Selasa, 20 Agustus 2019

Kisah Hidup Ibrahim Isa


Oleh Bonnie Triyana

Fidel Castro di antara Ibrahim Isa dan Francisca Fangidaej. (Dok. Ibrahim Isa).

Fidel Castro memilihnya sebagai wakil Indonesia dalam sebuah konferensi di Kuba. Guru Gus Dur ini dicabut kewarganegaraannya.

Lelaki yang rambutnya memutih itu duduk di hadapan saya. Jarak kami berdua dibatasi sebuah meja, dengan dua cangkir kopi terletak di atasnya. Ketika pembicaraan dimulai, dia tampak berhati-hati. Saya lebih banyak bertanya, dia menjawab seperlunya. Rupanya jarak di antara kami berdua lebih dari sekadar ukuran meja pada sebuah kafe yang terletak di stasiun sentral Amsterdam itu. Ibrahim Isa, lelaki yang saya temui pada sebuah hari di bulan Juni 2004 itu, seperti sedang menahan diri supaya tak terlalu lepas menderas cerita.

Mungkin dia cemas. Barangkali juga sedang berhati-hati menghadapi seorang pemuda yang belum dikenalnya. Terlebih pertanyaan yang dilontarkan kepadanya lebih banyak mengenai kisah terdamparnya dia di negeri orang karena peristiwa G30S 1965. Peristiwa yang selalu disangkut-pautkan pada PKI itu mulai terbuka untuk dibicarakan, tapi bagi sebagian orang, ia adalah kisah yang tabu, juga membikin was-was.

Itulah kisah pertemuan saya dengan Ibrahim Isa untuk kali pertama. Tiga tahun kemudian, kami bertemu lagi di kota yang sama tanpa ada lagi jarak dan perasaan was-was darinya. Yang menarik diperhatikan adalah sikap yang sama juga ditempuh oleh orang-orang lain yang nasibnya sama seperti Ibrahim Isa. Trauma terlalu dalam tertanam. Tak mudah hidup sebagai penyintas walau jauh dari negeri sendiri, tempat dari mana ancaman berasal.

Kedatangan Isa ke Belanda didahului kisah yang panjang. Bermula ketika dia bertugas sebagai perwakilan Indonesia untuk Organisasi Internasional Setiakawan Rakyat Asia-Afrika (OISRAA) di Kairo, Mesir pada September 1960. Menurut Isa, tugas utama OISRAA adalah menggalang dan menyelenggarakan kegiatan solidaritas untuk melawan kolonialisme, imperialisme dan rezimapartheid kulit putih di Afrika Selatan.

Menurut Isa, OISRAA adalah organisasi masyarakat sipil bangsa Asia-Afrika yang mengusung semangat Dasasila Bandung, hasil Konferensi Asia-Afrika di Bandung 1955. Sebagai aksi praksis keputusan KAA 1955 itu, gerakan masyarakat sipil dari negara Asia-Afrika yang sudah lebih dahulu merdeka membantu menggalang solidaritas bagi pembebasan negeri-negeri yang masih dijajah.

Dari Kairo, dia menjalin kontak dengan banyak gerakan pembebasan di negeri-negeri Asia-Afrika. Salah satu peristiwa besar yang turut dipersiapkannya adalah Konferensi Trikontinental, yang melibatkan negeri-negeri di tiga benua: Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Konferensi diselenggarakan di Havana, Kuba, Januari 1966.

Konferensi Trikontinental adalah kegiatan terakhir yang diselenggarakan Isa dalam posisinya sebagai warga negara Indonesia resmi. Mengapa demikian?
Karena setelah konferensi tersebut kewarganegaraannya dicabut secara sepihak. Sedangkan untuk terang-terangan pulang ke tanah air pun mustahil, karena cuma dua kemungkinan mengancam di depan mata: dibui atau mati. Maka menjadi “orang klayaban” begitu kata Gus Dur menjuluki orang-orang seperti Ibrahim Isa, jalan terbaik untuk bertahan hidup.

Dalam masa-masa persiapan Konferensi Trikontinental itu, Isa harus bolak-balik perjalanan Kairo-Havana-Jakarta. Dia bahkan masih nekat pulang pada minggu kedua Oktober 1965 untuk menghadiri Konferensi Internasional Anti-Pangkalan Militer Asing (KIAPMA), 17 Oktober 1965. Konferensi tersebut dibuka oleh Presiden Sukarno dan dihadiri beberapa negara yang aktif dalam upaya pembebasan negeri di Asia-Afrika.

