebenarnya. Mereka pakai pakaian dan ikat kepala hitam-hitam. Mencari-cari orang. Oleh Kung-mu aku disuruh diam di rumah,” kata Mak’e.
“Siapa yang dicari?” tanyaku.
“Ya banyak. Yang dicari terus dibawa. Hilang. Kalau tidak dibunuh. Dibawa ke Srayut. Pak Puh-mu biasanya melihat,” jawabnya
Lalu ia menyebutkan nama-nama. Anaknya ini. Anaknya itu. Suaminya ini. Suaminya itu. Banyak sekali. Mak’e menyebut seperti baru terjadi kemarin. Dan nama-nama itu tak bisa kuingat semua. Akan tetapi, ia bercerita bahwa PKI dengan seragam hitam-hitam dan ikat kepala itulah yang memburu orang-orang, menculik mereka, atau menumpas mereka di sumber air yang bernama Srayut.

Ada juga yang kabur lalu dibunuh di sawah. Ia juga ceritakan orang-orang yang sembunyi di rumahku. Minta tolong kepada Mbah Kung untuk disembunyikan, dan dari nama-nama orang yang meminta tolong itu memang ada yang selamat. Salah satu orangnya baru saja meninggal karena sakit tahun kemarin. Aku ikut ke pemakamannya.

Mak’e kemudian mengambil wudlu. Aku masih diam di kursi itu. Apa jadinya jika dulu ia ikut menembang genjer?

Senin, 01 Oktober 2012

Tragedi Kanigoro, PKI Serang Pesantren


Oleh : Tempo.co
Senin, 1 Oktober 2012 06:30 WIB

AP/Alexander F. Yuan

TEMPO.CO, Jakarta- Masih lekat di ingatan Masdoeqi Moeslim peristiwa di Pondok Pesantren Al-Jauhar di Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kediri, pada 13 Januari 1965.

Kala itu, jarum jam baru menunjukkan pukul 04.30. Ia dan 127 peserta pelatihan mental Pelajar Islam Indonesia sedang asyik membaca Al-Quran dan bersiap untuk salat subuh. Tiba-tiba sekitar seribu anggota PKI membawa berbagai senjata datang menyerbu. Sebagian massa PKI masuk masjid, mengambil Al-Quran dan memasukkannya ke karung.
 "Selanjutnya dilempar ke halaman masjid dan diinjak-injak," kata Masdoeqi saat ditemui Tempo di rumahnya di Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, pekan lalu.
Para peserta pelatihan digiring dan dikumpulkan di depan masjid. 
 "Saya melihat semua panitia diikat dan ditempeli senjata," tutur Masdoeqi, yang kala itu masuk kepanitiaan pelatihan.
Dia menyaksikan massa PKI juga menyerang rumah Kiai Jauhari, pengasuh Pondok Pesantren Al-Jauhar dan adik ipar pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kiai Makhrus Aly. Ayah Gus Maksum itu diseret dan ditendang ke luar rumah. 

Selanjutnya, massa PKI mengikat dan menggiring 98 orang, termasuk Kiai Jauhari, ke markas kepolisian Kras dan menyerahkannya kepada polisi. Menurut Masdoeqi, di sepanjang perjalanan, sekelompok anggota PKI itu mencaci maki dan mengancam akan membunuh.

Mereka mengatakan ingin menuntut balas atas kematian kader PKI di Madiun dan Jombang yang tewas dibunuh anggota NU sebulan sebelumnya.

Akhir 1964, memang terjadi pembunuhan atas sejumlah kader PKI di Madiun dan Jombang.
"Utang Jombang dan Madiun dibayar di sini saja," ujar Masdoeqi, menirukan teriakan salah satu anggota PKI yang menggiringnya. 
Kejadian itu dikenal sebagai Tragedi Kanigoro pertama kalinya PKI melakukan penyerangan besar-besaran di Kediri. Sebelumnya, meski hubungan kelompok santri dan PKI tegang, tak pernah ada konflik terbuka. 

