HUTAN MONGGOT

“Menurut taksiran, korban yang dieksekusi dan dibuang di lokasi ini tak kurang dari 2.000 orang”, kata saksi sejarah sambil menunjukkan lokasinya [Foto: Humas YPKP]

SIMPOSIUM NASIONAL

Simposium Nasional Bedah Tragedi 1965 Pendekatan Kesejarahan yang pertama digelar Negara memicu kepanikan kelompok yang berkaitan dengan kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66; lalu menggelar simposium tandingan

ARSIP RAHASIA

Sejumlah dokumen diplomatik Amerika Serikat periode 1964-1968 (BBC/TITO SIANIPAR)

MASS GRAVE

Penggalian kuburan massal korban pembantaian militer pada kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66 di Bali. Keberadaan kuburan massal ini membuktikan adanya kejahatan kemanusiaan di masa lalu..

TRUTH FOUNDATION: Ketua YPKP 65 Bedjo Untung diundang ke Korea Selatan untuk menerima penghargaan Human Right Award of The Truth Foundation (26/6/2017) bertepatan dengan Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Korban Kekerasan [Foto: Humas YPKP'65]

Tampilkan postingan dengan label Tapol Gunung Kidul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tapol Gunung Kidul. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 September 2010

Tapol Gunung Kidul


4.15 - Sudiyono
Wonosari, Jogjakarta, 17 Juli 2000

Sudiyono dilahirkan di Gunung Kidul, Wonosari, pada 7 Agustus 1935. Ia merupakan salah satu dari tujuh bersaudara, anak dari keluarga petani yang buta huruf. Setelah tamat Sekolah Guru B (SGB), ia kemudian menjadi guru. Selain mengajar ia juga aktif di organisasi Pemuda Rakyat.

Pada saat itu kegiatan Sudiyono di Pemuda Rakyat adalah memberantas buta huruf, pertemuan warga untuk meningkatkan hasil pertanian (misalnya okulasi ketela tanah), menentang lintah darat (rentenir), dan sebagianya.
Sudiyono tidak memperoleh dukungan keluarga untuk aktif di Pemuda Rakyat. Sebab, menurut pihak keluarga, organisasi yang digeluti Sudiyono terkait dengan ajaran komunisme, dalam hal ini PKI.

Sedangkan PKI sendiri adalah ateis. Namun Sudiyono punya pemahaman lain. Menurutnya marxisme adalah salah satu bidang ilmu, ilmu memang tidak bertuhan. Seperti halnya matematika. Namun orang yang mempelajarinya tetaplah bertuhan.

Pada 1965 Sudiyono sudah memiliki tiga orang anak. Saat terjadi Peristiwa G 30 S anak ketiganya baru berusia 85 hari. Pada saat itu situasi kampung sangat tegang. Ia dan sejumlah anggota Pemuda Rakyat menjaga kantor Pemuda Rakyat. Ia juga melakukan pemasangan pamflet “Ganyang Dewan Jenderal”.

Pada 20 November 1965 ia ditangkap dan ditahan di Bringharjo. Tahun 1966 ia dipindahkan ke Nusakambangan. Di Nusakambangan ia menghuni LP Batu dan Kembang Kuning. Jatah makan untuk tapol sangat minim dan tidak manusiawi. Maka tidak heran banyak tapol Nusakambangan yang mati karena kelaparan. Selama dalam penahanan ia kerap dikunjungi dan dikirimi makanan oleh istrinya. Bahkan istrinyapun dua kali berkunjung ketika Sudiyono ditahan di Nusakambangan.

Setelah bebas Sudiyono dapat berkumpul kembali dengan keluarganya. Anak-anaknya berhasil lulus sekolah hingga jenjang sarjana. Anak-anaknya sempat mengalami kesulitan ketika akan bekerja, sebab menyandang status keturunan PKI. Namun semua itu dapat diatasi.

Kini anak-anak Sudiyono sudah dapat bekerja. Dua orang anaknya menjadi Dosen di Universitas Sanata Dharma, dan dosen di salah satu perguruan tinggi di Australia.