HUTAN MONGGOT

“Menurut taksiran, korban yang dieksekusi dan dibuang di lokasi ini tak kurang dari 2.000 orang”, kata saksi sejarah sambil menunjukkan lokasinya [Foto: Humas YPKP]

Kamis, 23 Oktober 2014

Pengajuan Berkas Wajib Cantumkan Tersangka

Aulia Bintang Pratama, CNN Indonesia | Kamis, 23/10/2014 19:13 WIB Pihak Kejaksaan Agung menegaskan pengajuan berkas pemeriksaan Komnas HAM wajib mencantumkan nama tersangka. Padahal, Komnas HAM bukan lembaga penegak hukum. (GettyImages) Jakarta, CNN Indonesia -- Pengajuan berkas pemeriksaan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) masa lalu wajib untuk mencantumkan nama tersangka agar bisa diproses lebih lanjut. Hal itu ditegaskan oleh...

PELANGGARAN HAM - Perbedaan Tafsir Menghambat Penegakkan Hukum

Utami Diah Kusumawati, CNN Indonesia | Kamis, 23/10/2014 10:33 WIB Komnas HAM dan Kejaksaan Agung memaknai berbeda UU No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Dampaknya, berkas pelanggaran HAM bolak balik dua lembaga. (detikFoto) Jakarta, CNN Indonesia -- Adanya perbedaan tafsir Undang-Undang (UU) antara Kejaksaan Agung dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyebabkan proses penegakkan hukum kasus pelanggaran HAM masa lalu...

Rabu, 22 Oktober 2014

Jokowi Harus Bisa Campuri Penyelesaian Kasus

Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Rabu, 22/10/2014 13:17 WIB Pakar HAM menilai Presiden Jokowi bisa intervensi penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat. Hanya saja, dibutuhkan keinginan politik kuat dari Jokowi. (AntaraPhoto/ Prasetyo Utomo) Jakarta, CNN Indonesia -- Pakar hak asasi manusia (HAM) menilai lambannya penuntasan penegakkan hukum atas tujuh kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia disebabkan oleh persoalan politis dan hukum. Presiden  memegang...

Korban 1965 Menanti Dekrit Jokowi

Aghnia Adzkia, CNN Indonesia | Rabu, 22/10/2014 13:18 WIB Ilustrasi. Pemerintah baru dijejali tumpukan pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Salah satunya, menuntaskan persoalan hak politik dan hak sipil korban tragedi 1965. (Thinkstockphotos.com) Jakarta, CNN Indonesia -- Gegap gempita peralihan presiden masih terasa. Di antara keriuhan seleksi menteri untuk kabinet sang presiden baru, ada perasaan berbeda bagi eks tahanan politik...

Senin, 20 Oktober 2014

Catatan Pendek Diskusi Film “Saya Rasa Itu Sulit Untuk Dilupakan”

Oleh Dema Justicia FH UGM - Oct 20th, 2014 Kamis sore, 25 September 2014, Dema Justicia FH UGM mengadakan screening dan diskusi film berjudul “Saya Rasa itu Sulit Untuk Dilupakan”. Screening dan diskusi film ini diselengarakan dalam rangka menuju peringatan tragedi kelam yang terjadi 49 tahun silam antara sejak 30 September 1965. Mahendra dari KPO-PRPdan Restu dari SMI menjadi pembicara dalam acara tersebut. Antusias yang tinggi untuk belajar...

Jumat, 10 Oktober 2014

Selubung Kehidupan Wanita Eks Tapol 65

Jumat, 10 Okt 2014 18:27 WIB - Anto Sidharta Wanita Eks Tapol 65, Utati KBR, Jakarta – “Kalau di sini hampir semua (tetangga) tidak tahu (asal-usul) saya. Saya bergaul biasa saja,” kata Utati, perempuan eks tahanan politik (tapol), dengan suara perlahan nan tenang.  Utati adalah salah satu dari ribuan perempuan eks tapol 1965, yang ditahan setelah terbunuhnya enam jenderal dalam peristiwa G30S. Di kawasan Depok, Jawa Barat,...

