Selasa, 30 Juli 2019

Fasisme, Pelarangan Buku, dan Sastra Eksil

30 Juli 2019 | Joss Wibisono



Setelah tudjuh bulan sepi, penjitaan buku kembali terdjadi. Sabtu, 27 Djuli 2019, di Probolinggo, Djawa Timur, dua orang pemuda pegiat Vespa Literasi, ditahan dan diinterogasi polisi. Mereka achirnja dibebaskan, tapi empat buku jang mereka bawa disita, tiga buku tentang D.N. Aidit (pemimpin PKI) dan satu buku tentang Bung Karno. 

Diawali achir Desember 2018, inilah untuk keempat kalinja terdjadi penjitaan buku dalam setahun ini. Selain di Pare (Kediri), sebelum itu penjitaan terdjadi pada hari jang sama (8 Djanuari 2019) di Padang (Sumatra Barat) dan Tarakan (Kalimantan Timur). Tak pelak lagi inilah salah satu bentuk pembatasan kebebasan berpikir dan berpendapat warisan Harto daripada Orde Bau. Ketidakbebasan zaman Orde Bau antara lain membuahkan apa jang disebut ‘Sastra Eksil’. Indonesia tampaknja memang tidak mau kalah dengan Djerman, karena di bawah nazi Hitler, mereka sudah punja apa jang disebut die deutsche Exilliteratur.
 Adakah kaitan antara Djerman dengan Indonesia dalam perkara sastra eksil ini? 

Sebermula, ketika masih belum terdjadi razia buku, saja berupaja menemukan perspektif bagi pelbagai tulisan tentang kalangan eksil. Tatkala belakangan sudah lumajan banjak terbit tulisan bahkan buku—fiksi maupun non-fiksi—oleh dan mengenai mereka jang terhalang pulang kampung karena Harto naik kuasa, maka tampaknja jang masih dapat dilakukan adalah memberi wawasan, atjuan atau perspektif. Maklum eksil bukan tjuma dikenal di Indonesia. Kalangan eksil negara mana pula jang kira2 tjotjok dengan eksil Indonesia? 

Di sini ada dua padanan jang menondjol. Pertama eksil jang terdjadi di Cekoslowakia ketika negeri itu diserbu tank2 Soviet, pada Agustus 1968, jang mengachiri Pražské jaro (musim semi Praha) jaitu demokratisasi komunisme di bawah Alexander Dubček. Salah satu tokoh ternama negeri itu jang kemudian kabur ke Paris adalah Milan Kundera. Fenomena kedua terdjadi di Djerman, tatkala partai fasis NSDAP (atawa Nazi) berkuasa pada awal 1933. 

Waktu itu djuga banjak orang kabur ke luar negeri, termasuk dua nama jang dalam berkarja berkaitan dengan Indonesia. Djelas fenomena kedua lebih tjotjok, dan bukan hanja karena dua penulis jang karjanja akan dibahas di bawah nanti. Jang pertama, musim semi Praha, terdjadi di bawah rezim komunis, djelas tidak tjotjok untuk Indonesia. Walaupun diperintah oleh Sukarno jang ke-kiri2an, Indonesia pada zaman Demokrasi Terpimpin itu djelas bukan negeri komunis. 

Sastra eksil Indonesia tampaknja memang lebih mirip dengan istilah serupa jang ada dalam bahasa Djerman, itulah istilah die deutsche Exilliteratur alias Sastra Eksil Djerman. Die deutsche Exilliteratur mentjakup pelbagai karja sastra dalam bahasa Djerman jang terbit (dan ditulis) di luar Djerman, antara 1933 sampai 1945, tatkala negeri berpenduduk terbanjak benua Eropa itu diperintah oleh rezim Nazi. Sastrawan jang berkarja dalam pembuangan itu diusir keluar negeri karena dianggap menghasilkan karja sastra jang bukan Djerman lagi. Walaupun karja2 itu ditulis dalam bahasa Djerman, tetapi karena penulisnja orang Jahudi, keturunan Sinti dan Roma (diedjek sebagai gipsi), pemeluk Saksi Jehova, penganut komunisme, penjuka sedjenis, pasifis (anti-perang), pendek kata tergolong Untermensch (belum lagi manusia) sehingga merupakan musuh rezim kanan beraliran Nazi, maka karja mereka dianggap tidak lajak dibatj. Para penganut aliran Nazi mendaku diri sebagai Übermensch alias manusia kelas atas. 

