HUTAN MONGGOT

“Menurut taksiran, korban yang dieksekusi dan dibuang di lokasi ini tak kurang dari 2.000 orang”, kata saksi sejarah sambil menunjukkan lokasinya [Foto: Humas YPKP]

SIMPOSIUM NASIONAL

Simposium Nasional Bedah Tragedi 1965 Pendekatan Kesejarahan yang pertama digelar Negara memicu kepanikan kelompok yang berkaitan dengan kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66; lalu menggelar simposium tandingan

ARSIP RAHASIA

Sejumlah dokumen diplomatik Amerika Serikat periode 1964-1968 (BBC/TITO SIANIPAR)

MASS GRAVE

Penggalian kuburan massal korban pembantaian militer pada kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66 di Bali. Keberadaan kuburan massal ini membuktikan adanya kejahatan kemanusiaan di masa lalu..

TRUTH FOUNDATION: Ketua YPKP 65 Bedjo Untung diundang ke Korea Selatan untuk menerima penghargaan Human Right Award of The Truth Foundation (26/6/2017) bertepatan dengan Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Korban Kekerasan [Foto: Humas YPKP'65]

Tampilkan postingan dengan label Tumiso. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tumiso. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 November 2019

Dari Gereja Kandang Ayam ke Namlea


Oleh Andri Setiawan

Berawal dari sebuah gereja sederhana bekas kandang ayam, para tapol Pulau Buru bisa mengunjungi Namlea.

Lukas Tumiso, ketiga dari kiri, bersama Monsignor Andreas Sol dari Keuskupan Amboina dan beberapa tapol lainnya pada 1978. (Dok. Lukas Tumiso).
"Ini Santo Paulus di Atas Bukit Karang, kudirikan gerejaku," kata Romo Alexander Dirdjosusanto bangga. Sebuah gereja Katolik yang layak bagi para tahanan politik (tapol) akhirnya berhasil didirikan di Unit III kamp pembuangan Pulau Buru pada 1976.
Pendirian gereja itu bermula dari ide Lukas Tumiso, tapol asal Surabaya yang hendak membangun gereja di Unit III. Namun karena keterbatasan bahan bangunan, ia menggunakan sebuah bangunan bekas kandang ayam. Setelah dibersihkan dari gurem dan sedikit perbaikan, gereja sederhana itu bisa mengadakan kegiatan-kegiatan agama Katolik.

Kegiatan Tumiso sempat diejek oleh beberapa kawannya, salah satunya adalah Oey Hay Djoen, mantan anggota Konstituante dari PKI. Oey menyebut ketika di Surabaya, Tumiso bukan penganut Katolik yang taat.
"Tumiso jadi apa itu? Arek itu di Surabaya tidak seperti itu. Sekarang kok ke gereja. Tahi kucing macam apa coba?" ujar Oey Hay Djoen.

Tumiso pun hanya tertawa dan menganggap Oey hanya bercanda. Pasalnya, Tumiso dan Oey memang sudah akrab sejak di Surabaya.
Lain halnya dengan Oey, Tjoo Tik Tjoen, seorang pemikir di PKI justru mendukung Tumiso. "Kamu jangan dengarkan omongannya Oomu (Oey Hay Djoen) itu. Sudah, keinginanmu seperti apa, lanjutkan saja," kata Tjoo Tik Tjoen.

Kegiatan di gereja bekas kandang ayam itu mendapat perhatian Romo Alexander Dirdjosusanto dari Namlea. Romo Alex pun membangun gereja yang lebih layak bagi para tapol yang beragama Katolik. Gereja baru itu diberi nama Santo Paulus di Atas Bukit Karang.

Untuk memperkaya bacaan tentang agama Katolik, Romo Alex menawarkan kepada Tumiso untuk berkunjung ke Namlea setiap hari Minggu. Namun, Tumiso menolaknya.
"Romo, kalau ke Namlea kita setuju, ndak keberatan. Tapi kalau tiap Minggu, ndak bisa Romo," kata Tumiso.
"Lho, kenapa ndak bisa?" tanya Romo Alex.
"Tugas pokok seorang tapol itu di sektor pertanian, bukan di gereja," jawab Tumiso.
"Ah, nanti itu bisa kita bicarakan," balas Romo Alex.
Jawaban Tumiso atas tawaran Romo Alex itu membuat Tumiso diolok-olok oleh teman-temannya. Ia dianggap bodoh karena tidak mau menerima tawaran ke Namlea. Tumiso beralasan, jika ia menerima tawaran itu, barangkali ia bisa kena hukuman.

Namun, Romo Alex tetap mendesaknya untuk ke Namlea agar bisa memperdalam agama Katolik. Akhirnya, Tumiso bersedia dengan syarat ada satu orang lagi yang menemani. Alasannya untuk membantu membawa sayuran ke Namlea, 15 kilogram untuk pastoran dan 15 kilogram untuk susteran.

Usulannya disetujui. Tumiso dan satu tapol lainnya akhirnya ke Namlea setiap Minggu. Namun, setelah empat kali ke Namlea, Tumiso berhenti.
 "Ini ndak bisa berlanjut, sebab Namlea itu impian. Ibarat punya uang ratusan ribu satu kamar, kita tetap tidak bisa ke Namlea. Ke peradaban," ujarnya.
Tumiso mengatakan bahwa tidak adil jika hanya orang Katolik yang diberi kesempatan mengunjungi Namlea.
"Toh yang lain cemburu. Itu seumur hidup orang belum tentu bisa tahu Namlea," ungkapnya.
Tumiso kemudian mengusulkan agar selain dua orang Katolik untuk keperluan belajar agama, diberikan kesempatan pula kepada dua orang lainnya untuk bersama-sama mengunjungi Namlea. Ternyata usulan itu disetujui.

Para tapol akhirnya bisa mengunjungi Namlea secara bergiliran setiap hari Minggu. Kunjungan ke Namlea juga ternyata bisa membuka akses para tapol terhadap informasi di luar kamp. Selain itu, mereka juga bisa mendapat berbagai barang yang dibutuhkan di kamp.
"Kalau turun ke Namlea, pasti ada majalah Tempo, pasti ada kacamata, pasti ada pakaian bekas," sebutnya.
Tumiso pun akhirnya bisa berkelakar kepada Oei Hay Djoen. Yang dulu mengejeknya ketika merintis gereja, saat itu ikut senang karena sering diberi bacaan dari Namlea.

Senin, 30 September 2019

Para Tapol dan Anjingnya


Oleh: Andri Setiawan

Kecintaan para tapol Pulau Buru pada anjing peliharaan mereka memicu "perang".

Tapol di Pulau Buru. (visualdocumentationproject.wordpress.com).
“Leo ini besok kita sembelih,” kata seorang tahanan politik (tapol) Pulau Buru kepada kawan-kawannya.
“Oh jangan! Leo ini kalau masuk hutan, di depan ada ular dia cepet. Jangan, jangan Leo!” sergah majikan Leo.
“Hercules kita potong,” usul yang lainnya.
“Jangan Hercules!” seru majikan Hercules.
Keributan pun terjadi. Setiap sebuah nama diajukan, selalu ada yang menolaknya. Leo, Hercules, dan nama-nama itu adalah nama anjing peliharaan para tapol Pulau Buru. Anjing mana yang akan disembelih besok, bisa menjadi topik perdebatan yang panas.
“Jadi setiap kita mau potong anjing, perang!” kata Lukas Tumiso, seorang bekas tapol Pulau Buru yang kini tinggal di Panti Jompo Waluya Sejati Abadi, Jalan Kramat V, Jakarta Pusat.
Lukas Tumiso ditahan di Pulau Buru sejak Agustus 1969 hingga Desember 1979. Laki-laki berusia 79 tahun ini masih bisa bercerita panjang lebar tentang kondisi Pulau Buru saat ia ditahan, tentang kisahnya menyelamatkan karya-karya Pramoedya Ananta Toer, hingga yang tak kalah menarik, tentang bagaimana para tahanan mendapat asupan daging.

Salah satu sumber daging di kamp adalah dari anjing-anjing yang dipelihara di sana. Sayangnya, setiap anjing tentu saja punya cerita tersendiri bagi pemiliknya.

