Rabu, 20 Maret 2019

Dialita, Suara Hati Perempuan Penyintas G30S


March 12, 2018 | imajinasijoker



Dialita: “Dunia Milik Kita” (2016)

Boleh jadi ini sentimental: beberapa tahun setelah saya berpisah dengan pacar pertama sewaktu masih SMA, setiap angkutan kota di kampung halaman mendadak hadir sebagai pengingat. Saya mengenang detik-detik yang biasanya dianggap remeh dan bagaimana hal itu kemudian bisa sedemikian jelas dikonstruksi oleh ingatan. Lalu saya menyadari betapa lucu (atau tragis) cara ingatan manusia bekerja. Ketika saya merasa sudah genap melupakan, kenangan-kenangan masa lalu datang menyergap layaknya sekumpulan bajingan yang merampok kesadaran — bahwa ada yang belum selesai, kecuali saya berani menghadapinya sendiri.

Ingatan adalah barang mewah di sini. Setiap upaya mengingat adalah pemberontakan melawan sebuah rezim yang otoriter, sebab di dalam ingatan tersimpan serangkaian peristiwa muram yang mampu melahirkan kesadaran untuk berjuang. Sejarah dipelintir, realitas ditekuk, sementara ingatan kolektif ditentukan oleh buku pelajaran di sekolah. Selain apa-apa yang ada di buku pelajaran adalah kebohongan, dan siapa saja yang ngototberkata sebaliknya dan berusaha melakukan rekonsiliasi dianggap sebagai pendusta jahat yang layak disiksa dan dihilangkan.

Album Dunia Milik Kita adalah sebuah rekaman musik yang berupaya untuk menyajikan suara-suara yang dibungkam pada masa lalu, suara-suara yang dipaksa sunyi karena dosa kolektif dari sebuah asosiasi yang dianggap dan dituduh terlibat dalam peristiwa 1965, dari kelompok yang dicap sebagai komunis dan pengkhianat. Saat rezim pemerintahan Orde Baru yang otoriter itu tumbang, suara-suara yang dulunya dipaksa sunyi, dipaksa hilang, dan dipaksa bungkam, sekarang kembali hadir dengan cara yang tegas, segar, dan kuat. Paduan suara Dialita (Di atas lima puluh tahun) merupakan bebunyian kolektif dari masa lalu, bebunyian yang dipaksa sunyi oleh rezim Orde Baru setelah peristiwa 1965. Dialita beranggotakan para ibu tangguh dan perkasa yang pernah ditahan, dipenjara, diasingkan, dan dihukum melakukan kerja paksa tanpa pernah tahu kesalahannya — cuma karena mereka dituding terlibat dalam peristiwa 1965.

Formasi album ini terdiri dari sepuluh lagu lawas yang diaransemen ulang beberapa musisi lintas-generasi, yang juga hadir untuk mengiringi paduan suara Dialita. Dengan segala kerendahan hati yang ada, saya memohon agar siapa saja yang mendengarkan album ini untuk menganggap nama-nama musisi lintas-generasi di sini (Sisir Tanah, Prihatmoko Catur, Nadya Hatta, Lintang Radittya, Kroncongan Agawe Santosa, Frau, dan Cholil Mahmud) sebagai sesuatu yang tidak signifikan, menempatkan mereka sebagai sekadar figuran saja, agar mampu menangkap kenikmatan, keindahan, dan kesadaran album ini secara maksimal. Album ini juga berperan sebagai sebuah arsip sejarah karena menghadirkan kembali suara dari seniman-seniman besar Indonesia yang disingkirkan dari manuskrip sejarah cuma karena mereka tercatat sebagai anggota Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), para maestro musik yang ditangkap pada masa pemerintahan Orde Baru dan beberapa di antaranya harus meringkuk dalam kamp kerja paksa di Pulau Buru, Kepulauan Maluku, Indonesia.