Ada perkara jang lebih mendesak lagi ketimbang ‘tjuma’ mentjari perspektif bagi Sastra Eksil alias membandingkannja dengan Exilliteratur Djerman. Menekuni ideologi kanan para pelaku razia buku djauh lebih menarik dan mendesak ketimbang lagi2 menggambarkan korban tindakan mereka atau menulis tentang penderitaan kalangan kiri. Selain orang tidak pernah (paling sedikit djarang) menjoroti pelaku, saja ogah meringankan ulah mereka jang djelas2 tidak (pernah) membatja buku jang mereka sita. Karena itu saja memutuskan untuk tidak membahas karja2 jang tergolong Sastra Eksil ini. Bisa2 dengan membahas penulis eksil Indonesia buku2 karja mereka akan tertjiduk razia pula! Tak pelak lagi, walaupun tindakan memusuhi buku bukan hal baru di Indonesia (semasa pendjadjahan Belanda dan Djepun serta pada zaman Bung Karno djuga sudah banjak buku jang dikorbankan), tindakan terhadap buku2 jang dianggep kiri adalah warisan Orde Bau jang paling murni. 

Alhasil berikut bisa disimak ideologi dan pelbagai langkah jang ditempuh kalangan jang memusuhi buku, kemudian djuga akan diambil tjontoh2 jang membuktikan kaitan Djerman dengan Indonesia. Tjontoh itu mentjakup Pramoedya Ananta Toer, penulis ternama Indonesia jang begitu dimungsuhi Harto daripada Orde Bau. Seperti Pramoedya, tokoh2 lain jang ditampilkan di sini djuga sudah tutup usia, sehingga tidak akan ada karja baru mereka. Dengan sengadja tulisan ini tidak akan menjebut penulis2 jang masih hidup dan berkarja, supaja tidak mempermudah ulah para pelaku razia buku. 12 Dalil Kebohongan Tindakan paling dramatis bahkan di-sebut2 langkah awal partai NSDAP begitu mengambilalih kekuasaan di Djerman pada awal 1933, adalah melakukan pembakaran buku (die Bücherverbrennung). Walau begitu peristiwa bersedjarah di musim semi ini sebenarnja tidaklah direntjanakan, tidak pula diselenggarakan oleh si rezim fasis Djerman. 

Seolah terlalu sibuk mengurusi kekuasaan jang baru tiga bulan digenggamnja, rezim ekstrim kanan ini kemudian hanja meng-aku2 peristiwa bersedjarah ini sebagai langkahnja.
 Dalam hal ini perlu dibedakan antara kelompok penjelenggara pembakaran dan tokoh si pembuat daftar buku2 jang dilempar ke bara api. Pembuat daftar ini adalah seorang pustakawan beraliran nazi jang bernama Wolfgang Herrmann. Namun Herrmann tidaklah menjusun daftar itu atas perintah para pentolan NSDAP, partai fasis jang waktu itu barusan berkuasa. Sebagai pustakawan di Berlin, daftar buku jang dianggap tidak berdjiwa Djerman ini disusun atas inisiatifnja sendiri. Buku2 jang masuk daftar tidak boleh dipindjam lagi pada perpustakaan tempatnja bekerdja. Begitu pikiran awalnja. Pada saat jang kira2 sama, organisasi mahasiswa Djerman Deutschen Studentenschaft (disingkat DSt) jang kepengurusannja diambil alih oleh kalangan pro-NSDAP, mengeluarkan pernjataan berisi 12 dalil untuk melawan apa jang mereka sebut undeutschen Geist alias “djiwa non-Djerman”. 