Meski tak sampai ada korban jiwa, penyerbuan di Kanigoro menimbulkan trauma sekaligus kemarahan kalangan pesantren dan anggota Ansor Kediri, yang sebagian besar santri pesantren. Memang kala itu para santri belum bergerak membalas. Namun, seperti api dalam sekam, ketegangan antara PKI dan santri makin membara. 

Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kiai Idris Marzuki, mengakui atmosfer permusuhan antara santri dan PKI telah berlangsung jauh sebelum pembantaian.
"Bila berpapasan, kami saling melotot dan menggertak," katanya.
Kubu NU dan PKI juga sering unjuk kekuatan dalam setiap kegiatan publik. Misalnya ketika pawai memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus, rombongan PKI dan rombongan NU saling ejek bahkan sampai melibatkan simpatisan kedua kelompok. Kondisi itu semakin diperparah oleh penyerbuan PKI ke Kanigoro.

Peristiwa di Kanigoro itu pula yang memperkuat tekad kaum pesantren dan anggota Ansor di Kediri, termasuk Abdul, membantai anggota PKI.

 Pembantaian mencapai puncaknya ketika pemerintah mengumumkan bahwa PKI adalah organisasi terlarang. Abdul dan para anggota Ansor lainnya semakin yakin bahwa perbuatan mereka benar.
"Seperti api yang disiram bensin, kami semakin mendapat angin untuk memusnahkan PKI," ujarnya. 
TIM TEMPO

Minggu, 18 September 2011

#6 Trenggalek: Kesepian di Alun-Alun


29 Agustus 2011 | Trenggalek | Km 207 | Pkl 14.30
Sejak di kecamatan Sawoo, Ponorogo, saya sudah berpikir keras, jejak merah yang seperti apa yang bisa saya tuliskan tentang Trenggalek di seberang bukit itu. Sejak rambu bahwa di hadapan saya ada gundukan bukit yang harus dilalui, saya masih belum bisa mengumpulkan ingatan, potongan-potongan kisah yang tragis macam bagaimana yang menimpa kaum merah di kota dengan pariwisata andalannya adalah pantai ini.
Bahkan setelah melewati desa pertama, Pucanganak, seusai 40 menit memasak sabuk pengaman kewaskitaan melewati puluhan belokan-belokan tajam yang curam dan cadas-cadas yang seperti siap runtuh, saya belum juga bisa menemukan titik terang yang merah. Bahkan dengan cahaya merah kedap-kedip sekalipun.
Anak muda, naiki bukit itu, naiki dan dapati Trenggalek di baliknya (Ancang2 dari Kec. Sawoo, Ponorogo)

