Senin, 13 Juni 2016

PKI, Marxisme-Leninisme, dan Universitas

Penulis: Swadi Sual· | 13 Juni 2016
 
I
 
PKI. Partai Komunis Indonesia telah menjadi momok di kalangan masyarakat Indonesia sampai hari ini. PKI telah menjadi sesuatu yang sangat mengerikan, tak bermoral, dan hal negatif lainnya; kata ini (pe-ka-i) mengacu pada sesuatu yang bukan dirinya lagi. Oleh karena banyak orang yang membencinya tapi jika ditanya kenapa, mereka akan kesulitan menjelaskannya. 
Mereka bahkan mungkin tidak tahu kalau itu merupakan sebuah singkatan. Tetapi untuk generasi yang sempat ‘dididik’ di masa Orde Baru tentunya akan dengan emosional menjelaskan bahwa PKI adalah partai yang anggota-anggotanya tidak bertuhan, pembunuh jenderal-jenderal, dan para wanitanya suka menari telanjang. Pengetahuan ini didapat dari buku-buku dan film yang diproduksi oleh kekuasaan di masa itu. Partai yang memiliki simbol palu arit ini disebut sebagai partai para pembunuh; palu untuk memukul kepala dan arit untuk menggorok leher. Pe-ka-i pun banyak kali digunakan sebagai makian atau untuk menegur orang yang berbuat kesalahan, “Dasar pe-ka-i!!”, “Ontak pe-ka-i!”, atau dengan nada mengancam, “Ato ngana pe-ka-i?” . Dengan begitu gambaran mental atau referen untuk kata ini telah kehilangan akarnya dan membentuk suatu momok. Orang-orang komunis dan yang dituduh komunis di Indonesia terkucilkan layaknya hewan.
 
Mari kita coba mengembalikan pengertian PKI yang berangkat dari akarnya yaitu: Partai (party) artinya kumpulan orang yang terorganisir dan merupakan infrastruktur politik dalam suatu negara; komunis kata dasarnya commune yang artinya kelompok atau juga kumpulan, dekat dengan kata komunitas (community); dan Indonesia tentunya adalah nama sebuah negara. PKI merupakan sebuah partai berhaluan ‘kiri’ dengan ber-ideologi komunisme. Apa itu komunisme? Komunisme merupakan paham yang mengutamakan kepentingan bersama (masyarakat) di atas kepentingan pribadi (diri, keluarga, teman, dll); kerja bersama dan hasilnya dibahagi sama. Komunisme, menurut versi Marx, juga merupakan capaian tertinggi dari masyarakat sosialis. Banyak orang di masa orde baru telah dididik bahwa komunisme ingin menghancurkan negara, membongkar penjara, istri bisa dipakai untuk melayani (sex) secara berganti-ganti. Ini katanya karena tidak ada kaya tidak ada miskin sama rata sama rasa; tentu ini telah dibelokan maknanya secara ekstrim. Ketika orde baru (orba) berkuasa maka PKI dibubarkan dan muncul TAP MPRS NO: XXV/MPRS/1966 tentang Pelarangan PKI dan Ajaran Marxisme-Leninisme. Semua buku-buku (‘kiri’) yang berkaitan dengannya dibakar dan kemudian dilarang diterbitkan. Semua orang yang terkait dengan PKI ditangkap, dipenjarakan, disiksa, dibunuh, dan dibantai (genocide). Dulu ada program pemberantasan PKI sampai keakar-akarnya sehingga anak-anak dari mereka yang ‘terlibat’ tidak bisa sekolah lebih dari SMP; paham PKI dianggap dapat diwariskan dalam gen biologis padahal itu semata adalah kesadaran objektif dan hanya bisa diwariskan dalam gen sosial. Kenapa sampai sejauh itu perlakuan terhadap mereka?
 
Sebenarnya pada masa itu ada pertentangan ideologi besar di dunia yang menyebabkan Perang Dingin (cold war) antara Uni Soviet dan Amerika Serikat. Kedua negara ini bersaing untuk merebut dominasi terhadap dunia dan Indonesia merupakan salah satu di antaranya. Amerika Serikat dengan pandangan liberalisme-humanis/kapitalisme dan Uni Soviet dengan paham komunisme. Dua negara ini tidak bisa melakukan perang terbuka karena jika terjadi perang nuklir maka habislah bumi ini. Bahkan kedua negara ini pernah menjadi sekutu untuk melawan blok fasis yang terdiri dari Jerman, Itali, dan Jepang. Kenapa Indonesia begitu penting untuk diperebutkan? Itu karena kekayaan alamnya. D. N. Aidit pernah berpidato soal ini, “... Irian Barat adalah daerah jang luasnja 375.000 km2 kaja dengan barang pelikan seperti minjak, batubara, tembaga, osmiridium, platina, sing, nikel, chroom, mas, perak, besi, asbes, marmar, dll. Dan jang sangat penting jalah bahwa di Irian Barat terdapat uranium....” . Uranium adalah bahan untuk nuklir sehingga untuk suplai senjatanya Amerika harus mengintervensi kegiatan politik di Indonesia. Tetapi bukan hanya di Irian Barat yang kaya akan sumber daya alam, khususnya sumber mineral, tetapi juga ada di pulau-pulau lain. Belanda yang sudah diusir dari Indonesia, dan digantikan oleh Jepang, akhirnya kembali setelah kekalahan blok fasis di Perang Dunia II. Di masa orde baru masyarakat diberi pengetahuan bahwa yang ada di Papua adalah tembaga dan kemudian belakangan diketahui sebagai tambang emas besar yang dikelola PT. Freeport.
 
