HUTAN MONGGOT

“Menurut taksiran, korban yang dieksekusi dan dibuang di lokasi ini tak kurang dari 2.000 orang”, kata saksi sejarah sambil menunjukkan lokasinya [Foto: Humas YPKP]

SIMPOSIUM NASIONAL

Simposium Nasional Bedah Tragedi 1965 Pendekatan Kesejarahan yang pertama digelar Negara memicu kepanikan kelompok yang berkaitan dengan kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66; lalu menggelar simposium tandingan

ARSIP RAHASIA

Sejumlah dokumen diplomatik Amerika Serikat periode 1964-1968 (BBC/TITO SIANIPAR)

MASS GRAVE

Penggalian kuburan massal korban pembantaian militer pada kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66 di Bali. Keberadaan kuburan massal ini membuktikan adanya kejahatan kemanusiaan di masa lalu..

TRUTH FOUNDATION: Ketua YPKP 65 Bedjo Untung diundang ke Korea Selatan untuk menerima penghargaan Human Right Award of The Truth Foundation (26/6/2017) bertepatan dengan Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Korban Kekerasan [Foto: Humas YPKP'65]

Tampilkan postingan dengan label Holocaust. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Holocaust. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Februari 2020

Tentara Jerman Boleh Tolak Perintah jika Berpotensi Langgar HAM


Oleh: Tony Firman - 13 Februari 2019

Kanselir Jerman Angela Merkel telah dilayani oleh tentara dari Jerman di Angkatan Darat Jerman yang dipimpin oleh NATO di pangkalan militer Rukla sekitar 100 km (62,12 mil) barat ibukota Vilnius, Lithuania. AP Photo / Mindaugas Kulbis

Personel Bundeswehr dibolehkan menolak perintah atasan jika dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan.

Sejak Adolf Hitler mengambil alih kekuasaan pada 1933, Jerman perlahan diubah menjadi negara polisi. Semuanya diatur ketat dalam garis besar haluan partai Nazi yang bercorak fasis-militeristik.

Sejak 1934, Hitler tidak hanya menjabat kanselir, tapi juga presiden. Dua jabatan itu bersifat absolut di tangannya sebagai pemimpin tertinggi dan tunggal (Führer) yang tengah membangun Jerman Raya yang bebas dari pengaruh Yahudi dan Komunis.

Hitler paham betul ambisinya mustahil tercapai tanpa militer, paramiliter, polisi dan intelijen dengan otoritas yang besar. Karena itulah Nazi mengkoordinasikan ulang angkatan bersenjata ke dalam tubuh Wehrmacht, mendirikan organisasi paramiliter seperti Schutzstaffel (SS) dan Sturmabteilung (SA), serta polisi rahasia Gestapo.

Pada 2 Agustus 1934, Hitler lantas mengubah isi sumpah jabatan pengangkatan personel Angkatan Darat. Loyalitas personel yang awalnya terarah ke Republik, bendera, dan konstitusi kini berpindah ke Hitler sang Führer.
Perhatikan isi sumpah jabatan militer Wehrmacht: "Aku bersumpah demi Tuhan Yang Mahakuasa, sumpah suci ini: Aku akan memberikan kepatuhan tanpa syarat kepada Führer Reich Jerman, Adolf Hitler, Panglima Tertinggi Wehrmacht, dan sebagai prajurit pemberani, aku akan siap kapan pun juga untuk mempertaruhkan hidupku demi sumpah ini.
Mulanya, sebelum diubah Hitler, sumpah jabatan prajurit berbunyi: "Aku bersumpah demi Tuhan Yang Mahakuasa, sumpah suci ini: Aku akan selalu setia dan jujur melayani rakyat dan negaraku dan sebagai prajurit pemberani aku akan akan siap kapan pun juga untuk mempertaruhkan hidupku demi sumpah ini."

Seorang tentara Jerman era Nazi dihadapkan pada beban berat. Ia wajib mematuhi perintah atasan, termasuk perintah untuk menghabisi warga sipil yang tidak berdaya. Jika gagal melaksanakan tugas, ia akan harus siap dihukum, bahkan dieksekusi mati. Pilihannya praktis hanya dua: siap-siap jadi kejam tanpa ampun atau dibunuh.

Namun, sekalipun aturannya keras, tak sedikit tentara yang membangkang. Buku Military Psychology: Concepts, Trends and Interventions (2016) yang disunting oleh Nidhi Maheshwari dan Vineeth V. Kumar menyebutkan angkatan bersenjata Jerman mengeksekusi sekitar 15.000 prajurit yang dianggap membelot atau tak mematuhi perintah atasan. Sebanyak 50.000 lainnya bahkan dieksekusi karena melakukan kesalahan kecil. Tentu tak semua pembangkang dieksekusi. Sebagian harus membayarnya dengan kemalangan hidup.

Sejarawan Northern Arizona University David H. Kitterman menemukan 153 tentara Jerman yang menolak perintah untuk mengeksekusi orang Yahudi, sandera, kaum partisan (pejuang antifasis), atau tahanan perang.

Letnan Satu (Lettu) Klaus Hornig adalah salah satunya. Menurut buku Perpetrators: The World of the Holocaust Killers (2017) karya Günter Lewy, Hornig berdinas di Batalyon Polisi 306. Pada 1941, ia dikirim ke Lublin, Polandia, yang saat itu diduduki Nazi. Di sana, ia diperintahkan untuk menembak 780 tahanan perang, termasuk orang Yahudi. Nurani Hornig bergejolak. Ia memutuskan menolak perintah. Alasannya, perintah itu melanggar Pasal 42 dalam Kode Etik Militer Jerman.

Akhirnya Hornig ditarik dari Lublin dan dikirim ke Frankfurt, Jerman. Di sana ia dijatuhi hukuman dengan dakwaan "merusak moral institusi". Sejak itu, hidupnya berpindah-pindah dari penjara ke penjara. Ia sempat dijebloskan ke kamp konsentrasi Yahudi. Tragisnya, setelah Nazi kalah perang, Hornig sempat dicurigai oleh para tahanan kamp sebagai mata-mata tentara Jerman.


Sebenarnya, Pasal 42 yang menjelaskan tentang batasan seorang prajurit yang dapat menolak perintah alasan dengan alasan-alasan tertentu sudah ada dalam KUHP Militer Jerman sejak 1872.

