Kamis, 14 Maret 2019

14 Maret 1883 | Sejarah Keluarga Karl Marx: Radikal sampai Anak-Istri

Oleh: Windu Jusuf - 14 Maret 2019

Karl Marx dan keluarganya. tirto.id/Deadnauval

Marx muda adalah penulis puisi-puisi romantis. Putri-putri Marx mengikuti jejak revolusioner sang bapak.



Karl Marx, teoretikus sosialisme ilmiah yang dipuja dan dikecam (tergantung kepada siapa Anda bertanya) di seluruh dunia itu, ternyata sama sekali tidak Marxis sedikitnya dalam dua hal: urusan puisi dan ketika seorang aktivis melamar putrinya.

Pada 1848 ia dan karibnya, Fredrich Engels, menulis, “Biarkan kelas-kelas yang berkuasa gemetar menghadapi revolusi Komunis. Kaum proletar tidak akan kehilangan suatu apapun kecuali belenggu mereka. Dunia masa depan adalah milik mereka. Kaum buruh sedunia, bersatulah!” 

Penutup teks Manifesto Komunis ini pernah dikenang baik-baik tak hanya oleh buruh pabrik, tani, warga jajahan, di seluruh dunia dari Afrika hingga Jawa yang mendapat arsenal teori untuk kemalangannya, tapi juga oleh para penguasa, ningrat, bos pabrik, opsir-opsir kolonial, hingga centeng bayaran—berseragam atau tidak—sebagai ancaman.

Namun dua belas tahun sebelum Manifesto Komunis diterbitkan, puisi pemuda Karl berbunyi lain: “Lalu tiga titik cahaya berpijar sunyi/Binarnya kerling mata jeli/Biar angin dan badai mengembus hantam/Dua jiwa menyatu bersanding tenteram.” 

Marx berusia 18 ketika menulis sajak yang didedikasikan untuk kekasihnya, Jenny von Westphalen. Tak ada "anasir-anasir komunis" di sana, kecuali Anda percaya teori konspirasi "Komunis Gaya Baru" yang bisa menerawang komunisme di mana-mana, termasuk pada permukaan sisik ikan louhan. 

Namun kali lain, Marx bisa terdengar sangat realis dalam urusan asmara. “Jika kau mencintai seseorang tanpa menuntut perasaan yang sama [...] maka kau gagal menjadi orang yang dicintai, maka cintamu impoten, malang!" demikian tulisnya dalam Private Property and Communism (1844), setahun setelah menikah dengan Jenny.


Keluarga Radikal

Saat berusia 18 dan berstatus mahasiswa di Universitas Berlin, aktivitas sehari-hari Marx layaknya mahasiswa pada umumnya: berkelahi, rebutan cewek, debat kusir. Suatu hari pada 1840, ia menerima komplain dari Jenny, yang waktu itu masih jadi pacarnya, via surat. Begini Jenny menulis: 

“Oh, Karl, kalau saja aku bisa tenteram dalam cintamu, kepalaku takkan mendidih dan hatiku tidak akan sakit dan berdarah. Seandainya saja aku bisa beristirahat damai di hatimu, Karl, mungkin hidup dan prosa-prosa dingin tak pernah melintas di kalbuku”. 

Di balik mbulet-nya pesan Jenny, motif penulisan surat tersebut sebenarnya sepele: Karl ngambek, entah apa sebabnya, dan mengasingkan Jenny selama berbulan-bulan.

Pada zamannya, situasi seperti ini sangat gawat, bukan hanya karena belum ada telegram, telepon, apalagi WhatsApp, tetapi juga lantaran keduanya LDR, bercinta dari jarak jauh. Marx tinggal di Berlin, sementara Jenny di Trier. Jarak kedua kota sebanding dengan jarak Bojongsoang di Kabupaten Bandung ke Sumberpucung di Kabupaten Malang: 700+ kilometer.

Apa lacur, bagi Jenny, tulisnya pada 1865, “Dunia milik orang-orang nekat.” Dan sampailah keduanya ke pelaminan pada 1843. Marx berusia 25 dan Jenny setahun lebih muda. Status Marx sebagai Yahudi (warganegara kelas dua di Jerman) yang meminang seorang bangsawan Protestan tak jadi soal buat sang mertua yang berpikiran maju. 