Ada anjing yang ditemukan dalam keadaan pincang dan dirawat hingga sehat. Ada anjing diberi makan seperti anak sendiri, bahkan mendapat makanan lebih enak dari pemiliknya. Sehingga untuk menyembelih satu ekor anjing saja, mereka harus "perang".
“Akhirnya kita buat arisan. Semua harus setuju arisan. Siapa yang enggak setuju? Kalau enggak, perang!” ujar Tumiso.
Menurut Tumiso, kecintaan mereka terhadap anjing-anjing peliharaannya memang luar biasa. Urusan makanan misalnya, pemilik anjing seringkali mendahulukan anjingnya. Ketika mendapat ikan yang kecil-kecil, para tapol biasanya masih mencari-cari daging ikannya barang cuma secuil. Sedangkan mereka yang punya anjing langsung memberikannya kepada anjing peliharaannya. Bahkan beberapa pemilik mengunyahkan makanan untuk anjingnya agar si anjing menurut.
“Nurutnya setengah mati, pinter, gemuk. Dia lebih cinta anjingnya, dia makan kuahnya aja. Daun singkong yang dihabisin, ikannya buat anjing,” ujar Tumiso.
Sumber daging biasa didapat pula setiap peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus. Setiap tapol mendapat jatah daging dan bisa memilih daging yang mereka inginkan. Sapi, kambing, atau anjing.

Satu ekor sapi, jelas Tumiso, cukup untuk 32 orang, satu orang biasanya mendapat satu rantang daging. Untuk satu ekor kambing, cukup untuk 12 hingga 16 orang, sama halnya dengan anjing.

Tumiso seringkali memilih antrean paling sedikit agar mendapat daging lebih banyak. Sementara itu, barangkali karena banyak tapol yang menyayangi anjing, antrean daging anjing biasanya paling pendek.
“Kambing ada 17, ah pindah sapi. Sapi, sapi berapa? Anjing? Anjing hanya 11 orang,” kata Tumiso, maka ia pun sering memilih antrean daging anjing.

Ingin Kembali ke Pulau Buru


40 tahun berlalu. Lukas Tumiso, bekas tahanan politik itu, ingin kembali ke Pulau Buru.

Oleh: Andri Setiawan

Lukas Tumiso. (Youtube Falcon).

Lukas Tumiso telah meninggalkan kamp tahanan Pulau Buru 40 tahun yang lalu. Sejak sebuah kapal membawanya menjauh dari dermaga Pelabuhan Namlea pada Desember 1979, ia merasa kembali menjadi manusia bebas.

Tumiso ditangkap pasca peristiwa 1965 karena bergabung dalam Resimen Mahasurya yang dianggap pro-Sukarno. Dengan kapal ADRI 10, ia diangkut ke Pulau Buru pada April 1969. Selama sepuluh tahun, ia hidup di pengasingan hingga dibebaskan pada 1979.

Sejak 2004, Tumiso menjalani hidup di Panti Jompo Waluya Sejati Abadi, Jalan Kramat V, Jakarta Pusat. Di Panti yang dari tahun ke tahun mulai sepi penghuni itu, Tumiso seringkali teringat kawan-kawannya di Pulau Buru. Hingga pada 2016, ia kembali menginjakkan kaki ke Pulau Buru.

Pada kunjungan pertama, ia menyempatkan diri mencari makam teman-temannya. Ia merasa miris karena makam teman-temannya ditemukan dalam kondisi tidak terawat. Bahkan beberapa sempat tidak ditemukan.
“Makam teman-teman saya itu terletak di tengah-tengah hutan jati, di tengah-tengah padang rumput,” terang lelaki berusia 79 tahun itu.
Dari kunjungan pertama itu, Tumiso berkeinginan untuk memperbaiki pusara kawan-kawan. Baginya, itu salah satu hal berguna yang bisa ia lakukan di sisa hidupnya.

Tumiso pun berangkat ke Pulau Buru untuk kedua kalinya. Kali ini, Tumiso sangat terkejut karena mendapati makam teman-temannya telah berubah menjadi kubangan celeng (babi hutan). Hal ini membuat Tumiso berbulat tekad untuk mengeksekusi rencananya.

Ia pun mengumpulkan teman-temannya di Jakarta dan meminta bantuan dana. Dana terkumpul sekitar 30 juta dan ia pun berangkat ke Pulau Buru untuk ketiga kalinya. Di Buru, ia bertemu dengan beberapa transmigran untuk meminta izin memperbaiki makam.
“Pak ini kuburan mau saya perbaiki, pendapat bapak bagaimana?” tanya Tumiso kepada Kabul, seorang transmigran Buru.
“Lho jangan tanya saya, tanya sama penghuni,” jawab Kabul.
“Penghuninya siapa?” tanya Tumiso lagi.
“Tanya saja yang di dalam kubur. Coba sampean tanya besok dia sudah njawab,” ujar Kabul.
Tumiso pun mengikuti usulan Kabul. Keesokan harinya, Kabul berkabar, “wonge klecang-kleceng, ngguya ngguyu, seneng (orangnya senyum-senyum, tertawa-tertawa, senang). Eksekusi!”

Tumiso pun langsung bergegas memperbaiki makam-makam itu. Pertama-tama, ia membuat saluran air supaya air yang menggenangi areal makam bisa surut.
“Besok sudah ada informasi dari kubur, penghuni lepas baju kipas-kipas ngguya-ngguyu. Jadi bajunya dilepas dia tertawa-tawa,” kata Tumiso.
Selama sepuluh hari memperbaiki pemakaman, “informasi” dari dalam kubur itu keluar. Tumiso tidak mempermasalahkan benar tidaknya informasi itu. Baginya, hal itu adalah tanda bahwa apa yang dilakukannya itu memiliki arti.
“Tapi apa yang dia ceritakan, satu persatu persona yang ada di sana itu adalah temen-temen saya yang satu, disruduk sapi, mati kena tanduk sapi, ada yang tenggelam, ada yang minum racun, itu muncul semua,” jelasnya.
Pasca perbaikan makam teman-temannya  itu, Tumiso berpikir untuk memperbaiki makam dari unit lain.
“Kalau hanya teman saya yang saya perbaiki makamnya betapa jeleknya nama saya,” kata laki-laki yang dulu menghuni unit 3 bersama Pramoedya Ananta Toer itu.
Kali ini, untuk menjalankan keinginannya, Tumiso berharap bisa sekaligus tinggal di Pulau Buru.
“Akan lebih baik kan kalau kuburan teman-teman saya perbaiki semua dengan catatan saya tinggal di sana. Secara fisik saya masih mampu,” ujarnya.
Menurut Tumiso, terdapat 23 titik lokasi pemakaman tapol di Pulau Buru. Beberapa lokasi yang dekat dengan penduduk transmigran masih terawat, sedangkan pemakaman yang berada jauh di padang rumput dan hutan kondisinya sangat memprihatinkan.

Kini, ia tengah mempersiapkan proposal pembiayaan beternak sapi di Pulau Buru yang hasilnya akan digunakan untuk memperbaiki makam dan hidup sehari-hari di sana.

Di Panti Jompo yang diresmikan Presiden Abdurrahman Wahid itu, ia bersemangat menjelaskan tentang jenis sapi apa yang akan ia ternak, tentang menanam rumput untuk pakan di tebing sungai sekaligus untuk mencegah erosi, serta tentang memanfaatkan jerami yang melimpah pasca panen. Bahkan ia sudah menghitung kebutuhan asupan garam sapi-sapinya nanti.

Tumiso lalu juga bercerita tentang menanam cabai, tomat, terong, mentimun hingga soal mengolah pohon-pohon kelapa yang sudah tua.
“Ambisius ya?” ujarnya tak butuh jawaban. Lukas Tumiso benar-benar ingin kembali ke Pulau Buru.

Kamis, 15 September 2016

Pura-Pura Pingsan agar Tidak Dirazia Tentara


Kamis, 15 September 2016 09:30

TERASING: Tumiso dan para tapol Pulau Buru berperahu menuju tempat pertunjukan orkes dangdut. Foto kiri, Tumiso sekarang. Dia tinggal di rumah jompo eks tapol di Kramat, Jakarta. DOK TUMISO

Penggemar karya-karya Pramoedya Ananta Toer layak berterima kasih kepada Tumiso. Tanpa dia, dunia sastra Indonesia belum tentu bisa menikmati novel-novel masterpiece Pram di Pulau Buru.
FOLLY AKBAR, Jakarta

Tanggal 2 Oktober 1979 adalah hari yang membahagiakan bagi Tumiso. Hari itu, bersama para tahanan politik lainnya di Pulau Buru, dia menghirup udara bebas. Kapal Gunung Jati yang biasa mengangkut jemaah haji menjadi angkutan yang mengantarkannya kembali ke tanah Jawa. Selama 10 tahun (1969–1979) dia diasingkan di pulau terpencil di Maluku tersebut.