Dikutip dari buku Robert B. Kane berjudul Disobedience and Conspiracy in the German Army, 1918–1945 (2002), Pasal 42 berbunyi: "Jika perintah eksekusi yang diberikan sesuai tugas melanggar undang-undang hukum pidana, atasan yang memberikan perintah itu sendiri yang bertanggung jawab.
Namun, bawahan yang mematuhi perintah dapat dihukum atas tuduhan sebagai kaki tangan jika ... dia tahu bahwa perintah tersebut melibatkan suatu tindakan yang merupakan kejahatan atau pelanggaran sipil dan militer."

Namun, sejak naiknya Hitler menjadi orang nomor satu di Jerman, aturan tersebut diterabas. Beberapa pasal dalam Hukum Pidana Militer lainnya juga diubah guna menyesuaikan program Nazi meski dalam kasus Pasal 42, sangat sedikit yang diubah.

Pasal tersebut dilanggar tiap kali terjadi perang besar. Misalnya saat Perang Dunia I.

Gary Sheffield, profesor dari University of Birmingham yang meneliti topik-topik kejahatan perang, menyebutkan bahwa selama Perang Dunia I Jerman mengeksekusi 48 prajurit yang dianggap membangkang. Negara-negara lain yang terlibat dalam perang tersebut pun melakukan hal yang sama.

Dalam pelatihan dasar militer memang terdapat doktrin tentang kewajiban menjalankan perintah atasan tanpa syarat. Namun, pada titik inilah Jerman pasca-Perang Dunia II mengambil jalan yang berbeda.

Humanis Pasca-Nazi

Setelah keok pada Perang Dunia II, Jerman melakukan proses
 denazifikasi untuk melenyapkan sisa-sisa kebudayaan fasis yang melekat pada seluruh aspek kehidupan sosial.

Proses denazifikasi, angkatan bersenjata Jerman beserta paramiliternya dibubarkan. Segala peralatan tempur yang dipanggul Wehrmacht dilucuti. Jerman Barat butuh waktu sampai satu dekade untuk membentuk angkatan bersenjata baru bernama Bundeswehr pada 1955.

Salah satu tantangan berat Bundeswehr adalah memastikan tentara tidak akan menjadi “negara di dalam negara” seperti yang sudah terjadi di era sebelumnya. Tak heran, di beberapa kota, orang yang memakai atribut atau seragam militer di beberapa kota malah mengundang tatapan aneh. Beberapa bahkan dihadiahi bogem mentah dari penduduk setempat.

Pasca-Perang Dunia II, masyarakat Jerman (khususnya Jerman Barat) memang tak begitu ramah terhadap hal-hal yang berbau militer.

Pembaruan dalam tubuh Bundeswehr juga masih terasa hari ini, misalnya dalam pengurangan personel dari yang mulanya 250.000 pada 2010, menjadi 185.000 tujuh tahun kemudian. Lagi-lagi, para prajurit Bundeswehr juga berhak menolak perintah atasan apabila dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan. Dasar penolakannya termaktub dalam Peraturan 154 tentang Kepatuhan pada Perintah Tertinggi sebagaimana tertera dalam buku panduan militer Jerman (1992).

Di situ tertulis bahwa tentara Jerman bisa menolak perintah atasan jika: 1) merendahkan martabat manusia dari pihak ketiga atau penerima perintah; 2) tidak ada gunanya bagi kesatuan; 3) dalam situasi tertentu di mana prajurit tidak bisa dengan layak menjalankan perintah atasan.

Yang lebih tegas lagi: tentara Jerman “dilarang mematuhi perintah jika perintah itu dapat menyebabkan kejahatan.”

Prajurit yang menolak perintah atasan dengan kondisi-kondisi di atas tak dapat dikenai hukuman. Perintah bahkan bisa ditolak dalam situasi pertempuran langsung sekalipun.

Pada 2007 batasan penolakan perintah kembali dirumuskan oleh Majelis Rendah Parlemen (Bundestag). Dalam diskusi tersebut disebutkan bahwa prajurit Angkatan Bersenjata Federal Jerman wajib melaksanakan perintah dengan sungguh-sungguh. Menolak perintah atasan juga tidak dibenarkan jika hanya karena perbedaan pandangan pribadi. Di sisi lain, kewajiban itu tak menuntut kepatuhan tanpa syarat. Prajurit tetap diberi ruang untuk memikirkan konsekuensi perintah atasan.

Hukum militer Jerman mengajarkan bagaimana seorang prajurit diajak berpikir terlebih dahulu ketika menerima perintah dari atasan, alih-alih sekadar menjalankannya.

Bukan artinya Bundeswehr bebas dari masalah. Beberapa kasus telah merusak reputasinya. Pada 2004 lalu, misalnya, media memberitakan perploncoan dengan penyiksaan terhadap calon prajurit. Penyiksaan dilakukan dengan menyiram air ke kepala calon prajurit yang sudah dibungkus dengan kain dan dalam keadaan tubuh terikat. Ada pula yang disetrum hingga trauma.

Pada 2017 publik Jerman digegerkan dengan laporan Kementerian Pertahanan Jerman mengenai pelecehan seksual terhadap sejumlah personel baru perempuan. Prajurit perempuan ini disuruh menari erotis di sebuah kamar di barak. Saat mengikuti pembelajaran di kelas, mereka juga disuruh telanjang, payudara serta area genitalnya digerayangi dan difoto. Para pelaku kemudian dimutasi.

Di luar kasus-kasus di atas yang lazim terjadi di banyak institusi militer di berbagai dunia, kebrutalan rezim Nazi tampaknya telah mendorong Jerman untuk memberi ruang bagi tentara agar berpikir masak-masak ketika mendapat perintah dari atasan.

Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf

Kebrutalan rezim Nazi telah mendorong tentara Jerman untuk berpikir masak-masak ketika mendapat perintah dari atasan.

Kamis, 15 Agustus 2019

Jerman akan melakukan pembayaran tambahan untuk korban Holocaust


15.08.2019 - Author Chase Winter


Ratusan euro tambahan per bulan akan diberikan kepada sekitar 5.000 korban Holocaust di Israel. Lebih dari 200.000 korban Holocaust masih tinggal di negara itu.

Jerman akan melakukan pembayaran tambahan kepada para penyintas Holocaust, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan pada hari Kamis.
"Pemerintah Jerman baru saja memberi tahu kami bahwa mereka akan memberikan suplemen kepada ribuan korban Holocaust: Ratusan euro per bulan. Ini penting. Orang-orang ini layak mendapatkannya. Saya berterima kasih kepada pemerintah Jerman," kata Netanyahu di Twitter.
Netanyahu mengatakan uang akan ditambahkan ke dana yang sudah disediakan oleh pemerintah Israel.

