“Menurut taksiran, korban yang dieksekusi dan dibuang di lokasi ini tak kurang dari 2.000 orang”, kata saksi sejarah sambil menunjukkan lokasinya [Foto: Humas YPKP]
SIMPOSIUM NASIONAL
Simposium Nasional Bedah Tragedi 1965 Pendekatan Kesejarahan yang pertama digelar Negara memicu kepanikan kelompok yang berkaitan dengan kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66; lalu menggelar simposium tandingan
Sejumlah dokumen diplomatik Amerika Serikat periode 1964-1968 (BBC/TITO SIANIPAR)
MASS GRAVE
Penggalian kuburan massal korban pembantaian militer pada kejahatan kemanusiaan Indonesia 1965-66 di Bali. Keberadaan kuburan massal ini membuktikan adanya kejahatan kemanusiaan di masa lalu..
TRUTH FOUNDATION: Ketua YPKP 65 Bedjo Untung diundang ke Korea Selatan untuk menerima penghargaan Human Right Award of The Truth Foundation (26/6/2017) bertepatan dengan Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Korban Kekerasan [Foto: Humas YPKP'65]
Februari 17,
2012 | Ditulis oleh KOPRAL CEPOT
Konflik antara diplomasi dan perjuangan merupakan corak
dominan yang mewarnai sejarah Indonesia di masa revolusi. Konflik antara
diplomasi dan perjuangan ini tampil pertama kali dalam masalah apakah
Indonesia, yang baru merdeka, perlu segera memiliki tentara atau tidak.
Pimpinan negara, Soekarno-Hatta, berpendapat dengan segera membentuk tentara,
Indonesia hanya akan memprovokasi Jepang,...
Friday, February 17, 2012
Siapa tidak sangsi kalau Suksesi Soekarno kepada Soeharto berjalan seperti itu. Bukankah Soekarno yang melantik Soeharto sebagai Menpangad menggantikan Akhmad Yani. Lalu Soekarno yang menerbitkan Supersemar yang diserahkan dan diemban Soeharto untuk dilaksanakan. Itu cerita awal peralihan kekuasaan sampai terbentuknya Presidium Kabinet Ampera I dimana Soekarno tetap Presiden dan Soeharto adalah ketua Presidium. Semua mengalir sampai Sidang Umum MPRS ke IV Juni 1966. Supersemar, secarik kertas perintah eksekutif...
Friday, February 17, 2012
Foto atas, Saat Amir tiba di Yogyakarta dengan kereta api tanggal 5 Desember 1948...masyarakat tidak menyambutnya sebagai Pahlawan.
Sumber: Majalah TEMPO online 8 November 2010
RAMBUT gondrong, jenggot berjuntai tak terurus. Mukanya pucat seperti kehilangan darah. Berhari-hari di rawa dengan bekal minim membuat Amir Sjarifoeddin lunglai dan terserang disentri. Bersama rombongannya, dia sulit keluar dari rawa...
Cerpen Martin Aleida (Kompas, 12 Februari 2012)
illustrasi: Suta Kesuma
PUCUK cemara sudah merunduk menyongsong malam. Yang menunggu penjemputan sudah meninggalkan pekarangan dengan puji syukur setinggi langit. Tinggal aku sendiri yang masih mencangkung di pojok sambil terus melotot ke pintu pagar, berharap kalau-kalau ada yang mendekat.
Yang ada cuma angin senja, menerbangkan bau rerumputan bercampur debu, memperberat kecemasanku.
“Mas...
Cerpen Kompas: Martin Aleida
"Pucuk cemara sudah merunduk menyongsong malam. Yang menunggu penjemputan sudah meninggalkan pekarangan dengan puji syukur setinggi langit. Tinggal aku sendiri yang masih mencangkung di pojok sambil terus melotot ke pintu pagar, berharap kalau-kalau ada yang mendekat".
Yang ada cuma angin senja, menerbangkan bau rerumputan bercampur debu, memperberat kecemasanku.
”Mas Koyo,” orang yang sebentar-sebentar...
Sabtu, 04 Februari 2012
Situasi politik di
Banyuwangi sebelum peristiwa berdarah di Bayuwangi, sudah diwarnai persaingan
Nahdlatul Ulama kontra PKI (Partai Komunis Indonesia) dalam pertikaian di wilayah-wilayah
lokal Banyuwangi dan tentunya basis PKI yang mereka sebutb sebagai
tanah abang[1] (Karang asem, dukuh Mantekan, Cemetuk).
Pada masa penjajahan
kolonial Hindia-Belanda, dalam satu periode Kubu PKI membunuh pemimpin-pemimpin
Nahdlatul...