Tapi, sebelum lanjut ada baiknya untuk diketahui bahwa banyak tokoh-tokoh komunis yang juga berjuang untuk kemerdekaan Indonesia baik dari pejajahan Belanda maupun Jepang. Pengaruh Marxisme di masa itu membuat banyak intelektual memberontak terhadap penindasan dan penjajahan. Tan Malaka, Semaun, dan Amir Syariffudin adalah beberapa di antaranya bahkan Soekarno dalam pidato-pidatonya juga dia mengaku ‘kiri’. Dia juga berkata bahwa Revolusi Indonesia menuju sosialisme tanpa exploitation de l’homme par l’homme et exploitation de nation par nation. Kaum komunis menentang imperialisme yang disebut oleh Lenin sebagai tahap tertinggi dari kapitalisme. Dengan demikian PKI melawan kaum imperialis dan juga kaki tangannya yang tidak lain adalah orang-orang sebangsa; mereka adalah orang-orang yang menjadi komprador untuk menghisap sumber daya alam dan menindas rakyat Indonesia. PKI berusaha membangun kesadaran massa dan membentuk organisasi-organisasi buruh, tani, mahasiswa, perempuan, dan juga kebudayaan. Mereka juga mengusulkan untuk membangun front persatuan nasional untuk melawan kaum imperialis yang ingin membuat Indonesia menjadi negara boneka saja. PKI banyak kali mengkritik kesepakatan-kesepakatan pemerintah Indonesia dengan pihak Belanda yang dianggap sebagai pengkhianatan terhadap Revolusi Agustus 1945; bahkan hasil kesepakatan KMB dianggap sebuah pengkhianatan.
 
Soekarno menyadari bahwa Indonesia bisa menjadi negara mandiri dengan potensi alam yang ada dan PKI sejalan dengan pemikiran itu. Di era Soekarno banyak pelajar dikirim ke eropa untuk belajar berbagai bidang dengan harapan mereka kembali dan dapat digunakan untuk mengelola sumber daya alam secara mandiri . Indonesia membutuhkan tenaga-tenaga ahli (sumber daya manusia) supaya dapat mengelola kekayaan alamnya sendiri dan untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Program ini sebenarnya dalam rangka untuk mewujudkan keadilan sosial yang juga terdapat dalam Pasal 33 UUD 1945 . Pancasila, UUD 1945, dan Tri Sakti sebagai cita-cita nasional lebih banyak di mengerti oleh orang-orang ‘kiri’ atau yang telah bergaul dan berwawasan sosialisme. Berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkerpibadian dalam kebudayaan sangat tepat diwujudkan hanya dengan adanya front persatuan nasional dan bukan terpecah-pecah menurut kepentingan suku, agama, golongan, partai, daerah, dll. PKI tahu bahwa kontradiksi atau konflik dalam negara perlu diabaikan untuk melawan musuh besar yaitu negara-negara imperialis yang ingin menguasai tanah dan juga bangsa Indonesia. PKI banyak dibenci oleh elite-elite politik karena kritikan mereka yang selalu menyerang komprador-komprador dan juga menyerang pemuka-pemuka agama yang notabene bertindak sebagai kapitalis yang memperkaya diri sendiri. Situasi di masa itu sebenarnya juga persis dengan yang kita hadapi sekarang ini di mana ada oknum-oknum pemerintah dan pemuka agama yang memperkaya diri sendiri sementara banyak rakyat menderita kekurangan.
 