Berkumpul untuk bernyanyi, bercerita, dan berbagi pengalaman bertahan hidup adalah upaya yang terus-menerus dilakukan oleh keluarga penyintas tragedi kelam 1965 untuk merawat harapan. Bernyanyi memberikan keluarga penyintas sebuah kapasitas suara untuk bicara dan didengar bahwa mereka masih hidup dan menolak lupa, apalagi dibungkam dan dipaksa menyerah-kalah. Ibu-ibu tangguh dan perkasa dalam paduan suara Dialita adalah monumen hidup yang berusaha menuliskan sejarah baru agar bisa diingat selamanya. Melalui album ini, Dialita tidak sedang mengasihani diri sendiri. Dialita tegak bersuara untuk menyanyikan lagu-lagu dari masa lalu dengan tegas, sesuatu yang membikin mereka kuat menghadapi jahatnya stigma, kejamnya sel penjara, dan bengisnya perlakuan diskriminasi. Suara-suara yang dihadirkan oleh album ini merupakan titik tengah pertemuan antara semangat masa lalu dan estetika seni masa kini: sebuah kumpulan musik yang segar dengan susunan teks dan komposisi nada yang berasal dari momen-momen kelam di masa lampau.

Dua sosok yang sangat berjasa mengumpulkan arsip dokumentasi dan mencatat lagu-lagu dari dalam penjara adalah Ibu Utati dan Ibu Mudjiati (dua anggota Dialita yang pernah dipenjara di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan), di mana keduanya mencoba menuliskan kembali lirik-lirik yang tidak lagi utuh dalam ingatan, kemudian secara perlahan berhasil menggenapi bagian-bagian yang terpenggal, lalu diberi notasi nada dan selanjutnya disalin ke dalam lembar partitur secara sederhana, lantas partitur-partitur sederhana yang jauh dari sempurna itu diperkenalkan dan dipelajari bersama kawan-kawan mereka dalam paduan suara Dialita.

Dialita membuka Dunia Milik Kita dengan trek Ujian — jawara dan favorit saya di album ini — yang ditulis oleh Ibu Siti Jus Djubariah dan diaransemen ulang oleh Frau. Saya ingin menuliskan sesuatu yang indah untuk mendeskripsikan lagu ini, namun jujur saja — setiap kali mendengarkan lagu ini, jantung persegi saya terenyuh dan rasa-rasanya hampir mustahil menahan air mata untuk tidak merembes keluar. Lagu ini lahir di dalam Penjara Bukit Duri, sebuah tempat di mana ratusan perempuan dan lelaki, tua dan muda, yang berasal dari berbagai macam serikat pekerja dan organisasi mahasiswa, ditahan karena dituding telah melakukan kesalahan yang entah apa. Para perempuan dan lelaki yang ada di tempat tersebut dipenjara tanpa pernah tahu apa kesalahan mereka dan tanpa proses pengadilan.

“Dari balik jeruji besi, hatiku diuji,” baris lirik awal Ujian mengabarkan semangat para tahanan politik yang dipecundangi oleh rezim pemerintahan pada masa itu, mereka yang dipenjara tetapi menolak untuk larut dalam kekalahan, “apa aku emas sejati atau imitasi?”.
Suara denting piano yang dimainkan Frau sebagai musik pengiring berhasil meruapkan atmosfer sendu dari manusia-manusia yang sedemikian tegar dan kuat menahan derita.

Saya selalu membayangkan bahwa Ujian ditulis dengan keteguhan dan sisa-sisa harapan sebagai upaya untuk tetap tegar menghadapi gelapnya kehidupan di balik jeruji besi penjara yang pengap. Hidup di penjara tanpa pernah tahu kapan bisa bebas adalah salah satu bentuk lain dari vonis kematian. Banyak sekali tahanan politik yang melewati masa remajanya dengan ketidak-pastian di dalam penjara. Ibu Siti adalah seorang guru yang ditangkap dan ditahan di Penjara Bukit Duri pada tahun 1965. Kemudian, pada pertengahan 1971, Ibu Siti — bersama dengan puluhan tahanan lainnya — dikirim ke Kamp Plantungan, Kendal, Jawa Tengah, dan sempat dipindahkan ke Penjara Bulu, Semarang, Jawa Tengah, sebelum akhirnya “dibebaskan” pada tahun 1978. Lagu ini menjadi salah satu penyemangat dan upaya untuk tetap waras bagi para tahanan politik yang direnggut-paksa kebebasan dan hak-haknya oleh Orde Baru.