Kementerian Keuangan Jerman mengatakan kepada kantor berita DPA bahwa lebih dari 5.000 orang akan menerima pembayaran tambahan.

Diperkirakan 212.300 orang yang selamat dari Holocaust masih tinggal di Israel, menurut badan statistik negara itu.

Sekitar enam juta orang Yahudi tewas di kamp-kamp konsentrasi Nazi atau dibunuh oleh unit komando bergerak Jerman dan penyakit selama Perang Dunia II.

Selasa, 02 Juli 2019

Jerman memperluas kompensasi Holocaust untuk memasukkan pasangan yang selamat


02.07.2019 -  Rebecca Staudenmaier


Sampai sekarang, pembayaran kepada korban Holocaust berhenti ketika mereka meninggal - seringkali meninggalkan pasangan mereka tanpa sumber penghasilan utama. Pemerintah Jerman sekarang telah menyetujui untuk pertama kalinya untuk memperpanjang kompensasi.

Pasangan dari korban selamat Holocaust yang telah meninggal sekarang akan dapat menerima pembayaran kompensasi dari pemerintah Jerman, menurut organisasi yang menangani klaim untuk korban selamat Holocaust Yahudi.

Konferensi yang berbasis di New York tentang Klaim Material Yahudi Terhadap Jerman merilis sebuah pernyataan pada hari Senin, mengatakan bahwa Berlin setuju untuk terus membayar pensiun kepada pasangan yang masih hidup hingga sembilan bulan setelah kematian pasangan mereka.

Sebanyak 30.000 orang diperkirakan akan memenuhi syarat, dengan sekitar 14.000 pasangan diperkirakan akan diberikan pembayaran secara surut, kata negosiator Konferensi Klaim Greg Schneider kepada Associated Press. 
"Kami memiliki korban yang baru saja bertahan selama bertahun-tahun," kata Schneider. "Penghasilan tambahan sembilan bulan ini memberi perlindungan bagi keluarga korban untuk mengetahui bagaimana menghadapi keadaan baru mereka," tambahnya.
Sebelumnya, pembayaran kompensasi dihentikan ketika korban Holocaust meninggal, yang seringkali meninggalkan pasangan mereka tanpa sumber penghasilan utama.

Sejak 1952, pemerintah Jerman telah membayar lebih dari $ 80 miliar (€ 71 miliar) dalam bentuk pensiun dan pembayaran kesejahteraan sosial kepada orang-orang Yahudi yang menderita di bawah rezim Nazi.

Memorial Holocaust



Bidang besar stelae di pusat ibukota Jerman dirancang oleh arsitek New York Peter Eisenmann. Hampir 3.000 balok batu memperingati enam juta orang Yahudi dari seluruh Eropa yang dibunuh oleh Sosialis Nasional.


Pembayaran untuk mereka yang menyelamatkan orang Yahudi

Di awal lain, pemerintah Jerman juga setuju untuk membayar dana Konferensi Klaim untuk apa yang disebut Orang-Orang Kafir yang Benar - non-Yahudi yang membantu orang-orang Yahudi selamat dari Holocaust.

Sekitar 277 Orang-orang bukan Yahudi yang Benar masih hidup sampai sekarang, menurut Schneider, menambahkan bahwa banyak yang membutuhkan bantuan keuangan di usia tua mereka.

Pemerintah Jerman juga setuju untuk memberikan tambahan € 44 juta ($ 49,7 juta) dalam pendanaan untuk layanan kesejahteraan sosial - sebesar total € 524 juta untuk tahun 2020.

Dana tersebut memberikan bantuan keuangan bagi sekitar 132.000 korban Holocaust Yahudi di seluruh dunia, termasuk perawatan di rumah untuk lebih dari 78.000 orang, kata Konferensi Klaim.
"Peningkatan manfaat ini dicapai dengan kerja keras delegasi negosiasi kami, termasuk kompensasi tambahan dan pendanaan yang lebih besar untuk layanan sosial, akan membantu memastikan martabat di tahun-tahun terakhir para penyintas," kata Presiden Konferensi Klaim Julius Berman dalam sebuah pernyataan.
"Ini tetap merupakan keharusan moral kita untuk terus berjuang selama masih ada yang selamat dengan kita," tambahnya.

Minggu, 05 Mei 2019

Menstruasi dan Holocaust



Periode adalah fakta kehidupan, tetapi sedikit dibicarakan. Bagaimana para wanita di kamp konsentrasi mengatasi masalah pribadi yang dipublikasikan dalam keadaan paling mengerikan dan ekstrem?

 ‘Penugasan ke Buruh Budak’, Auschwitz, Polandia, c.1940. Museum Peringatan Holocaust AS.

Menstruasi jarang menjadi topik yang terlintas dalam pikiran ketika kita berpikir tentang Holocaust dan sebagian besar telah dihindari sebagai bidang penelitian sejarah. Ini disesalkan, karena periode adalah bagian sentral dari pengalaman wanita. Kesaksian lisan dan memoar menunjukkan bahwa wanita merasa malu mendiskusikan menstruasi selama berada di kamp konsentrasi, tetapi, pada saat yang sama, mereka terus mengangkat subjek, mengatasi stigma yang melekat pada mereka.

Biasanya, menstruasi telah dilihat sebagai masalah medis yang harus diatasi daripada sebagai kejadian alami dan bagian dari kehidupan. 
Sejarawan medis, misalnya, telah mengeksplorasi eksperimen paksa dalam sterilisasi yang dilakukan di Auschwitz. Sabine Hildebrandt meneliti penelitian patolog Hermann Stieve, yang melakukan percobaan pada tahanan politik wanita yang menunggu eksekusi di Plötzensee. Stieve melihat efek stres pada sistem reproduksi. Demikian pula, Anna Hájková telah menulis tentang penelitian tahanan Theresienstadt dan tabib Yahudi FrantiÅ¡ek Bass tentang amenorea, hilangnya menstruasi, yang berfokus pada bagaimana hal itu disebabkan oleh kejutan penahanan. Menariknya, bagaimanapun, hampir semua penelitian ini membahas ovulasi (dan kekurangannya) daripada menstruasi, meskipun keduanya merupakan bagian dari fungsi biologis yang sama.

Periode berdampak pada kehidupan perempuan korban Holocaust dalam berbagai cara: bagi banyak orang, menstruasi dikaitkan dengan rasa malu berdarah di depan umum dan ketidaknyamanan berurusan dengan itu. Periode juga menyelamatkan beberapa wanita dari pelecehan seksual. Demikian pula, amenorea bisa menjadi sumber kecemasan: tentang kesuburan, implikasi bagi kehidupan mereka setelah kamp dan tentang memiliki anak di masa depan.