Melampaui bukit-bukit ini untuk mendapatkan Trenggalek


Meninggalkan gerbang rombongan reog Ponorogo. Menjejak desa pertama Trenggalek

Tapi 100 persen saya meyakini, Trenggalek juga memiliki kisah merahnya yang tak kalah heboh dengan Madiun lantaran ia berada di kawasan dengan kontur tanah dan situasi psike masyarakat yang sama dengan kota-kota merah sekitarnya. Tapi apa. Tapi bagaimana. Dan ke mana membaca buku-buku yang berkisah lirih seperti itu.
Yang lamat-lamat saya ingat ketika mulai bermunculan petunjuk-petunjuk agar ke pantai ke pantai ke pantai sepanjang jalan yang ditanam Dinas Pariwisata Trenggalek, adalah bahwa saya pernah ke kota ini. Bahwa saya, 9 tahun silam pernah ke pantai-pantai yang ditunjukkan gerbang-gerbang dan rambu-rambu yang dipasang raksasa itu. Dengan menaiki truk terbuka seperti sapi-sapi yang hendak dijual, sekira 25 orang, saya dan teman-teman “menikmati” pantai-pantai itu. Juga melewati deretan pohon-pohon kelapa yang bergesekan pucuk satu dan lainnya diguncang angin sore dari Laut Selatan.
Hingga di Alun-Alun yang dikitari jalan-jalan utama yang sempit dan lengang, belum juga teringat apa pun. Di mana dan di kitab yang mana cerita kaum merah menangis dan menyesal kenapa harus masuk PKI dna lebih penting lagi mengapa mereka disangkakan melakukan sesuatu yang mereka tak tahu sama sekali kecuali segelintir kecil elite partai merah yang pernah mereka masuki dengan satu cita: hanya yang merah itu yang paham dan benar-benar mau memperjuangkan nasib mereka sebagai tani tertindas.
Hingga saya pun berbaring di atas trotoar Alun-Alun yang berhadapan muka-muka dengan Hall Kabupaten Trenggalek lantaran kelelahan menempuh perjalanan 200-an kilometer dari Kotagede, Yogyakarta, tak terbetik pun. Kecuali satu, sebuah roman cinta: “The Souls: Moonlight Sonata” karya Wina Bojonegoro. Roman musikal dan tragika cinta yang dibumbui “keajaiban-keajaiban” pernah dibedah di halaman Indonesia Buku, Yogyakarta sebulan lebih beberapa hari sebelum perjalanan #sayawalitumerah ini dilakoni.
Hulu batih cerita Wina Bojonegoro itu berkisah tentang sebuah desa di Trenggalek. Gandusari adalah tanah tumpah darah Padma, tokoh utama novel itu, yang kemudian menjadi cinderalla Jawa dalam perebutan posisi di sebuah orkestra di Yogyakarta.
“Penduduk di desa kami terdiri dari dua golongan, yaitu golongan santri dan golongan abangan. Bapak tergolong yang terakhir. Penduduk santri tidak menyukai gamelan. Anak-anaknya dilarang menari. Mereka tinggal saling berdekatan dalam salah satu wilayah yang secara tidak resmi diberi nama santren. Pondok pesantren yang seluruh penghuninya adalah kaum santri selalu berbondong-bondong ke masjid jika bedug sudah dipukul. Sebaliknya, kelompok abangan tidak pernah salat. Mereka menjalani upacara megengan, menabuh gamelan, dan melakukan ritual-ritual aneh, seperti ayahku. Abangan dan santri sungguh bagai bumi dan langit. Dan, aku ada di antara keduanya…. (hlm. 191)
Tapi sayang, roman itu tak menyebutkan kakek Padmaningrum itu merah atau hijau. Apakah keluarga ini menyaksikan penyembelihan besar-besaran di lereng-lereng gunung dan atau di sekitaran jurang-jurang dan atau di pantai-pantai eksotis yang kemudian diperkenalkan sebagai beranda depan Kabupaten yang patut dikunjungi agar rekening pemerintah mendapatkan tambahan secara reguler.
Merahkah Gandusari. Hijaukah Gandusari. Tak ada jawaban. Karena galian roman itu hingga pada kedalaman 80-an dan bukan hingga 40-an tahun yang silam.
Dan satu-satunya yang saya potret di Alun-Alun Kabupaten yang penuh galian dan ditumbuhi 4 bringin besar adalah Masjid Agung. Tapi gelap. Karena itu saya hapus dari arsip. Belasan galian yang masih menganga itu tentu bukan kuburan massal merah, tapi kemungkinan peruntukan pohon-pohon taman agar Alun-Alunnya makin rimbun, makin senyap.


Dalam hati berjanji, mungkin perpustakaan raksasa temuan peradaban abad 21 bisa memberitahu kelak. Dan kelak itu tiba. Tapi ini jawabannya: mencari PKI di Trenggalek? Mungkin yang Anda maksud adalah PKS. (Bersambung #7: Tulungagung)

Kamis, 15 September 2011

#5 Ponorogo (Bag 2): Musso Yang Dibakar di Ponorogo


29 Agustus 2011 | Ponorogo | Km 155 | Pkl 12.45
Ponorogo, 31 Oktober 1948, di sebuah Minggu yang terik, sebuah tragedi mengenaskan terjadi. Musso, Sekertaris Jenderal PKI, ditembak mati di sebuah kamar mandi. Mayatnya lantas dibawa ke Ponorogo. Di sana, mayat yang disimbahi darah dan luka itu dipertontonkan. Dan…. dibakar!
Paragraf pembuka yang tragik itu saya kutipkan dari review kawan Zen RS atas booklet propaganda Jalan Baru Musso. Saya tidak tahu dari mana kutipan itu didapatkannya. Mungkin dari Soe Hok Gie, Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan. Saya belum mengeceknya. Tapi pasti bukan dari Laporan dari Banaran-nya T.B. Simatupang (1980).
Ponorogo adalah jalan paling akhir dari rentetan kegagalan yang dialami manusia merah yang kerap digelari stalinis garis keras. Musso yang lahir dari keluarga alim pada 1897 di Desa Jagung, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, itu bernama Munawar Musso.