Saat bebas itu, jika teman-temannya membawa pulang berbagai barang pribadi, tidak demikian halnya dengan Tumiso. Dia hanya mencangking dua setel pakaian dan sebotol minyak kayu putih.

Yang banyak, karungnya diisi tumpukan naskah novel-novel sahabatnya, Pramoedya Ananta Toer. Mulai Tetralogi Pulau Buru; Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca; hingga novel Arus Balik, Arok Dedes, Ensiklopedi Citrawi Indonesia, dan Mata Pusaran.

Begitu kapal meninggalkan dermaga Pulau Buru, hati Tumiso sangat lega. Pasalnya, dia hampir pasti bisa menyelamatkan karya-karya besar Pram tersebut. Namun, fakta berikutnya berkata lain. Begitu tiba di pelabuhan Surabaya, Tumiso dan 41 temannya langsung dibawa ke Akademi Militer (Akmil) di Magelang. Pramoedya termasuk di dalamnya.
’’Yang lain bebas, tapi 42 tahanan Pulau Buru yang keras kepala tidak dibebaskan,’’ kata Tumiso saat ditemui di panti jompo eks tapol (tahanan politik) di Kramat, Jakarta, Rabu (7/9).
Nah, drama baru dimulai ketika para tapol itu tiba di Akmil Magelang. Semua barang bawaan tapol diperiksa satu per satu. Tentu saja, Tumiso sangat khawatir naskah-naskah karya Pram yang dibawanya akan dirampas bila ketahuan. Maka, saat itulah sandiwara untuk mengelabui aparat pun dia lakukan. 

Sebelum pengecekan dilakukan, Tumiso berpura-pura sakit.
 ’’Saya jatuh dan pura-pura semaput (pingsan, Red), lalu dibawa ke rumah sakit,’’ kenang pria yang kini berusia 77 tahun tersebut. 
Ide itu, rupanya, ampuh. Sebab, perjalanan dengan kapal dari Pulau Buru memang melelahkan. Tentara yang memeriksa pun maklum. Dia langsung ditandu dan dibawa ke rumah sakit bersama barang-barang bawaannya. Tentu saja, dokter yang memeriksanya bingung karena tidak menemukan penyakit di tubuh Tumiso. Untung, dokter itu masih kerabat Tumiso.

Begitu kondisi memungkinkan, Tumiso kembali berakting. Dia ingin bertemu dengan teman-temannya yang sudah diinapkan di asrama Akmil. Nah, untuk memuluskan skenarionya, dia meminta kepada dokter agar dibawa ke asrama.
’’Tapi, saya pura-pura masih sakit sehingga saya pun dibawa ke asrama dengan ditandu,’’ ujarnya, lantas terkekeh. Alhasil, dia berhasil masuk Akmil tanpa pemeriksaan barang-barang.
Dua bulan kemudian, tepatnya 18 Desember 1979, hari kebebasan itu benar-benar diperoleh 42 tapol tersebut. Hal itu tak lepas dari desakan dunia internasional yang mengetahui adanya tahanan Pulau Buru yang belum bebas dan dimasukkan di asrama militer.

Namun, kekhawatiran Tumiso belum selesai. Pasalnya, saat upacara pembebasan di Semarang, tentara bersiap memeriksa barang bawaan para tapol. Saat itu, tentara mulai curiga dengan bawaan Tumiso. 
Lagi-lagi Tumiso beruntung. Sampai upacara selesai, tidak ada tentara yang berinisiatif memeriksa karung pria asal Samarinda yang dibesarkan di Surabaya itu.

Setelah upacara pembebasan, Pram sempat menanyakan kondisi kesehatan Tumiso. ’’Seng (panggilan Tumiso di Pulau Buru, Red), sakit apa?’’ tanya Pram seperti ditirukan Tumiso.
’’Aku gak sakit,’’ jawab Tumiso.
’’Jangan macem-macem,’’ tutur Pram lagi.
’’Kalau aku sehat, buku ini dirampas,’’ jawab Tumiso, lantas tertawa.
’’Bangsat kamu. Saat diperiksa, aku saja sudah ngeri,’’ lanjut Pram.
Sekitar empat bulan kemudian, Tumiso menyerahkan naskah-naskah karya Pram di Pulau Buru ke Penerbit Hasta Mitra. Penerbit tersebut didirikan eks tahanan Pulau Buru, yaitu Hasjim Rachman, Joesoef Isak, dan Pram sendiri.

***
Pertemuan Tumiso dengan Pram di Pulau Buru bukan pertemuan kali pertama. Keduanya dipertemukan oleh kesamaan ideologi sebagai pendukung garis politik Soekarno yang menolak Nekolim (Neo Kolonialisme dan Imprealisme). Kongres serikat pekerja film berhaluan kiri, Sarbufi (Sarikat Buruh Film Indonesia), pada 1962 di Surabaya-lah yang mempertemukan keduanya. 

Sebagai mahasiswa, Tumiso menerjunkan diri ke Resimen Mahasurya. Kelompok mahasiswa semimiliter itu sewaktu-waktu diturunkan untuk mendukung garis politik Soekarno. Sialnya, saat rezim berganti, Resimen Mahasurya ikut terdampak. 
 ’’Saya ditangkap tentara yang melatih saya pada 1965,’’ jelasnya.
Sempat ditawan di Rumah Tahanan Militer Koblen Surabaya dan Pulau Nusakambangan selama empat tahun, Tumiso dipindah ke Pulau Buru pada 2 Agustus 1969. Meski sama-sama berada di unit tiga, pada awal-awal kedatangan (di Pulau Buru), dia belum bisa bertemu Pram. Sebab, Pram yang dari Jakarta mendapat tempat yang berbeda dengan Tumiso yang datang dari Surabaya.

Barulah pada akhir 1969 dia bisa bertemu dengan sosok yang diidolakannya itu.
 ’’Kami sama-sama dipekerjakan di pertanian,’’ kata ayah satu anak tersebut.
 Sejak saat itu, hubungan Tumiso dengan Pram semakin akrab.
Pada awal pengasingannya di Pulau Buru, kata Tumiso, Pram tidak menulis. Sebab, seluruh tapol dikerahkan untuk berproduksi.
 ’’Teman-teman suka bertanya, Pak Pram gak nulis? Pram pun menjawab gak ada waktu, beku, macet, blank,’’ ungkap Tumiso mengingat saat-saat itu.
Baru pada 1972, ada izin dari Kejaksaan Agung yang memperbolehkan Pram untuk menulis.

Sebagai pengagum banyak tokoh hebat, Pram memacu diri dengan banyak membaca buku. Semata-mata untuk mengimbangi tokoh yang dikaguminya. Dalam proses itulah, Pram menemukan sosok Tirto Adhi Soerjo yang tidak banyak diekspos. 

Karena itu, dalam Tetralogi Pulau Buru, Pram menjadikan sosok Tirto Adhi Soerjo sebagai lakon utama. Dalam novel Bumi Manusia, tokoh itu bernama Minke, pribumi yang berpendidikan Eropa.
’’Annelies, Nyai Ontosoroh, dan lainnya itu imajinasi Pram. Hebat kan. Dia mampu menggambarkan situasi pada zamannya,’’ terang Tumiso.
Sempurnanya Tetralogi Pulau Buru, lanjut dia, tidak lepas dari banyaknya masukan yang diterima Pram. Sebab, setiap menulis, Pram selalu membuat rangkap enam.

Naskah-naskah itu lalu diberikan kepada Tumiso, Suprapto, Oey Hay Djoen, dan dua teman tapol lainnya. Hal itu ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada teman-teman Pram untuk memberikan masukan. Selain itu, rangkap enam tersebut dimaksudkan sebagai cadangan apabila ada naskah yang disita aparat.