Argumen yang banyak dikutip dalam beasiswa Holocaust, yang dibuat oleh Hannah Arendt, adalah bahwa rezim totaliter dari kamp-kamp menghancurkan solidaritas manusia, menjadikannya tempat yang sangat terpencil. Tetapi, bertentangan dengan pandangan ini, periode dapat memberikan momen ikatan dan solidaritas di antara para tahanan: banyak wanita yang lebih tua memberikan bantuan kepada remaja, yang mengalami periode pertama mereka sendirian setelah keluarga mereka dibunuh. Ketika kita mencarinya, banyak orang yang selamat berbicara dengan sangat terbuka tentang menstruasi mereka. Memiliki atau tidak memiliki menstruasi dapat membentuk pengalaman sehari-hari di kamp.

Apa itu wanita?

Setelah dideportasi ke kamp dan ghetto, karena kekurangan gizi dan syok, sejumlah besar korban Holocaust perempuan usia reproduksi berhenti menstruasi. Banyak yang takut bahwa mereka akan dibiarkan tidak subur setelah tubuh mereka dipaksa untuk mencapai batas mereka, membuat hubungan intrinsik antara periode dan kesuburan terlihat dan semakin menjadi pusat kehidupan mereka. Gerda Weissman, yang berasal dari Bielsko di Polandia dan berusia 15 tahun selama penahanannya, kemudian mencerminkan bahwa alasan utama dia ingin bertahan hidup adalah karena dia ingin punya anak. 
Dia menggambarkannya sebagai 'obsesi'. Demikian pula, humas Prancis, pejuang perlawanan dan penyintas Auschwitz Charlotte Delbo menyebutkan sebuah diskusi yang berlangsung di antara ruangan yang penuh dengan wanita:

Menyedihkan untuk tidak melewati masa-masa najis itu ... Anda mulai merasa seperti wanita tua. Dengan takut-takut, Big Irene bertanya: "Dan bagaimana jika mereka tidak pernah kembali sesudahnya?" Mendengar kata-katanya, riak ngeri menyelimuti kami ... Umat Katolik menyeberang diri mereka sendiri, yang lain membaca Shema; semua orang berusaha mengusir kutukan ini yang dipegang Jerman atas kami: kemandulan. Bagaimana mungkin orang tidur setelah itu?

Reaksi-reaksi ini mencerminkan keragaman agama dan budaya, menunjukkan bahwa terlepas dari kepercayaan, budaya atau kebangsaan, itu adalah kekhawatiran semua orang. Sejarawan literatur Holocaust S. Lillian Kremer berpendapat bahwa, selain rasa takut menjadi tidak subur, ketidakpastian para tahanan mengenai apakah kesuburan mereka akan kembali jika mereka selamat membuat hilangnya menstruasi sebagai 'serangan psikologis ganda' pada identitas wanita.

Setelah masuk ke kamp, ​​tahanan diberi pakaian tak berbentuk dan kepalanya dicukur. Mereka kehilangan berat badan, termasuk dari pinggul dan payudara, dua area yang umumnya dikaitkan dengan feminitas. Kesaksian dan memoar lisan menunjukkan bahwa semua perubahan ini memaksa mereka mempertanyakan identitas mereka. Ketika merenungkan waktunya di Auschwitz, Erna Rubinstein, seorang Yahudi Polandia yang berusia 17 tahun ketika berada di kamp, ​​bertanya dalam memoarnya, The Survivor in Us All: Empat Saudari Muda dalam Holocaust (1986): 'Apa itu perempuan tanpa dirinya? kemuliaan di kepalanya, tanpa rambut? Seorang wanita yang tidak menstruasi? '

Gambar tanpa judul oleh Nina Jirsíková, 1941. Peringatan dan Peringatan Ravensbrück / SBG, V780 E1.

Hanya karena komersialisasi kejadian fisik alami, kita sekarang memiliki sumber daya seperti pembalut dan tampon yang secara khusus diarahkan untuk mengurangi 'ketidaknyamanan' menstruasi. Istilah-istilah seperti 'peralatan sanitasi' menunjukkan bahwa menstruasi diperlakukan sebagai masalah kesehatan dan kebersihan - sesuatu yang harus disanitasi. 
Kenyataan di kamp-kamp itu, bagaimanapun, berarti bahwa menstruasi sulit untuk dihindari atau disembunyikan. Sifatnya yang tiba-tiba di depan umum mengejutkan banyak wanita dan membuat mereka merasa terasing. Hambatan tambahan adalah kurangnya kain dan kurangnya kesempatan untuk mencuci. 

Trude Levi, seorang guru pembibitan Yahudi-Hongaria, yang saat itu berusia 20, kemudian mengenang: 'Kami tidak punya air untuk mencuci diri, kami tidak punya pakaian dalam. Kita tidak bisa kemana-mana. Semuanya menempel pada kami, dan bagi saya, itu mungkin hal yang paling tidak manusiawi dari segalanya. ' Banyak wanita berbicara tentang bagaimana menstruasi tanpa akses ke persediaan membuat mereka merasa tidak manusiawi. Ini adalah 'kotoran' spesifik dari menstruasi lebih dari kotoran lainnya, dan fakta bahwa darah menstruasi mereka menandai mereka sebagai wanita, yang membuat para wanita ini merasa seolah-olah mereka adalah tingkat terendah kemanusiaan.

Penghinaan itu berlanjut dengan perjuangan menemukan kain lap. Julia Lentini, seorang Romani berusia 17 tahun dari Biedenkopf di Jerman, menghabiskan bulan-bulan musim panasnya bepergian ke seluruh negeri bersama orang tua dan 14 saudara kandungnya. Dia ditempatkan pada detail dapur selama waktunya di Auschwitz-Birkenau dan kemudian Schlieben. Dia membahas dalam kesaksiannya bagaimana wanita harus belajar trik untuk bertahan hidup ketika datang ke menstruasi di kamp. 

