Selasa, 18 Juni 2019

Jalan Revolusi Umi Sardjono, Pejuang Kemerdekaan & Pemimpin Gerwani


Oleh: Indira Ardanareswari - 18 Juni 2019

Umi Sardjono. FOTO/tirto.id

Kisah Umi Sardjono, pejuang kemerdekaan dan aktivis perempuan yang terlupakan setelah prahara 1965.

Nama Umi Sardjono mungkin kurang terdengar gaungnya dalam sejarah Indonesia populer. Kesaksiannya sepanjang era pergerakan, revolusi, hingga masa pemerintahan Sukarno terbungkam oleh tuduhan-tuduhan para penguasa Orde Baru atas gerakan-gerakan yang diasosiasikan dengan G30S. Umi Sardjono merupakan ketua umum Gerwani, organisasi perempuan progresif yang terkena imbas konflik politik masa itu.

Pada 1950, bersama S.K. Trimurti dan Tris Metty, seorang karib dari Laskar Wanita Indonesia (Laswi), Umi mantap mendirikan Gerwis sebagai wadah gerakan revolusi perempuan. Sepanjang empat tahun kiprahnya, Gerwis telah mengadakan kongres sebanyak dua kali. Hingga saat beralih nama menjadi Gerwani pada 1954, organisasi bentukan pikir Umi dan kawan-kawan seperjuangannya itu telah berkembang sangat pesat dengan jumlah anggota ratusan ribu perempuan.
“Gerwani akan mempunyai kesempatan lebih besar untuk menjalankan tanggung jawabnya sebagai gerakan wanita yang menghimpun massa luas dalam misi perjuangan hak-hak perempuan dan anak-anak”, kata Umi dalam kongres Gerwani 1954, seperti dikutip dari Saskia E. Wieringa, Penghancuran Gerakan Perempuan: Politik Seksual di Indonesia Pasca Kejatuhan PKI (2010: 232).
Pencapaian Gerwani di bidang emansipasi perempuan lantas hancur seketika begitu terjadi guncangan politik 1965. Annie Pohlman dalam Women, Sexual Violence and Indonesian Killings of 1965-66 (2014) mencatat, Umi Sardjono dan Kartinah yang saat itu menjabat sekretaris jenderal Gerwani merupakan dua dari beberapa perempuan pertama yang ditangkap pasca-peristiwa 30 September 1965 .

Umi Sardjono kemudian dibawa untuk diinterogasi di Bukit Duri kemudian berakhir di Plantungan. Sepanjang penahanan, Umi dipaksa mengakui keterlibatan Gerwani dalam aksi penyiksaan para jenderal di Lubang Buaya. Namun ia kukuh menolak. 

“Tentu saja saya menolak tuduhan tersebut karena sudah sangat jelas bahwa mereka tidak memiliki bukti keikutsertaan kami [Gerwani] di Lubang Buaya. Hal ini terjadi terus berulang-ulang,” tutur Umi kepada Pohlman dalam sebuah wawancara pada 2005.
Akibat minimnya ulasan sepak terjang Umi Sardjono, tidak banyak yang tahu dari mana asal keteguhan seorang Umi Sardjono. Sikap keras Umi Sardjono kemungkinan merupakan buah hasil perjuangannya sebelum Kemerdekaan.


Jalan Revolusi

Umi Sardjono lahir dengan nama Suharti Sumodiwirdjo di Salatiga pada 24 Desember 1923. Ayahnya, Ruslan Sumodiwiryo adalah seorang juru tulis Kawedanan Salatiga. Suharti menjadi perempuan beruntung pada zamannya, karena kebetulan orang tuanya berpikiran modern. Suharti beserta kakak perempuannya diizinkan mengenyam bangku sekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS).

Menurut peneliti dan aktivis Ruth Indiah Rahayu, seperti umumnya gadis-gadis yang melek huruf pada zaman kolonial, Suharti tumbuh dewasa dengan membaca Habis Gelap Terbitlah Terang karya Kartini. Hal ini mendorongnya untuk melibatkan diri dalam aktivitas organisasi pergerakan nasional, Partai Indonesia Raya (Parindra).

Di saat yang besamaan, Suharti ternyata juga mengidolakan Surastri Karma Trimurti alias S.K. Trimurti, wartawan perempuan yang di kemudian hari menjabat menteri perburuhan di kabinet Amir Syarifuddin. Fransisca Ria Susanti dalam Kembang-Kembang Genjer mencatat pertemuan antara Suharti dan S.K. Trimurti baru terjadi di Blitar sekitar 1943. Kebetulan keduanya ditahan di penjara yang sama di Blitar (2006, hlm. 59).

