Rabu, 21 Oktober 2009
Malapetaka Sosiologis Indonesia: Pembalasan Berdarah (5)
OCTOBER 21, 2009 - SOCIOPOLITICA
“Mengingat integritas dan reputasi kejujuran Sarwo Edhie,
catatan itu pasti berisikan hal-hal yang amat berharga dan relatif tidak mengandung
unsur pemalsuan sejarah. Atau catatan itu justru ‘hilang’ karena bersih dari
pemalsuan sejarah? Selain korban jiwa dalam malapetaka sosial tersebut, yang
sebenarnya tak hanya menimpa massa pendukung PKI, sejumlah orang
juga menjadi tahanan politik bertahun-tahun lamanya di berbagai tempat
penahanan di seluruh Indonesia dan kemudian di Pulau Buru”.
SEPERTI...
Senin, 19 Oktober 2009
Malapetaka Sosiologis Indonesia: Pembalasan Berdarah (4)
OCTOBER 19, 2009 - SOCIOPOLITICA
”Para tahanan itu harus menghadapi kekerasan massa dan
terbunuh dalam kerusuhan itu. Melebihi pemenggalan kepala yang menjadi eksekusi
standar di berbagai penjuru tanah air kala itu, dalam peristiwa di Watampone
itu terjadi pencincangan tubuh atas orang-orang PKI. Pencincangan adalah
mutilasi berat, berupa pemotongan dan penyayatan bagian-bagian tubuh sehingga
‘terpisah’ dalam potongan-potongan”.
Bernasib lebih buruk adalah beberapa tokoh pengurus
daerah PKI, yang diambil dari rumah mereka masing-masing,...
Sabtu, 17 Oktober 2009
Malapetaka Sosiologis Indonesia: Pembalasan Berdarah (3)
OCTOBER 17, 2009
“Salah satu pelaku pemerkosaan yang paling brutal,
seperti yang digambarkan Soe Hok-gie dalam tulisannya, adalah Widagda seorang
pimpinan PNI dari Negara. Ia ini adalah adik laki-laki Wedasastra Suyasa,
seorang tokoh terkemuka PNI di Bali dan anggota DPR-GR di Jakarta. Widagda
memperkosa puluhan wanita yang dituduh dan dikait-kaitkan dengan PKI, meskipun
terbukti kemudian bahwa tidak selalu tuduhan terkait PKI itu benar”.
Faktor lain yang membuat PKI menonjol di Bali adalah
bahwa dalam Nasakomisasi yang dijalankan oleh...
Selasa, 13 Oktober 2009
Malapetaka Sosiologis Indonesia: Pembalasan Berdarah (2)
OCTOBER 13, 2009 - SOCIOPOLITICA
“Keikutsertaan sebagai pembantai bahkan kerapkali
dianggap semacam tugas suci oleh beberapa anak muda belasan tahun. ‘Seorang
teman sekolah saya di SMA, kerap bercerita, mengenai pengalamannya beroperasi
pada malam sebelumnya’, kata Sjahrul. Kelakuan para remaja yang terbawa arus
melakukan pembantaian tampak berangsur-angsur menjadi tidak wajar”.
Setelah Peristiwa 30 September terjadi, 2 Oktober
dinihari, setengah jam sebelum Halim Perdanakusumah diduduki Pasukan RPKAD,
Aidit yang ditinggalkan dalam...
Senin, 12 Oktober 2009
Rivai Apin Menguak Teeuw

SENIN, 12 OKTOBER 2009
oleh Asep Sambodja
Kritikus sastra A. Teeuw (1978, 1989) menghajar penyair Rivai Apin berkali-kali dalam bukunya Sastra Baru Indonesia 1 dan Sastra Indonesia Modern II. Teeuw tidak sekadar mengkritik, tapi juga terkesan “mematikan” salah satu penyair Angkatan ’45 yang telah menghasilkan buku kumpulan puisi Tiga Menguak Takdir bersama Asrul Sani dan Chairil Anwar (1950) dan Dari Dunia yang...
Kamis, 08 Oktober 2009
Malapetaka Sosiologis Indonesia: Pembalasan Berdarah (1)
OCTOBER 8, 2009 - SOCIOPOLITICA
“Peristiwa 30 September 1965 memang adalah sebuah
peristiwa yang meletus sebagai akibat tidak sehatnya tubuh bangsa Indonesia”.
Sebuah peristiwa yang merupakan “ledakan dari suatu masyarakat yang penuh
dengan tension dan friction, penuh dengan ketegangan dan
pergesekan kronis”.
LUMURAN darah tak mengenal pengecualian dalam pilihan
waktu kehadiran sepanjang perjalanan sejarah manusia di kepulauan Nusantara
ini, tak terkecuali pada masa Indonesia merdeka dalam sejarah Indonesia modern.
Tepat...
Senin, 05 Oktober 2009
Mengenal Letkol Untung
Oktober 5, 2009
Tetangganya mengingatnya sebagai Kusmindar. Tapi
teman-temannya di Pasukan Tjakrabirawa mengenalnya sebagai Kusman. Kus,
begitu ia biasa dipanggil. Kelak, orang mengenalnya sebagai Letnan
Kolonel Untung.
Siapakah sesungguhnya Untung? Dari mana asalnya? Koran Tempo edisi Senin, 5 Oktober 2009, menurunkan laporan utama lengkap tentang Untung dan perannya dalam insiden G30S.
Karena beberapa kawan mengeluh susah mendapatkan edisi cetak Koran Tempo,
saya muat kembali artikel yang ditulis oleh kawan-kawan saya:...
Kamis, 01 Oktober 2009
Asvi Menggapai Kebenaran Sejarah
Kompas.com - 01/10/2009, 01:51 WIB
Oleh: ST Sularto
Hari-hari akhir bulan September menjadi istimewa bagi Asvi Warman Adam (55). Obsesinya menguak kebenaran sejarah, di antaranya tentang Peristiwa 1965, lagi-lagi memperoleh momentum.
Dia ajak pemerintah, sesama sejarawan, dan masyarakat berpikir ulang tentang narasi-narasi masa lampau, utamanya tragedi 1965. Mengenai kemungkinan pelanggaran berat HAM, sekitar Peristiwa 1965, menurut ahli peneliti utama LIPI itu, peristiwa Pulau Buru sebagai peristiwa paling jelas.
Tempatnya...
Langganan:
Postingan (Atom)