Peter Dale Scott menulis analisis tentang keterlibatan CIA dalam penggulingan Soekarno walaupun yang terlihat secara nyata dikendalikan oleh kekuatan militer AD di bawah jendral Soeharto dan juga gerakan mahasiswa di waktu itu. Tetapi ketika Soekarno lengser dan PKI dibubarkan secara paksa melalui demonstrasi-demonstrasi dan lahirnya Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) maka semua yang terlibat dengan PKI ditangkap dan dipenjarakan. Banyak ormas-ormas yang menyatakan diri pembela Pancasila dan ormas-ormas keagamaan yang selama ini geram dengan kritik-kritik PKI, mereka kemudian ikut terlibat dalam penyiksaan-penyiksaan. Pelajar-pelajar yang dikirim oleh Soekarno untuk belajar di Eropa ketika mereka pulang dijebloskan ke dalam penjara; apalagi mereka yang belajar di negara komunis. Ada juga pelajar-pelajar yang tak mau pulang karena telah mengetahui apa yang terjadi di Indonesia. Banyak kader-kader bangsa yang telah dipersiapkan untuk mewujudkan cita-cita nasional pada waktu itu justru kemudian menjadi korban karena dianggap sebagai bagian dari pemerintahan Soekarno. Belum lagi di masa itu muncul sentimen terhadap etnis Tionghoa yang disamakan dengan PKI; ini seiring dengan berkuasanya komunis di Cina (RRT) di bawah Mao Tje Tung (Mao Zedong). Banyak orang Cina di Indonesia kemudian beralih nama karena takut menjadi sasaran amukan, dipenjara, disiksa, bahakan dibunuh karena dikaitkan dengan komunisme. Hal ini pun berulang terjadi ketika rejim orde baru dalam proses penumbangan. Terorisme negara sering dilakukan untuk mempertahankan rejim yang sementara berkuasa.
PKI memiliki dua lawan utama yaitu kaum imperialis (Belanda, Inggris, dan Amerika) dan orang Indonesia sendiri yang bekerjasama menjadi komprador untuk menindas bangsa sendiri. Kaum feodal banyak yang bergabung dengan kaum imperialis dan ini terjadi sejak masa pra kemerdekaan. Walaupun Revolusi Agustus adalah sebuah persatuan nasional yang melibatkan hampir semua kalangan masyarakat Indonesia tetapi sesudah itu pun yang menempati pemerintahan kebanyakan adalah kaum feodal yang menjadi penguasa dan penindas baru . Kaum imperialis memiliki kepentingan menjarah kandungan alam dan wilayah perdagangan sementara kaum feodal ingin menguasai pemerintahan sehingga gabungan ini menjadi klop. Dengan Marxisme-Leninisme sebagai asas analisa sosial maka imperialisme sebagai perkembangan atau perluasan dari kapitalisme dan kehadiran negara sebagai alat penindas, PKI menjadi ancaman bagi mereka yang berkepentingan untuk mengeksploitasi bumi Indonesia.
 
Semua orang yang menjadi tahanan politik (tapol) dibuat trauma dengan penyiksaan dan tindak semena-mena dari meraka yang menjadi kaki tangan rejim. Mereka dijauhkan dari masyarakat, diekskomunikasi, karena takut menularkan paham marxisme-leninisme (ML); semua tulisan dan buku-buku revolusioner disita, dihancurkan, dan dilarang untuk diterbitkan kembali. Tentu, ML bukan hanya sekedar filsafat metafisik tapi sebuah filsafat praksis yang juga menggerakan manusia untuk keluar dari keadaan tertindas. Sama halnya ketika melawan kolonialisme para intelektual pribumi secara diam-diam mengkonsumsi marxisme dan membangun kesadaran nasional. Di bawah kolonialisme yang juga bersama kaum bangsawan masyarakat kecil tidak menyadari sepenuhnya bahwa mereka sedang tertindas dan harusnya memberontak supaya merdeka. Sedemikian takutnya mereka jika ML dikonsumsi oleh masyarakat luas dan menyadari bahwa ada sebuah sistem penindasan di depan mata.
 
Apa sebenarnya marxisme-leninisme itu? Jika memang itu berisi paham yang tidak baik maka tentunya orang yang membaca itu akan sadar dan meninggalkannya. Tapi kenapa ada larangan keras untuk membahas atau mengkonsumsinya sehingga siapa pun yang anggap bicara soal itu akan mendapat cemooh ataupun ancaman akan ‘diamankan’. Bukankah marxisme-leninisme yang menginspirasi para pejuang kemerdekaan seperti Tan Malaka, Amir Sjarifuddin, Soekarno, dan tokoh-tokoh revolusioner lain untuk menentang kolonialisme dan keluar dari penindasan oleh bangsa asing berserta para komprador di tanah sendiri.
 