Suharti dan Trimurti langsung akrab bagai kakak-adik. Keduanya saling bertukar gagasan perjuangan buruh dan gerakan perempuan progresif. Suharti banyak belajar dari Trimurti, bahkan tak ragu lagi memanggil Trimurti yang lebih tua 11 tahun dengan julukan Yu Tri (sebutan untuk kakak perempuan). Selepas keluar dari penjara, keduanya ditampung di rumah Ibu Wardoyo (Ibu kandung Bung Karno), atas inisiatif Walikota Blitar.

Pada 1945, bersama-sama Trimurti, Suharti membentuk Barisan Buruh Wanita (BBW) yang berdiri di bawah Barisan Buruh Indonesia (BBI). Berdasarkan kongres di Kediri pada 1945, Trimurti terpilih sebagai ketuanya, sementara Suharti mendampingi sebagai wakil.

Keduanya semakin lengket tatkala Suharti mengutarakan misinya kepada Trimurti untuk menarik lebih banyak peran serta perempuan dalam Revolusi Indonesia. 
“Saya terjun ke politik karena ingin bergabung di organisasi. Dulu organisasi perempuan lain diskriminatif karena posisi sosial. Maka saya ingin dirikan organisasi perempuan sendiri. Saya ajak teman. Kami dirikan Gerwis, lalu Gerwani,” kata Suharti dalam sebuah wawancara dengan majalah Historia.



Gerakan Bawah Tanah dan Nama “Perjuangan”

Nama Suharti Sumodiwirdjo terukir di atas sebuah pusara di pemakaman Umum Cipinang Asem, Jakarta Timur, sejak 2011. Kembali mengutip tulisan Ruth Indiah Rahayu, nama Umi Sardjono didapatnya selama bergabung dalam gerakan bawah tanah melawan Jepang.

Selama aktivitas perjuangannya bersama Parindra, Suharti sempat mendapatkan pelatihan gerakan bawah tanah untuk menumbangkan Jepang. Ketika berjuang, Suharti lebih kerap menggunakan nama Umi sebagai nama samaran.

Sekitar 1943, Umi ditugaskan di Blitar. Di sanalah hati Umi tertambat kepada seorang pemuda bernama Sukisman, seorang pemimpin komunis sebelum Musso. Mereka pun menikah dan tak pernah dikaruniai anak.

Menyandang status istri tak lantas membuat perjuangan Umi kendor. Bersama Sukisman, Umi melanjutkan gerakan bawah tanahnya. Mereka membuka warung makan di depan markas tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar yang kerap dijadikan pos penghubung antara para aktivis dengan gerakan komunis bawah tanah. Dari sinilah Umi berhasil menjaring informasi-informasi penting untuk melumpuhkan Jepang.

Sekitar 1944, warung Umi dan suaminya dikepung tentara Jepang. Mereka dituduh membantu aksi pemberontakan PETA yang dipimpin Supriyadi. Bersama sang suami, Umi ditangkap dan dijebloskan ke penjara di Blitar, tempat di mana ia berkawan dengan Trimurti.

Kepada Ruth Indiah Rahayu, Umi sempat menceritakan hari-harinya di dalam penjara Jepang. Ia bersama-sama tahanan lain dipukuli dalam posisi digantung terbalik tanpa diberi makan atau minum dan dipaksa minum air kencingnya sendiri selama berhari-hari.

Sepanjang kisahnya, tidak sedikitpun perasaan gusar ditunjukan Umi. Justru sebaliknya, Umi malah mengatakan kepada Ruth, “Barangkali air kencing itu yang membuat saya tetap sehat, sama dengan tahanan lainnya”.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Umi berhasil bebas dari rumah tahanan Jepang dan berlindung di rumah ibu kandung Sukarno. Kendati demikian, perjuangan Umi belum usai. Serangan Belanda terhadap Republik Indonesia kembali memaksa Umi memaggul senjata.

Menurut penuturan Sri Sukatno, mantan sekretaris DPD Gerwani DKI Jakarta, kepada penulis Lilik HS, Umi bergabung dengan Laswi dan kembali ke garis depan sepanjang Perang Kemerdekaan. 
“Waktu itu saya masih kecil. Kaget sekali melihat ada seorang perempuan masuk rumah, pakai baju tentara dan sepatu lars. Itulah Umi Sardjono!” kenang Sri Sukatno.
Semenjak menikah, Umi memang sudah menyandang nama dewasa suaminya, Sardjono, di belakang nama samaran yang lantas menjadi bagian penting perjuangannya. Nama inilah yang menjadi sumber semangat sekaligus identitas perjuangan seorang Umi. Ia terus mempertahankan nama perjuangannya dalam Pemilu 1955 saat ia mewakili Partai Komunis Indonesia.

Sumber: Windu Jusuf
Penulis: Indira Ardanareswari

Pada zaman Jepang, warung Umi kerap menjadi pos penghubung antara aktivis dengan gerakan komunis bawah tanah

0 komentar:

Posting Komentar