Selasa, 17 April 2012

Aku Yang Tak Menuliskan Nama

sebuah cerita dokumenter atas peristiwa, Solo, 1998



Senja bukan lagi masalah yang memintaku untuk berpikir lari lagi, mencari tempat untuk berlindung sembari membaringkan tulang belakang ku, di gedung tua ini aku sudah menetap, 30 tahun sudah, menjadi penikmat sisa sisa sejarah yang mulai tak bernilai sejarah termakan oleh kebodohan dan ketidakperdulian mereka, begitu pun juga aku, yang menjamah masuk untuk sekedar mencuri atap dari tatapan langit,.
           
Di Jalan Dr. Radjiman ini aku menetap, mendekam sebagai yang kalah dalam percaturan hidup mereka, menjadi tuna wisma di kota sendiri, di Negara sendiri, dan di bumi sendiri, di ujung timur sendiri kecamatan LAWEYAN aku menikmati ringkukan ku, di bangkai dari bekas RS KADIPIRO, yang dulu ramai pastinya, pikuk menjadi pusat distribusi orang sakit kota SOLO , menjadi ajang pertempuran ilmu etika kedokteran dengan kenyataan dunia bisnis pada jaman nya, hiruk dengan lalu lalang mobil ambulan dan lewatnya para suter suster yang memegangi infuse atau preparat, dan tentunya semerbak bau obat obat analgesik maupun anti infeksi menjadi hidangan reseptor bau dikala itu, dan tetap saja aku masih meringkuk saat aku membayangkannya, menatap atap yang begitu kokoh ,atap bangunan yang dulu menjadi ruang IGD ini, betapa dunia ku begitu lucu, di bekas rumah sakit ini aku meringkuk sebagai pesakitan yang tak merasakan perawatan, seorang diri dengan mesin jahit peninggalan ibu ku yang dulu membuka jasa jahit di depan pasar KADIPIRO, yang hanya sayang sudah kalah tergilas majunya industri industri kain besar, dan semakin maraknya penjahit penjahit baru yang berdatang ke solo ini, akhh,,bukan itu, sebenarnya ibu tak melanjutkan karena di tangkap bersama ayah karena peristiwa G30S PKI, peristiwa yang merengut semua sayang yang seharusnya aku dapat di usia kanak ku, biarlah, aku tak bisa berbuat apa apa soal ini, aku hanya orang kecil,sampai sekarang.
           
Dulu tempat ini tak seramai sekarang, hanya aku, Prasojo dan Senen yang tidur dan menganggap sisa bangunan ini sebagai rumah bersama, walau tanpa pengakuan resmi, dari siapapun,ahhh,,,tapi toh memang tak ada yang mengaku dan merasa memilikinya, baik itu dari pemerintah kota, mereka tidak merawatnya, jadi apa salah kami meninggali?? Kalo yang punya hanya mengaku punya tanpa memperdulikan, membiarkanya tergerus hancur bersama waktu, menganaktirikan dengan datangnya bangunan bangunan yang lebih gemerlap dan lebih modern untuk sekedar di pandang,mengabaikan sejarah yang dulu di ukir dengan derai keringat, kucuran darah dan pekikan pekikan, ahhh….pantaslah kalo sekarang kita tak bisa menghargai manusia pada kebanyakan, karena hati sudah tak lagi bisa belajar menghargai pada terima kasih,
           
Setiap hari aku berjuang hidup sebagai penjahit baju, celana atau apapun yang mereka percayakan padaku untuk aku jahit, tak begitu ramai memang, mereka yang datang padaku pun adalah mereka yang benasib kurang lebih sama dengan ku, menjadi manusia-manusia pelengkap,seperti menjadi bakteri penghancur mungkin untuk istilah biologi, ya, sebagai penerima dan pemakai sisa-sisa dari mereka yang lebih punya, tak apalah setidaknya aku tak terlalu sia sia benar untuk hidup, dan kata kata inilah yang selalu membuatku tersenyum saat pikiran tentang pertanyaan-pertanyaan hidup, keadilan Tuhan , dan kenapa ada kehidupan menyergapku, walau entah ku pikir kenapa pula aku juga bisa berpikir seperti itu, padahal mengenyam sekolah saja aku tak pernah, sudahlah….membahas pertanyaan itu saat ini tak akan membuat perut ku berhenti berkoar minta makan., aku harus menjahit, walau entah apa yang akan aku jahit, saat ini tak ada apa apa , barangkali tak makan lagi aku hari ini,
           