'Kamu mengambil slip pakaian dalam yang mereka berikan padamu, merobeknya dan membuat kain lap kecil, dan menjaga kain-kain kecil itu seperti emas ... kamu membilasnya sedikit, meletakkannya di bawah kasur dan mengeringkannya, maka tidak ada orang lain yang bisa mencuri kain kecil. ' Kain itu berharga dan, karena itu, mereka tidak kebal terhadap pencurian. Beberapa orang mendapat kompensasi dengan menggunakan bahan lain. Gerda Weissman mengenang, 'Itu hal yang sulit karena Anda tidak punya persediaan barang, Anda tahu. Anda harus menemukan selembar kertas kecil dan beberapa barang dari bawah loos. '

Kain hampir bisa dianggap memiliki ekonomi mikro sendiri. Selain dicuri, mereka dibagikan, dipinjam, dan diperdagangkan. Kesaksian Elizabeth Feldman de Jong menyoroti nilai kain bekas. Tidak lama setelah dia tiba di Auschwitz, haidnya hilang. Namun, saudara perempuannya terus menstruasi setiap bulan. Eksperimen yang melibatkan suntikan di dalam rahim adalah hal biasa, tetapi jika seorang wanita dalam masa haid dokter sering menghindari operasi, menemukan itu terlalu berantakan. 

Suatu hari, Elizabeth dipanggil untuk menjalani operasi. Tidak ada pakaian bersih karena kesempatan untuk mencuci terbatas, jadi Elizabeth mengenakan pakaian saudara perempuannya dan menunjukkan kepada dokter, memberi tahu dia bahwa dia mendapat haid. Dia menolak untuk beroperasi. Elizabeth menyadari bahwa dia dapat menggunakan situasi saudara perempuannya untuk menyelamatkan dirinya dari eksperimen dan melakukannya tiga kali lagi di Auschwitz.

Rasa malu dan keselamatan

Livia Jackson, yang belum cukup umur untuk menstruasi, merasa jijik saat melihat darah mengalir di kaki gadis lain selama absen, "Aku lebih baik mati daripada membiarkan darah mengalir di kakiku." Reaksinya menunjukkan sikap yang sama: meskipun kurangnya akses ke persediaan untuk membendung aliran menstruasi mereka bukan kesalahan mereka, banyak wanita masih merasa malu.

Cendekiawan Breanne Fahs berpendapat bahwa tubuh perempuan dipandang 'bocor dan merepotkan' dan fungsi tubuh mereka dipandang tidak nyaman, tidak menyenangkan, dan tidak higienis. Laki-laki, di sisi lain, cenderung menerima pujian untuk sekresi mereka: air seni, perut kembung dan air mani dapat dilihat sebagai lucu, bahkan seksi. Namun gagasan bahwa periode-periode itu menjijikkan bisa menyelamatkan perempuan selama Holocaust agar tidak diperkosa. Diskusi klasik Doris Bergen tentang kekerasan seksual di Holocaust mencakup contoh menarik tentang dua wanita Polandia-Yahudi yang diserang oleh tentara Wehrmacht:

Pada 18 Februari 1940 di Petrikau, dua penjaga ... menculik orang Yahudi Machmanowic (usia delapan belas) dan orang Yahudi Santowska (usia tujuh belas) dengan todongan senjata dari rumah orang tua mereka. Para prajurit membawa gadis-gadis itu ke kuburan Polandia; di sana mereka memperkosa salah satunya. Yang lain sedang mengalami menstruasi pada saat itu. Para lelaki menyuruhnya kembali dalam beberapa hari dan menjanjikan lima zloty.

Demikian pula, Lucille Eichengreen, seorang tahanan muda Jerman-Yahudi, mengingat dalam memoarnya bahwa selama pemenjaraannya di kamp satelit Neuengamme pada musim dingin 1944-5, ia telah menemukan syal dan tergetar: ia berencana menggunakannya untuk menutupi dirinya. kepala dicukur. Khawatir dia akan dihukum karena memiliki benda terlarang, Eichengreen menyembunyikan syal di antara kedua kakinya. Kemudian, seorang penjaga Jerman membawanya ke samping dan, ketika berusaha memperkosanya, meraba-raba dia di antara kakinya dan merasakan syal. Pria itu berseru, 'Kamu pelacur kotor yang tidak berguna! Aduh! Kamu berdarah! ' Kesalahannya melindungi Lucille dari pemerkosaan. Dalam membahas kisah-kisah ini, kita harus memahami ironi yang ada: pemerkosaanlah yang harus dipandang sebagai menjijikkan dan menstruasi sebagai hal yang wajar dan dapat diterima.

Keluarga kamp

Beberapa remaja mengalami menstruasi pertama mereka di kamp sendirian, terpisah dari keluarga atau yatim piatu. Dalam kasus seperti itu, tahanan yang lebih tua memberikan bantuan dan saran. Tania Kauppila, seorang Ukraina di kamp konsentrasi Mühldorf, berusia 13 tahun ketika dia mulai menstruasi. Dia tidak tahu apa yang terjadi dan meneteskan banyak air mata. Dia takut dia akan mati dan tidak tahu harus berbuat apa. Wanita yang lebih tua di kamp mengajarinya dan orang lain di posisi yang sama tentang menstruasi. Gadis-gadis itu diajari cara menanganinya dan apa yang perlu mereka lakukan untuk mengatasi aliran darah. Itu adalah proses belajar yang berbeda dari yang seharusnya mereka lakukan di rumah:

"Anda mencoba mencuri selembar kertas cokelat, Anda tahu, dari tas dan melakukan yang terbaik yang Anda bisa," kenang Kauppila. Kisah ini terulang kembali di berbagai kesaksian lisan. Banyak korban yatim piatu yang baru saja mulai menyebutkan bantuan dari wanita yang lebih tua, yang mengambil peran sebagai kakak dan ibu dalam membantu gadis-gadis muda ini, sebelum mereka mengalami amenorea potensial; wanita yang lebih tua biasanya kehilangan menstruasi mereka dalam dua atau tiga bulan pertama penjara.

Sarjana feminis seperti Sibyl Milton telah menunjukkan 'keluarga kamp' perempuan yang terbentuk. Akan tetapi, sangat mengejutkan bahwa persaudaraan menstruasi belum ditulis. Seperti yang ditekankan Lentini, jika seorang gadis mendapatkan menstruasi dan tidak tahu harus berbicara dengan siapa, seorang wanita yang lebih tua biasanya 'menjelaskannya dengan sangat sederhana'. Vera Federman Hungaria yang berusia dua puluh tahun menghabiskan waktu di Auschwitz dan Allendorf. Dia dan seorang teman bisa mendapatkan pekerjaan di dapur, pekerjaan yang berharga. Makan kentang ekstra menyebabkan menstruasi mereka kembali dan kemudian kedua gadis itu mencuri kain dari penjaga wanita. Pencurian ini, tentu saja, menempatkan mereka dalam bahaya besar (belum lagi ancaman kehilangan pekerjaan mereka), tetapi Federman menekankan solidaritas dengan temannya ketika mereka bekerja sama untuk saling membantu. Di dunia yang sering penuh kekerasan di kamp, ​​wanita yang lebih tua bersedia membantu mendidik gadis-gadis muda yang tidak dikenal, tanpa mengharapkan imbalan apa pun.