II
 
Marxisme. Munculnya paham sosialisme ilmiah ketika Karl Marx membuat sebuah terobosan dalam wacana sosialisme yang berkembang di masa dia hidup. Sosialisme yang ada waktu itu hanyalah sebatas cita-cita atau mimpi harapan akan terciptanya suatu masyarakat tanpa penindasan. Sosialisme utopis yang sudah dimulai sejak zaman Yunani Kuno ketika Plato menulis tentang sebuah sistem sosial yang di mana segala sesuatu dalam kepemilikan bersama . Bahkan tak ada yang namanya istri karena semua lelaki dapat menikmati perempuan secara bergiliran. Hal ini tentu karena di zaman itu perempuan tidak memiliki kedudukan yang sama dengan pria (patriarki). Perempuan dianggap hanyalah pelengkap bahkan dalam banyak budaya patriarki dianggap sumber dosa; yang paling ekstrim ada suatu masyarakat yang menganggap dulunya kaum perempuan tidak memiliki jiwa. Banyak hal seperti ini yang diasosiasikan dengan marxisme padahal sebenarnya tidak demikian. Banyak orang menggeneralisir soal sosialisme tanpa membacannya lebih dalam dan lengkap sehingga banyak prasangka-prasangka yang menyesatkan. Sosialisme Marx disebut sosialisme ilmiah karena didasarkan pada hasil penelitian dan keadaan objektif masyarakat. Itu yang membedakannya dengan para tokoh sosialis sebelumnya seperti Saint-Simon dan para pemikir sosialis Prancis lainnya.
 
Sebenarnya, hari ini, wacana marxisme tidak sepenuhnya mengacu pada tulisan Marx saja tapi merujuk pada sejumlah pemikir, penulis, dan tokoh revolusioner lainnya. Bahkan pun banyak tulisan Marx, sesudah dia meninggal, yang diselesaikan oleh temannya Friedrich Engels. Hari wacana marxisme telah berkembang termasuk seperti new left, revisionisme, feminisme marxis, teologi pembebasan, produktivisme, mazhab frankfurt, eko-sosialisme, atau sejumlah tokoh seperti Lenin, Stalin, Leon Trotsky, Rosa Luxemburg, Mao, Gramsci, Pram, Mercuse, Brecht, Lucasc, Che Guevarra, Fidel Castro, Hugo Chavez, Evo Morales, dll. Ada dua tokoh filsafat yang mempengaruhi pemikiran Marx yaitu Hegel dengan idealismenya dan Feurbach dengan materialismenya. Banyak orang yang bicara soal marxisme tapi sebenarnya tidak mampu membedakan antara keyakinan-keyakinan filsafat Marx, Hegel, dan Feurbach. Ini juga menyesatkan! Filsafat kritis dan praksis yang dibangun oleh Marx adalah sintesis dari dua aliran besar filsafat yang berseteru selama berabad-abad. Sintesa ini menjadi materialisme, dialektika, dan histori atau disingkat MDH; untuk memahami pemikiran ini minimal harus mengenal filsafat, ekonomi, fisika, dan sejarah.
 
Di Indonesia, marxisme menjadi momok bagi para kaum borjuis, bangsawan, dan pemuka agama karena kritik terhadap sistem ekonomi kapitalisme dan struktur kekuasaan. Marxisme menelanjangi praktek ekonomi kapitalisme yang mengeksploitasi, memperbudak, dan menindas . Das Capital ditulis oleh Marx untuk membongkar ekonomi kapitalisme; akar, proses, dan implikasinya. Semangat radikalnya membuat dia membuka dan menelusuri sesuatu yang kebanyakan diterima begitu saja, an sic. Marx menelusuri tentang nilai dari sebuah komoditas, upah, jam kerja, uang, dan segala hal yang menjadi kapital dan bagaimana sirkulasi modal yang menyebabkan penimbunan kapital yang semakin lama semakin besar seperti gelinding bola salju. Menurut saya metode dekonstrusksi Jacques Derrida telah dilakukan oleh Marx sebelumnya dalam karya kritik ekonomi-politik ini. Kemiskinan Filsafat yang ditulis Marx untuk Proudhon dalam rangka membanta tulisannya yang berjudul Filsafat Kemiskinan tentu menggunakan pendekatan materialisme karena dia sendiri ingin menjauhkan diri dari spekulasi-spekulasi metafisik. Nah, materialisme di sini harus ditelusuri lebih dalam karena konsep materialisme Marx tidak seperti kebanyakan orang yang asal memahami; misalnya dengan mereduksi pengertian materialisme dari sudut pandang Feurbach saja. Marx mengatakan bahwa bukan kesadaran sosial yang menentukan keadaan sosial tapi keadaan sosiallah yang menentukan kesadaran sosial. Dia memahami bahwa gerak alam semesta ditentukan oleh kekuatan-kekuatan materil yang juga mengkonstruksi kesadaran manusia. Peradabaan manusia ditentukan oleh kerja untuk memenuhi kebutuhan materilnya sehingga mengembangkan berbagai peralatan sebagai alat produksi.
 
