Minggu, 17 April 2016
JAKARTA- Tragedi 1965 ternyata bukanlah
masalah yang sederhana sebagaimana ingin ditafsirkan oleh banyak orang.
Masalahnya jauh lebih dalam daripada soal ‘meluruskan sejarah’ karena
sejarah bersifat multitafsir tanpa kebenaran tunggal. Oleh karenanya
Simposium Nasional ”Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Sejarah”
dilaksanakan langsung dipimpin oleh Gubernur Lemhanas, Letjen (Purn)
Agus Widjojo sebagai Ketua Panitia Pengarah Simposium Nasional
bekerjasama dengan Menkopolhukam, Luhut B. Panjaitan.
Simposium ini, yang akan diadakan 18-19
April pukul 09.00 pagi di Hotel Arya Duta Jakarta, mengundang ahli,
pelaku, saksi, korban dan pengamat yang akan berdialog dan berdiskusi
untuk mencari titik temu menyelesaikan peristiwa ini.
Ketua Panitia Pelaksana, Suryo Susilo
menjelaskan bahwa setiap usaha untuk mengonstruksi kebenaran tunggal
mengenai sejarah akan menyebabkan kita terjerembab dalam permainan klaim
kekuasaan yang memposisikan satu pihak sebagai yang ‘benar dan menang’
dan pihak lain sebagai pihak yang ‘salah dan kalah’ : dikotomi yang
justru mengaburkan sejarah itu sendiri.
"Titik permasalahannya bukan berada pada
diri perseorangan pelaku dan/atau korban tetapi pada masalah bangsa.
Maukah bangsa ini menyelesaikan konflik dan trauma yang terus
menggoncang bangunan dan kehidupan kejiwaan bangsa serta merangsang
untuk terjadinya berbagai macam kekerasan yang masih terjadi dalam
berbagai bentuk dan kasus hingga hari ini ?" ujarnya.
Ia menjelaskan, di tengah itu semua,
banyak orang diam-diam memendam harapan yang sama dan bertanya-tanya.
Bagaimana menghadapi tragedi itu, menyelesaikan persoalan hak asasi
manusia, memulihkan korban dan menempatkannya secara jujur dalam
lintasan sejarah Indonesia, serta memahami implikasinya terhadap
kehidupan berbangsa sejak 1965-1966?
Menurutnya, sesudah Reformasi 1998
harapan itu terekspresikan secara terbuka terutama dengan munculnya
kesaksikan korban/penyintas dan keluarganya serta advokasi para
pendamping dan pegiat HAM.Bukti-bukti pelanggaran HAM berat yang telah
terjadi sudah diumumkan oleh Komnas HAM pada bulan Juli 2012. Telah
banyak pula kajian akademik, dokumen penyelidikan dan kesaksian, serta
rekomendasi yang dihasilkan selama ini.
Komnas HAM periode 2007-2012 pun
telah melaksanakan penyelidikan dan menyampaikan laporannya kepada
Kejaksaan Agung yang berisi kesimpulan bahwa dalam peristiwa 1965-1966
patut diduga telah terjadi pelanggaran HAM yang berat. Berbagai
inisiatif dan sumbangan bagi penyelesaian itu sampai saat ini masih
berproses.
Dari pengalaman atas kekerasan dan upaya
penyelesaiannya yang panjang itu, patutlah kita mengakui dengan rendah
hati bahwa bangsa ini belum sungguh-sungguh menjalani proses menjadi
bangsa yang beradab. Sebuah bangsa yang beradab ditandai dengan
penghormatan terhadap harkat dan martabat kemanusiaan, menjalankan
kehidupannya berdasarkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan,
sertamengembangkan cara pandang yang sehat dan proporsional terhadap
masa lalu, yang amat penting dalam membentuk tatanan moral dan etika
hidup bersamademi kepentingan masa depan anak bangsa.
"Pertanyaan bagaimana hanya dapat mulai
dijawab ketika kita mengerti apa yang terjadi pada periode kelam
tersebut. Ciri dari peristiwa politik adalah terbentuknya kabut tebal
yang mengaburkan dan menyembunyikan banyak fakta," katanya.
Namun katanya, bertumpu ke banyak kajian
dan kesaksian yang sudah ada sejauh ini, kembali muncul
pertanyaan-pertanyaan, apa hakikat dan latar belakang terjadinya
peristiwa tragedi 1965? Dinamika sosial, psikologis dan antropologis apa
yang berlangsung sehingga masyarakat di berbagai daerah dapat melakukan
pembunuhan skala besar dalam waktu singkat? Elemen-elemen politik apa
dalam kehidupan bangsa yang menjadi pemicu terjadinya peristiwa tragedi
1965?
Apa yang berlangsung pada tataran
politik dan kenegaraan sehingga terjadi penyalahgunaan wewenang yang
menimbulkan tragedi 1965? Apa dan bagaimana pengaruhnya bagi kehidupan
berbangsa dan bernegara? Bagaimana korban/penyintas dan keluarganya,
didukung para pendamping dan pegiat hak asasi manusia serta berbagai
organisasi masyarakat warga merawat ingatan, memperjuangkan hak dan
memulihkan luka yang diderita?
Bagaimana berdamai dengan masa lalu oleh
generasi yang mengalami peristiwa itu? Bagaimana generasi yang tidak
mengalami peristiwa itu mencoba memahami dan merekonstruksi ingatan
kolektifnya sejarah bangsa berdasarkan sumber pengetahuan yang tersedia,
yang untuk waktu lama amat terbatas baik dari segi jumlah maupun
substansinya?
"Panitia Simposium ini menyadari bahwa
kompleksitas peristiwa 1965-1966 menuntut bukan saja prasyarat politik
dan kelembagaan, melainkan juga prasyarat kultural. Ketiganya merupakan
kesatuan, kendati tidak sama antara satu dan yang lainnya. Dengan kait
kelindan itu, bagaimanakah kita bersama-sama akan menyembuhkan luka
terdalam bangsa ini dengan cara yang jujur, adil dan beradab? Apa yang
perlu dan dapat dilakukan dalam situasi Indonesia sekarang ini?:
katanya.
Tujuan Simposium
Ketua Forum Solidaritas Anak Bangsa
(FSAB) ini menjelaskan, tujuan dari Simposium Nasional ini adalah
menempatkan tragedi 1965 secara jujur dan proporsional dalam kesejarahan
bangsa Indonesia dengan melacak arti dan menimbang implikasinya dalam
berbagai aspek kehidupan berbangsa.
Simposium akan membahas secara reflektif
makna dan tatanan kebangsaan yang baru, berlandaskan pembelajaran atas
peristiwa kekerasan dan pelanggaran HAM masa lalu, khususnya tragedi
1965.
Dari Simposium ini diharap dapat menghasilkan rekomendasi bagi
pemerintah untuk menyelesaikan secara komprehensif kasus pelanggaran
berat hak asasi manusia dalam tragedi kemanusiaan 1965.
"Simposium ini tidak menempatkan diri
sebagai sebuah langkah baru yang ekslusif, tetapi bertumpu ke berbagai
produk yang telah dihasilkan dalam upaya memahami dan menyelesaikan
kasus tragedi 1965. Perbedaan yang dapat dicatat di sini adalah
pendekatan komplementer psiko-antropo-historis sebagai metode untuk
mendapat jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan di atas," katanya. (Web
Warouw)
http://www.bergelora.com/nasional/politik-indonesia/3268-simposium-nasional-mencari-jawab-atas-tragedi-1965.html







0 komentar:
Posting Komentar