Rabu, 31 Juli 2019

MUI Ambil Alih Buku Bertema DN Aidit Milik Pegiat Literasi


Rabu, 31/07/2019 20:24 WIB

Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah pegiat literasi di Kabupaten Probolinggo yang tergabung komunitas Vespa Literasi kembali dipanggil ke Polsek Kraksaan, Probolinggo. Pemanggilan menindaklanjuti penyitaan empat buku bertema DN Aidit, Marxisme dan Leninisme, yang sempat disita kepolisian Sabtu (27/7) lalu. 
"Hari ini kami dipanggil pukul 13.00 WIB disuruh ke kantor polisi lagi," ujar perwakilan komunitas Vespa Literasi, Zainul Hasan R, kepada CNN Indonesia.com, Rabu (31/7).
Sesampainya di Mapolsek Kraksaan, Zainul dan beberapa perwakilan ternyata diminta mengikuti mediasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Probolinggo. Hasilya, sejumlah buku milik Vespa Literasi yang disita polisi sempat dikembalikan. Namun, pengembalian buku tersebut ternyata hanya beberapa detik saja. Sebab dari hasil mediasi, buku-buku itu harus diserahkan ke MUI Probolinggo. 
"Alhamdulillah buku yang dipinjam Polsek selama 3 hari dikembalikan dan kini beralih dipinjam MUI selama sebulan," kata Zainul. 
Zainul menerangkan dari keputusan mediasi itu pula, maka kepolisian Kraksaan telah lepas tangan terhadap polemik tersebut. Sebab, kini buku-buku tersebut berada di tangan MUI Probolinggo. 
"Polsek telah lepas tangan, diberikan kepada MUI, katanya akan dipelajari selama satu bulan," ujar Zainul.
Buku-buku itu masing-masing berjudul Aidit Dua Wajah Dipa Nusantara yang diterbitkan KPG Jakarta; Sukarno, Marxisme dan Leninisme: Akar Pemikirian Kiri dan Revolusi Indonesia yang diterbitkan Komunitas Bambu; Menempuh Jalan Rakyat, D.N Aidit yang diterbitkan Yayasan Pembaharuan Jakarta; Sebuah Biografi Ringkas D.N Aidit yang diterbitkan TB 4 Saudara.

Sekretaris MUI Jatim Muhammad Yunus mengatakan buku-buku yang kini berada di tangan MUI Probolinggo itu akan dikaji lebih dalam lagi isinya.
"Buku-buku itu ada di tangan kami sementara. Kami, MUI, mengkaji isi dari buku-buku yang ramai jadi bahasan publik tersebut," kata Yunus saat dikonfirmasi.
Selain untuk mengkaji, kata Yunus, pengambilalihan buku-buku itu karena MUI mendapat desakan sejumlah kelompok yang kontra dengan isi literasi tersebut.

Yunus pun menolak bila MUI dikatakan merampas buku-buku itu. Ia menegaskan sikap MUI Probolinggo dalam kasus ini adalah sebagai penengah.
"Kami bukan merampas lho, tapi ini juga karena desakan kelompok-kelompok yang tidak mau buku itu beredar lagi," katanya.
Di samping itu, Yunus mengaku menyayangkan sikap para tokoh tersohor, para pegiat literasi, dan netizen di media sosial yang secara masif menentang penyitaan buku-buku tersebut sebelumnya oleh kepolisian.

Bagi Yunus, buku-buku itu tak semestinya mendapatkan sorotan berlebihan oleh publik figur karena isinya yang mengandung ideologi komunis. Hal tersebut kata dia, sudah jelas dilarang sesuai Ketetapan MPRS Nomor XXV Tahun 1966. 
"Kami menyayangkan sikap Dik Najwa Shihab, dan Dik Glenn Fredly yang seakan-akan menyalahkan, padahal buku ini ada berisi paham komunisnya, dan itu sangat bahaya, anak-anak muda harus tahu itu," ujarnya.
Nasib Lapak Vespa Literasi

Zainul menegaskan Vespa Literasi menurutnya tidak akan gentar mengampanyekan kegiatan literasi setelah kejadian penyitaan tersebut. Zainul dan beberapa rekannya mengaku akan tetap membuka lapak baca buku gratisnya di alun-alun, sebagai upaya meningkatkan semangat membaca masyarakat sekitarnya. 
"Kami tetap melapak seperti biasa (Sabtu-Minggu)," katanya.
Sementara itu, Kapolsek Kraksaan Kompol Joko Yuwono membantah pihaknya disebut melakukan pelarangan adanya giat literasi di Probolinggo. Dia juga mengaku mendukung kegiatan Vespa Literasi.

Namun, dukungan tersebut, kata Joko tak termasuk kepada buku-buku yang dianggapnya berpotensi menimbulkan kegaduhan di masyarakat. Kepada para pegiat literasi, ia menyarankan agar sebaiknya buku-buku dengantema terkait itu disimpan dan dibaca secara pribadi saja. 
"Intinya polisi tidak menyita dan mengutuk literasi. Tapi mendukung sepenuhnya literasi. Saya mengundang kiai nantinya, bukunya saya serahkan kembali. Jangan dibukalapakkan kembali. Untuk konsumsi pribadi," ujar Joko.
(frd/kid)

0 komentar:

Posting Komentar