Senin, 24 Juni 2019

PKI dan Pabrik Semen Kendeng Utara


Handoko Widagdo
Penulis Indonesiana

Judul: Dendam
Penulis: Gunawan Budi Susanto
Tahun Terbit: 2019
Penerbit: Cipta Prima Nusantara            
ISBN: 978-602-5982-41-5

Jika sebuah fakta tak bisa dimuat dalam sejarah, maka sastra mengambil alihnya. Sastra sering lebih jujur dan lebih berani mendokumentasikan sebuah fakta yang tak disukai oleh pemegang kuasa. Banyak fakta yang terpaksa tak muncul melalui sejarah, karena fakta tersebut mencemarkan penguasa, atau bahkan mengancam keberlangsungan kekuasaan sang penguasa. Saat hal tersebut terjadi, sastra tampil mengemban tugasnya. Sastra merangkul fakta-fakta dari pihak yang kalah supaya tetap ada dalam dokumentasi masa. 
Contohnya adalah novel “Dendam” karya Gunawan Budi Susanto ini.

Novel “Dendam” memuat dua fakta yang tak disukai oleh para penguasa. Fakta menunjukkan bahwa banyak orang-orang di sekitar Blora yang menjadi korban kebengisan G30S 1965 dan korban berdirinya parbik semen di Pegunungan Kendeng di bagian utara Jawa Tengah. Jika kebegingan G30S sudah berjalan lebih dari 50 tahun, kasus pabrik semen di Pegunungan Kendeng baru beberapa tahun. Namun kedua fakta itu tak disukai oleh para penguasa. Jadi wajarlah jika beritanya cepat menghilang dari panggung sejarah. Hanya sesekali saja muncul jika ada gawe besar di tingkat provinsi atau nasional. Misalnya pemilihan umum.

Fakta menunjukkan bahwa paska G30S 1965, terjadi pembersihan yang membabi-buta di Blora dan sekitarnya. Operasi Kikis telah mengambil siapa saja yang dianggap sebagai antek PKI. Akibatnya banyak orang-orang yang tidak tahu menahu menjadi sasaran operasi ini. Mereka dipanggil, ditahan, dipenjara dan kemudian diberi stempel sebagai seorang anggota OT – organisasi terlarang, selama hidupnya. Saat kembali ke masyarakat, mereka dicap sebagai pengkhianat negara. Geraknya dibatasi, anak cucunya diawasi.

Pembangunan pabrik semen di pegunungan kapur di utara Jawa Tengah mengundang kontrovesi. Sebab pembangunan ini bisa berakibat kepada rusaknya alam di bagian utara Jawa Tengah. Sebagai tempat yang memiliki peran penting secara hidrologi dan menjadi tempat hidup dari banyak petani kecil, Pegunungan Kendeng sangat rentan untuk dieksploitasi. Menyadari hal tersebut, dengan dipelopori oleh ibu-ibu, rakyat di wilayah ini melakukan penolakan. Upaya penolakan bahkan sampai memakan korban nyawa.

Dendam berhasil menggabungkan dua fakta penderitaan masyarakat di sekitar hutan jati di wilayah Blora dan sekitarnya menjadi jalinan kisah yang menggambarkan kekuatan manusia-manusianya. Menderita? Tentu. Penderitaan yang mereka alami, khususnya yang dituduh sebagai bagian dari sebuah partai yang memberontak bahkan menggores sampai ke generasi ketiga. Penderitaan tak hanya dialami oleh mereka yang dituduh langsung, tetapi juga berakibat kepada keluarganya. Murdani, seorang pemuda dan juga ayah yang baik, kembali menjadi suka selingkuh karena penderitaan psikologi sang istri yang secara tidak sengaja mendengar percakapan ayah dan ibunya.