Tumiso mencontohkan, masukan Suprapto yang ahli hukum kepada Pram soal bagaimana Minke dan Nyai Ontosoroh melawan di pengadilan.
 ’’Tidak ada hukum atau kebiasaan pada zaman itu yang digambarkan melampaui zamannya atau mundur ke belakang,’’ tuturnya.
Beberapa masukan Tumiso juga diakomodasi Pram. Misalnya, soal aksi petani tebu bernama Trunodongso di Sidoarjo yang melakukan protes seorang diri. Sebelumnya, Pram menggambarkan Trunodongso melakukan unjuk rasa secara beramai-ramai.
’’Saya bilang zaman itu belum begitu, orang masih takut Belanda. Kita gambarkan Trunodongso sebagai sosok yang berani,’’ ungkapnya.
 Mendapat kepercayaan besar dari Pram membuat Tumiso tersanjung. Sejak saat itu dia berjanji menyelamatkan naskah-naskah karya Pram agar kelak bisa dibaca masyarakat luas. Sebab, dia tahu, karya Pram sangat baik dan layak dikonsumsi banyak orang.

Karena itu, Tumiso benar-benar merawat dengan baik naskah-naskah tersebut. Dia pun tidak berani meminjamkan naskah itu kepada sembarang orang. 
 ’’Saya dianggap sok ketat. Katanya, Tumiso diberi kepercayaan gitu saja sombong,’’ katanya menirukan omongan miring teman-temannya di Pulau Buru.
Meski begitu, ada pula yang dia pinjami. Itu pun dengan catatan. Yakni, harus menceritakan ke orang lain. 
 ’’Kalau kelak naskah itu gak terbit, tetap ada cerita tentang Pram di penjara,’’ terangnya.
Tumiso bersyukur, pelitnya dia dalam meminjamkan naskah Pram itu berbuah manis. Sebab, naskah-naskah karya sastra fenomenal tersebut akhirnya bisa terbit dan dibaca masyarakat luas. Bahkan diterjemahkan dalam berbagai bahasa asing. 

Walaupun apa yang dilakukannya bermanfaat dan memberikan sumbangsih besar bagi kesusastraan dunia, Tumiso tetap merendah. Menurut dia, apa yang dilakukannya adalah hal biasa.

Kendati begitu, Tumiso mengaku risi jika ada orang yang mengaku-ngaku sebagai penyelamat naskah-naskah karya Pram. Karena itu, dia akhirnya mau membuka suara dalam sebuah forum Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat, yang berafiliasi kekiri-kirian). 
’’Saya yang menyelamatkan, Yang lain omong kosong,’’ ujarnya.
Tak terima, beberapa orang lalu menuntut bukti dari Tumiso. ’’Buku yang diterbitkan Hasta Mitra itu dari saya. Ada surat serah terimanya yang diakui Hasjim Rachman, Joesoef Isak, dan Pram. Tidak ada yang bantah, semua diam,’’ kenangnya.
Pada usianya yang sudah sepuh, fisik Tumiso sebenarnya tergolong masih kuat. Di panti jompo, dia tidak hanya bertugas memasak, tapi juga membereskan kebersihan panti. 
 ’’Saya merasa berguna. Saya ingin terus melakukan sesuatu,’’ tandasnya. (*/c5/ari)

Kamis, 21 April 2016

Beribu Ingatan Tumiso akan Buru


Suriyanto, CNN Indonesia | Kamis, 21/04/2016 19:04 WIB

Seorang anak bermain disekitar dermaga lama Pelabuhan Namlea, Pulau Buru. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Buru, CNN Indonesia -- “Sekarang sudah banyak rumah beratap seng, dulu rumah seng dan atapnya papan hanya milik komandan”
Ungkapan tersebut keluar dari mulut Tumiso, bekas tahanan politik Pulau Buru saat kembali lagi ke pulau pengasingan tersebut. 47 tahun silam, saat ia pertama kali datang ke Buru, rumah paling mewah yang ada cuma beratap seng dan berdinding papan.

Warga menghabiskan senja di pelabuhan baru Namlea, Pulau Buru. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Rumah tersebut cuma bisa dimiliki oleh petinggi militer atau pejabat setempat. Untuk orang biasa, rumah terbuat dari pelepah daun sagu atau gaba-gaba. Sementara daun sagu kering dimanfaatkan untuk menjadi atap rumah.

Daerah paling ramai di Buru adalah Namlea. Kecamatan Namlea merupakan ibu kota Kabupaten Buru. Di sinilah denyut perekonomian dan aktivitas pemerintahan Buru berada.

Di Namlea ada terdapat pelabuhan penyeberangan. Ada yang melayani penyeberangan ke Kota Ambon, ada pula kapal yang melayani penyeberangan antarpelabuhan di Buru, ada juga yang melayani penyeberangan ke luar Maluku.

Menurut Tumiso, sejak dulu ia tiba di Buru, Namlea memang daerah paling ramai. Namlea adalah kota pelabuhan sehingga menjadi persinggahan kapal-kapal yang berlayar di parairan Maluku.

Namun Namlea sekarang jauh berbeda dengan Namlea yang dulu. Kemajuannya cukup pesat. Sebagai pusat pemerintahan di Namlea kini telah berdiri gedung pemerintahan dan infrastruktur lainnya.

Jalan lebar yang menghubungkan Namlea dengan daerah pedalaman buru juga sudah dibangun. Padahal dulu untuk menuju beberapa daerah di pedalaman Buru, masyarakat mengandalkan jalur laut sebelum masuk ke muara Sungai Waeapo.

Pemandangan di kawasan Desa Tatanggo, Pulau Buru. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)


Jalur air juga yang dulu dimanfaatkan para tapol saat pertama kali datang. Tumiso yang saat itu masuk dalam tim penjelajah pertama, menaiki landing craft untuk bisa menjangkau kawasan belantara Buru yang kelak bakal menjadi unit-unit tahanan.

Kini jalan dibangun, dari Namlea menuju Kecamatan Waepo yang berjarak sekitar 40 km hanya dibutuhkan waktu 45 menit. Namun pengendara tak disarankan memacu kendaraanya dengan kecepatan tinggi meski jalanan lengang.

Pasalnya, masih banyak ternak seperti kambing dan sapi berkeliaran yang tiba-tiba menyeberang tanpa memperhatikan kendaraan yang melintas.
Di Kecamatan Waepo, lokasi yang dulu merupakan unit-unit tahanan, kini sudah ramah dihuni para transmigran yang kebanyakan berasal dari Jawa.

Sampai sekarang, nama-nama unit masih banyak dipakai warga sekitar dibandingkan nama resmi desa. Misalnya, nama Unit XV atau unit XVI masih banyak dipakai untuk daerah di Desa Waekasar.

Di kanan dan kiri jalan banyak ditemui hamparan sawah. Buru memang salah satu lumbung padi untuk kawasan Indonesia Timur. Sejak kedatangan para tapol pada tahun 1969, sawah memang terus dicetak di Buru.

Luas sawah di Buru saat ini menurut Tumiso diperkirakan sudah tiga kali lipat dibandingkan dahulu. Selain dicetak menggunakan mesin, saat ini banyak transmigran yang mengelola. Bandingkan dengan jaman dulu saat tapol hanya menggunakan cangkul untuk mencetak sawah.

Belasan ribu tapol diperkirakan Tumiso saat itu bisa mencetak 2.500 hektare sawah dengan kemampuan produksi sekitar 3 ton per hektare.

Dalam situs resmi Kabupaten Buru, tahun 2014 tercatat ada 7.207 hektare sawah dengan jumlah produksi padi 17 ribu ton. Jumlah sawah di Buru ditargetkan terus bertambah hingga 10 ribu hektare. Potensi pertanian yang ada membuat Buru dicanangkan menjadi lumbung padi untuk Maluku.

Proses pembuatan minyak kayu putih secara tradisional, Waeapo, Pulau Buru. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Selain padi, Buru sejak dulu dikenal sebagai penghasil minyak kayu putih. “Jangan mengaku pernah datang ke buru kalau tak bawa minyak kayu putih”, ungkapan tersebut masih berlaku di Buru.
Di bukit-bukit yang ada di Buru, sangat mudah menemukan pohon kayu putih. Daun pohon kayu putih tersebut yang dimanfaatkan untuk membuat minyak.
Pulau Buru saat ini terbagi dalam dua wilayah yakni Kabupaten Buru dan Kabupaten Buru Selatan. Dengan luas 8.473,2 km persegi, Buru saat ini didiami oleh lebih dari seratus ribu jiwa.