Ketika remaja indekos dan belajar pergerakan dari Sjarekat Islam Tjokroaminoto di Paneleh VII, Surabaya. Jalan radikalnya tampak ketika ia berselisih jalan dengan Tjokro dalam soal taktik pergerakan di hadapan pemerintahan kolonial. Musso pun mengambil kiri bersama rekan seperguruannya, Semaoen.
Musso dan Semaoen kemudian dikenal sebagai pendiri PKI pada Mei 1921 yang pada usianya yang kelima digulung pemerintahan kolonial karena tuduhan memberontak.
Tapi Musso lolos dari interniran sebagai otak Prambanan. Dari kegalalan Prambanan itu praktis puluhan tahun hidupnya berada dalam pelarian. Ia loncat dari satu negara ke negara lain dengan menyaru dalam berbagai nama atau alias. Untuk soal memalsukan identitas dan dokumen, Musso memang jagoannya.
Setelah merancang pemberontakan Prambanan Desember 1925, Musso menyeberang ke Singapura. Berkumpul bersama kawan-kawannya yang lain seperti Sardjono, Budisutjitro, Sugono, Winanta, Subakat, dan Agam Putih. Di situ mereka mematangkan aksi Pemberontakan 1926 yang gagal total itu.
Musso pun melanjutkan pelariannya ke Canton/Tiongkok dan berlabuh di Moscow. Musso beruntung, karena di Moscow inilah dia beroleh kesempatan mengikuti Kongres Komunis Internasional (Komintern) keenam pada Juli 1928 di bawah pimpinan Joseph Vissarionovich Stalin. Saat itulah kemudian Musso dikenal sebagai stalinis garis keras berdarah jawa. Musso ditunjuk sebagai anggota Komite Eksekutif Komunis Internasional. Sempat kuliah di sebuah universitas di Moskow, tapi drop out karena lebih sibuk berorganisasi ketimbang hadir di kelas perkuliahan.
Kedatangannya kembali membereskan jawa dengan jalan baru yang diketahuinya ditunggu dengan optimisme kaum merah yang disingkirkan dari semua medan politik dan militer.
Khusus untuk awal 1948, duet Nasution-Hatta menghabisi kekuatan kiri dalam militer dengan mengumumkan reorganisasi militer dari faksi laskar-laskar di mana golongan kiri bernaung.
Langkah Nasution-Hatta itu mula-mula mencopot Amir Sjarifuddin dari kursi Perdana Menteri usai Perjanjian Renville. Setelah itu diikuti pencopotan berbagai pucuk pimpinan resimen di Solo dan Jawa Tengah, serta Jawa Timur.
Dalam situasi penantian datangnya Ratu Adil bagi kaum merah yang diliputi kegamangan itulah Musso datang. Di salah satu fragmen buku Matu Mona, Pacar Merah Indonesia (Jilid II), Paul Mossote a.k.a Musso digambarkan Matu Mona sebagai patriot merah yang ditunggu-tunggu, serupa Ratu Adil. Di tengah masyarakat Jawa yang masih terbelakang, Musso disebut-sebut punya ilmu melenyapkan diri. Seperti seorang dewa berhati dermawan, Musso membagi-bagikan beras dari rumah ke rumah di masa ketika rakyat dicekik masa paceklik dan kelaparan di mana-mana.
Ya, ya, puluhan tahun setelah pengembaraan itu, Musso dengan memakai nama alias dan penyamaran yang rapi mendarat dengan pesawat di Campurdarat, Tulungagung. Menumpangi sebuah jeep mengarah ke Solo. Disambut gempita kader-kader merah. Bahkan dari Solo itu berhamburan pernyataan Musso yang termuat di halaman surat kabar semasa.
Pada Medio Agustus 1948 Musso bertemu kawan lamanya satu kos sewaktu masih sama-sama muda di Surabaya, yakni Soekarno. Tapi kawan yang remajanya jago pidato dan bikin brisik malam-malam di rumah Peneleh VII Surabaya di tahun belasan itu kini sudah menduduki pucuk pimpinan tertinggi Republik.
Sukarno jadi presiden, sementara Musso bertahun-tahun menghabiskan umur dalam pelarian, menjadi jajaran elite Komunis Internasional di Moscow, dan kini kembali ke tanah tumpah darahnya dengan semangat Moscow yang tetap menyala. Keduanya bertemu di Gedung Agung, Yogyakarta. Sebagaimana karib lama, keduanya berpelukan lama dan saling memuji.
Usai berbasa-basi, di akhir pertemuan Sukarno merangkul Musso untuk turut serta membantu meredakan konflik antarfaksi di tubuh Republik yang berusia belia. Dialog keduanya itu adalah dialog kunci yang penulis mana pun pastilah akan mensiternya. Sebabnya? Tragisme di ujungnya.
“Saya harap Pak Musso, setelah kembali ke Tanah Air, bisa membantu menciptakan rust en orde,” ajak Sukarno.
Musso menjawab dengan tangkas dalam bahasa Belanda, “Ik kom hier om orde te scheppen (Saya memang datang ke sini untuk menciptakan ketertiban).” Seperti biasa, jawaban tangkas yang datang dari seorang–pinjam kata-kata Sukarno–manusia yang jago pencak yang suka berkelahi, “…yang kalau berpidato akan nyincing lengan bajunya”.