Meng-agung2kan nasionalisme Djerman dan apa jang mereka sebut ‘deutschem Volkstum’ (watak kedjermanan), pernjataan ini mentjertja orang2 Jahudi dan mereka jang tergolong ke dalamnja. Orang Jahudi hanja bisa berpikir Jahudi, begitu tertera pada dalil kelima. Kalau mereka menulis dalam bahasa Djerman, maka mereka berbohong. Sebaliknja, kalau ada orang Djerman jang menulis dalam bahasa Djerman tetapi berpikir tidak setjara Djerman, maka dia adalah seorang pengchianat. Tentu sadja tak setjuilpun akal sehat dapat mendjelaskan dalil2 jang hanja berlatar belakang kebentjian ras ini. 

Patut ditjatat baik 12 dalil DSt maupun daftar buku jang disusun oleh Herrmann adalah konsekuensi logis langkah2 jang diambil Hitler begitu berkuasa. Per-tama2 der Führer (gelar Hitler jang berarti pemimpin) mengeluarkan dekrit untuk melindungi bangsa dan negara jang pada intinja menghapus kebebasan pers. Dekrit ini segera diikuti dengan penjerangan kantor partai komunis Djerman dan perusakan perpustakaannja. Menjusul pembakaran Reichstag (gedung parlemen) pada 27 Februari 1933 jang menurut partai NDSAP dilakukan oleh seorang komunis (achirnja beberapa gembong NSDAP mengaku melakukan sendiri pembakaran itu), Hitler mengeluarkan dekrit jang lebih ketat lagi. 

Akibatnja lenjaplah kebebasan berpendapat, berserikat dan kebebasan pers. DSt tidak tinggal diam dan segera mengumumkan rentjana aksi jang akan berlangsung selama empat minggu, mulai 12 April sampai 10 Mei 1933. Selama itu mereka ber-siap2 untuk melakukan pembakaran terbuka buku2 jang dianggap tidak berdjiwa Djerman, karena ditulis oleh, misalnja, kalangan2 Jahudi atau komunis. Menggunakan daftar buku buatan Herrmann, DSt tidak hanja mengarahkan aksinja ke pelbagai universitas tetapi djuga dunia di luar pendidikan tinggi, pendeknja Djerman setjara keseluruhan. 

Maka begitulah, pada tanggal 10 mei 1933 di Berlin, bertempat di Opernplatz, jang terletak persis bersebelahan dengan gedung opera Unter den Linden dilakukan pembakaran buku. Joseph Goebbels, sang menteri penerangan dan propaganda, datang untuk memberi sambutan, dan ia berpidato dengan ber-teriak2 anti-Jahudi, anti-komunis, dan anti-musuh rezim itu. Sekitar 70 ribu orang hadir dan lebih dari 25 ribu buku dibuang ke dalam bara api. Pembakaran tidak hanja berlangsung di ibukota Berlin, melainkan djuga di 20 kota Djerman lain. Dari München di selatan sampai Hamburg di utara; dari Kleve di barat sampai Rostock di timur. Buku2 jang dibakar itu adalah karja2 nama2 terkenal sampai sekarang, seperti Albert Einstein, Karl Marx, Sigmund Freud, Friedrich Engels dan Rosa Luxemburg (penulis buku2 non-fiksi), serta Heinrich Heine, Franz Kafka atau Joseph Roth jang menulis karja2 fiksi. Djangan salah duga, bukan tjuma penulis2 Djerman jang kena sasaran. Penulis2 Prantjis Victor Hugo dan André Gide djuga kena; begitu djuga buku2 penulis Amerika seperti Ernest Hemingway dan Upton Sinclair; termasuk karja2 penulis Inggris D.H. Lawrence dan Joseph Conrad; penulis Irlandia James Joyce; penulis Soviet seperti Fyodor Dostoevsky dan Leo Tolstoy; penulis Djepang Tokunaga Sunao. 