Tak hanya itu, pak mertua bahkan sempat jadi mentor politik Marx. Bapak Jenny, Ludwig von Westphalen, seperti banyak pemuda tercerahkan pada zamannya, tergerak oleh Revolusi Perancis yang gaungnya sampai ke seluruh Eropa serta beberapa koloninya. Dan meskipun berakhir di kursi birokrat Prussia, Ludwig tetap menyimpan simpati sosialis.

Tentu tak semua aktivis dan intelektual kiri seberuntung Karl. Ketika Jenny dilamar, Ludwig tidak bertanya macam-macam kepada Karl. Tapi karena satu dan lain hal, ketika salah satu putrinya dilamar, kelak Karl tiba-tiba bersikap seperti kebanyakan calon mertua pada umumya yang menginterogasi calon menantu: “Kau kerja apa? Apa rencanamu ke depan? Apa kau bisa menafkahi anakku?”


Putri-Putri Karl Marx

Tiga dari enam anak Jenny dan Karl meninggal di usia dini. Tiga lainnya, semuanya perempuan, bertahan hidup dan mengambil peranan penting dalam gerakan buruh di Eropa. Dalam masa pengasingan di Brussels dan tahun-tahun pertama di London, kemiskinan adalah makanan sehari-hari keluarga Marx. Kawan bromance dan kolaborator Karl, Friedrich Engels, sempat menopang keuangan rumah tangga mereka.

Putri bungsu Marx, Eleanor, tumbuh jadi seorang aktivis buruh. Ia juga mengampanyekan kesetaraan laki-laki dan perempuan, membawa gagasan-gagasan feminis keluar dari lingkungan borjuis dan membuatnya lebih membumi dan relevan di lingkungan buruh industri. Sebagai singa podium dan organisatoris, perannya sangat besar dalam pembentukan serikat-serikat buruh London dan embrio Partai Buruh Inggris. Laura, putri kedua, menikah dengan Paul Lafargue, seorang aktivis sosialis. Pasangan ini kemudian dicatat sebagai rombongan pertama pendakwah tulisan-tulisan Marx dan Engels di Spanyol.

Infografik Mozaik Marx dan Keluarga


Eleanor, yang paling dekat dengan Karl, memanggil sang bapak dengan julukan kesayangan “Mohr” alias “Si Arab” lantaran berjanggut tebal dan berkulit gelap. 

“Kenangan perdanaku dengan Mohr adalah ketika usiaku tiga tahun. Sambil mengelilingi kebun kecil kami di Grafton Terrace, Mohr menggendongku di pundak, lalu dia selipkan bunga convolvulus di rambut ikalku yang berwarna coklat. Mohr saya jadikan kuda-kudaan,” kenang Eleanor seperti dikutip Rachel Homes dalam Eleanor Marx: A Life (2014).
Pada 14 Maret 1883, tepat hari ini 136 tahun lalu, Marx meninggal dunia. Entah berapa tuduhan yang telah dilayangkan kepadanya: mulai dari inspirator kediktatoran, kemiskinan massal, hingga pembunuhan jutaan manusia—tanpa mempertimbangkan bahwa kolonialisme, imperialisme, oligarki politik, kediktatoran fasis, tirani fundamentalis agama, penjarahan tanah besar-besaran oleh perusahaan nasional dan asing telah melakukan hal yang sama, bahkan seringkali lebih buruk. 

Segala cap itu juga disematkan tanpa menimbang gagasan-gagasan Pak Mohr lainnya yang mengilhami delapan jam kerja, hak berserikat, hak cuti, libur akhir pekan, jaminan kesehatan, larangan mempekerjakan anak, akses pendidikan publik, akses kesehatan untuk semua, hingga antikolonialisme—yang hari ini kita anggap lumrah. 

Suatu hari Eleanor kecil bertanya kepada sang bapak: Apa yang membuatmu bahagia? Jawaban Karl singkat: Berjuang. 

Dunia, seperti yang pernah ditulis Jenny, memang milik orang-orang nekat.
_______

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 5 Mei 2017 dengan judul "Istri dan Putri-Putri Karl Marx" dalam rangka merayakan ulang tahun Marx ke-199. Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Sumber: Tirto.Id 

0 komentar:

Posting Komentar