Selain warga asli Buru, banyak pendatang di pulau ini terutama para transmigran yang datang sejak 1979. Di Buru akan sangat mudah di temui suku Jawa karena banyaknya transmigran berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Apalagi sejak adanya tambang emas tradisional beberapa tahun lalu. Sebelum tambang emas dilarang, Buru ibarat magnet bagi orang-orang dari sebagian Jawa dan wilayah Timur Indonesia untuk mengadu nasib. Warga setempat juga sempat meninggalkan sawah mereka untuk mencari peruntungan menambah emas.

Aktivitas menambang emas dikawasan Desa Gogorea, Pulau Buru. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Kabupaten Buru terbentuk pada tahun 1999 bersamaan dengan terbentuknya Provinsi Maluku Utara, Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Tahun 2008 ada pemekaran wilayah. Pulau Buru kini dimekarkan dengan adanya satu lagi kabupaten yakni Kabupaten Buru Selatan dengan ibu kota Namrole.

Dengan luas satu setengah kali luas Pulau Bali, Buru diwacanakan menjadi provinsi sendiri lepas dari Provinsi Maluku. (sur)

Legenda Pesakitan Politik Pulau Buru di Mata Warga


Suriyanto, CNN Indonesia | Kamis, 21/04/2016 15:37 WIB

Lukas Tumiso (kanan) bertemu dengan Kabul (kiri) salah satu transmigran gelombang pertama yang masuk ke Pulau Buru. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Buru, CNN Indonesia -- Kisah Buru sebagai pulau pengasingan tahanan politik berakhir pada 1979. Secara bertahap, para pesakitan dipulangkan ke daerah asal usai dipaksa diboyong pada Agustus 1969.

Seiring dengan kembalinya mereka yang dituding terlibat Partai Komunis Indonesia ini, para transmigran -yang kini sama-sama menjadi warga Buru- datang. Seolah sudah direncanakan, para transmigran yang datang melanjutkan mengolah tanah Buru yang dulu dibuka oleh para tapol.

Menurut salah seorang bekas tapol Buru, Tumiso, tapol saat itu diminta membabat pohon-pohon besar di rimba belantara Buru. Dengan alat seadanya, setiap kelompok tapol ditargetkan bisa membabat satu hektare hutan setiap harinya.

Salah satu sudut kawasan pemukiman di Pulau Buru. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Hutan yang telah dibabat kemudian dijadikan sawah dan ladang. Tapol menurut Tumiso juga membuat jalan dan irigasi. Infrastruktur tersebut kini masih ada, bahkan diperluas.
Sebelum dipulangkan, para tapol Buru menurut Tumiso sempat diberi tugas tambahan yakni membangun rumah untuk para transmigran.

Oleh para transmigran, tapol biasa disebut warga karena lebih dulu tinggal di Pulau Buru. Bukan cuma karena lebih dulu ada di Buru, warga transmigran juga menghormati para tapol karena dikenal pintar.
"Kalau tak ada warga (Tapol), entah bagaimana Buru ini bisa maju," kata Kabul salah seorang transmigran di Buru.
Kabul datang tak lama setelah para tapol pulang. Ia tinggal melanjutkan apa yang dulu dirintis oleh para tapol. Tanah sudah subur siap ditanami. Irigasi sudah tersedia.

Karena itu menurut Kabul, tak salah jika tapol yang kini hidup di Buru, sangat dihormati oleh transmigran. Mereka dituakan dan dijadikan tokoh di Buru.

Pariem, transmigran yang lain juga menyatakan hal yang sama. Baginya, transmigran saat ini tinggal memetik manisnya saja, sementara dulu yang bekerja keras membuka lahan adalah tapol.
"Terima kasih kepada warga yang sudah setengah mati membuka lahan buru, jasa mereka besar sekali," kata Pariem. 

Kalau tak ada warga (Tapol), entah bagaimana Buru ini bisa majuKabul (Transmigran Pulau Buru)

Saat bertemu Tumiso di rumahnya yang dulu merupakan bagian dari Unit III, Pariem tak sungkan mencium tangan Tumiso sebagai tanda hormatnya. 
“Dulu bapak yang menderita sekali, sekarang kami tinggal enaknya. Saya tidak tahu bagaiman kalo tak ada warga seperti bapak,” kata Pariyem sambil menyeka air matanya yang mulai menetes.
Pariem mengaku sama sekali tak terbayang dirinya menjadi transmigran di Buru hanya tinggal mengolah lahan yang sudah jadi. Dalam bayangannya, ia harus membuka lahan dengan cara membabat hutan. Namun ternyata, lahan yang diberikan pemerintah sudah jadi dan tinggal ditanami. (sur/sip)

Air Mata Bung So di Pusara Kawan


Suriyanto, CNN Indonesia | Kamis, 21/04/2016 12:54 WIB

Eks tahanan politik Pulau Buru Tumiso di makam temannya di Unit III Pulau Buru. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Buru, CNN Indonesia -- Hampir setengah hari Tumiso memutar langkahnya mencari petunjuk keberadaan Unit III, tempat ia dulu ditahan di Pulau Buru sebagai tahanan politik.

Namun semuanya sudah berubah setelah Pulau Buru ia tinggalkan selama 37 tahun. Beberapa jalan dan aliran sungai masih diingatnya, namun tempat yang kini kembali didatangani sudah berubah.

Nyaris putus asa ia mencari sisa tempat pengasingannya dulu. 
“Pulang saja!” katanya setengah kesal. Namun saat perjalanan kembali, seorang transmigran menginformasikan keberadaan kuburan tua itu.

Makam tapol dari unit 3 tertutup rimbun ilalang dan hutan jati, Waeapo, Pulau Buru, Ambon, Minggu, 6 Maret 2016. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono.

Di hutan jati yang dimaksud Transmigran itu dipenuhi ilalang liar di bawahnya. Jajaran pohon jati sudah setinggi sekitar 5 meter. Usianya diperkirakan sudah belasan tahun.

Tumiso merangsek maju meski tanah di bawah ilalang lebat itu sangat lembab bahkan cenderung berlumpur.

Nisan pertama yang ia temukan atas nama Mardiman. Ia lantas menjelaskan siapa pria yang jasadnya tertanam di bawah nisan itu. 
“Mardiman ini dulu Sekretaris Daerah Yogyakarta, meninggal lantaran sakit,” kata Tumiso.
Di sekitar makam Mardiman juga ditemukan belasan makam lain. Jaraknya hanya sekitar satu meter antarmakam. Beberapa nama yang tertulis di makam itu adalah Seoyadi, Katmo, Sarpin, Samtiar, beberapa nama lain. 

Cita-cita kita belum tercapai, tapi yakinlah penderitaanmu tak sia-sia. Sudah banyak anak-anak muda sekarang yang memahami apa yang kita kerjakan dulu dan siap melanjutkannyaTumiso
(Eks Tapol Pulau Buru)

Kebanyakan dari mereka mati karena sakit. Saat menjadi tahanan, asupan makanan tak sebanding dengan kerja berat yang harus mereka lakukan setiap hari. Para tapol menurut Tumiso membuatkan nisan di atas kuburan rekan-rekan mereka agar tidak hilang dan sewaktu-waktu bisa diziarahi.

Bekas anggota Persatuan Guru Republik Indonesia Non-Vaksentral ini sempat terdiam cukup lama di salah satu makam. Pada nisan tertulis nama Kayun.
Ia tertunduk sambil menitikan air mata duka. Di atas pusara tersebut ia terlihat seperti melepas rindu sambil berucap,
”Yun, cita-cita kita belum tercapai, tapi yakinlah penderitaanmu tak sia-sia. Sudah banyak anak-anak muda sekarang yang memahami apa yang kita kerjakan dulu dan siap melanjutkannya. Saya sengaja kemari untuk menjengukmu dan memastikan makammu baik-baik saja. Sesuai dengan imanmu, semoga kamu bisa damai di sisi Tuhan, Amin”.
Ia mengaku, Kayun merupakan teman akrabnya dulu di Unit III. Pemuda pekerja keras yang paling tidak bisa melihat sesama tahanan diperlakukan kasar oleh tentara. 
“Kayun mati minum racun,” kata Tumiso.
Pemuda asal Kebumen, Jawa Tengah itu ditemukan dengan kondisi mulut berbusa di sebuah gubuk pada pagi hari oleh tapol yang lain.