Berkaitan dengan kritik Marx terhadap agama, yang banyak orang sering mengutip pernyataannya mengenai agama adalah candu, banyak orang yang semena-mena mengatakan karena Marx adalah seorang materialis maka dia adalah seorang atheis. Orang tidak berusaha memahami bahwa yang dimaksud Marx agama adalah candu karena agama membuat manusia pasrah akan nasibnya dan menghibur mereka dengan janji-janji surgawi. Padahal ketertindasan manusia adalah akibat dari ulah segelintir manusia lain yang telah terstruktur dan menjadi samar dan lebih parahnya agama membuat itu menjadi lebih samar. Posisi agama pun menjadi media ekploitasi terhadap jemaatnya.
 
Marx berpendapat bahwa gerak materil perkembangan masyarakat mengalami peningkatan kaualitas dan bukan hanya sekedar gerak materil (kuantitas) dan juga sebaliknya; ini dirumuskan dalam pengertian dialektika materilis (diamat), dialektika historis, atau materialisme dialektis. Dari pengalaman sejarah (dialektika historis) Prancis yang mengubah struktur masyarakatnya dengan pecahnya Revolusi Prancis memberi bukti bahwa pertentangan-pertentangan materil ini mengalami peningkatan kualitas. Ini sangat berbeda dengan konsep materialisme Feurbach yang kaku dan dialektika Hegel yang dipengaruhi oleh idealisme objektifnya.
 
“Metode dialetika saya bukan hanya berbeda dengan dialektikanya Hegel, tapi persis kebalikannya. Bagi Hegel, proses kehidupan dari otak manusia, yaitu proses berpikir, yang di bawah panji “Ide” bahkan menjadi satu subjek yang independen, adalah inti hakikat dari dunia nyata, dan dunia nyata hanyalah sekedar bentuk “Ide” yang eksternal dan fenomenal. Bagi saya, sebaliknya, ide bukanlah apa-apa melainkan dunia nyata yang tercermin dalam pikiran manusia, dan diterjemahkan dalam bentuk-bentuk pikiran.”
Marx percaya bahwa perubahan dunia materil ikut menentukan kesadaran manusia dan sebaliknya kesadaran manusia juga akan menentukan perubahan.

“Engels memberikan satu ringkasan tentang hukum-hukum dialektika, yang dimulai dengan tiga yang paling dasar:
1) Hukum peralihan dari kuantitas menjadi kualitas dan sebaliknya;
2) Hukum tentang kutub berlawanan yang saling merasuki;
3) Hukum tentang negasi dari negasi.”

Marxisme yang kemudian berkembang menjadi teori (kritik) sosial yang luas menjadi landasan analisa sosial yang wajib untuk dipelajari karena kaitannya dengan banyak hal. Ketika dia disebut sebagai filsafat praksis maka dia juga memiliki daya gerak untuk melakukan perubahan. Marxisme banyak dimusuhi oleh karena kehadirannya mengancam kekuasaan. Mempelajari marxisme akan membuat orang memahami tentang cara kerja kekuasaan dan juga mengenai realitas sosial. Kita akan mendapati bahwa di bawah sistem kapitalisme hampir semua dieksploitasi untuk keuntungan (money oriented). Yang paling hangat juga dalam wacana marxisme adalah soal komodifikasi; merubah sesuatu yang awalnya bukan komoditas menjadi komoditas. Bahkan manusia pun telah menjadi komoditas dan apa yang terjadi hari ini melampaui apa yang dijelaskan oleh Marx mengenai manusia yang menjadi komiditi karena dia bertindak sebagai penjual tenaganya sendiri yaitu dirinya. Hari ini organ seperti ginjal dan perempuan dijual untuk mendapatkan sejumlah uang walaupun sudah menginjak-injak harkat dan martabat kemanusiaan.
 
Di era kapitalisme manusia terbagi menjadi dua kelas yaitu kelas borjuis dan kelas proletar; ini tentunya adalah sebuah perubahan struktur sosial dari yang sebelumnya feodal dan masyarakat terbagi dalam beberapa kelas atau golongan – bahkan ada yang berdarah biru. Di Inggris, ketika pabrik-pabrik dibangun muncullah kaum buruh yang disebut Marx sebagai proletar. Mereka tidak memiliki alat-alat produksi melainkan hanya memiliki tenaga yang dijual untuk mendapatkan upah. Dalam Das Kapital, Marx masih menjelaskan tentang transformasi masyarakat feodal ke kapitalisme; peralihan dari masyarakat agraris ke industri. Dalam peralihan ini banyak kaum bangsawan feodal juga yang kemudian menjadi kapitalis karena memiliki tanah dan kekayaan. Jadi perubahan struktur sosial ini tidak seperti yang mungkin kita bayangkan bahwa kaum kapitalis kebanyakan memulai semuanya dari nol dan selanjutnya melakukan akumulasi modal. Dalam Revolusi Prancis ada kaum bangsawan yang mentransformasi dirinya menjadi kapitalis oleh karena konflik politik yang ada dalam tubuh kekuasaan kerajaan.
 
