Senin, 20 Juni 2016

Diskusi Indonesia di Passau: "Semua Kegaduhan Ini Hanya Masa Transisi"

20.06.2016 

Bagaimana prospek pluralisme di Indonesia? Universitas Passau menghadirkan Profesor Bernhard Dahm, Indonesianis kawakan Jerman dalam diskusi tentang perkembangan politik dan budaya di Indonesia.  



Perkembangan politik dan budaya di Indonesia jadi fokus utama acara "Indonesien Tag" (Hari Indonesia) di Universitas Passau hari Minggu (12/06). Penyelenggaranya Institut Studi Perbandingan Kawasan Asia Tenggara, bekerjasama dengan Amnesty International.

Keterbukaan politik di Indonesia setelah era reformasi yang ditandai oleh mundurnya Suharto ternyata berlangsung cepat dan gaduh. Dengan satu gejala dominan: makin hilangnya toleransi. Paling sedikit, itulah gambaran umum yang ada pada kalangan masyarakat Jerman yang tertarik mengikuti perkembangan politik di Asia Tenggara.

Represi terhadap kelompok-kelompok minoritas, terutama dalam kaitannya dengan sistem keyakinan dan kepercayaan, terasa makin meningkat. Yang paling menonjol adalah aksi pembakaran dan pembunuhan terhadap rumah ibadah dan warga Ahmadiyah.

Apakah pluralisme di Indonesia, yang terangkum dalam motto Bhinneka Tunggal Ika sedang terancam?


Indonesien Tag in der Universität Passau
Profesor Bernhard Dahm (kiri) dan Dr. Gunnar Stange (kanan)

Diskusi tentang pluralisme di Indonesia menghadirkan seorang Indonesianis kawakan Jerman, Profesor Bernhard Dahm, yang pernah meneliti soal identitas dan budaya di Indonesia selama era Soekarno dan pergantian ke Orde Baru di bawah Suharto, ditandai dengan pembantaian anti komunis 1965-1966. Selain itu, hadir juga peneliti konflik Dr. Gunnar Stange, aktivis budaya Arahmaiani Feisal dan peneliti Asia Tenggara Dr. Kristina Großmann.

Profesor Bernard Dahm mengingatkan kembali dimensi geografis dan sosiologis Indonesia, yang terdiri dari lebih 17000 pulau, dengan ratusan bahasa daerah yang masih digunakan secara aktif, beragam tradisi adat dan budaya.

"Sekalipun demikian, dalam sejarah Indonesia yang kita tau, selama seribu tahun ini, hampir tidak ada konflik antar etnis dan budaya yang serius," kata Dahm. Memang ada rivalitas dan ketegangan, tapi secara keseluruhan, bangsa-bangsa di Nusantara selalu berusaha mencapai kesepakatan melalui komunikasi dan dialog.


Deutschland Indonesien Tag in der Universität Passau
Acara diskusi tentang pluralisme di Indonesia di Passau, 19 Juni 2016


Hasrat besar untuk hidup bersama dengan rukun, mencapai puncaknya dalam pembentukan negara Republik Indonesia, ketika kelompok-kelompok nasionalis, agama maupun para pemikir sosialis berembuk untuk berjuang menuntut kemerdekaan dari penjajahan Belanda.

Bagi Dahm, hasrat hidup rukun dan perasaan saling memiliki ini dengan sangat gamblang tercermin pada sosok presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Sejak muda, Soekarno sadar bahwa ada tiga dorongan utama yang akan menentukan arah pembentukan bangsa dan Republik Indonesia: nasionalisme, agama, dan sosialisme, yang ketika itu dengan lantang disuarakan oleh gerakan komunisme.

Karena itu, Soekarno berusaha menjembatani pertentangan doktrin yang meruncing antara kelompok agama dengan kelompok komunis. Jalannya, setiap kelompok harus siap "mengorbankan" doktrin mereka yang tidak bisa diterima pihak lain, dan siap bekerjasama demi pembangunan bangsa dan negara, sesuai motto Bhinneka Tunggal Ika. Sayangnya, upaya Soekarno dengan mencanangkan NASAKOM gagal ditengah meruncingnya pertentangan ideologi antara blok Barat dan blok Timur. Peristiwa 1965 melempar perkembangan politik pluralisme di Indonesia jauh ke belakang.