Selesai KIAPMA, Isa kembali ke Kairo dan tak lama setelah itu balik lagi ke Havana, menyiapkan Konferensi Trikontinental. Di sinilah ketegangan bermula. Pemerintah Indonesia mengirim delegasi lain di bawah pimpinan Brigjen TNI Latief Hendraningrat, yang pernah jadi pengerek bendera Merah Putih pada saat Proklamasi kemerdekaan. Isa dan kawan-kawan heran sekaligus curiga pada kedatangan delegasi yang mengklaim membawa mandat pemerintah untuk menjadi wakil dalam Konferensi Trikontinental itu.

Perdebatan pun terjadi. Isa merasa dialah yang berhak mewakili Indonesia dalam Konferensi Trikontinental, sementara itu Latief pun mengaku memiliki tugas resmi mewakili Indonesia. Ternyata dualisme delegasi Indonesia sampai ke telinga Fidel Castro. Tapi Castro sudah punya sikap politik: Ibrahim Isa cum suis adalah delegasi resmi Indonesia yang berhak mewakili dalam Konferensi Trikontinental.

Sebagai wujud dukungan itu, Castro menyempatkan diri untuk bertandang ke hotel Habana Libre, tempat Isa dan kawan-kawannya tinggal. Menurut Isa pertemuan itu murni inisiatif Castro. Selain Isa, ada dua anggota delegasi lain dari Indonesia, Francisca Fangidaej dan Umar Said, dua jurnalis kawakan yang aktif dalam Persatuan Wartawan Asia Afrika (PWAA). Pertemuan itu terabadikan dalam dua lembar foto yang memperlihatkan suasana penuh ketegangan: Castro tampak menggenggam telepon, Isa bertopang dagu dan Francisca bersedekap.

Setelah keputusan itu, maka konflik semakin meruncing. Kedua delegasi tetap ikut konferensi. Tak lama setelah itu, Isa dinyatakan bukan warga negara Indonesia lagi. Dicap pengkhianat. Paspornya dicabut semena-mena. Hidupnya berubah, menjadi seorang pelarian politik walaupun dia menyangkal sebutan itu karena tak pernah merasa lari dari negerinya. Dia bertugas atas nama bangsa dan negaranya.

Isa dan keluarga kemudian pindah ke Tiongkok. Berkumpul dengan beberapa eksil dari Indonesia lainnya. Di negeri itu dia menetap selama 20 tahun, sejak 1966 sampai 1986, di mana dia menjadi saksi pergolakan politik Tiongkok masa revolusi kebudayaan. Sebagaimana banyak kaum eksil Indonesia lainnya di Tiongkok pada masa itu, Isa dan keluarganya tinggal di sebuah desa di Nanchang.

Sejak 1986, Isa dan keluarga boyongan pindah ke Belanda. Tak lama kemudian mereka mendapatkan kewarganegaraan Belanda. Kabar beredar, dalam rangka normalisasi hubungan Indonesia-Tiongkok, orang-orang yang dianggap bakal mengganggu hubungan kedua negara itu harus dilokalisir. Isa menuturkan kepada saya bahwa pihak pemerintah Indonesialah yang mengajukan hal itu sebagai syarat kepada pemerintah Tiongkok. Saya belum menemukan informasi baik yang mendukung maupun membantah keterangan tersebut.

Anak Meester Cornelis

Ibrahim Isa bin Isa Gelar Datuk Sinaro Panjang lahir di Meester Cornelis (Jatinegara) 20 Agustus 1930, berbarengan pada masa malaise mendera Hindia Belanda. Dari nama dan gelarnya, ayah kandung Isa berdarah Minangkabau. Sedangkan ibunya, Nila Utama, yang biasa dipanggilnya “Mak”, berasal dari Mukomuko, Bengkulu.

Isa senior bekerja sebagai guru. Posisinya itu membuat anak-anaknya bisa menempuh pendidikan di sekolah dasar bagi anak-anak Belanda, Europeesch Lagere School (ELS). Isa pun sempat mengenyam pendidikan di ELS. Satu hari saja! Karena Isa kecil yang anak bontot itu tak fasih berbahasa Belanda sebagaimana saudara-saudara kandungnya yang lain. Jarak umurnya dengan kakak-kakaknya terpaut jauh, sehingga menurutnya dia kehilangan kawan untuk berbicara bahasa Belanda dan lebih sering menggunakan bahasa Melayu dengan kawan-kawan sepermainannya.

Tak bisa terus di ELS, Isa pindah sekolah ke Vervolgschool di bilangan pasar Mencos. Menurut Isa, sekolah ini didirikan oleh pemerintah kolonial untuk sekadar menciptakan lulusan siap kerja sebagai pegawai rendahan dalam birokrasi kolonial. Tapi belum lagi usai sekolah, Jepang keburu datang.
Sekolah berbau Belanda bubar. Isa pindah ke sekolah Muhammadiyah.
Ketika Jepang hengkang, Isa remaja bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Dalam usia remaja pula, menurut pengakuan Isa, dia melek politik. Buku politik pertama yang dibacanya adalahDari Penjara ke Penjara karya Tan Malaka yang dia pinjam dari SM. Sjaaf, wartawan salah satu pendiriBerita Indonesia, surat kabar pertama setelah Indonesia merdeka. Kelak Sjaaf jadi kakak ipar Isa.