Jaringan dukungan dan bantuan sosial yang dikembangkan berdasarkan gender di kamp. Arendt menulis bahwa 'kamp-kamp itu dimaksudkan tidak hanya untuk memusnahkan manusia dan menurunkan derajat manusia, tetapi juga melayani eksperimen mengerikan untuk menghilangkan, di bawah kondisi yang dikendalikan secara ilmiah, spontanitas itu sendiri sebagai ekspresi dari perilaku manusia'. Namun, solidaritas perempuan yang ditimbulkan oleh pengalaman menstruasi bersama, menceritakan kisah lain.

Setelah pembebasan, sebagian besar dari mereka yang menderita amenorea selama berada di kamp konsentrasi akhirnya mulai menstruasi lagi. Kembalinya periode adalah kesempatan yang menggembirakan bagi banyak orang. Amy Zahl Gottlieb kelahiran London, pada usia 24 tahun, anggota termuda dari Unit Bantuan Yahudi pertama yang pernah ditempatkan di luar negeri. Ketika mendiskusikan pekerjaannya dengan anggota kamp yang dibebaskan dalam wawancara dengan Museum Peringatan Holocaust Amerika Serikat, Gottlieb menggambarkan bagaimana wanita mulai menjalani kehidupan normal dan mulai menstruasi lagi; mereka senang bisa memiliki anak. Menstruasi menjadi simbol kebebasan mereka. Seorang yang selamat berbicara tentang hal itu sebagai 'kewanitaan saya kembali'.

Studi tentang menstruasi, suatu topik yang sampai sekarang dianggap tidak relevan, atau bahkan menjijikkan, memberi kita pandangan yang jauh lebih bernuansa pengalaman perempuan tentang Holocaust. Kita bisa melihat bagaimana konsep menstruasi, pemerkosaan, kemandulan, dan persaudaraan berubah di kamp. Tampaknya periode, topik yang telah lama distigmatisasi, menjadi, terkadang hanya dalam waktu beberapa bulan, menjadi topik yang sah bagi perempuan di kamp.

Menyusul perubahan-perubahan baru-baru ini ke sejarah budaya, sejarah indera dan sejarah tubuh, kita juga perlu mengenali menstruasi sebagai sah dan sebagai pengalaman para korban selama Holocaust.
Jo-Ann Owusu adalah lulusan Sejarah baru-baru ini dari University of Warwick.

Selasa, 30 April 2019

Kisah Holocaust untuk Generasi Media Sosial


Oleh Isabel Kershner* - 30 April 2019

Sebuah papan iklan di Tel Aviv untuk "Eva Stories," sebuah proyek pendidikan Holocaust. KreditKreditDan Balilty untuk The New York Times

JERUSALEM - Posting Instagram remaja ini mulai dengan cukup menyenangkan. Eva Heyman, yang baru saja mendapatkan tumit pertama untuk ulang tahunnya yang ke-13, memfilmkan dirinya makan es krim di taman. Ada juga remaja yang naksir.

Tapi semuanya dengan cepat berubah menjadi gelap.

Akun Instagram Eva, berdasarkan buku harian yang disimpan oleh Eva Heyman yang asli pada tahun 1944, akan ditayangkan Rabu sore untuk dimulainya Hari Peringatan Holocaust Martir dan Peringatan Heroes di Israel.

Dalam 70 episode singkat, seorang aktris Inggris yang memerankan Eva mengajak pengikut dalam perjalanan Holocaust-nya: kehidupan praperang borjuis yang bahagia terganggu oleh invasi Nazi ke kota asalnya di tempat yang dulu Hongaria; keluarganya dipaksa pindah ke kekacauan sempit ghetto; dan kereta penuh yang akhirnya membawanya ke Auschwitz, kamp kematian Nazi yang darinya dia tidak pernah kembali.

Sebuah ciptaan Mati Kochavi, seorang eksekutif teknologi Israel, dan putrinya Maya, " Eva Stories " adalah upaya inovatif, jika provokatif, untuk melibatkan para milenium pasca-kait dalam pendidikan Holocaust dan kenangan sebagai generasi terakhir dari para korban yang sekarat. . Kochavis mengatakan, proyek itu menelan biaya beberapa juta dolar untuk diproduksi.
"Memori Holocaust di luar Israel menghilang," kata Mr Kochavi dalam sebuah wawancara. “Kami pikir, mari kita lakukan sesuatu yang sangat mengganggu. Kami menemukan jurnal itu dan berkata,
"Mari kita asumsikan bahwa alih-alih pena dan kertas Eva punya telepon pintar dan mendokumentasikan apa yang terjadi padanya. "Jadi kami membawa smartphone ke 1944.”
Buzz di sekitar proyek sangat intens. Bahkan sebelum akun Instagram fiksi diaktifkan, ia memiliki lebih dari 200.000 pengikut, hasil dari kampanye pemasaran yang agresif yang melibatkan papan iklan dan promosi online oleh para influencer media sosial selebriti. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mendukung proyek ini pada hari Senin.

Tetapi badai kritik telah muncul di Israel atas penggunaan apa yang disebut budaya selfie dan bahasa visualnya - penuh dengan tagar, stiker dan emoji - untuk mencoba menyampaikan kengerian Holocaust, di mana enam juta orang Yahudi dibunuh.

Daring, beberapa warga Israel menuduh Kochavis menyepelekan dan merendahkan Holocaust, menyebut versi Instagram sebagai penghinaan terhadap kecerdasan anak muda masa kini. Mengolok-olok konsep itu, banyak yang bertanya bagaimana Eva - yang, dalam buku hariannya, mendokumentasikan malam-malam gelap di ghetto tanpa listrik - mungkin mengisi daya teleponnya.
"Pertama-tama, kita berbicara tentang tampilan rasa tidak enak," Yuval Mendelson, seorang musisi dan guru kewarganegaraan, menulis dalam sebuah op-ed di surat kabar Haaretz.  
“Kedua, dan jauh lebih buruk, akan ada konsekuensinya. Jalan dari 'Eva's Story' ke selfie-taking di gerbang Auschwitz-Birkenau pendek dan curam, dan pada akhirnya semua tut-tutters dan head shaker akan bergabung untuk memberi tahu kami tentang pemuda yang hilang dan terputus, tanpa nilai. dan tak tahu malu. "
Yad Vashem, pusat peringatan resmi Holocaust Israel, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan tentang proyek selain yang diterbitkan oleh kampanye pemasarannya.
"Yad Vashem percaya bahwa penggunaan platform media sosial untuk memperingati Holocaust adalah sah dan efektif," katanya dalam sebuah pernyataan.
"Yad Vashem aktif dan melibatkan masyarakat dalam berbagai saluran media sosial termasuk Instagram meskipun dengan gaya dan cara yang berbeda," pernyataan itu melanjutkan.  "Posting Yad Vashem tidak hanya berisi materi otentik dan fakta berdasarkan sejarah, kami memastikan bahwa isinya relevan dengan publik sekaligus menghormati topik tersebut."