Jumat, 03 Oktober 2014

Pengakuan Soeharto VS Soebandrio Dalam G 30 S

Hasan Kurniawan | Jum'at, 3 Oktober 2014 − 05:05 WIB Sampul depan buku Soeharto dan Soebandrio (dok:Istimewa/Hasan Kurniawan) SOEHARTO, dalam buku otobiografinya yang berjudul Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, mengaku telah melihat Kolonel Abdul Latief, di RSPAD Gatot Subroto, jam 22.00 WIB, tanggal 30 September 1965.Saat itu, Soeharto berada di RSPAD karena anaknya Tomy, sedang dirawat akibat terkena sop panas. Itulah...

Kamis, 02 Oktober 2014

Penjaga Fisik dan Nama Baik Sukarno

Yudi Anugrah Nugroho | Kamis 02 Oktober 2014 WIB Ki-ka: Asvi Warman Adam, Iwan Santosa (moderator), Bonnie Triyana, dan Anhar Gonggong, dalam bedah buku "Maulwi Saelan: Penjaga Terakhir Soekarno" di auditorium Museum Nasional, Jakarta Pusat, 1 Oktober 2014.  Foto: Micha Rainer Pali©Historia, 2014. PEKIK merdeka menggema di auditorium Museum Nasional, Jakarta Pusat, 1 Oktober 2014. Maulwi Saelan (88 tahun), mantan wakil komandan...

Rabu, 01 Oktober 2014

Salim Said: PKI Tidak Lakukan Pemberontakan 30 September

Penulis: Reporter Satuharapan | 22:56 WIB | Rabu, 01 Oktober 2014 Bondan Kanumoyoso (kiri) staf pengajar Departemen Sejarah FIB UI dan Salim Said (kanan) penulis buku Dari Gestapu ke Reformasi menjelaskan peristiwa Gerakan 30 September, di Ruang Sinema, Perpustakaan UI, Depok Rabu (1/10). (Foto: Ardy Pradana Putra) DEPOK, SATUHARAPAN.COM - “PKI secara lembaga tidak melakukan pemberontakan pada 30 September 1965,” kata Salim Said,...

Sisa PKI dan Keluarga PKI, 49 Tahun Setelah Peristiwa 30 September 1965

OCTOBER 1, 2014 WAKTU bergulir 49 tahun lamanya sejak Peristiwa 30 September 1965. Dalam metafora perlukaan, peristiwa tersebut dan berbagai ikutannya, adalah sebuah luka lama yang sebenarnya sudah kering. Hanya saja, luka kering sekalipun, selalu meninggalkan tanda di kulit dan mungkin kenangan traumatisma.  Terkait peristiwa yang terjadi tanggal 30 September menuju 1 Oktober 1965 dan kekerasan massiveberupa pembunuhan massal yang...

Kisah Maulwi Saelan Penjaga Terakhir Soekarno, Menguak Misteri 30 September '65

Rabu 01 Oct 2014, 19:01 WIB | - detikNews Jakarta - Pengamanan presiden ternyata sudah menjadi persoalan sejak Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 silam. Setelah sempat hanya dikawal dengan Pasukan Pengawal Presiden, adanya percobaan pembunuhan Presiden pada 1957 maka dibentuklah Tjakrabirawa pada tahun 1962.Dibentuknya Tjakrabirawa ini membuat Letnan Maulwi Saelan yang saat itu bertugas di Makassar lalu ditunjuk sebagai. Kepala Staff...

Maulwi Saelan: Sukarno Tak Terlibat G30S

MF Mukthi Rabu 01 Oktober 2014 WIB   Maulwi Saelan (kiri) dan Bambang Widjanarko (kanan). Presiden Sukarno dituduh mengetahui dan merestui aksi penculikan jenderal. Maulwi Saelan, mantan pengawalnya membantah keterangan itu. MAULWI Saelan masih ingat kejadian pada malam 30 September 1965. Saat itu dia sempat menegur Letkol Untung di Istora Senayan yang lalai menjaga salah satu pintu masuk Istora Senayan. Padahal...