Diiringi sorak-sorai hadirin, buku2 mereka musnah dilalap si djago merah. Di pelbagai perpustakaan dan toko buku Djerman tidak tersedia lagi buku2 para penulis itu. Sebagai gantinja di pelbagai toko buku orang Djerman bisa membeli dua buku jang berisi ideologi nazi, masing2 Mein Kampf (“Perdjuanganku”) karja Hitler dan Kampf um Berlin (“Perdjuangan Merebut Berlin”) karja Goebbles. Pasti tidak butuh waktu lama untuk membatja buku2 ini, lalu bagaimana dengan hasrat membatja chalajak ramai Djerman? Di sini terlihat pula manfaat kerdja Wolfgang Herrmann si penjusun daftar buku maupun langkah DSt, organisasi mahasiswa Djerman, penjelenggara pembakaran. Sebagai kaki tangan mereka djelas ikut2an dalam upaja si rezim kanan menghapus pelbagai gagasan progresif dari chazanah pengetahuan orang Djerman. Sebagai tjetjunguk mereka djuga pelaku kerdja kotor si rezim, sehingga seandainja sadja upaja mereka gagal, maka si rezim dengan mudah akan memaklumkan mereka sebagai oknum belaka. Mengoknumkan orang jang sebenarnja sudah bekerdja sesuai amanat serta dalam tjakupan ideologinja adalah djuga pola kerdja Harto daripada Orde Bau. Sudah ber-kali2 rezim tangan besi ini mengoknumkan orang. Inilah manfaat kaki tangan jang sebenarnja: kalau ada masalah mereka tinggal disangkal, padahal ungkapan2 dan kerdja mereka sepenuhnja sedjalan dengan ideologi si induk semang. Tanpa bukti2 lain, penjangkalan rezim tentara ini tampaknja memang hanja ditudjukan kepada kalangan dungu. Sementara itu, langkah rezim fasis Djerman tidak berhenti pada pembakaran buku. Mereka berlandjut terus menindak kalangan jang mereka musuhi. Tak lama kemudian mereka umumkan apa jang disebut Ausbürgerung, jaitu pentjabutan kewarganegaraan kalangan jang dianggap musuh Djerman. Akibatnja banjak orang melarikan diri, meninggalkan Djerman, termasuk penulis2 jang buku mereka sudah terlumat api. Penjelamatan dan Perlawanan Menariknja, tatkala di Djerman waktu itu praktis tidak ada lagi penerbit jang berani menerbitkan karja2 para penulis ini, di Belanda ternjata paling sedikit ada tiga penerbit jang djustru begitu bernjali untuk menerbitkan karja2 mereka. Dengan demikian buku2 karja Lion Feuchtwanger, Heinrich Mann, Klaus Mann, Josep Roth, Vicki Baum dan banjak lagi penulis Djerman lain jang hidup di pengasingan bisa terus terbit dan dibatja orang. Pada awalnja, di Amsterdam, baik penerbit Querido-Verlag maupun penerbit Verlag-Allert de Lange, serta penerbit De Gemeenschap di Bilthoven (Belanda tengah) mungkin menerbitkan karja2 penulis Djerman dalam pengasingan itu tjuma berdasarkan pertimbangan keuntungan belaka. Penulis2 jang dibungkam rezim beraliran nazi itu sudah tjukup terkenal, mestinja banjak orang jang ingin terus membatja karja mereka, djadi menerbitkan buku mereka pasti akan menghasilkan keuntungan. Tetapi kini penerbitan karja2 para penulis Exilliteratur itu di-elu2kan sebagai langkah penjelamatan sastra Djerman dari tjengkeraman fasisme. Inilah makna Exilliteratur jang sebenarnja, karja sastra dalam bahasa Djerman tapi terbit di luar Djerman. Artinja sebelum diusir, para penulis jang tergabung dalam Exilliteratur sudah menghasilkan karja sastra. Mereka sudah punja nama sebagai penulis. Tak pelak lagi, di sini segera terlihat aspek Exilliteratur jang paling menarik, karenatampak titik temu antara fasisme Djerman dengan rezim serupa di Indonesia. Titik sentuh atau titik temu itu berpasangan dalam bentuk prosa dan puisi, seperti terlihat pada karja penjair Bertolt Brecht dan novelis Vicki Baum. Maklum, Brecht menulis puisi berdjudul Das Lied vom Surabaya-Johnny (“Lagu Surabaya-Johnny”) dan