Mungkin karena terinspirasi oleh dialog itu dan ucapan Sukarno yang menyebut Musso suka memperlihatkan otot tangan kalau berpidato itu, maka pada awal tahun 2010 sekelompok dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta mengumumkan alat pencatat kekuatan otot digital bernama Musso yang kroniknya bisa dibaca dalam kabar yang direkam Tempo No 3848/18-24 Januari 2010. Yang lebih ajaib tentu saja, Dinamo Musso ini juga berguna menguji seberapa mujarab obat kuat yang Anda minum. Keampuhan obat pengobar vitalias itu terlihat dalam getaran garis di laptop. Karena itu, alat ini sebetulnya bisa dipakai untuk menguji otot penis pemakai obat kuat. Untuk keperluan ini, Anda cukup diminta meletakkan ujung alat ini di otot kebanggaan lelaning jagad seperempat jam sebelum dan sesudah minum obat kuat. Namun, karena ini departemen faal, maka Musso belum dipakai untuk konsultasi seksologi.
Tapi sudahlah, kita tinggalkan dulu alat pengukur kekuatan otot bernama Musso itu. Yang pasti otot yang diperlihatkan Musso kepada Sukarno di Gedung Agung itu langsung diuji di Madiun–dua bulan lebih beberapa hari sejak pertemuan dengan Sukarno yang diakhiri tukar menukar buku itu. Sukarno memberi Musso buku Sarinah karangan Sukarno sendiri.
Front Nasional yang dibentuk FDR/PKI di seluruh Karesidenan Madiun yang diproklamirkan pada 18 September 1948 itu menjadi pembuktian bahwa Musso serius mengembalikan “kejayaan” Komunis sebagaimana dalam cita-cita yang nyaris selalu tertumbuk tembok kegagalan. Tapi pembentukan Front Nasional itu gagal total. Sukarno dan Musso yang dua bulan sebelumnya saling berpelukan mesra, di corong radio, kemudian jual beli gertakan yang berakibat sungguh memilukan.
Dan ceritanya kita tahu, pasukan Siliwangi yang diotaki Wakil Panglima Angkatan Bersenjata A.H. Nasution yang menusuk dari Lawu-Sarangan/Magetan berhasil melumpuhkan otot Musso yang tergelar pada 18 September 1948. Otot itu lunglai pada 30 September 1948 oleh operasi gabungan yang efektif di bawah komando Siliwangi yang dikomandani Mayor Sambas yang muncul dari arah Lawu-Magetan.
Dan setelah lumpuhnya FDR/PKI dalam kota Madiun, ribuan pengawal merah yang sebagian besar adalah kader Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) itu menempuh jalan pelarian bersama keluarga komunis yang masih loyal. Sebuah iringan merah yang kandas oleh adu lihai dengan kubu borjuasi nasional dan militer lulusan KNIL.
Dalam perjalanan mundur itu Musso berselisih jalan dengan Amir Sjarifuddin usai sebuah debat panas tentang rencana-rencana memperlakukan Madiun dan implikasinya yang sama sekali mereka tak perhitungkan. Amir kemudian memilih ke utara dalam kawalan dan ditangkap di sebuah rawa di Grobogan. Sementara Musso memilih selatan tanpa kawalan yang membikin banyak sejarawan diliputi misteri mengapa Musso berjalan sendiri. Hingga ia menemui hari akhirnya. Ahad yang terik, 31 Oktober 1948.
Saya kutipkan lagi paragraf akhir kawan Zen RS saat mereview karya utama Musso “Jalan Baru untuk Republik Indonesia” (Jajasan Pembaruan, Jakarta: 1953).
Di hari Minggu yang mengenaskan itu, ia menemukan sebuah mobil yang ditumpangi pasukan TNI dan berniat menggunakannya. Ia berhasil melumpuhkan prajurit TNI yang berjaga di mobil sasaran.
Sial, mobil itu ternyata tak bisa distater. Prajurit TNI malah berhasil menguasai keadaan dan balik menodong Musso. Tapi Musso tak bergeming. Dengan keberanian yang penuh, Musso berteriak lantang: “Engkau tahu siapa saya? Saya Musso. Engkau baru kemarin jadi prajurit dan berani meminta saya menyerah pada engkau. Lebih baik mati daripada menyerah, walau bagaimana saya tetap merah putih.”
Prajurit TNI itu kalah wibawa dan malah melarikan diri ke desa terdekat. Tapi pasukan TNI pimpinan Kapt. Sumadi keburu datang. Musso lantas bersembunyi di sebuah kamar mandi. Ia menolak menyerah. Baku tembak tak terhindarkan. Akhirnya Musso tertembak mati. Mayatnya di bawa ke alun-alun Ponorogo, dipertontonkan dan kemudian dibakar. Di alun-alun itu kini saya berada, mencari peneduh dari tenda-tenda pedagang yang saling berimpitan di hampir sema jengkal tanah lapang itu.
Ya, ya Ponorogo kemudian menjadi cerita akhir dari semua cerita derita, patriotisme, dan kegagalan cita-cita yang dikepit stalinis garis keras berdarah jawa itu. Musso dibakar di sini, di kota yang dibaptis Lekra di kemudian tahun sebagai ibu kandung kesenian Rakyat bernama Reog. (Bersambung #6 Trenggalek-Tulungagung)