III
 
Leninisme. Strategi perjuangan untuk mewujudkan ide-ide Marx banyak berkaitan dengan Lenin sehingga dia juga banyak diasosiasikan dengan wacana marxisme. Ada yang mengatakan bahwa marxisme ditambah leninisme menjadi komunisme. Kemenangan komunisme di Rusia dalam Revolusi Oktober 1917 yang dipimpin oleh Lenin di bawah partai bolshevick-nya membawa angin baru terhadap perkembangan sosialisme di dunia sehingga kaum kiri mendapat penguatan bahwa ide-ide sosialisme bisa diwujudkan. Lenin manjadi ‘nabi’ baru yang mengkampanyekan internasionale dengan panji komunis. Berdirinya Uni Soviet juga mempengaruhi negara-negara di Asia termasuk Indonesia. Teori imperialisme dimulai dari tulisan Lenin yang menjelaskan mengenai ketika kapitalisme selesai melakukan kegiatan eksploitasi dalam suatu negara maka dia akan memperluas kegiatannya di negara lain. Artinya imperialisme adalah tingkat tertinggi dari kapitalisme itu sendiri sehingga membicarakan imperialisme sama halnya membicarakan kapitalisme.
 
Lenin menulis dalam bukunya Negara dan Revolusi bahwa kehadiran negara adalah tidak terdamaikannya konflik antar kelas. Negara berubah menjadi alat penindas yang digerakan oleh kelas borjuis untuk kepentingan kelasnya. Marx sendiri berpendapat bahwa revolusi sosialis harus mengarah pada penghapusan negara untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas yang sesungguhnya. Masyarakat komunal modern yang egaliter adalah masyarakat yang tanpa struktur hirarkis di mana manusia berkuasa atas manusia lain. Tetapi menurut Lenin kehadiran negara sangatlah penting untuk menjaga masyarakat sosialis karena tidak semua orang secara sukarela akan tunduk dalam kepentingan bersama apalagi manusia yang memiliki watak borjuis. Diktator proletariat perlu dijaga oleh kekuatan negara dengan formasi aparat pemerintahan yang memiliki pemahaman sosialis. Konsep diktator proletariat ini banyak disalahpahami oleh kebanyakan mereka yang anti komunis dengan mengambil kata diktatornya saja. Padahal diktator proletariat adalah sebuah konsep penyelenggaraan negara yang tunduk pada kepentingan untuk merubah kelas proletar menjadi sejahtera. Tentunya kaum borjuasi selalu tidak setuju dengan program seperti ini karena mereka tidak rela bekerja sama untuk kepentingan bersama.
 
Negara komunis membuat program ekonomi terencana untuk memenuhi kebutuhan bersama juga yang dijalankan tentunya berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis dalam korporasi-korporasinya. Menarik bahwa kita harus membuat garis demarkasi antara koperasi dan korporasi yang sangat berbeda sistem manajemennya. Nasionalisasi industri dan industrialisasi nasional adalah program untuk memusatkan alat-alat produksi di tangan negara dan dipergunakan untuk kepentingan bangsa. Fungsi negara adalah untuk melayani kepentingan umum bukan hanya untuk segelintir orang atau justru aparatus negara menjadi penindas terhadap rakyat. Produksi negara terukur dan tidak terjebak pada produktivisme yang mengeksploitasi kekayaan alam dan justru berdampak besar pada lingkungan hidup.
 
Leninisme adalah konsep yang menelanjangi praktek aparatus negara yang menjadi komprador kaum kapitalis. Dalam negara kapitalis kebijakan politiknya selalu dipengaruhi oleh kepentingan kaum kapitalis dan bahkan pun mendikte politik itu sendiri. Inilah yang membuat negara menjadi ironis karena bukan melayani kepentingan publik tapi justru turut melegitimasi penindasan. Marxisme-Leninisme menjadi momok bagi para kaum kapitalis dan pemerintah yang bertindak sebagai komprador dalam mengeksploitasi umat manusia.
 
IV
 
Universitas. Pusat pendidikan dan kebudayaan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dengan melakukan penelitian dalam rangka mencari solusi-solusi terhadap problem kehidupan. Tetapi ketika universitas dikuasai oleh kaum konservatif dan kepentingan kapitalis maka universitas sebagai lembaga pendidikan teralienasi dari hakikatnya. Masyarakat ilmiah adalah masyarakat bebas berpikir supaya kreatif dan inovatif tapi jika ada yang membatasi kebebasan berpikir ini maka apa bedanya dengan kondisi di abad kegelapan (The Dark Age). Jika universitas hanya menjadi pencetak budak-budak sistem maka apa yang bisa diharapkan dari para sarjana. Ada banyak masalah-masalah sosial tapi universitas hanya diam bahkan tak bisa berkomentar karena tak mengetahui akar persoalan ataupun jika berkomentar sangat jauh dari tradisi ilmiah. Kita harus memaklumi bahwa Indonesia dikuasai oleh orang-orang konservatif.
 
