HUTAN MONGGOT

“Menurut taksiran, korban yang dieksekusi dan dibuang di lokasi ini tak kurang dari 2.000 orang”, kata saksi sejarah sambil menunjukkan lokasinya [Foto: Humas YPKP]

Selasa, 30 Agustus 2011

#8 Kediri (Bag 3): Banser, Algojo-Algojo Yang Dikirim Tuhan

30 Agustus 2011 | Gelaran Buku Jambu, Kediri | Km 302 | Pkl 20.35 Gelaran Buku Jambu Kediri ternyata menyimpan sebuah buku kecil karya Hairus Salim HS berjudul “Kelompok Paramiliter NU”. Sebuah buku yang mengulik sejarah lahirnya Banser (Barisan Ansor Serbaguna), dan terutama sekali aksi-aksi fisiknya saat menggelar pembunuhan besar-besaran atas kader dan simpatisan PKI di Kediri. 1 Syawal di bulan September. Saat silaturahmi dengan keluarga PlemahanKediri rampung, saya bergegas ke Gelaran Jambu. Sebuah perpustakaankomunitas—satu-satunya...

Senin, 29 Agustus 2011

#8 Kediri (Bag 2): Teater Pembantaian di Alun-Alun Kediri

29 Agustus 2011 | Masjid Agung, Kediri | Km 280 | Pkl 17.55 Alun-Alun Kediri di seberang selatan Masjid Agung menjadi semacam Ikada kala apel akbar Banser/Ansor NU dan ormas-ormas lainnya yang sokong 100 persen tentara digelar. Kronik penyembelihan besar-besaran terhadap siapa pun yang terkait dengan aktivitas Partai Komunis Indonesia (PKI) dimulai dari sini. Banser adalah nama lain dari Ansor, sayap pemuda dari NU. Matari sepenuhnya telah jatuh dari cakrawala saat saya memarkir tunggangan di halaman Masjid Agung, sekira 16 kilometer dari Kanigoro....

#8 Kediri (Bag 1): Kanigoro Affair

29 Agustus 2011 | Kras, Kediri | Km 264 | Pkl 17.05 Kanigoro adalah dalih Pelajar Islam Indonesia (PII) untuk membunuh anggota dan simpatisan PKI. Dan ini dituturkan dengan penuh kebanggaan. Dari generasi ke generasi. Kanigoro adalah saksi bagaimana PII menjadikannya sebagai mandat pembantaian di bawah komando Banser/Ansor. Saya memasuki Kanigoro, Kras, Kediri, ketika matahari sudah rebah. Terhalang oleh bangunan Pabrik Gula Ngadirejo dengan dua tabung asap raksasa yang mengular ke langit. Artinya, saya sudah 12 jam di atas jalan raya jika...

#4 Wonogiri (Bag 4): Pembuangan Akhir Mayat-mayat Merah

29 Agustus 2011 | Purwantoro | Km 198 | Pkl 12.02 Jika terminal Purwantoro adalah persinggahan “akhir” banyak bus besar dari pelbagai jurusan seperti Solo, Semarang, Bandung, Jakarta, bahkan beberapa kota di Sumatera, maka rumah Mas Yahya Perwita di belakang terminal bus Purwantoro, Wonogiri, itu menjadi persinggahan terlama dalam perjalanan mudik saya yang bertajuk #syawalitumerah. Dua jam saya beristirahat di belakang gereja jawa itu. Ya, saya datang sekira pukul 10 dan berangkat lagi pukul 12 setelah disuguhi kopi pahit ukuran gelas jumbo...

#4 Wonogiri (Bag 3): Kuburan Merah

29 Agustus 2011 | Purwantoro | Km 198 | Pkl 10.10 Jawa menjadi kuburan bagi PKI dan simpatisannya.Dalam sepotong dialog film propaganda yang terus diputar rezim militer-dagang Suharto, Aidit (Syubah Asa) tampak mengepalkan tangan kiri penuh yakin bahwa pertarungan sejati dan habis-habisan di Jawa, lantaran Jawa adalah kunci. Dan kita tahu kemudian Jawa juga menjadi kuburan bagi keyakinan itu. Yahya Perwita dari belakang terminal bus Purwantoro, Wonogiri, menyimpan cerita dua kuburan yang tertutur oleh Mbah Madi dan Mbah Padmo. Kisah itu tergali...

#4 Wonogiri (Bag 2): Kisah-Kisah Perburuan 29 Agustus 2011 | Purwa

29 Agustus 2011 | Purwantoro | Km 198 | Pkl 10.10 Kisah-kisah mereka yang dituduh merah, disangkakan PKI, dihimpun Yahya Perwita dari belakang terminal bus antara tahun 2002-2004. Dari Purwantoro, Wonogiri, kisah orang-orang dilumpuhkan suara itu terabadikan. Walau masih samar dengan ketakutan yang masih mengiang. Inilah cerita Mbah Darso, Mbah Kimin, Mbah Sarno, dan Mbah Tiyem. Cerita Mbah Darso “Langsung bawa saja ke penjara!” Dan akhirnya tibalah kami di penjara. Tanpa ba bi bu, kecuali aku dan tiga orang yang lain semua dipukuli, disiksa,...

#4 Wonogiri (Bag 1): Kisah-Kisah Pembunuhan

29 Agustus 2011 | Wonogiri | Km 81 | Pkl 07.40 Kisah-kisah mereka yang dituduh merah, disangkakan PKI. Dari Purwantoro, Wonogiri, kisah orang-orang dilumpuhkan suaranya itu tersiar. Walau masih samar dengan ketakutan yang masih mengiang. Dari arah kiri, saya memasuki Kota Wonogiri. Sesaat saya ngelangut di depan pasar kota sambil membuka koran “nasional” satu-satunya yang terbit: Jawa Pos. Maklum, Kompas memutuskan libur lebih dahulu. Apa yang merah di Wonogiri? Awalnya saya tak punya informasi sama sekali tentang merahnya merah di kota ini....

#3 Klaten (Bag 3): Pembangkangan Bayat

29 Agustus 2011 | Bayat | Km 40 | Pkl 6.37 Sebelum sampai di SMP Bayat, Klaten, di pertigaan pohon ringin besar ada sebuah papan penunjuk ke arah kanan: Makam Ki Ageng. Saya hanya melintas. Tidak singgah dan nyekar. Kelak saja jika tema perjalanan adalah nyekar kubur para pesohor. Saya mengonfirmasi makam itu ke budayawan rakyat Bondan Nusantara, benarkah Ki Ageng yang dimaksudkan papan penunjuk itu adalah Panembahan Kajoran? Jawaban penulis roman “Rembulan Ungu” (2011) itu ringkas: betul! Lengkaplah sudah. Jika Klaten memerah riuh meriah di...