Ya,walau tak sepenuhnya aku menggantungkan hidupku dari menjahit, aku punya pekerjaan lain, mengantarkan mereka-mereka yang datang untuk melihat tempat ini, bangunan yang ku anggap  sebagai rumah ku, mengantarkan mereka yang tertarik pada seni bangunan kuno eropa, pada mereka yang mengenang sejarah kota solo, pada mereka yang datang untuk menikmati dan membingkai sejarah lewat jepretan foto atau guratan kuas, atau pada mereka yang datang dengan penuh gaya untuk meninjau lokasi pembangunan gedung baru yang akan didirikan di atas bangunan ini,walau berarti aku mengantarkan mereka yang kelak akan mengusurku jika terjadi kesepakatan antara pemerintah kota dengan dia, walau aku yakin itu memang tak akan pernah terjadi, kota ini masih punya orang orang yang perduli pada sejarah, mencintainya dan menghargainya, walau hanya segelintir, termasuk aku mungkin yang akan berdiri menentangnya,bukan karena masalah ini tempat aku berteduh, tapi karena aku selalu di ajari bapak ku untuk menghormati perjuangan bangsa ini,Negara ini. Ya pekerjaan sampingan ku untuk mengantarkan tamu tamu yang peduli pada tempat berteduhku, tamu tamu dengan pandangan yang berbeda beda untuk bangkai ini , darinya cukup untuk mengganjal rasa lapar selama seminggu, membeli benang yang berbeda warna dari sedikit warna yang sudah ku punya, atau menganti benang yang sudah mulai habis.

Dulu aku, Prasojo dan Senen saja yang tinggal di tempat ini, aku memilih tempat bekas IGD ini sebagai kamar ku, Prasojo orang yang lebih tua dariku memilih ruangan lebih dalam, di bawah sebuah pohon beringin di sebelah utara penampungan air, berdiri bangunan menghadap ke selatan dimana katanya dulu adalah ruang untuk penjaga bangsal, ya disitulah Prasojo tinggal, laki laki yang saat pertama kali ku temui bilang berasal dari kota kecil di daerah Klaten, dia juga mengalami hal sama sepertiku, tiada sanak dan tempat tinggal baginya di sana, suasana di sana terlalu kejam dari pada di solo saat terjadi peristiwa itu tuturnya, entahlah, aku tidak tau benar soal itu,tentang benar apa tidaknya, tapi  mungkin saja dia benar, dia memilih untuk tinggal pada kamar tengah karena trauma pada keramaian jalan, yang akan mengingatkanya pada teriakan teriakan mereka-mereka yang akan menghajar, menghakimi yang entah atas kesalahan apa,pada siapa saja yang berhaluan kiri, atau di cap kiri,dan dari cerita-cerita ngerinyalah aku menyimpulkan alasan kenapa dia tak mau balik atau sekedar melihat tempatnya dulu, ya…..kurang lebih sama sepertiku, hanya saja bukan kebengisan masa yang memisahkan hubunganku dengan keluargaku, tapi aparat, dan tentunya akan membuat sedikit lain pula siapa yang pantas kami taruh kecewa padanya, kenapa tak ku tulis untuk dendam? Aku tak ingin membenci atau mendendam pada apa yang tak ku tahu kebenaranya. Dan Senen, laki laki yang tak ingin memiliki kamar tetap, dia berumur 18 tahun saat aku mengenalnya, begitu muda dan energik, istilah seperti kata kata orang sekarang, dia memilih untuk berjalan jalan keliling kota, menikmati apa yang di suguhkan pada mata saja, karena tak ada yang mampu untuk di beli, laki laki yang ku kenal dengan pikiran pikirannya yang kritis terhadap masalah sosial,yang kadang ku pikir,“dapat dari mana dia pandangan pandangan seperti itu”, hingga belakangan ku tahu, dia ikut menjadi salah satu anggota organisasi serikat buruh di kota solo ini, dan lenyaplah dia dengan segala kegiatannya, pergi berkeliling, dan sesekali datang ke gedung renta ini menemuiku dan Prasojo, bercengkrama dengan cerita cerita yang selalu saja menarik,dari pandangannya yang entah itu tentang budaya Jogjakarta yang sudah mulai luntur oleh banyak nya pendatang sebagai mahasiswa, tentang artis artis ibukota yang begitu seronok dengan mudahnya, menjual harga diri hanya untuk sejumput uang, tentang pemerintahan dan kekuasaan yang korup dan masalah masalah lain yang dari nya membuat kami sedikit mengerti bahwa dunia sedikit demi sedikit mulai berubah, aku dan Prasojo menjadi sedikit tahu banyak tentang permasalahan sosial yang menderanya, hingga terkadang kami terlalu berharap untuk menjadi yang di soroti oleh pemikiran-pemikiran Senen yang mendalam ini, tapi sudahlah tampaknya kami memang harus menerima dan sabar untuk masalah lampau kami sendiri,

“Kita orang jawa terlalu gampang untuk  tunduk, terlalu menerima, dan terlalu cepat putus asa, malas berusaha dan gampang merasa puas, terlalu percaya dan pasrah pada nasib dan payah nya lagi orang jawa terlalu mengandalkan pada kekuatan mistis yang entah ” kata kata Senen yang selalu ku ingat, di mana saat dia berkata ini pertama kali, aku dan Prasojo bertolak belakang dengan pikiran Senen, tapi lambat laun kami mengerti, apa yang ingin di sampaikan Senen pada kami, apa yang diharapkan dan di inginkan pemuda kurus dan kurang tidur itu,.