Tumiso di makam temannya di Gunung Kencur, Pulau Buru. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Tumiso menduga, Kayun tak tahan pada penderitaan yang diterimanya saat menjadi tapol. Ia kerap diminta bekerja keras oleh komandan unit saat itu. Kayun juga paling tak bisa ada tapol yang diperlakukan semena-mena oleh tentara. Pernah suatu kali, Kayun melawan tentara yang berjaga karena tak terima ada tapol tua yang diminta mengangkat pupuk seberat 50 kilogram.
Tumiso menuturkan, di Pulau Buru para tapol memang telah kehilangan segalanya. Menurutnya, tak usah bicara hak asasi ini sini, masih bisa bernafas saja untung.

Jangan coba menatap mata tentara dan selalu patuhi setiap perintah penjaga. Melawan sedikit saja, menurut Tumiso nyawa bisa jadi taruhannya. 
“Hidung saya bengkok sampe sekarang kena popor senapan, dulu habis dihajar tentara, setahun saya tak bisa mencium bau,” katanya
Di hutan jati, di bawah ilalang lebat yang tumbuh liar itu dua puluhan nisan menautkan ingatan Tumiso ke masa lalu. Tumiso beruntung dirinya masih hidup sampai saat ini, bisa mengunjungi teman-temannya yang sudah mati. Bisa menjadi manusia bebas dan mengunjungi Pulau Buru kembali. (sur/sip)

Perjalanan Kembali Eks Tapol ke Pulau Buru


Adhi Wicaksono, CNN Indonesia | Kamis, 21/04/2016 11:52 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah dibebaskan 37 tahun silam dari Pulau Buru, bekas tahanan politik Tumiso kini kembali ke pulau di mana ia pernah diasingkan selama 10 tahun lamanya.

Tumiso di Pantai Sanleko, salah satu tempat pendaratan tapol Pulau Buru, khususnya tapol penghuni Unit IV/Savana Jaya. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Eks tapol Tumiso di Bandara Soekarno Hatta saat akan bertolak menuju Pulau Buru. Setelah 37 tahun bebas, ini adalah perjalanan pertama Tumiso ke Buru. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Jika dulu Tumiso datang ke Buru sebagai pesakitan, kini ia kembali ke pulau buangan sebagai manusia bebas. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Pulau Buru tampak dari udara. Sudah banyak perubahan setelah 37 tahun Buru ditinggalkan tahanan politik yang dulu membuka pulau tersebut. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Tumiso mencari sisa-sia bangunan di kawasan Jiku Kecil, Namlea. Dulu di tempat tersebut berdiri bangunan tempat para tapol transit sebelum dikirim ke barak tahanan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Tumiso berada di Dermaga Lama, Namlea. Dermaga ini merupakan titik pendaratan pertama para tahanan politik di Pulau Buru.  (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Di Pulau Buru, Tumiso menemui temannya sesama bekas tapol yang memilih bertahan hidup di sana dengan menjadi transmigran. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Selain Gatot, ada pula Dasipin, eks tapol yang kini bertahan di Pulau Buru. Saat menjadi tapol, Dasipin mendapat tugas sebagai pengemudi perahu. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Dua sahabat kembali bersua setelah puluhan tahun lamanya. Tumiso menemui Rusman di Pulau buru, sahabat karibnya sesama penghuni barak tahanan di Unit III. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Kalau yang satu ini bernama Yadiono, eks tapol yang memilih menjadi guru honorer di Pulau Buru. Yadiono adalah guru seni musik anak-anak Buru. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Bukan cuma yang hidup, Tumiso juga menyempatkan diri mengunjungi makam sahabat yang sudah wafat. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Senin, 29 September 2014

Jejak Sumbangsih Tapol di Pulau Buru


writer: Lutfi Yudhi - source: Ahlulbaitindonesia.org
29 September, 2014


Lebih dari satu juta orang tewas dibantai pada tragedi 65 dan menjadi salah satu sejarah pembantaian terbesar yang terjadi di dunia. Tragedi 65 adalah catatan hitam bagi sejarah Indonesia.

Tak banyak orang yang berani mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi pada masa itu, selain karena banyaknya versi sejarah yang saling berseberangan, juga stigma dan ancaman serta teror masih terus dilakukan terhadap mereka yang diketahui sebagai mantan anggota PKI dan dianggap bertanggung jawab atas usaha pemberontakan yang mungkin hanya dilakukan oleh sebagian kecil saja dari orang-orang itu.

Beruntung ABI Press berhasil menemui Lukas Tumiso, salah satu mantan Resimen Mahasurya Jawa Timur yang pada tahun 1965 adalah juga Sukwan Irian Barat dengan Nomor Koto 366.

Tumiso bersedia pula menceritakan kisah ketika dia ditangkap dan dibuang ke pulau Buru.

Ada apa pada tahun 1965?

Apa yang terjadi pada tahun 1965, menurut Tumiso adalah diawali pada kejadian pada tahun 1958 yaitu aksi nasionalisasi aset negara dengan mengambil kembali modal asing terutama milik Belanda yang ada di Indonesia pada waktu itu. Di antara aksi yang dilakukan adalah aksi pengambil alihan perusahaan KMB (pelayaran milik Belanda), KLM (penerbangan milik Belanda) dan perusahaan-perusahaan perkebunan seperti Borsume milik Belanda oleh para buruh.

Kala itu para seniman membentuk Pasias (Panitia Aksi Pengganyangan Film Amerika), terutama  film dari AMPAI (American Montion Picture Association of Indonesia) . Sementara para petani lebih produktif dengan meningkatkan hasil pertaniannya, dengan gerakan New Movement Life yang berarti hidup sederhana, sebab pada masa itu Indonesia diboikot oleh Amerika, maka rakyat Indonesia menyederhanakan bahan makanan yang awalnya berupa beras berganti jagung, singkong dan lain sebagainya.

Kaum pemuda pun melakukan gerakan yang sama saat itu dengan melakukan penggalangan dana untuk membeli senjata (Found and Forceses) dengan berbagai cara seperti memberikan tambahan dana untuk tiket bioskop, kereta api, bis dan juga dana patungan dari rakyat untuk membeli senjata. Penggalangan dana ini terutama ditujukan untuk mendukung perebutan Irian Barat.

Pada tahun 1965, setelah ada pengumuman resmi dari Dewan pada tanggal 1 Oktober, semua yang berbau komunis ditangkap. Siapa saja bisa dianggap komunis pada masa itu terutama mereka yang pro dengan Soekarno. Termasuk para pemuda dan rakyat yang mendukung revolusi Soekarno dan melakukan gerakan nasionalisasi pada tahun 1958 pun juga banyak yang ditangkap dengan tuduhan PKI dan telah melakukan pemberontakan.
Meskipun, menurut Tumiso tidak ada yang bisa menjelaskan secara pasti apa yang terjadi pada tahun 1965, baik sejarahwan maupun akademisi.

Penangkapan

Tumiso, yang pada tahun 1965 melanjutkan wajib belajarnya di IKIP Surabaya agar dapat mengajar di SMP dan juga tergabung dalam Resimen Mahasurya yang dianggap pro Soekarno ditangkap dan dibawa ke Kodim di Ambengan, Undaan Wetan. Di Kodim itu Tumiso ditahan beserta ratusan orang lainnya dari seluruh Surabaya. Kodim tersebut awalnya adalah sebuah sekolah Tionghoa dan pada peristiwa 65 diambil alih oleh tentara dan dijadikan Kodim.

Dari sini petualangan Tumiso baru saja dimulai. Dari Kodim, pada tanggal 19 September, Tumiso dipindah ke Koblem bersama 14 orang lainnya dari pemuda rakyat.  Di Koblem mereka diperlakukan dengan status sebagai tahanan militer, bersama militer 519, 517, 518 yang dianggap komunis.

Di tempat inilah tahanan terus bertambah. Akibatnya, jatah makanan bisa dikata semakin sengsara. Jatah makan diberikan hanya sehari dua kali, (tanpa ada sarapan pagi), dengan porsi setara  ¾ gelas air mineral. Itu pun bukan cuma berisi nasi tapi kadang juga bercampur pasir, bahkan kerikil. 
“Jadi kalau tidak dikirim makanan oleh keluarga, matilah kita,” terang Tumiso.
Proses pemeriksaan terus  berjalan, tiap yang diperiksa biasanya dibawa ke Musi 21 (jalan Musi). Kalau sudah diperiksa baru dikirim ke Tahanan Kalisosok. Kondisi di Kalisosok bukannya bertambah baik sebaliknya malah tambah buruk. Jatah makanan sering dirampas oleh para kriminal yang lebih senior dan lebih lama berada di penjara itu. Diperkirakan, jumlah korban meninggal selama di Kodim dan Kalisosok sebanyak 400 orang dari 1000 tahanan yang ada.