Karier politik Isa justru bermula ketika dia bekerja sebagai guru di sekolah perguruan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS). Pergaulannya semakin luas. Debut pertamanya dalam kegiatan internasional bermula ketika dia ditugasi oleh Panitia Persiapan Kongres Pemuda Sedunia untuk mewakili Indonesia dalam sebuah pertemuan persiapan kongres pemuda itu di Kopenhagen, Denmark pada 1952.

Namun setahun sebelum berangkat Isa muda kena ciduk razia Agustus 1951 yang kemudian dikenal sebagai peristiwa Razia Soekiman. Soekiman adalah Perdana Menteri dari Masyumi. Keputusannya merazia anggota PKI karena ada kasus penyerbuan kantor polisi di Tanjung Priok oleh orang-orang yang mengenakan kaos bersimbol palu arit. Tak lama masuk sel, Isa bisa dibebaskan dan berangkat ke Denmark setahun kemudian.

Salah satu murid Isa di sekolah perguruan KRIS adalah Abdurrachman Wahid (Gus Dur). Ada kisah menarik soal satu ini. Ketika Gus Dur menjadi presiden, dia mengadakan kunjungan ke Belanda pada 2000 yang lampau. Kepada stafnya dia mengatakan bahwa dia ingin bertemu dengan “Engku Isa”, gurunya semasa sekolah. Engku Isa yang dimaksud Gus Dur adalah Ibrahim Isa. Maka bertemulah guru dan murid ini setelah berpuluh tahun tak bersua.
 “Saya kagum pada daya ingat Gus Dur,” kata Isa kepada saya.

Setiap kejadian yang dialaminya selalu berbuah menjadi sebuah tulisan. Tulisan itu dia sirkulasikan sendiri melalui mailing list (jaringan email) kepada kolega-koleganya. Belakangan Isa akrab dengan media sosial dan menggunakan facebook sebagai medium menyebarkan tulisannya. Tentu saja untuk pria seumurnya, dia sangat aktif. Yang lucu, kalau tak boleh dibilang menggelikan, ucapan ulang tahun kepada kawan-kawan terdekatnya pun disebarkannya sebagaimana dia menyebarkan tulisan-tulisan seriusnya.

Tak jarang tulisan-tulisannya itu mendapatkan kritik. Beberapa bahkan terkesan merendahkan. Namun dia tak reaktif menimpalinya. Dari beberapa kritik itu ada juga yang membuat saya bertanya-tanya apakah tuduhan-tuduhan yang diarahkan kepadanya itu benar? Dalam soal kepindahan para eksil dari Tiongkok ke Belanda misalnya. Agak kurang pantas disebutkan di sini terlebih ketika Isa sudah wafat dan tak punya hak untuk mengimbangi tuduhan itu berdasarkan versinya sendiri.

Rahasia Isa

Dia tak pernah terbuka pada saya apakah dia anggota PKI atau tidak. Dia hanya menjawab bahwa dia seorang Sukarnois. Tak lebih, tak kurang. Tapi Isa memang punya hubungan dekat dengan Njoto, pemimpin PKI dan juga redaktur terkemuka di Harian Rakjat. Njoto memang aktif sebagai salah satu ketua OISRAA bersama Utami Suryadarma, ketua umumnya.

Sebagian orang bisik-bisik, kalau Isa jauh lebih beruntung dari eksil lain: keluarganya lengkap. Tak ada istilah derita jauh dari anak dan istri. Semua lengkap mendampingi. Tapi mungkin derita, seperti juga nasib kata Chairil Anwar, adalah kesepian masing-masing. Ia tak terlihat sekilas dari luar.Sawang sinawang, begitu ungkapan orang Jawa.

Berbagai macam cerita berseliweran tentang dia. Minor maupun mayor. Mungkin itu justru membuatnya terlihat sebagai seorang manusia biasa. Bukan malaikat, apalagi iblis. Mungkin juga berbagai macam komentar yang terlontar tentangnya karena dia aktif mencurahkan komentar-komentarnya yang disebarnya sendiri melalui jaringan email (mailing list) dan belakangan melalui media sosial facebook.

“Isa kalau cerita soal pengalaman eksil di Tiongkok nggak usah dipercaya, kalau dia cerita soal Asia Afrika, dia bisa dipercaya,” kata seseorang kepada saya.

Saya belum sempat mengkonfirmasi beberapa kisah kepada Isa, namun sayang dia keburu wafat pada 16 Maret 2016. Selamat jalan, Pak Isa.

0 komentar:

Posting Komentar