# Catatan mudik #syawalitumerah

Rabu, 14 September 2011

#5 Ponorogo (Bag 1): Kongres Reog Lekra


29 Agustus 2011 | Ponorogo | Km 155 | Pkl 12.45
Memasuki gerbang selatan Ponorogo, Jawa Timur, disambut pintu terbuka bertartalkan aksara: Ponorogo Bumi Reog. Pintu itu berada dalam barisan kayu-kayu jati yang tumbuh menusuk langit. Di suatu masa, ada keyakinan Lekra dan budayawan merah bahwa kesenian rakyat Reog haruslah abadi. Karena itu rakyat Ponorogo bersatu. Ada sikap dan optimisme kuat dalam Musyawarah Reog pada Februari 1965 Pertemuan pelopor yang dikerjakan dengan sepenuh kesadaran. Jauh sebelum Malaysia obral klaim bahwa reog adalah bagian dari kesenian mereka.
Di benak saya terpacak asumsi yang gawat yang selalu menggoda; bahwa semua laki-laki Ponorogo berkumis tebal. Asumsi banal dan sangat laki itu dipelihara oleh sebuah gambaran yang disodorkan oleh film yang saya nonton di bioskop kampung Ujung Bou, tetangga kampung saya. Judulnya Suromenggolo. Film yang disutradarai Dasri Yacob (1991) itu saya tonton ulang pada 2010. Walau dengan pengetahuan yang sudah jauh berbeda, tetap saja asumsi banal yang laki itu susah dikibaskan.
Buktinya saya masih tergoda di siang bolong ketika saya sudah menempuh jarak perjalanan 155 km dari Kotagede Yogyakarta. Di alun-alun Ponorogo yang masih kuyuh dan kumuh karena baru bangun setelah semalam suntuk menghelat pasar malam, saya masih memperhatikan wajah kaum lelaning jagad reog ini. Dan hasilnya: sedikit sekali yang masih memelihara kumis tebal dengan berpakaian hitam, seperti leluhur-leluhur penjaga tradisi dan jago kelahi di tebing-tebing jurang serta ilmu gaib mahasakti yang tergambar dalam Suromenggolo.

