Selasa, 23 Juli 2019

Pemakzulan Presiden Gus Dur: Skenario Elite Politik


Selasa 23 Juli 2019 22:30 WIB - Oleh Virdika Rizky Utama

KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (Foto: The Jakarta Globe)

22 Juli 2001 tentara yang dipimpin RR show off power menentang rencana dekrit. Di sekitaran istana, Jalan Medan Merdeka,  Jakarta Pusat, puluhan ribu pendukung dan pengkritik Gus Dur membentuk blok. Rencananya, pukul 19.00 presiden akan membacakan dekrit. Namun hal itu ditunda lantaran presiden masih ingin mendengarkan beberapa pihak tentang perlu atau tidaknya dekrit.

Sementara di parlemen, lawan politik sedang wait and see. Kalau Gus Dur keluarkan dekrit, mereka akan segera menggelar sidang istimewa untuk memakzulkan.  

Tanggal 23 Juli 2001, pukul 01.00 dini hari, Gus Dur akhirnya mengeluarkan dekrit yang dibacakan oleh Yahya Cholil Staquf. Salah satu isi dekrit adalah bubarkan Golkar, karena dianggap bagian dari rezim lama yang membuat kekacauan baik politik maupun ekonomi.  

Langkah Gus Dur sudah diantisipasi oleh Golkar dan sekutunya. Saat itu AT langsung mengirimkan surat ke ketua MA, BM untuk mengeluarkan fatwa bahwa tindakan Gus Dur inkonstitusional.  

Menariknya, BM saat itu dekat dengan Golkar. Gus Dur sudah menentang dilantiknya BM menjadi Ketua MA. Tapi Gus Dur tak punya pilihan, calon lainnya M, juga dekat dengan Golkar. Inilah pertarungan politik Gus Dur sesungguhnya. Ia harus melawan kekuatan sisa Orde Baru yang masih kuat di segala lini pemerintahan. Mereka banyak menempatkan kaki untuk melemahkan Gus Dur.  

Kita ke awal saat Gus Dur terpilih jadi Presiden. Gus Dur didukung hampir seluruh kekuatan yang ada di parlemen termasuk kekuatan lama. Oleh sebab itu, banyak yang ragu Gus Dur akan berani membersihkan rezim lama.  

Kabinet Gus Dur merupakan hasil kompromi. Banyak yang kecewa tentunya. Tapi bukan berarti Gus Dur akan menyerah dan tersandera. Misal, AR tokoh reformasi saat itu meminta jatah Menkeu harus dari partainya. Tak tanggung, AR meminta FB sebagai Menkeu. Kalau tidak, ia akan menarik dukungan.  

Gus Dur pintar, dia tahu FB ini korup bukan main dan juga bagian dari rezim lama. Ia menyetujui Menkeu dari partai AR, tapi Gus Dur yang memilih orangnya. Akhirnya BS jadi Menkeu.  

Di Kantor Berita Antara, Gus Dur memecat PH. Ia dianggap sebagai bagian rezim lama. Dan memang tak dapat disangkal oleh PH sendiri. Awalnya PH terima dipecat, tapi dia akhirnya menuntut Gus Dur.  

Gubernur BI juga tak luput dari pembersihan Gus Dur. SS saat itu dekat dengan Golkar, bahkan diduga terlibat korupsi Bank Bali. Tapi mendapat perlawanan dari Golkar. Akhirnya SS tetap menjadi Gubernur BI.  

Gus Dur makin membuat jengkel partai-partai koalisi karena ia berani memecat Menteri LS dari PDIP dan JK dari Golkar. Tak tanggung-tanggung, Gus Dur menyebut dua orang itu terlibat KKN. Momen ini yang semakin membesarkan niat mereka untuk jatuhkan Gus Dur.  

Masalahnya saat itu Gus Dur tak mau atau tak bisa membuktikan pernyataannya. Kritik saya, komunikasi politik Gus Dur agak buruk. Karena tak bisa membuktikan hal itu, dua kekuatan terbesar di DPR itu mencapai titik temu. PDIP melalui anak kosnya melakukan interpelasi bersama Golkar.  

Di internal PDIP sendiri ada dinamika, anak kos dan kader lama berebut perhatian dan pengaruh M. Lambat tapi pasti anak kos berhasil meyakinkan M dan suaminya TK.  

Interpelasi bergulir cepat karena ada kasus buloggate dan bruneigate. Saya punya dokumen bagaimana PDIP dan Golkar mengadakan rapat untuk melengserkan Gus Dur. Salah satunya di rumah AP dari PDIP, 22 Juni 2000. Rapat itu dihadiri Kapolri dan petingginya serta partai-partai yang sudah muak dengan Gus Dur. Rencana awal adalah memainkan interpelasi. Meyakinkan partai-partai di DPR untuk melemahkan Gus Dur. PKB akhirnya hanya berdiri sendiri mendukung Gus Dur.  