Nomor Salam Harapan — karya Ibu Zubaedah Nungtjik AR dan Ibu Murtiningrum (keduanya adalah tokoh Gerwani [Gerakan Wanita Indonesia]) yang diaransemen ulang oleh Cholil — berfungsi sebagai doa yang tulus, semacam niat untuk membesarkan hati yang dipersembahkan kepada kawan-kawan sesama tahanan politik yang sedang berulang-tahun di Penjara Bukit Duri. (“Salam harapan padamu kawan: semoga kau tetap sehat sentosa. Bagai gunung karang di tengah lautan, tetap tegar didera gelombang.”)
Musik hadir sebagai medium kebersamaan dan bentuk lain dari kebahagiaan di tengah-tengah keterbatasan dan penindasan. Menurut beberapa artikel yang saya baca, ada tradisi menarik yang selalu dilakukan di dalam penjara tersebut: setiap ada yang berulang tahun, semua tahanan politik bakal berdiri berjajar di depan sel penjara yang bersangkutan pada pagi-pagi buta untuk bersama-sama menyanyikan sebuah lagu sebagai ucapan selamat dan memberikan sekuntum bunga apa pun yang bisa dipetik dari halaman penjara sebagai hadiah. Cholil membikin lagu ini tetap sederhana dan bersahaja, namun tidak menghilangkan ketulusan dan keteguhan yang menjadi karakter para ibu penyintas tragedi 1965.

Kemudian ada materi Di Kaki-kaki Tangkuban Perahu ciptaan Putu Oka Sukanta dan Michiel Karatem yang dibuka dengan desir angin dan suara gitar, kemudian suara-suara lirih mulai terdengar untuk mengabarkan semangat para petani yang tidak akan pernah mati. Aransemen ulang lagu ini yang digarap oleh Sisir Tanah, Lintang, dan Frau berhasil menyulap saya untuk sepenuhnya luruh, tenggelam dalam rasa syukur dan rindu sekaligus sukacita menggairahkan yang mirip dengan perasaan senang-gembira saat berdiri memandang hamparan sawah dan mendengarkan suara angin bergesekan dengan padi. 
“Malam dijemput suara kecapi,” baris teks puitik lagu ini layak dibaca dan dipahami dengan serius, “siang dibernasi suara aksi; di sini juang dipadu membina dunia baru nan jaya”. 
Latar belakang yang diabadikan oleh Putu dan Michiel dalam lagu ini adalah situasi yang harus dihadapi oleh para petani di kaki Gunung Tangkuban Perahu saat melawan dan menolak Undang-Undang Pokok Agraria pada dekade ‘60an. Saat itu, para petani pejuang Tangkuban Perahu melakukan aksi protes sambil tetap bekerja merawat sawah mereka di bawah terik mentari sianghari, sementara pada malamhari, mereka berdiskusi sembari menikmati alunan kecapi dalam momen kebersamaan yang hangat.

Lintasan perjalanan Dunia Milik Kita kemudian dilanjutkan oleh trek Padi Untuk India: sebuah lagu yang bisa menjadi arsip sejarah karena mendeskripsikan kontribusi Indonesia untuk dunia global di masa lalu, tepatnya pada tahun 1946 saat India mengalami krisis pangan yang cukup parah di bawah penjajahan kolonial Inggris. Meskipun pada saat itu Indonesia merupakan bangsa bau kencur yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya, sebagai bentuk solidaritas kepada negara yang masih terjajah, Indonesia berhasil mengirimkan bantuan berupa 700 ton beras ke India setelah sempat diadang oleh Belanda dengan aksi pembakaran dan pengeboman gudang penyimpanan beras di Kota Banyuwangi, Jawa Timur. Lagu yang ditulis oleh A. Alie (tidak ada catatan sejarah yang merekam sosoknya di dunia seni Indonesia) ini diaransemen ulang oleh Sisir Tanah dan berhasil memaksimalkan keriangan melodi lagu ini tanpa harus terdengar rumit. Saya bisa mendengar ritme perjuangan yang menyenangkan dan merasakan semangat solidaritas kemanusiaan di dalamnya.