Mati Kochavi, seorang eksekutif teknologi Israel, pusat, dan putrinya Maya, di kantor mereka di Herzliya, Israel. KreditDan Balilty untuk The New York Times

Dalam presentasinya sendiri untuk Hari Peringatan Holocaust, Yad Vashem telah mengunggah pameran online yang disebut " Surat Terakhir Dari Holocaust: 1944 ," sebuah pilihan korespondensi akhir korban Holocaust dengan keluarga dan teman.

Mr Kochavi, yang mengatakan dia telah menginvestasikan "kurang dari $ 5 juta" dalam proyek nirlaba, mengatakan dia telah memutuskan dimuka untuk tidak melibatkan pemerintah atau lembaga resmi. 
"Karena di Israel, Holocaust adalah topik suci," katanya. "Saya tidak ingin menghadapi mereka dengan proyek ini dan meminta mereka mengatakan tidak."
Menanggapi kritik terhadap penggunaan Instagram untuk menceritakan kisah Eva, dia berkata: 
"Mengapa tidak sopan? Begitulah cara orang berkomunikasi. Saya tidak ragu dalam pikiran saya bahwa orang-orang muda di seluruh dunia ingin memiliki konten serius dan terhubung dengan cara yang benar. "
Ms Kochavi, yang tinggal di New York dan Tel Aviv, mengatakan "banyak gerakan serius terjadi di media sosial." Dia mengatakan dia dan ayahnya telah bekerja keras untuk membuat pengalaman Instagram otentik dan nyata, dengan tagar dan keterangan, sambil berusaha untuk "menjaga rasa hormat."

Eva Heyman dilahirkan dalam keluarga sekuler kelas menengah di Nagyvarad, sebuah kota yang kemudian memiliki 100.000 penduduk, seperlima dari mereka adalah orang Yahudi. Dia tinggal bersama kakek-neneknya setelah orang tuanya bercerai. Dia menjadi subjek yang sempurna untuk proyek Instagram: Dia bermimpi menjadi seorang fotografer berita dan mulai menulis buku hariannya pada hari ulang tahunnya yang ke-13, 13 Februari 1944.

The Kochavis membaca sekitar 30 buku harian yang ditulis oleh para remaja selama Holocaust sebelum menyelesaikan Eva, karena ada "sesuatu yang sangat modern dan menyenangkan" tentangnya, kata Mr Kochavi.

Holocaust terjadi terlambat dan cepat di Hongaria, dengan hanya tiga bulan antara invasi Jerman pada tahun 1944 dan deportasi massal lebih dari 400.000 orang Yahudi ke Auschwitz - tragedi bersejarah yang ditelusuri dalam teleskop menjadi lebih dari 100 hari.

"Eva Stories" difilmkan selama tiga minggu di Ukraina, dan 400 orang terlibat dalam produksi. The Kochavis bersumber dari tank, truk dan motor dari periode untuk adegan invasi. Mereka mengembangkan kamera yang bisa dipegang oleh aktris itu seperti telepon.

Dalam buku hariannya, Eva memberikan ekspresi jelas pada rahasia, harapan, dan ketakutannya saat dunianya menyusut. Segera setelah invasi Jerman, orang-orang Yahudi dipaksa untuk memakai bintang kuning dan hanya diizinkan keluar selama satu jam sehari, antara jam 9 pagi dan jam 10 pagi.

Ketika polisi datang ke rumah Eva untuk mengirim keluarganya ke ghetto, dia menulis: "Segala sesuatu terjadi seperti di film." Sesampainya di sana, dia menggambarkan pemberitahuan yang ditempel di setiap rumah dengan aturan dan larangan.
"Sebenarnya," tulisnya, "semuanya dilarang, tetapi yang paling mengerikan dari semuanya adalah hukuman untuk semuanya adalah kematian."
Buku harian Eva berakhir pada 30 Mei 1944, beberapa hari sebelum deportasinya. Kochavi mengatakan, kisah-kisah Instagram dari kereta didasarkan pada deskripsi yang didengar Eva di ghetto dan dimasukkan dalam jurnalnya.

Eva terbunuh di Auschwitz pada 17 Oktober 1944, satu dari 1,5 juta anak yang terbunuh dalam Holocaust. Ibunya, Agnes Zsolt, selamat dari Holocaust dan menemukan buku harian itu ketika dia kembali ke Nagyvarad. Dia akhirnya bunuh diri.

Pada hari Kamis pagi, ketika sirene meraung-raung di seluruh Israel, membuat negara itu terhenti di saat kenangan dan duka bersama, kisah Instagram Eva akan berakhir.

Versi artikel ini muncul di media cetak 1 Mei 2019, Pada Halaman A 4 dari edisi New York dengan judul: Holocaust Cerita untuk Media Generasi Sosial 

Kamis, 18 April 2019

Ketika orang-orang yang selamat dari Holocaust bertambah tua, para aktivis terus menghidupkan kisah mereka


18.04.2019 - Penulis Marina Strauss


Pada usia 95 tahun, Erna de Vries adalah satu dari sedikit yang selamat dari Holocaust. Sekelompok aktivis telah bersumpah untuk menceritakan kembali kisahnya dan orang-orang yang selamat lainnya untuk tetap menghidupkan kenangan masa lalu Nazi Jerman.

Setiap hari, ada sesuatu yang mengingatkan Erna de Vries tentang masa lalunya yang kelam. Sepotong roti tergeletak di tanah membuatnya ingat betapa laparnya dia. Kulit putih pohon birch mengingatkannya pada kamp konsentrasi Auschwitz-Birkenau , di mana lebih dari 1 juta orang dibunuh selama Holocaust.