Barulah saya terjaga, bahwa Ponorogo bukan hanya gambaran dalam film itu. Banyak spektrum tradisi bekerja di sana. Bahwa Ponorogo masyhur dengan tradisi santrinya yang dipresentasikan oleh Pondok Pesantren Modern Gontor yang sewaktu mudik 2008 pernah saya singgahi. Dan kini berkibar-kibarlah presentasi kemasyhuran Gontor yang pernah melahirkan cendekiawan-cendekiwan Indonesia berkelas jagad seperti Nurcholish Madjid, Emha Ainun Nadjib, Din Syamsudin, Hidayat Nur Wahid, setelah buku A. Fuady berjudul Negeri 5 Menara membukukan rekor sebagai salah satu novel terlaris pada 2011 ini.
Tapi bumi Ponorogo bukan bumi santri. Bumi Ponorogo adalah bumi reog. Dan pernyataan itu sudah diberitahu kepada siapa pun yang memasuki Ponorogo di semua pintu terdepannya dari segala jurusan. Ya, ya, Ponorogo bumi reog. Selamat datang!
Dan Lekra serta barisan budayawan merah menyadari betul posisi reog dalam spektrum budaya masyarakat Ponorogo. Campur tangan Lekra itu saya temukan dalam sebuah guntingan berita yang dimuat di Harian Rakjat pada 7 Maret 1965. Berita itu mengabarkan Musyawarah Reog Ponorogo se-Indonesia yang dihadiri perwakilan dari Sumatera Selatan, Jawa Barat, dan Jawa Timur dan khususnya daerah Ponorogo pada 25 – 28 Februari 1965.
Dalam musyawarah itu, demikian Harian Rakjat menggambarkan, reog tak hanya dilihat semata sebagai kesenian untuk menghibur, tapi menjadi karnaval politik di jalanan yang banyak menyedot perhatian Rakyat. Karena itu, musyawarah itu lewat beberapa resolusinya, mendorong bagaimana mutu ideologi reog menaik.
Bagi Lekra Jawa Timur, mutu artistik Reog Ponorogo tak usah disangsikan lagi. Ia sudah menjadi tradisi yang dipagelarkan secara turun-temurun. Tugas Lekra kini adalah bagaimana menaikkan mutu ideologi reog sehingga menjadi senjata paling depan untuk menghantam musuh-musuh Rakyat. Musuh-musuh Rakyat itu adalah kaum reaksioner dalam negeri dan juga persekutuan negara-negara nekolim seperti Malaysia.
Wajar kemudian, selain berikhtiar mengadakan pembaharuan dan menciptakan syarat-syarat guna mengembangkan kreasi, Lekra juga mendorong agar daerah-daerah yang memiliki unit-unit reog menyatukan diri ke dalam suatu organisasi yang progresif revolusioner.
Lekra memang tak langsung menyediakan diri menjadi pemersatu kelompok-kelompok reog itu. Kelompok reog itu sendirilah yang didorong membentuk lembaga bersama yang menjadi payung besar mereka untuk bermusyawarah, seperti kelompok ketoprak yang memiliki lembaga bersama bernama Badan Kontak Ketoprak se-Indonesia (Bakoksi).
Lewat organisasi besar itulah pelbagai permasalahan dalam dunia reog bisa dibahas dan dipecahkan. Lewat forum itu pula kelompok reog dan dibantu Lekra bisa mendiskusikan format ideologi, pembaharuan isi, dan arah perjuangan seperti apa agar reog tak tercerabut dari akar tradisi awalnya yang menyebabkan kenapa reog lahir.