Lagu berikutnya yang berjudul Taman Bunga Plantungan (karya Ibu Zubaedah) diaransemen ulang dengan begitu indah oleh Kroncongan Agawe Santosa. Lagu yang tercipta di Kamp Plantungan pada tahun 1971 ini merupakan tanda cinta dan persahabatan para tahanan politik, menceritakan sebuah taman kecil yang dibangun dengan swadaya oleh para tahanan politik di Kamp Plantungan pada masa itu. Kamp Plantungan merupakan bekas rumah sakit yang dibangun pada masa penjajahan kolonial Belanda untuk para penderita penyakit lepra / kusta. Kondisi kamp ini mirip lapangan jagal yang dipenuhi “benda-benda ajaib” di mana tidak jarang ditemukan potongan-potongan jari tangan atau jari kaki para penderita lepra / kusta yang sempat dirawat di sana.

Bebunyian kolektif yang disuarakan oleh Dialita melalui rekaman album ini adalah representasi dari ratusan ribu tahanan politik Indonesia yang dipenjara tanpa proses pengadilan apa pun. Hak sipil para tahanan politik tersebut sengaja dicabut, identitas dan jati diri mereka dilecehkan, serta hak asasi mereka diludahi. Para tahanan politik itu dicap sebagai komunis, seolah-olah hal itu merupakan dosa asal (original sin) yang tidak layak untuk diampuni. Di Indonesia, ada semacam upaya sistematis untuk menjadikan segala sesuatu yang terkait dengan komunisme sebagai pesakitan menjijikkan. Keseluruhan album ini pada dasarnya bukanlah sekadar usaha untuk menolak lupa saja, melainkan juga sebuah upaya kolektif untuk menempatkan kembali sebuah konteks dari satu waktu di masa lalu. Dialita tidak sedang menuntut dengan amarah dan dendam kesumat, namun mereka bernyanyi dengan tegas untuk merayakan ingatan dan kenangan, serta memberikan suara dan perspektif dari satu-dua peristiwa sejarah yang pernah dipaksa bungkam oleh penguasa agar generasi mendatang bisa belajar dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Nomor Kupandang Langit (ciptaan Koesalah Soebagyo Toer, diaransemen ulang oleh Lintang dan Frau) memberikan pengalaman musikal dan efek magis yang serupa dengan Ujian. Terinspirasi oleh pohon beringin pencekik di halaman Rutan (Rumah Tahanan) Salemba, Jakarta, Koesalah berusaha menjaga kewarasan sekaligus juga untuk menyemangati kawan-kawan sesama tahanan politik di sana dengan menciptakan Kupandang Langit. Bagi saya, Kupandang Langit memiliki efek magis yang dramatis — semacam menyeruput secangkir kopihitam pahit hangat saat hujan menderas seharian di luar kandang dan menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak bisa saya lawan, bahwa ada sesuatu yang tidak bisa saya selamatkan. Meski begitu, ada semacam kesadaran bahwa saya toh masih punya kekuatan untuk mengakhiri tragedi dengan tangisan tidak berkesudahan perihal betapa buruknya hidup ini, atau dengan kebanggaan bahwa sampai pada titik akhir yang paling getir sekalipun, saya tidak memundurkan kaki setapak pun darinya. Dan kebanggaan semacam itu, tentunya, tidak muncul dari fatalisme yang pasrah menerima nasib apa adanya, melainkan lahir dari keberanian untuk mengafirmasi kehidupan seutuhnya: amor fati — yang tragis dan yang manis.