Dalam sebuah percakapan di sebuah malam antara Ibu dan Ayah Rini. Sang istri mengungkapkan kekhawatirannya bahwa “aib” yang ditanggungnya, yaitu diperkosa saat diinterogasi, suatu saat akan diketahui oleh anaknya. Sang suami berupaya meyakinkan istrinya bahwa hal itu bukan aib. Karena istrinya tak bisa menolak nasip yang harus diterimanya. Itu bukan kesalahannya. 
Secara tidak sengaja Rini mendengar percakapan mereka. Setelah mendengar cerita ini, Rini kehilangan gairahnya untuk bercinta dengan Murdani. Akibatnya Murdani mencari pelepasan nafsunya di luar rumah. Tidak tersalurkannya nafsu birahi Murdani, menyebabkan keretakan keluarga Murdani – Rini. Makin lama keretakan itu semakin besar, sampai akhirnya Rini memutuskan untuk meninggalkan desa dan menjadi TKW ke Hongkong.

Penderitaan tidak berhenti kepada pasangan Murdani – Rini. Tapi juga berakibat kepada anak perempuan semata wayang mereka – Tinuk. Tinuk yang memergoki ayahnya membawa selingkuhan ke rumah menjadi labil. Ia benci mati kepada ayahnya. Untunglah Tinuk bertemu dengan orang-orang yang mampu membantunya bangkit. Tinuk menjadi gadis yang kuat dan tabah. Bahkan menjadi seorang yang ikut berjuang mendampingi ibu-ibu yang menentang pembangunan pabrik semen.

Posisi Perempuan

Buku ini menempatkan perempuan sejajar dengan laki-laki. Sejajar dalam hal kesadaran akan dirinya, dalam hal kehendak untuk menentukan nasipnya sendiri dan kemauannya untuk melakukan kewajibannya kepada keluarga, masyarakat dan negara. Tidak ada sub-ordinasi laki-laki terhadap tokoh-tokoh perempuan.

Ada tiga tokoh utama perempuan dalam novel ini. Ketiga tokoh itu saling berhubungan keluarga. Ketiganya adalah perempuan mandiri dan berani mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Mereka adalah perempuan-perempuan yang peduli kepada kemanusiaan.

Tokoh utama perempuan bernama Rini – Puspitarini Sekaringati. Rini adalah seorang gadis yang terpaksa mengikuti orangtuanya pindah ke desa di dalam hutan jati. Orangutanya pindah ke desa di dalam hutan karena dituduh tersangkut dengan ontran-ontran G30S 1965. Rini sudah mengalami penderitaan bahkan sejak masih bersekolah di SD di kota. Ia selalu diejek teman-temannya sebagai anak PKI. Rini menikah dengan Murdani, anak lurah Watulandep. Perjumpaan Murdani dengan Rini telah mengubah hidup Murdani yang begajulan, menjadi seorang pemuda yang bertanggung jawab. Bahkan akhirnya ia menjadi Kepala Desa Watulandep.

Kedewasaan Rini dan keberanian Rini untuk mengungkapkan siapa dia sesungguhnya telah membuat Murdani semakin yakin bahwa Rini adalah jodohnya. Orangtua dan kakak-kakak perempuan Murdani juga sangat suka kepada Rini. Rini menikah dengan Murdani dan dikaruniai seorang anak perempuan bernama Tinuk.

Ketika mengetahui bahwa suaminya selingkuh, Rini memutuskan untuk pergi ke Hongkong menjadi TKW. Tindakan ini menunjukkan bahwa perempuan harus berani menentukan masa depannya sendiri. Mandiri.

Tokoh perempuan kedua yang ditampilkan dalam novel ini adalah Tinuk. Tinuk adalah anak semata wayang pasangan Murdani – Rini. Tinuk sangat disayang oleh ayah dan ibunya, serta kedua pasangan kakek-neneknya. Sayang sekali, saat Tinuk SMA, secara tak sengaja ia menyaksikan ayahnya membawa perempuan ke kamar ibunya. Tinuk menjadi marah kepada ayahnya dan tidak mau lagi berbicara dengan Murdani. Untunglah saat ia kuliah, ia bertemu dengan Pak Sus, seorang dosen yang sekaligus penulis. Tinuk menemukan kembali sosok bapak pada diri Pak Sus. Melalui interaksi dengan Pak Sus inilah Tinuk menjadi seorang gadis dengan pemikiran dan tindakan yang dewasa. Di sela-sela kuliahnya Tinuk membaktikan dirinya untuk mendukung ibu-ibu yang menolak pendirian pabrik semen di Blora dan Rembang.