Baum menghasilkan novel Liebe und Tod auf Bali (“Tjinta dan Kematian di Bali”) jang diterbitkan pada 1937 di Amsterdam oleh Querido-Verlag. Akibat puisi dan prosa sentuhan ini penggunaan Exilliteratur sebagai perspektif dalam membahas Sastra Eksil Indonesia bukanlah kebetulan belaka. Bahkan perspektif Exilliteratur itu merupakan langkah logis jang tidak terhindar lagi. Kalau begitu bagaimana sebaiknja kita harus memaknai sentuhan Indonesia dalam Exilliteratur ini? Mengapa Frau Baum menulis novel tentang Bali dan Herr Brecht memasang djudul Surabaya untuk salah satu sadjaknja? Benarkah mereka tidak lagi berkarja tentang Djerman, seperti tuduhan rezim nazi jang mengusir mereka? Rangkaian pertanjaan itu kira2 bisa merupakan antjer2 untuk meneliti pertemuan antara Exilliteratur dengan Sastra Eksil. Jang djelas, setelah pembakaran buku dan pentjabutan warga negara, Brecht maupun Baum (dan banjak penulis lain) meninggalkan Djerman ke Amerika. Sementara itu penulis2 lain mengungsi ke negara-negara Eropa lain dan terus berkarja. Brecht memang suka memasang djudul kota2 asing bagi pelbagai puisinja, tanpa maksud chusus. Walaupun memasang Havana, Mandalay atau Surabaya sebagai djudul pelbagai sadjaknja, tidaklah berarti puisi itu berkisah tentang kota2 di Kuba, Birma atau Indonesia. Tidak pernah ke tiga negara itu, Das Lied vom Surabaya-Johnny malah berkisah tentang djalur kereta api Birma jang dibangun Djepang semasa Perang Dunia Kedua. Ini merupakan salah satu puisi jang ditulis Brecht untuk drama musik berdjudul Happy End, ditjiptanja bersama komponis Kurt Weill. Baum lain lagi. Sesampai di Amerika dia tertarik untuk menengok temannja jang bermukim di Bali. Maka teman itu, seniman Walter Spies, merupakan sumber utama novel Liebe und Tod auf Bali jang ditulisnja ketika berada di Bali pada 1935. Inilah salah satu novel etnografis pertama jang djuga berkisah tentang bagaimana pendjadjah Belanda menaklukkan pulau Dewata. Tidak kalah menarik djuga adalah bahwa kalau di satu pihak Nazi Hitler dengan Harto daripada Orde Bau berdjalan paralel atau sedjadjar dengan pelbagai persamaan, maka di lain pihak sentuhan antara Exilliteratur dengan Sastra Eksil djustu ada pada pihak jang melawan keduanja. Dengan terus menulis puisi dan prosa di pengasingan, baik Brecht maupun Baum (serta banjak penulis lain) sama2 melakukan perlawanan terhadap rezim fasis jang menguasai negeri mereka. Begitu pula orang2 Indonesia jang walau terhalang pulang tapi di luar negeri terus menulis tentang negeri mereka, sampai sekarang. Harus diakui, berbeda dengan Nazi Hitler, Harto daripada Orde Bau memang tidak melakuken pembakaran buku. Selama 32 tahun berkuasa rezim tangan besi ini djuga tidak terang2an melantjarkan Ausbürgerung alias pentjabutan kewarganegaraan. Tapi itu tidaklah berarti bahwa semua warga negara Indonesia di luar negeri bisa pulang kampung, tidak pula berarti bahwa Indonesia bebas sensor. Rezim Orde Bau djelas takut pada PBB jang dalam deklarasi universal hak2 asasi manusia melarang pentjabutan kewarganegaraan seseorang, apalagi kalau akibat pentjabutan itu seseorang mendjadi tak berwarga negara (bahasa Inggrisnja stateless). Karena itu Orde Bau tidak bernjali memberi istilah chusus bagi langkahnja tidak memperpandjang paspor warga Indonesia jang berada di luar negeri. Hitler djelas lebih leluasa ketika memaklumkan politik Ausbürgerung, karena djangankan maklumat semesta hak2 asasi manusia, pada zaman itu PBB sadja masih belum ada. Rezim tangan besi Indonesia memang tidak perlu membakar buku, tjukup mengganti edjaan, karena dampaknja sama: generasi