Ketika Marxisme-Leninisme dilarang di Indonesia maka sejak itu tradisi kritis mati di lembaga-lembaga pendidikan. Analisa sosial tanpa marxisme dalam lingkup masyarakat yang diselimuti oleh praktek kapitalisme sangatlah dangkal. Universitas yang harusnya memproduksi manusia-manusia yang mampu menyelesaikan persoalan bangsa dan negara justru memproduksi sarjana-sarjana karbitan. Tenaga-tenaga pengajar hanya mengejar gaji dan tidak mengerti profesionalisme kerjanya sebagai seorang pendidik. Bangsa Indonesia mengalami amnesia nasional atau ahistoris terhadap peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi sebelum dan sesudah republik ini berdiri.
 
Universitas sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan adalah suatu lembaga yang melakukan proses internalisasi dan ekternalisasi. Internalisasi (input) adalah proses memberikan sejumlah pengetahuan dan keterampilan mengenai sejarah, sains, komputer dll. Sedangkan ekternalisasi (ouput) adalah proses kreatif dan inovatif baik praktek (perilaku) maupun teori. Perkembangan kebudayaan suatu bangsa juga ditentukan dari kualitas pendidikan. 
Kebudayaan berasal dari kata budh yang artinya pikiran sehingga budaya itu menyangkut daya cipta (kreasi) dari manusia. Ada masalah juga ketika orang menganggap budaya adalah tentang masa lalu atau tradisi yang diulang-ulang. Ini berkaitan sebenarnya dengan konsumsi terhadap pengertian budaya dari berbagai literasi yang membingungkan apalagi dari terjemahan buku-buku dari Eropa. Culture diterjemahkan dalam bahasa indonesia menjadi budaya sedangkan jika kita lihat pengertian dari akar dari kedua kata ini berbeda; budaya berakar dari budh (sansekerta) yang artinya pikiran dan culture berakar dari kata cult yang artinya cara memuja; kata ini dapat diasosiasikan dengan kata-kata lain seperti cultivate, cultivation, cultivated, cultivator, cultivable
Dari pengertian Bahasa Inggris kita mendapati bahwa kultur berkaitan dengan pemujaan (tradisi?) dan proses pertanian; hal yang sama pun kita dapati dalam bahasa Indonesia ketika ada frase budidaya tanaman. Berangkat dari situ dapat saya katakan bahwa kebudayaan mirip dengan proses bertani yakni kita menanam dengan memilih bibit yang baik, merawatnya, memanen, menyeleksi, dan menanam kembali. Ini adalah proses internalisasi-eksternalisasi/input-output dan sama persis dengan proses yang dilakukan oleh organisasi-organisasi modern dalam kaderisasi. Ideologi adalah buah pikiran yang ditanamkan, dirawat (menjadi kultus/tradisi), dan diharapkan dikembangkan lagi. Kebudayaan sebagai sebuah totalitas masyarakat terdiri dari sistem nilai, perilaku, dan karya seni sehingga dia menjadi semacam sesuatu yang diam (tradisi kaku) sekaligus bergerak (dinamis). Dalam prosesnya budaya diseleksi soal relevansi dan ide baru yang dapat diterima untuk dikakukan.
 
Kita kembali ke soal Marxisme-Leninisme, universitas di Indonesia yang telah menjadi alergi dengan paham ini akhirnya menjadi tumpul di bidang ilmu sosial. Sementara di dunia barat sendiri tetap menggunakan marxisme sebagai teori penting dalam analisa sosial. Misalnya kita menemukan mazhab frankfurt yang menggunakan marxisme sebagai alat bedah kapitalisme yang sejalan dengan pengakuan Jacques Derrida tentang pentingnya marxisme dalam bukunya Spectre De Marx. Di ruang-ruang kuliah buku-buka yang memuat materi marxisme tidak dibahas secara serius dan memang juga banyak dosen yang tidak mengerti; apalagi mahasiswanya! Ini kemudian menjadi susah bagi para mahasiswa ilmu sosial untuk mengerti konflik nasional di era pra dan pasca kemerdekaan sampai tahun 65/66. Pancasila sebagai ideologi, falsafah, dan landasan konstitusi negara tidak bisa dicerna dengan baik. Ideologi dan filsafat sukar untuk mereka cerna karena tidak memiliki wawasan yang memadai dan tak jarang dosen-dosennya melompat ke bab berikutnya.
 
