Dihukum mati tanpa proses peradilan. Kisah tragis seorang politikus-pemikir yang dibunuh bangsanya sendiri.
WeBlog Dokumentatif Terkait Genosida 1965-66 Indonesia
“Itu terungkap waktu dibongkar pertama kali untuk tes forensik," kata Direktur Tan Malaka Institute Sumatera Barat, Yudilfan Habib Datuak Monti.Menurut Yudilfan, pihak keluarga saat ini berupaya memindahkan jenazah dari Kediri ke Nagari Pandam Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Itu sesuai adat di kampung halaman yang tak pernah lagi ditinggali Tan sejak sekolah di Bukittinggi.
“Dalam rangka studi saya untuk mencapai gelar doktoral ilmu sosial, saya mencoba pada paruh pertama tahun 1972 untuk mencari dan menggali keterangan-keterangan yang ada tentang kehidupan Tan Malaka sampai tahun 1922. Usaha saya itu, di luar dugaan, mencapai hasil yang baik sekali dan menelurkan (tulisan): Tan Malaka, Seorang Revolusioner Indonesia, Riwayat Hidup dari 1896 sampai 1922. Bagian pertama karya ini dengan sendirinya menimbulkan hasrat untuk sebanyak-banyaknya juga menjejaki apa yang terjadi selanjutnya dengan Tan Malaka,” tulis Harry Albert Poeze dalam prakata buku Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik Jilid I (1988).Poeze tak hanya berkutat pada arsip-arsip kolonial di sekitar Leiden dan Amsterdam. Selain ke Indonesia, Poeze mendatangi negara-negara tempat Tan pernah disinggahi selain Belanda. Seperti Amerika, Inggris, Perancis, Jerman, Rusia, juga Filipina. Ia bahkan ke Rusia untuk melacak arsip Comintern soal Tan Malaka di Moskwa. Meski surat-menyurat Tan Malaka dengan sahabatnya kerap memakai kode untuk mengecoh sensor pihak kolonial, Poeze berhasil memecahkannya.
Harry Poeze telah meneliti Tan Malaka selama lebih dari 40 tahun
"Dulu gedung ini katanya adalah penjara untuk tapol. Tapi sekarang sudah jadi restoran seafood," ungkap Salim, karyawan di restoran Hee Lai Ton kepada MedanBisnis, Jumat (12/2) sore.Salim menjelaskan, gedung tersebut diubah sekitar 2005. Sejak saat itu, gedung restoran Hee Lai Ton mulai dibangun, dan kokoh berdiri hingga sekarang.
"Di saat tsunami Aceh tahun 2004, bangunan lamanya (penjara) sudah rata. Soalnya di sini juga jadi tempat pengumpulan bahan dan barang bantuan bagi pengungsi korban tsunami di Aceh sebelum dikirim," jelasnya.Ucok Hasibuan, warga setempat menceritakan, dahulunya gedung itu adalah penjara bagi para tahanan politik, seperti kader dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI). Penjara itu difungsikan setelah meletusnya peristiwa G-30-S PKI pada 1965.
"Dahulu di masa orde lama, Bung Karno kan anti Amerika dan anti imperialis. Jadi Bung Karno sangat dekat dengan RRT dan Uni Soviet, makanya dibangun sekolah di situ untuk memperingatinya," terangnya.Namun, lanjut Ucok, setelah peristiwa G30S/PKI meletus, fungsi sekolah pun lalu dihentikan. Selanjutnya bangunan yang ada dijadikan sebagai tempat ditahannya para tapol, yang dikenal dengan sebutan penjara Gandhi.
"Setelah itu jadi penjara. Banyak Tapol yang ditangkap dan ditahan di situ," ujarnya.Yasir, warga setempat lainnya mengisahkan, penjara Gandhi merupakan penjara yang dulunya sangat ditakuti. Menurut kisah yang pernah didengarnya dari para orang tua, penjara tersebut merupakan penjara terkejam.
"Jadi kami di sini waktu kanak-kanak dahulu sangat takut jika melintas malam hari di situ. Selain sepi, di sana juga terkesan sangat angker," ujarnya.Tetapi kini setelah penjara ditutup, lanjut Yasir, situasinya sudah sangat jauh berubah. Kawasan Jalan Gandhi yang dahulu begitu mencekam karena kisah kekejaman penjaranya, kini sudah terang benderang.
"Untuk orang-orang Medan sekarang, sudah banyak yang nggak tahu lagi soal Jalan Gandhi ini. Apalagi, bagi mereka yang merupakan para pendatang," tandasnya. (rozie winata)