Di Kalisosok, Tumiso ditempatkan di tahanan khusus, yang dikumpulkan bersama Husein dan Amank. Kedua orang ini dikenal sebagai jagal manusia tahun 57-58 yang tinggal di Seduri, perbatasan Mojokerto- Krian. Modus para jagal tersebut adalah dengan mengaku pedagang dan melakukan negosiasi dagang di Seduri. Saat bertransaksi itulah para korbannya mereka bunuh. Konon Husein yang telah membunuh sebanyak 76 orang itu sampai dijuluki jagal Seduri.
“Belakangan kita tahu setelah akrab, dia tidak membunuh sebanyak itu,” kata Tumiso.

Ke Pulau Buru

Setelah menempati tahanan Kalisosok, Tumiso kemudian dipindahkan ke Nusakambangan. Baru pada bulan April tahun 1969, dia dibawa oleh Kadri 10 (yang konon merupakan pasukan pembawa misi perdamaian Kongo tahun 1963), melalui Pantai Selatan menuju ke Maluku dan kemudian ke Pulau Buru.

Perjalanan dari Nusakambangan ke Pulau Buru yang direncanakan menghabiskan waktu 7 hari ternyata molor hingga 10 hari akibat ada gangguan pada perahu yang mereka tumpangi. Tentu saja hal itu berdampak pada stok makanan yang ikut juga terganggu.

Akhirnya setelah 10 hari perjalanan sampailah Tumiso bersama rombongan di Teluk Namlea. Ketika sampai di Namlea, kota yang sudah dikenal sejak tahun 800an sebab kota yang terletak di teluk Namlea itu mampu menampung  beberapa kapal perusak dan satu kapal induk.

Para tahanan yang bersama Tumiso kemudian menempati rumah transito di desa Ciku Kecil untuk mengembalikan kondisi tubuh akibat perjalanan jauh dan juga terkena mabuk laut.

Di sini mereka kembali mendapat perlakuan tidak layak, makan dua kali sehari dengan lauk ikan asin yang bercampur dengan kerak besi kapal. Mandi pun mesti memakai air laut, karena tidak ada persediaan air tawar.

Beberapa hari kemudian setelah barak yang disediakan sudah dinyatakan siap, para tahanan dibawa ke Pulau Buru. Terdapat 20 barak yang dibagi untuk 1000 tahanan yang ada. Hari-hari pertama menempati barak, para tahanan tidak diperbolehkan untuk keluar, sebab dikhawatirkan akan melarikan diri. Setelah beberapa hari baru para tahanan boleh pergi keluar-masuk hutan.

Kehidupan Barak Pulau Buru

Hari pertama dan kedua di Pulau Buru tidak ada masalah. Pada hari ketiga para tahanan diwajibkan mencabuti rumput. Ini tantangan berat. Karena alat-alat berkebun saat itu belum ada, sementara tahanan harus mencabuti rumput alang-alang yang di sekitarnya terdapat pohon segitiga yang tajamnya seperti silet dan sewaktu-waktu dapat melukai mereka.

Sedangkan tanah pulau Buru adalah tanah perawan yang belum tersentuh oleh manusia sama sekali.Lukas Tumiko di Pulau BuruBelum lagi suhu di Maluku yang pada malam hari dapat mencapai 18 derajat Celcius, sedangkan pada siang hari di kisaran 42 derajat Celcius. Akibat panas yang sangat menyengat di siang hari, punggung para tahanan pencabut rumput itu pun menjadi terbakar. Di sisi lain, selain kedinginan di malam hari, mereka juga menjadi santapan empuk nyamuk yang ukurannya terbilang jumbo.

Komposisi tahanan di barak 3 tempat Tumiso tinggal, yang terdiri dari anggota DPR, pembantu menteri, dan pegawai tinggi itu berjumlah 100 orang. Ada juga 100 mahasiswa dan sarjana asal Malang dan Yogyakarta.
Sedangkan yang dari Jawa Timur, seperti Babat, Malang, Karesidenan Malang dan Surabaya adalah orang-orang yang selama hidupnya hampir belum pernah mencangkul tanah.

Selain mencabuti rumput savana, mereka juga harus merambah hutan. Karena perladangan hutan akan berhasil hutan dibabat terlebih dulu untuk membuka ladang pertanian.
“Sehari para tahanan ditarget harus dapat satu hektar untuk tiap satu barak yang berarti 100m x 100m. Karena tentara waktu itu tidak bisa menghitung, nah kita usahakan membabatnya itu disebar, yang dianggap oleh tentara itu setengah hektar, sebenarnya seperempat hektar,” kisah Tumiso.
Pembabatan hutan itu dilakukan para tahanan selama 3 bulan hingga bulan Desember.
“Kita ndak dapat segitu, karena jujur saja kita ndak mampu,” terang Tumiso.

Pantangan Angka Tiga

Tentara selalu saja mencurigai setiap gerak-gerik, tingkah laku dan apapun yang dikerjakan oleh para tahanan. Yang paling nyata dan aneh adalah tahanan dilarang membuat ataupun mengatakan angka tiga. Jadi segala hal yang dilakukan oleh para tahanan ini harus menghilangkan unsur angka tiga, baik saat membangun sesuatu maupun dalam pembicaraan antar mereka.
“Saat 17 Agustus, ada lomba dan diberikan aba-aba ‘Siap, satu, dua, empat!’ begitu. Jadi ndak boleh, semua yang bersifat tiga tidak boleh,” kenang Tumiso.
Begitupun dengan tempat ibadah, ada Gereja Protestan, Katholik, kemudian Islam, bila disingkat akan menjadi PKI (Protestan, Katholik dan Islam), ini juga tidak boleh, maka harus ada Wihara, walaupun mungkin tidak ada penganut agama yang harus beribadah ke Wihara.
“Saat mencangkul dan cangkulnya lepas dari gagangnya, untuk benerin harus diberi ganjalan, maka harus dipukul dengan palu, saat memukul pacul, bunyinya  itu menurut tentaranya adalah kode,” lanjut Tumiso.
“Apalagi kalau kita mukulnya tiga kali, udah langsung dihajar sama para tentara.”
Kehidupan di barak dilalui dengan perasaan serba salah oleh para tahanan sebab para tentara selalu saja memiliki alasan untuk menghukum atau memukuli mereka. Seolah kebenaran hanya milik para tentara sementara para tahanan dinilai selalu salah. Maka akibatnya, selalu harus menerima kekerasan yang seringkali tidak jelas apa sebabnya.Lukas Tumiko di Pulau Buru (Tragedi 65)

Kontribusi Tahanan Politik Pulau Buru

Tak bisa dipungkiri bahwa awal kedatangan para tahanan politik ke Pulau Buru tentu merugikan penduduk asli Pulau Buru, sebab saat para tapol ini datang mereka belum memiliki ladang sehingga harus bertahan hidup dengan mengandalkan hutan yang sama dengan para penduduk asli di pulau itu.

Tumiso tak lupa mengisahkan bahwa penduduk asli Pulau Buru banyak yang mengidap penyakit kulit, kaki gajah, malaria dan juga TBC.
“Kita menyadari, di depan penguasa kita itu tahanan, tetapi kita harus berbuat terhadap bangsa kita sendiri,” kata Tumiso.
Maka dengan sembunyi-sembunyi para tapol mengajari mereka cara bercocok tanam yang baik, cara bertani, mengajarkan untuk sedikit demi sedikit meninggalkan cara hidup nomaden (tidak menetap) sehingga  mereka sadar dan mau menetap. Selain itu, para tapol juga membetulkan rumah SOA (Kepala Rumpun).

Struktur pemerintahan yang ada di Pulau Buru pada saat itu adalah satu Bapa Raja, penguasa eksekutifnya Bapa Raja, terus legislatif itu beberapa di antaranya ada Kepala SOA atau Kepala Rumpun, terus ada lagi Kepala Adat, yang  mungkin bertugas layaknya lembaga yudikatif.

Ada juga hal menarik di Pulau Buru, karena perempuan penduduk asli sering diperlakukan ibarat barang dagangan. Contohnya, ibu tiri yang bisa dikawin oleh anak tirinya, juga perkawinan yang bagi perempuan bisa terjadi di umur 8-9 tahun. Uang mahar bisa berupa tombak, parang, kain, petromak, bisa juga piring. Terkait hal ini pun, para tapol juga berusaha menyadarkan perilaku penduduk asli setempat itu.