De Vries dianggap "setengah Yahudi" oleh Nazi karena ayahnya yang Protestan dan ibu Yahudi. Ibunya dideportasi ke Auschwitz pada tahun 1943 - dan de Vries bergabung dengannya karena dia tidak ingin ditinggalkan sendirian, mengingat ayahnya telah meninggal ketika dia masih kecil. Ibunya diduga telah meninggal di kamp konsentrasi.

Duduk di sofa hari ini, mengenakan blus biru dan putih bersama dengan kalung mutiara panjang, de Vries menceritakan kengerian Auschwitz. Dia tenang dan termenung.

"Kamu harus bertahan hidup dan memberi tahu semua orang apa yang mereka lakukan pada kami '

Ini bukan pertama kalinya de Vries membagikan pengalamannya. Dia sudah melakukannya berkali-kali sebelumnya. Dia berbicara dengan anak-anak sekolah setempat di Jerman utara tempat dia tinggal, dan kepada para siswa di universitas terdekat. Dia tidak akan pernah melupakan apa yang ibunya katakan kepadanya terakhir kali mereka bertemu satu sama lain: 
 "Erna, kamu harus berjuang, kamu harus bertahan hidup dan memberi tahu semua orang apa yang mereka lakukan pada kita."
"Mengucapkan selamat tinggal kepada ibuku di kamp adalah hal tersulit bagiku," kata de Vries. "Aku tahu betul dia tidak akan pernah bisa keluar dari Auschwitz."
De Vries telah lama berbagi kisahnya dengan siswa lokal di dekat rumahnya di Jerman utara

Saat ini, semakin sulit bagi de Vries untuk berbicara tentang masa lalunya, karena dia tidak lagi melihat atau mendengar dengan baik dan dia juga bergantung pada bantuan berjalan.

Itu sebabnya dia bahagia Vanessa Eisenhardt yang berusia 29 tahun membantu menjaga ingatannya tetap hidup. Eisenhardt adalah bagian dari sebuah organisasi yang bertemu dengan para penyintas Holocaust, mencatat kisah-kisah mereka, dan membagikannya kepada orang-orang muda. 
Hanya beberapa hari yang lalu, Eisenhardt mengunjungi sekolah menengah Bayreuth untuk membicarakan tentang penderitaan de Vries. Setelah itu, dia meminta para siswa untuk mengungkapkan perasaan mereka dalam surat kepada korban Holocaust yang berusia 95 tahun.

Korban yang menua

Eisenhardt dan rekan-rekan aktivisnya bepergian ke seluruh Jerman untuk berbicara dengan anak-anak sekolah tentang kisah Erna de Vries dan para penyintas Holocaust lainnya. Selama bertahun-tahun, anggota kelompok telah mewawancarai sekitar 30 orang yang selamat di Israel, Jerman dan negara-negara Eropa lainnya, menjalin hubungan dekat dengan mereka. Beberapa dari mereka yang selamat masih hidup sampai sekarang, tetapi banyak yang telah meninggal.

Di sekolah Bayreuth, Eisenhardt berbicara tidak hanya tentang apa yang dialami de Vries di bawah kekuasaan Nazi, tetapi juga seperti apa kehidupannya sebelum dan sesudah masa sulit ini. Eisenhardt berbicara tentang mimpi de Vries tentang suatu hari menjadi dokter, tentang pekerjaannya sebagai perawat dan bagaimana dia bertemu suaminya setelah perang. Dia juga berbicara tentang tiga anak dan enam cucu de Vries - dan tujuan jangka panjangnya suatu hari pindah ke Israel.

Eisenhardt berupaya menjaga agar kisah de Vries dan para korban Holocaust lainnya tetap hidup

Melewati fakta dan angka

Eisenhardt, yang sedang mengejar gelar doktor dalam sejarah, mengatakan bahwa seringkali kelas sejarah cenderung terlalu sedikit berfokus pada kisah-kisah individual dan alih-alih berfokus pada "angka abstrak dan gambar yang gamblang," seperti 6 juta orang Yahudi yang dibunuh di Holocaust. Tetapi, katanya, ini membuat penderitaan yang sebenarnya sulit untuk dipahami. Itu sebabnya dia ingin memberi tahu anak-anak sekolah bagaimana Nazi menjadikan kehidupan seperti neraka bagi orang-orang seperti de Vries. Dan bagaimana masa lalu telah membentuk masa kini. 
Eisenhardt mengatakan bahwa "kisah-kisah seperti ini menunjukkan apa yang bisa terjadi ketika rasisme dan anti-Semitisme dibiarkan membusuk sampai terlambat."
Murid-murid Bayreuth sangat tersentuh ketika mereka mengetahui bahwa ibu de Vries mendesak putrinya untuk tetap hidup dan memberi tahu orang lain tentang penganiayaan terhadap orang-orang Yahudi. 
 "Aku hampir menangis," aku Ambra Rizzo, seorang siswa berusia 14 tahun. Dia bilang dia terkesan dengan tekad de Vries untuk bertahan hidup dan menjaga kenangan masa lalu tetap hidup.
Schuberth mengatakan dia tersentuh oleh kisah de Vries

Sanya Schuberth, seorang siswa berusia 15 tahun, mengatakan dia tersentuh bahwa ibu de Vries tidak mengatakan sesuatu seperti "Perpisahan, aku mencintaimu, kita tidak akan pernah bertemu lagi," tetapi malah memohon putrinya untuk bertarung dan teruskan. 
 "Beberapa orang yang meyakini hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi perlu bangun," katanya. 
Schuberth dan teman-teman sekelasnya sekarang akan berperan dalam melakukan hal itu dengan menjaga agar kenangan masa lalu tetap hidup.
"Saya sangat menghormati Anda
Setelah berbicara dengan anak-anak sekolah, Eisenhardt membawa surat-surat mereka kembali untuk dibacakan kepada Erna de Vries. Seseorang berkata:
"Erna sayang, aku yakin kamu adalah wanita yang hebat dan pemberani. Aku tidak bisa mengatakannya dengan cukup: aku sangat menghormatimu."
De Vries memiliki seluruh kotak dengan surat yang ditulis kepadanya oleh anak sekolah, katanya sambil tersenyum. Dia senang mereka terbuka untuk mendengarkan ceritanya karena "sering kali, orang bahkan tidak tertarik."

Dia senang telah menjalani kehidupan yang baik setelah perang. Dan dia punya anak dan cucu yang sehat. De Vries sekarang bergantung pada orang-orang seperti Vanessa Eisenhardt untuk membagikan kisah hidupnya "agar orang-orang tidak akan lupa."