Sekalipun begitu, Dahm tetap merasa yakin, prinsip pluralisme adalah jalan satu-satunya bagi Indonesia untuk membangun masa depan yang baik.

 "Semua kegaduhan yang kita lihat sekarang, ini hanya perkembangan di masa transisi. Indonesia akan kembali ke prinsip pluralisme, karena itu memang falsafah dasar bang-bangsa yang hidup di sana", kata Dahm. Soekarno sangat yakin hal itu, juga setelah dia sudah diturunkan dari kekuasaan. Dan saya juga yakin itu, jadi saya masih optimis", kata Dahm yang masih bertemu dengan Soekarno setelah peritiwa 1965-1966.


Indonesien Tag in der Universität Passau
Kelompok Gamelan Jerman meramaikan 1. Passauer Indonesien Tag

Tapi tidak semua melihat Indonesia dengan optimis. Peneliti Asia Tenggara Dr. Gunnar Stange dari Universitas Frankfurt bahkan menyebut Indonesia sebagai 'negara gagal' (failed state) dalam kaitannya dengan penegakan hukum. Negara dan aparat Indonesia gagal memberi jaminan hukum terutama kepada kelompok-kelompok minoritas, sehingga yang bermunculan adalah kelompok-kelompok preman, yang akhirnya bertindak seperti penegak hukum dan memaksakan aturannya sendiri.

"Inilah kelompok yang disebut 'vigilantes', yang muncul dengan klaim sebagai pembela atau pelindung, ketika aparat penegak hukum tidak ada atau tidak berfungsi", kata Stange.

Dr Kristina Großmann mengajak orang mengidentifikasi masalah pluralisme lebih cermat lagi. "Waktu saya di Indonesia, dalam hidup sehari-hari, di pedesaan, saya tidak lihat ada masalah dengan toleransi dan pluralisme. Di sana juga tidak ada masalah etnisitas." Tapi dalam kehidupan politik dan dalam perebutan ruang publik, identitas dan etnisitas memang tiba-tiba bisa menjadi persoalan.

"Jadi harus dibedakan, ada kehidupan nyata sehari-hari, ada politisasi etnisitas dan identitas," kata Großmann. Di ruang publik, memang ada perebutan klaim dan pertentangan. Hal itu memang biasa terjadi pada masyarakat yang sedang mengalami masa perubahan dan ketidakpastian.
"Yang jelas, hidup dalam keberagaman memang harus belajar, itu bukan hal yang diturunkan lewat kelahiran," tandasnya.


Indonesien Tag in der Universität Passau
Mahasiswa memperkenalkan Indonesia dengan data-data menarik


Bagi Arahmaiani Feisal, masalah besar yang dihadapi Indonesia adalah budaya kekerasan dan konflik antar elit. Ada pihak-pihak yang memang sengaja ingin menyulut kekerasan untuk kepentingannya. Mereka mau menebar ketakutan, agar tetap bisa berkuasa, atau karena mereka sendiri takut kehilangan diadili oleh lawan politiknya kalau kehilangan kekuasaan.

Bahkan sekarang ada progam Bela Negara dari Kementerian Pertahanan, yang membuat orang makin waswas. " Yang kita perlukan adalah gerakan melawan budaya kekerasan. Ini yang paling penting", tegas Arahmaiani.

Acara Indonesien Tag di Universitas Passau diramaikan dengan musik gamelan yang dimainkan mahasiswa-mahasiswa Jerman dibawah panduan Dr. Andras Varsanyi. Ada juga presentasi tentang program beasiswa dari mahasiswa Jerman yang dikirim ke Indonesia.

Dan tentu saja ada sajian makanan dan penganan "gaya Indonesia" yang disiapkan oleh para mahasiswa Jurusan Asia Tenggara. Tentu juga dengan motto, bermacam-macam tapi satu tujuan, yaitu menyukseskan "1. Passauer Indonesien Tag" di Universitas Passau.



http://www.dw.com/id/diskusi-indonesia-di-passau-semua-kegaduhan-ini-hanya-masa-transisi/a-19343564

0 komentar:

Posting Komentar