Ancaman tergerusnya tradisi reog itu memang mencemaskan bagi budayawan Lekra dan barisan budayawan merah lainnya, khususnya perkembangannya di perkotaan. Secara sosiologis, masyarakat kota telah mendapatkan kompensasi hiburan dari maraknya film-film Amerika dan India yang mendominasi gedung-gedung bioskop. Nasib reog nyaris sama dengan lenong yang terus terdorong ke pinggiran Jakarta. Dalam catatan Lekra, lenong pada 1964 hanya beroperasi di Cakung, Cibinong, Bekasi, Pasarminggu, dan Cengkareng.
Reog adalah anak kandung kebudayaan rakyat Ponorogo. Karena itu seluruh perkembangan reog mestilah mengabdi kepada kepentingan ibu yang melahirkannya. Jika ada usaha yang memisahkan kebudayaan dan rakyatnya, maka reog akan tampil menjadi pemukul musuh.
Maka pahamlah kita kemudian mengapa dalam Musyawarah Reog Ponorogo pada 1965 itu muncul resolusi-resolusi yang secara sambil-lalu tak berhubungan dengan reog secara artistik, tapi secara ideologi memiliki kaitan yang erat, seperti meritul Adam Malik dan Chairul Saleh, mendukung deklarasi Indonesia keluar dari PBB, menjatuhkan hukungan mati bagi pelaku korupsi 50 juta ke atas, mendukung keputusan untuk mempersenjatai buruh-tani, mendukung pembubaran BPS, HMI, Manikebu, dan ormas-ormas yang abu-abu memberikan dukungan bagi perikehidupan Rakyat.
Reog juga ikut turun ke jalan bersama laskar-laskar kebudayaan lainnya mengganyang film-film imperialis dan menyingkirkannya dari bioskop.
Tapi, keyakinan itu bertahan tak cukup setahun. Pada Oktober 1965, justru tentara hasil reorganisasi 1948 oleh Nasution yang berada di bawah pimpinan serdadu yang pernah didakwa koruptor di Divisi Diponegoro Jawa Tengah, Soeharto, memimpin perburuan manusia-manusia merah. Warga yang dituduh progresif itu diganyang dan dibantai. Yang tak terbantai disiksa, dipenjarakan, dan mengalami pembuangan seperti leluhur merah mereka sejak 1926, 1935, dan 1948.
Kawan Dwi Raharyoso yang berasal dari Ponorogo berkisah via Facebook, daerah Kali Keyang di Kecamatan Jetis merupakan kawasan pembantaian warga yang dianggap menjadi anggota dan simpastisan PKI.
“Lebaran kemarin ketika kami berkunjung ke rumah pakde di kawasan Jetis (daerah yang dulu terkenal dengan daerah tukang jagal sapi), setelah pulang orang tua saya mengatakan bahwa pakde saya yang tadi kami kunjungi itu juga termasuk salah satu ‘tukang jagal’ dari rombongan pemuda Ansor yang memang ditunjuk langsung (entah oleh siapa) untuk menjadi algojo bagi kaum merah tersebut,” tutur penyair yang sekolah di salah satu universitas “keren” Yogyakarta itu. (Bersambung ke #5 Ponorogo: Jalan Musso, Bermula dari Prambanan Berakhir di Ponorogo)

# Catatan mudik #syawalitumerah (Serial: #Ponorogo)