Selain itu, manuver DPR terhadap Gus Dur adalah isu skandal buloggate dan bruneigate. Mereka memaksa Gus Dur untuk hadir di Pansus. Hadirnya Gus Dur akan semakin melemahkan legitimasi dan kepercayaan publik. Tak hanya di parlemen, AP, FB, PBS, AT juga meminta Kapolri untuk memanggil Gus Dur dan membuat kasusnya mengambang. Dengan begitu, Gus Dur akan menjadi bulan-bulanan media.  

AP, AT dkk juga memanfaatkan gerakan mahasiswa untuk menekan Gus Dur. HMI melalui Ketumnya MF kepada saya mengakui hal itu. Mereka berjejaring dengan segala pihak anti-Gus Dur terutama tentara.   Di tentara, Gus Dur juga harus menghadapi kekuatan lama yakni W. Meski sudah dipecat, W masih banyak loyalis. Tentara pro-Gus Dur yakni AWK harus pontang panting hadapi ini.  

Gus Dur ingin menjalankan amanat reformasi. Tentara kembali ke barak. Itu sejalan dengan AWK dan Gus Dur memanfaatkan jaringan Bondan Gunawan di tentara, seperti dalam bukunya BG.  

Akibat dianggap mengintervensi tentara, Gus Dur dan Bondan diserang isu dokumen "Bulak Rantai". Suatu skenario untuk melemahkan tentara dan melakukan infiltrasi ke TNI.  

Dalam dokumen rapat di rumah AP, ditulis bahwa dokumen "Bulak Rantai" itu rencana mereka yang berhasil. Gus Dur benar-benar kewalahan melawan sisa rezim lama.  

Ada sebuah dokumen bocor yakni dokumen pembacaan situasi. Di sana ditulis lengkap rapat-rapat, siapa yg hadir, termasuk rencana tentara melakukan teror melalui serangkaian bom di Jakarta.  

Begitu diteliti, jenis bom yang meledak spesifikasinya sama dengan apa yang ditulis di dokumen pembacaan situasi. Pada titik ini Gus Dur sudah kehilangan kendali di tentara.  

Kembali ke parlemen, akhir Januari 2001 Gus Dur mendapat memorandum I. Ini adalah tahap selanjutnya untuk impeachment, ini diakui oleh FB saat saya wawancara. Menariknya, dua minggu sebelum memorandum I ada dokumen yang dibuat FB untuk AT. FB menyebut rencana mereka dengan nama ‘Semut Merah’. FB menulis itu adalah salah satu rencana dan menghabiskan dana sebesar 4T rupiah. Dana itu didukung oleh FM, bendahara Golkar dan BT, anak Suharto.  

Sebagai pembalasan memorandum I, Gus Dur mulai mengejar dan mengadili seluruh kroni Suharto, terutama GKS dan FB. Tapi lagi-lagi terkendala karena kekuatan Orde Baru masih cukup besar.  

Dekrit hanya langkah terakhir Gus Dur dari gagalnya melawan kekuatan lama. Politisi, tentara, beberapa organ mahasiswa, organisasi partai, dan paramiliter bersatu melawan Gus Dur.  

Lantas bagaimana dengan M? Apa dia berperan. Ya, hanya blessing in disguise saja. TK dalam biografinya mengakui hal itu, tugas dia meyakinkan M.  

Dalam surat FB ke AT, disebutkan bahwa M hanya alat sebelum nanti akan dijatuhkan pula. Tak hanya itu, FB menulis, mari kita rebut kejayaan kita yang direbut selama reformasi.  

Gus Dur menjalankan politik tanpa kompromi, meski itu sangat janggal dalam politik praktis. Akibatnya, Gus Dur tak kuasa melawan kekuatan tersebut.  

Setelah Gus Dur lengser, politik hanya sekadar bagi-bagi kue. Terutama kekuatan rezim Orde Baru yang masih bercokol baik di politik maupun ekonomi.  

Banyak yang bilang, kalau dekrit itu atas desakan LSM dan teman-teman Gus Dur di Fordem. Tapi, Fordem bahkan menolak dekrit. Kalau pun dekrit, jangan bubarkan parlemen. Cukup bubarkan Golkar dan percepat pemilu. Kenapa demikian? agar kekuatan lama tak dapat melakukan konsolidasi kekuasaan. Bahkan PBS menceritakan AT sudah terpojok dan bingung kalau Golkar dibubarkan.  

Tapi sekali lagi, dekrit adalah ide Gus Dur bahkan pilihan diksinya juga dari Gus Dur. Dia tahu bahwa dia sudah kalah dan upaya terakhirnya ya hanya dengan dekrit.  

Setelah impeachment, di media berkembang bahwa Gus Dur tak mau meninggalkan istana. Gus Dur bukannya tak mau, dia menunggu surat dari RT, RW, dan kelurahan setempat bahwa ia tak lagi akan tinggal di istana.  

Pasca-Gus Dur lengser, kekuatan politik sebenarnya tak jauh berbeda. Aktor-aktornya pun masih sama dengan yang menjatuhkan Gus Dur.  

Penulis adalah jurnalis. Saat ini menjadi peneliti di  Narasi.TV

NU.Or.Id 

0 komentar:

Posting Komentar