Tradisi kritis mati di universitas sehingga ketika mahasiswa yang memiliki semangat bertanya akan dianggap sebuah perlawanan terhadap ‘otoritas’ dosen. Mempertanyakan Pancasila secara mendalam atau menyinggung pemikiran-pemikiran Soekarno akan dianggap tindakan ‘subversif’. Universitas kini telah menjadi lembaga alat eksploitasi terhadap mahasiswa sebagai modal sosial. Dosen dan pegawai berebut gaji dan pungli sehingga iklim ilmiah tidak ada; yang ada semacam pusat olah gosip. Dosen dan pegawainya memiliki watak penindas karena memperlakukan mahasiswa seperti tahanan penjara. 
Apa yang bisa diharapkan dari keadaan seperti ini?
 
__________________________________________________
 
1 Di masa Orde Baru (orba) setiap tanggal 30 September pemerintah menayangkan film tentang kudeta (coup d’état) yang dilakukan oleh PKI yang dinamakan gerakan 30 september atau yang disingkat G30S-PKI. Film ini menceritakan tentang penculikan, penganiayaan, dan pembunuhan jendral-jendral untuk merebut kekuasaan. Dan, jenderal Soeharto, yang menjadi presiden selama 32 tahun dengan simbol beringin (Golkar) sebagai kekuasaanya, yang mampu mengatasi dan menjadi penyelamat republik dari kaum komunis.
 
2 Ontak artinya otak.
 
3 “Ataukah kau PKI?” Ini banyak kali ditujukan pada orang-orang yang mengkritik pemerintah sehingga orang akan berhenti mengkritik karena takut jika dirinya dikaitkan dengan orang-orang ‘terlibat’.
 
4 Lengkapnya, Ketetapan Majelis Permusyawaratan Sementara Republik Indonesia Nomor: XXV/MPRS/1966 Tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang Di Seluruh Wilayah Republik Indonesia Bagi Partai Komunis Indonesia Dan Larangan Setiap Kegiatan Untuk Menyebarkan Atau Mengembangkan Faham Atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme.
 
5 D. N. Aidit. Pilihan Tulisan, Djilid 1. Jajasan Pembaruan. Djakarta. 1959
 
6 Sekarang disebut Papua.
 
7 Baca kesaksian mengenai hal ini dalam Moeljono, Djoko Sri. Banten Seabad Setelah Multatuli: Catatan seorang tapol 12 tahun dalam tahanan, kerja rodi dan pembuangan. Ultimus. Bandung. 2013.
 
8 Baca selengkapnya tentang ekonomi kooperasi yang berciri sosialisme dalam Hatta, Mohammad. Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun: Kumpulan pidato bapak koperasi dalam rangka menumbuhkan dan menggiatkan koperasi di Indonesia. Inti Idayu Press. Jakarta. 1987. Walaupun kemudian diketahui ada persoalan konflik politik antara Hatta dan Soekarno tetapi dalam pidato-pidato Hatta tentang model ekonomi koperasi merupakan model ekonomi sosialis.
 
9 Baca selengkapnya dalam Scott, Peter Dale. CIA dan Penggulingan Soekarno. Yogyakarta. Lembaga Analisis Informasi. 2004.
 
10 Dalam tubuh Angkatan Darat ada konflik antara mereka yang bekas didikan kolonial (KNIL) dan tentara rakyat yang revolusioner.
 
11 Ini mirip dengan Revolusi Prancis yang juga melibatkan banyak elemen masyarakat tapi akhirnya yang memegang kekuasaan adalah kaum borjuis maka tidak heran disebut juga sebagai revolusi borjuis.
 
12 Pemikiran Eropa banyak dikembangkan dari filsafat Yunani Kuno sehingga tokoh-tokoh filsafat Eropa juga memiliki akar pemikirannya dari filsuf-filsuf sebelumnya. Misalnya idealisme Hegel pasti akan ditelusuri sampai ke pemikiran Plato atau materialisme feurbach dengan kaitannya dengan Xenophanes.
 
13 Bandingkan dengan outline saya yang berjudul Pengantar Ekonomi-Politik.
 
14 Lihat Woods, Alan & Ted Grant. Nalar Yang Memberontak: Filsafat Marxisme dan Sains Modern. Yogyakarta. Resist Book & Wellred Books. 2015.
 
15 Ibidem.
 
16 Kata praxis memiliki akar yang sama dengan kata pragmatis sehingga menurut saya sendiri ada korelasi antara marxisme dan pragmatisme. William James menjelaskan bahwa pragmatisme melihat kebenaran ada dalam praktek bukan dalam konsep verbal.
 
17 Imperialisme kuno dikenal dengan semboyan gold, glory, and gospel yang menjadi watak imperialisme Eropa atau juga sering disebut kolonialisme. Ketika terjadi kesepakatan antar bangsa mengenai penghapusan penjajahan maka imperialisme berubah bentuk yang kemudian disebut imperialisme modern atau neo imperialisme. Penjajahan gaya baru yaitu penguasaan di wilayah ekonomi dan budaya yang banyak orang juga menyebutnya dengan neo liberalisme.
 

0 komentar:

Posting Komentar