“  PERUBAHAN  ”
12 Mei 1998, gedung gedung terbakar, menyala merah mengepulkan asap yang bikin ngeri orang yang melihatnya, penjarahan barang-barang ,baik elektronik, sembako, dan barang barang yang terpikir berharga dan bagus sudah pasti di lakukan,barang-barang yang dikata milik para kaum asing,entah warga keturunan maupun barat, masyarakat yang merasa kaya dan takut di jadikan sasaran amukan orang orang kalap berlomba lomba mencoret-coret di tembok sendiri, coretan-coretan bertuliskan “ PRIBUMI, JAWA ASLI, PRO REFORMASI” atau tulisan tulisan yang senada dengan itu menjadi pandangan yang banyak di temui pada waktu itu, entahlah kenapa harus bertuliskan itu dan kenapa mereka yang menurut mereka bukan itu harus di bunuh, di bakar dan di perkosa, aku kecut saat itu, menjadi orang bodoh yang tak tau harus bagaimana, karena mereka yang kalap juga menjarah pintu dan jendela bangunan yang ku diami,

“Bukankah ini milik pribumi, milik pemerintah? Atau sebenarnya tidak milik pemerintah ?? lalu milik siapa ?? kalo tidak milik keduanya pun kenapa mereka berebut dan begitu brutal tanpa ampun saat menghancurkan bangunan sejarah ini?? keberadaanya sebagai sejarah di kemanakan ?? kalo begitu kenapa tidak bakar kraton saja sekalian?!”.

Erangku,. Sayang nya aku tak bisa berbuat apa apa, suaraku tak terdengar, terlalu kecil dan lemah, memang tanpa kedudukan mustahil suara akan di dengar, dan akupun terlalu renta untuk melawan begitu lebat manusia-manusia itu, manusia-manusia yang sedang marah pada kekuasaan yang salah, manusia-manusia yang melepas luapan keinginan yang ku pikir dengan salah pula, bertindak salah untuk meluapkan marah pada yang mereka persalahkan, dan aku hanya bisa menangis, melihat bangsa dengan budaya yang di banggakan dengan ADI LUHUNG, INGGIL TOTO KROMO ,bisa berbuat seperti manusia manusia pedalaman yang tak mengerti pendidikan, etika, sopan santun dan bertindak dengan begitu PURBAnya,.

Berkutat dengan mesin jahit yang tetap hitam mengilat di usianya yang lebih tua dari pada diriku sendiri, menjahitkan pakaian pakaian lusuh yang lebih layak di jadikan kain lap dari pada di kenakan untuk menutup tubuh, menikmati satu gelas teh tawar yang tak lagi hangat sisa tadi pagi, dan akhir-akhir ini tampaknya aku lebih banyak melamun, jahitan ku tak seramai dulu lagi, teman teman ku juga sudah tak lagi bisa mengajak ku bicara, Prasojo meninggal saat tragedi MEI 1998,mungkin karena serangan jantung, teringat kembali akan peristiwa di Klaten yang dulu dulu rupanya, dan Senen, pemuda yang biasa mendongengkan derai sejarah baru tentang negeri ini menghilang, tak lagi muncul, dengar-dengar dia sudah pindah ke Jakarta, mencoba untuk lebih mengerti PERUBAHAN yang selalu dia inginkan, tinggal aku sendiri, di sini, di bangkai sejarah yang tak lagi di perdulikan, dengan mesin jahit yang tak bisa bercerita, dengan tumpukan kain kumel yang berbau pesing, mengenangkan masa lalu, menjadi saksi sejarah baru, sebagai orang kecil yang tak bisa berbuat apa-apa, menjadi penjaga bangunan yang tak jelas mau dikemanakan nasibnya, menjadi pesakitan di diri sendiri,dikota sendiri, di negeri sendiri, “sekarang aku rajin batuk”.

“Aku yang tak menyebutkan namaku di sini, di cerita ini, sebagai orang yang tak di dengar karena tak memiliki apa-apa, aku yang diam di sudut depan bangunan ini, terasing sendirian tanpa kepantasan, mereka tak memperdulikan ku, tak memperdulikan keberadaan ku, di kota kelahiranku sendiri, di Bumi pertiwi ku, hanya menunggu maut yang ku harap bisa berbuat lebih adil dari kehidupan,lebih adil untuk memandangku, lebih adil untuk memperlakukanku, menerimaku ” .

Source: Decungkringo 

0 komentar:

Posting Komentar