muda tidak berniat lagi membatja buku zaman dulu karena ditulis dalam edjaan lain. Dengan membakar buku, maka bukan sadja buku itu musnah, tetapi—dan ini jang terpenting—gagasan jang terurai dalam buku itu tidak lagi dikenal orang. Dengan mengganti edjaan terlihat betapa Harto daripada Orde Bau lebih tjerdik sekaligus lebih litjik lagi, karena dia telah menutup sedjarah Indonesia bagi generasi muda. Mana mungkin generasi milenial tertarik membatjai buku2 jang tidak ditulis dalam edjaan jang sekarang berlaku? Gagasan jang terurai dalam buku2 lama itu djelas terlupakan orang. Manus Amici Di balik persamaan jang mulai terlihat antara Exilliteratur dengan Sastra Eksil, sebenarnja banjak pula perbedaan di antara keduanja. Kalau penulis jang tergolong dalam Exilliteratur adalah mereka jang sudah punja nama, maka alih2 penulis bernama, Sastra Eksil sedjatinja tidak melulu beranggotakan penulis. Mereka baru menulis ketika mendapati diri tidak bisa lagi pulang kampung. Waktu itu penulis Indonesia jang terdampar di luar negeri bisa dihitung dengan djari, Utuy Tatang Sontani salah satunja, kemudian djuga penjair Agam Wispi. Untunglah orang2 lain jang senasib tidak tinggal diam. Mereka menulis dan kebanjakan memang berisi pengalaman hidup dalam buangan di luar negeri. Kebanjakan (kalau tidak semua) orang Indonesia jang terhalang pulang ini adalah kalangan terdidik, djadi mereka tidak kesulitan menulis. Alhasil kalau Exilliteratur se-mata2 berisi fiksi, maka ke dalam Sastra Eksil seharusnja bisa digolongkan semua karja tulis jang dihasilkan oleh mereka jang terhalang pulang. Itu djelas mentjakup fiksi maupun non-fiksi, djuga prosa maupun puisi. Buku pasti tidak terpisah dari penerbit. Kalau Exilliteratur dimungkinkan antara lain karena peran tiga penerbit Belanda di atas, bagaimana dengan Sastra Eksil? Perlu ditegaskan bahwa orang2 Indonesia jang terhalang pulang tidak henti2nja mengupajakan publikasi karja2 mereka dengan menerbitkan banjak matjam berkala. Tetapi ada satu upaja jang menondjol. Itulah penerbit Manus Amici di bilangan de Jordaan Amsterdam pusat jang menerbitkan buku2 Pramoedya Ananta Toer dalam terdjemahan bahasa Belanda. Manus Amici digagas dan dikelola oleh Soeraedi Tahsin, wartawan pendiri harian Bintang Timur jang pada 1964 diangkat Bung Karno mendjadi dutabesar di Mali. Tidak berlebihan kalau ditjatat bahwa djuga berkat Manus Amici karja2 Pramoedya dikenal dunia internasional. Pramoedya sendiri mentjipta Tetralogi Buru dalam pengasingan (bahkan dalam kondisi jang sangat tidak kondusif untuk menulis), bukan pengasingan di luar negeri, melainkan pengasingan di pulau Buru. Menariknja dalam soal penerbit, Amsterdam ternjata punja makna sama, baik bagi Exilliteratur maupun Sastra Eksil. Dalam menghadapi sensor dan pembungkaman Orde Bau, djelas Manus Amici berada pada peringkat jang sama dengan Querido-Verlag, Verlag-Allert de Lange, maupun penerbit De Gemeenschap jang pada 1940an kutjing2an menerobos sensor Hitler Nazi. Peran penerbit ini belum pernah diungkap oleh pelbagai tulisan (PDF) jang membahas Sastra Eksil Indonesia. Itu memang baru terlihat kalau orang membandingkan Sastra Eksil dengan Exilliteratur. Tak pelak lagi Exilliteratur memang merupakan perspektif djitu tidak hanja untuk menekuni Sastra Eksil, tapi djuga untuk menjorot peran pelaku sensor dan penghalang kebebasan berpendapat jang belakangan begitu ngebet untuk kembali nongol di tanah air, se-olah2 kita masih ditongkorongin oleh rezim otoriter kanan Orde Bau.

Penulis, buku terbarunya 'Nai Kai: Sketsa Biografis' (2
017)
Tirto.ID

0 komentar:

Posting Komentar