Bentuk penyadarannya adalah dengan cara yang unik pula. Bila mereka datang ke gubuk tapol di tengah sawah, ladang, atau yang di hutan, mereka akan diberi makan. Caranya, dengan memberi anak-anak makan terlebih dahulu, sebab kalau tidak begitu maka akan dimakan oleh bapaknya dulu. Setelah anaknya selesai makan, baru giliran ibunya yang diberi makan. Setelah ibunya selesai, baru bapaknya.

Kalau misalnya waktu anaknya makan dipelototi oleh bapaknya, maka disuruhlah si anak untuk makan menjauh, menyingkir dari hadapan bapaknya. Begitu juga bila ibunya makan dan dipelototin bapaknya, dia pun akan diminta menyingkir juga. Tinggal bapaknya yang berhadapan dengan para tapol. Sebab, kalau tidak begitu, bapaknya makan kenyang, baru sisanya diberikan kepada istri, anak, dan juga anjingnya.
“Jadi kita kasih tahu, salah itu, anak lebih dahulu,” terang Tumiso.
Para tapol juga memberikan pengobatan cuma-cuma, mengajarkan cara hidup higienis, dengan menunjukkan bahwa ini tidak boleh, itu tidak sehat. Tapi yang harus diingat bahwa cara tapol mengajar itu tidak seperti anak sekolah yang dikumpulin jadi satu kelas.
“Tapi waktu mengajarnya ya asal ada kesempatan. Misalnya ketika ketemu dengan mereka di jalan, kita tanya kemarin pelajarannya apa?”
“Kalau dijawab ‘Ibu Budi,’ ya sudah. Terus kalau mereka mengatakan, ‘beta mau coko (berburu)’, ya sudah, kita biarkanlah mereka pergi.”
“Jadi seperti mengajar anak-anak jalanan itu, sama teknik nya. Nah, lewat interaksi itulah belakangan mereka sudah tau bahwa kita tidak seperti apa yang disampaikan oleh Kodim.”

Membangun Peradaban Pulau Buru

Setelah membabat hutan dan berhasil membuat area sawah seluas 21 x 100 hektar, para tapol kemudian membangun bendungan tanpa semen dan tanpa paku satu pun.

Dari 21 unit yang ada, kurang lebih 15 bendungan dapat dibangun untuk mengairi sawah di sana.

Para tapol berusaha mendorong penduduk asli untuk membentuk suatu peradaban, yang awalnya mereka hidup dengan berpindah kini dengan adanya tanah persawahan dan bendungan, penduduk asli dapat mengolah pertanian menetap. Artinya tidak lagi hidup berpindah, tidak membakar hutan sembarangan.

Para tapol dituntut sabar. Menurut Tumiso ada hal yang mendorong para tapol, bahwa mereka merasa berhutang terhadap rakyat ini. Untuk itu para tapol tergerak membalas kebaikan penduduk asli dengan cara mengajar, menyediakan persawahan, dan membangun jalan.

Jalan yang dibangun para tapol di Pulau Buru yang terjauh berjarak 35 km. Terdapat 4 jalan yang panjang dan belum lagi jalan-jalan kecil lainnya. Total jalan yang dibangun lebih dari 2000 km.

Hasil kerja keras tapol akhirnya mampu membuat Pulau Buru menghasilkan: 200 ton beras kali dua, artinya 400 ton dalam dua semester. Total semua jika dikali 21 barak maka hampir 1000 ton karbohidrat yang dihasilkan dari beras. Belum lagi jagung, lalu yang nabati dari kacang, baik kacang hijau atau kacang kedele.

Ada juga protein hewani seperti telur. Dari 12000 tahanan Pulau Buru itu yang punya ternak minimal satu orang satu ternak ayam. Anggap saja yang bertelur separuh sudah 6000 butir telur. Kalau satu kilo itu isinya 20 butir, maka sudah 300 kwintal telur ayam. Telur bebek anggaplah sama, berarti 6 kwintal, maka per hari juga bisa menghasilkan telur sebanyak 6000 butir.

Sebelumnya, saat belum ada para tahanan yang dibuang ke Pulau Buru, Koramil setempat terlebih dahulu memberikan pengarahan kepada penduduk asli, bahwa nanti akan datang kumpulan orang-orang pembunuh, pokoknya para tapol digambarkan dengan stigma yang jelek-jelek. Tapi setelah para tapol datang dan hidup bersama penduduk asli, pandangan penduduk asli terhadap mereka pun berubah 180 derajat.

Bedjo Untung

Berbeda dengan Lukas Tumiso, Bedjo Untung, juga salah seorang yang menjadi korban rekayasa politik tahun 1965 saat Orde Baru Suharto masih berkuasa. Sehingga Bedjo pun terkena pembatasan hak-hak politik. Bedjo yang pada saat itu masih berumur 17 tahun dijebloskan ke rumah tahanan politik Salemba selama 9 tahun tanpa persidangan. Itu terjadi saat Operasi Kalong tahun 1970 dan dibebaskan saat pembebasan massal tahun 1979 akibat tekanan dunia internasional.

Bedjo Untung 

Sejak pembebasan waktu itu hingga saat ini, eks tapol masih terus mengalami stigma sebagai orang yang dituduh PKI. Maka dari itu Bedjo menuntut dipulihkannya hak-hak mereka, hak politik, hak sosial, dan hak ekonomi.

Di atas kertas memang mereka sudah bebas tapi nyatanya, menurut Bedjo menikah dengan wanita dari keluarga ABRI saja tidak boleh hingga sekarang. jadi secara umum keputusan MK tentang tapol belum disosialisasikan oleh negara, karena negara masih di satu sisi itu seolah-olah sudah menyelesaikan tapi di sisi lain masih tetap menindas para tapol itu.

Stigma

Bedjo saat ini menjadi guru Bahasa Inggris dan juga guru alat musik piano dan gitar klasik yang dipelajarinya selama di penjara. Ia juga memberi les privat yang penhasilannya sekadar untuk bertahan hidup.

Kebetulan murid-murid Bedjo kebanyakan orang asing seperti dari Belanda, Jerman, Perancis dan Amerika. Para muridnya itu pun tak ada masalah dengan latar belakang Bedjo. Malah mereka bersimpati.

Hanya saja, ketika ada tapol yang kemudian aktif dalam perjuangan HAM, seperti halnya Bedjo yang kini mulai dikenal, kadang masih ada orang yang memberi stigma buruk bahkan mengancamnya. Pernah suatu saat ketika Bedjo menjadi salah satu narasumber dalam acara perdebatan di salah satu stasiun TV. Setelah acara tersebut Bedjo mendapatkan ancaman melalui SMS.
“Kemana pun anda pergi, saya habisin,” kata Bedjo, menirukan isi SMS ancaman itu.
Bedjo juga berharap para pemuda membangun negeri ini dengan prinsip-prinsip UUD 1945, bahwa ada kesetaraan, dan ada toleransi.
“Maka dari itu pegang terus UUD 45, sebagai pegangan kita bersama, tanpa membedakan golongan, membedakan agama, semua untuk Indonesia. Barulah dengan begitu, kita bisa mewujudkan cita-cita revolusi, cita-cita negara sesuai dengan amanat Bung Karno,” tegas Bedjo.
Sementara itu Tumiso berpesan bahwa ada kalanya kita harus melupakan masa lalu, namun ada kalanya kita juga harus mengingatnya agar ada catatan yang dapat membuat kita tetap menjaga bangsa yang besar ini. Menurut Tumiso, kita harus tetap optimis menghadapi masa depan.
“Kehebatan Soeharto itu lupakan, sebab dia lebih banyak berbuat tidak hebat,” tukas Tumiso.
Lukas Tumiso dan Bedjo Untung adalah saksi sejarah hitam Indonesia yang dapat memberikan pelajaran penting bagi penerus bangsa ini. Pelajaran agar tragedi hitam 65 tidak terjadi lagi, dan agar masyarakat Indonesia tidak lagi kehilangan nyawa dengan percuma. Dan yang jauh lebih penting lagi adalah agar masyarakat Indonesia dapat lebih kritis lagi dalam membaca sejarah.

[islamic-sources/Lutfi/Yudhi/Ahlulbaitindonesia.org]