Tokoh perempuan ketiga dalam novel ini adalah ibunya Rini. Ibunya Rini adalah seorang yang sangat peduli kepada kesejahteraan masyarakatnya. Saat muda ia aktif memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan di kampungnya. Namun ia dan suaminya ditangkap karena dituduh bergabung dengan PKI. Ibu Rini mengalami perlakuan yang sangat kejam. Ia diperkosa. Meski pada akhirnya ia tidak dipenjara, tetapi luka perih itu terus dibawanya dalam sisa hidupnya.

Ia terpaksa “membunuh” suaminya supaya anaknya bisa hidup dengan lebih tenteram. Ia terpaksa mengatakan kepada Rini bahwa ayahnya sudah meninggal. Dengan “menghilangkan” sosok sang ayah, diharapkan Rini tidak mendapatkan cibiran dan siksaan kejam dari teman-temannya di sekolah.

Penderitaan ibu Rini yang terberat adalah karena ia merasa tidak bersih. Ia merasa dirinya penuh dosa. Ia tidak bisa lagi melayani suaminya di tempat tidur, saat suaminya kembali dari tahanan. Ia juga sangat khawatir aibnya suatu hari akan diketahui oleh Rini.

Meski menghadapi situasi yang sangat buruk, ibu Rini tetap tegar menghadapi hidup. Ia membesarkan Rini dengan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga Rini tumbuh menjadi seorang gadis yang berkepribadian sangat kuat.

Ketiga tokoh perempuan di atas sama-sama mengalami penderitaan batin yang sangat berat. Namun ketiganya mampu mengatasi penderitaan dengan gagah perkasa. Mereka tidak menyerahkan masalahnya kepada laki-laki.

Pengakuan dan Pengampunan Sebagai Solusi

Usulan yang diberikan oleh Gunawan Budi Susanto untuk mengatasi persoalan-persoalan masa lalu adalah pengakuan dan pengampunan. Pengakuan akan kejadian-kejadian masa lalu akan membuat semuanya menjadi terang benderang. Selanjutnya adalah pengampunan. “Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti” – Keangkaramurkaan akan hancur oleh pengampunan. 
Akankah luka bangsa ini akibat tragedi 1965 suatu saat akan selesai dengan cara pengakuan dan pengampunan?

Keberanian para tokohnya untuk menceritakan secara gambling apa yang pernah dihadapinya membuat kelegaan. Ibu Rini mengakui secara terbuka kejadian perkosaan yang dialaminya kepada Rini dan Tinuk. Pengakuan ini membuat sang Ibu lega. Ia tak lagi dibebani masa lalu. Berdamai dengan diri sendiri. Ia tak lagi menyimpan dendam.

Pengakuan sang ibu ini menyadarkan Rini bahwa ia mempunyai andil terhadap kembalinya keberandalan Murdani. Bagaimanapun kesalahan tidak hanya bisa dilimpahkan kepada Murdani.

Bagian penutup novel ini sungguh sangat menarik. Saat rekonsiliasi keluarga Rini sudah terjadi, tiba-tiba mereka mendapat khabar bahwa Murdani ditangkap polisi karena dituduh berjudi. Saat Rini dan Tinuk menengoknya ke penjara, mereka bertemu dengan si perempuan selingkuhan Murdani yang juga menengok. Sang selingkuhan berlari kecil sambal terisak meninggalkan Murdani saat mengetahui keluarganya menengok. Dan…Murdanipun pingsan. Akankah Rini dan Tinuk mengamuk dan memukuli Murdani? Ataukan mereka akan memberi pengampunan kepada Murdani?  Di sini kehebatan Gunawan Budi Susanto. Kita diberikan kebebasan untuk berimajinasi tentang nasip Murdani. 

Kita diberikan kebebasan untuk merangkai sendiri bagaimana adegan berikutnya di ruang tahanan itu.

0 komentar:

Posting Komentar