Formasi album Dunia Milik Kita selanjutnya dihuni oleh dua lagu yang punya konteks politik penting sebagai perwujudan dari sikap perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme di masa lalu: (1) materi Viva Ganefo yang ditulis oleh Asmono Martodipoero dalam bahasa Spanyol untuk merespons penyelenggaraan Pesta Olahraga Negara-Negara Berkembang [GANEFO: Games of the New Emerging Forces] pada dekade ‘60an dan diaransemen ulang oleh Sisir Tanah; dan (2) trek Asia Afrika Bersatu yang diciptakan oleh Sudharnoto untuk menyambut penyelenggaraan Konferensi Asia–Afrika pada 18-24 April 1955 di Gedung Merdeka, Kota Bandung, Jawa Barat, dan lagu ini diaransemen ulang oleh Prihatmoko, Nadya, dan Lintang.

Dua lagu yang menggenapi perjalanan album ini adalah Lagu Untuk Anakku (aransemen ulang oleh Cholil) dan Dunia Milik Kita (aransemen ulang oleh Lintang dan Cholil). Nomor Lagu Untuk Anakku disusun bersama oleh Ibu Heryani Busono Wiwoho (lirik) dan Mayor Djuwito (notasi musik) saat dipenjara oleh tentara di Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) Kelas II Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, untuk menyuarakan kegelisahan tentang nasib anak-anak Indonesia yang mendadak harus kehilangan orangtua karena dipenjara, diasingkan, atau dibunuh oleh rezim pemerintahan otoriter pada saat itu. Sementara materi Dunia Milik Kita karangan Sudharnoto, yang mulai ditulis pada saat reformasi politik Indonesia sedang terjadi dan selesai bertepatan dengan perayaan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia pada 10 Desember 1998, menyampaikan gagasan besar tentang satu bangsa yang terdiri dari berbagai macam identitas yang berbeda-beda.

Album ini berhasil membikin suasana hati saya campur-aduk: berkali-kali saya dibikin sedih, hancur, dan menangis, untuk kemudian dikuatkan dengan harapan dan semangat yang menggembirakan sewaktu memutarnya kencang-kencang di dalam kandang. Ibu-ibu tangguh dan perkasa yang tergabung dalam paduan suara Dialita adalah pohon rindang yang mampu memberikan ketenangan dan keteduhan magis layaknya kasih sayang dari nenek dan ibu saya sendiri. Suara vokal Dialita mungkin saja bergetar dan tidak merdu, namun ada sesuatu yang membikin jantung saya luruh dan terenyuh ketika mendengarkannya — serupa perasaan sentimental saat melihat hujan untuk pertama kalinya setelah musim kemarau berkepanjangan.

Pada akhirnya, Dialita dan Dunia Milik Kita-nya merupakan ketulusan estetis yang mahategar dan memesona, bebunyian kolektif dari orang-orang yang menolak menyerah-kalah ketika dipaksa tunduk oleh otoritas bangsat. Suara yang ada di dalamnya mewartakan luka dengan tegas, sekaligus juga memberikan harapan serta rasa nyaman dan aman. Ini adalah resep mujarab dengan takaran yang pas — seperti pelukan ibu yang menghangatkan, atau semacam aroma tubuh sang kekasih sehabis bercinta tetapi belum sempat mandi — yang memberikan hasrat dan harapan sebagai fondasi untuk melakukan aksi perjuangan melawan kondisi brengsek hari ini yang semakin tidak baik-baik saja.

— Daftar lagu Dunia Milik Kita —
1) Ujian [Frau]
2) Salam Harapan [Cholil Mahmud]
3) Di Kaki-kaki Tangkuban Perahu [Sisir Tanah, Lintang Radittya, dan Frau]
4) Padi Untuk India [Sisir Tanah]
5) Taman Bunga Plantungan [Kroncongan Agawe Santosa]
6) Viva Ganefo [Sisir Tanah]
7) Lagu Untuk Anakku [Cholil]
8) Kupandang Langit [Lintang dan Frau]
9) Dunia Milik Kita [Lintang dan Cholil]
10) Asia Afrika Bersatu [Prihatmoko Catur, Nadya Hatta, dan Lintang]

Salam harapan dan peluk hangat, atas-nama cinta dan anarki, untuk paduan suara Dialita dan seluruh ibu-ibu tangguh nan perkasa di luar sana. {ѧ}

Sumber: MemoriSenja 

0 komentar:

Posting Komentar