Senin, 25 Maret 2019

Menghimpun Korban Tragedi 65 Kendalsari


Membangun kemandirian kolektif bagi para korban/ penyintas di tengah mandeknya upaya penyelesaian kasus kejahatan HAM berat dalam tragedi 1965-66 dan setelahnya, sudah seharusnya menjadi hal yang lebih penting ketimbang terjebak pada wacana pemenangan pemilihan presiden maupun pemilu legislatif di tahun politik 2019.


Mengapa demikian? Karena siapa pun presidennya dan dari kalangan manapun politisinya; penyelesaian kasus kejahatan HAM berat harus menjadi prioritas. Urgensi ini muncul dan menjadi topik utama yang dibicarakan dalam pertemuan para korban tragedi 65-66 di Kendalsari, Petarukan Pemalang.

Belasan korban yang rata-rata telah berusia lanjut (70 tahun lebih_Red) merajut kembali komunikasi lintas profesi yang telah lama mengalami persekusi kekejian antara tahun 1965 hingga tahun-tahun 1970-an. Ada eks tapol Pulau Buru, mantan guru PNS, mantan aktivis (Gerwani, Lekra, Pemuda Rakyat, BTI), mantan tentara dan polisi militer; menggelar pertemuan lintas desa (10/3/19) di wilayah Petarukan itu.

Bukan PKI

Adalah Aruji Kisdiono (76) mantan prajurit CPM yang baru akan berdinas ketika Gestok 65 meletus dan menjadi korban dalam tragedi kemanusiaan masa itu hingga tahun-tahun setelahnya. Tanpa melalui proses hukum di pengadilan militer, dia ditangkap satuan Denpom dan dijebloskan ke penjara Purwokerto. Di hari tuanya kini, Kisdiono memiliki kesempatan buat aktif menjalin komunikasi diantara para korban tragedi 65 maupun keluarganya. Terutama untuk wilayah Taman, Petarukan, Ampelgading, Bodeh. Comal dan Kaso.

“Ini tak ada sangkut paut dengan politik PKI”, terangnya buru-buru.
Dia sendiri bukan anggota PKI ketika G30S meletus dan Gestok dilansir sebagai huru-hara reaksioner pembasmian komunis dimana-mana; tak terkecuali di Petarukan. Ayahnya yang terbilang keluarga kaya adalah Ketua BTI Ranting Kendalsari masa itu dan mantan pejuang kemerdekaan (veteran) pada masa perang kemerdekaan sebelumnya.

Istrinya, Sudi Rahayu tak luput menanggung resiko paska penangkapan dan pemenjaraan suaminya secara semena-mena. Sementara rumah keluarganya musnah, harta tak bersisa habis dijarah; perlakuan tak adil lainnya berlanjut berkepanjangan. 
“Ini bekas rumah keluarga yang dulu dirusak massa dan dijarah”, terang ibu tua ini menunjukkan bekas lokasi rumahnya yang lama. Matanya basah tapi bicaranya tegar bertutur tentang peristiwa November 1965.

Saat itu, rumah keluarganya diserbu dan dirusak massa. Harta dan isinya dijarah, bahkan padi di lumbung pun dikurasnya. Sudi Rahayu banyak menyaksikan kekejian huru-hara masa itu, karena ia tak ikut ditahan tentara. Kejahatan dalam berbagai bentuknya berlangsung dimana-mana. Perkosaan terhadap perempuan Petarukan pun terjadi pada masa itu.

Semua dilakukan atas nama pembasmian PKI, padahal keluarganya bukan PKI. Tak ada yang bisa menghentikan beringas kejahatan, tak ada yang bisa membantu korban untuk melakukan tuntutan.

Tak Melupakan

“Membantu korban akan dipekaikan”, terang ibu Sudi bertutur kisah kelam yang menimpa keluarganya di masa lalu; ngeri dan getir.
Kengerian yang sama juga menimpa banyak keluarga lainnya di desa Kendalsari. Puluhan tahun ia kenang kegetiran itu. Tapi sepanjang yang ia tahu, PKI tak pernah melakukan kejahatan seperti ini di desanya, juga di desa-desa Petarukan lainnya; tak juga di wilayah Taman, Ampelgading, Bodeh. Comal dan Kaso.

Secara umum, situasi Pemalang kala itu baik-baik saja. Aruji yang masa itu bersiap memasuki dinas kemiliteran juga memahami situasinya, tak ada benih keresahan umum. Keresahan timbul dan cepat meluas, justru ketika operasi militer mulai dilancarkan dengan melibatkan massa. Dan kekerasan massa ini menyerbu desanya, bahkan melanda pula rumah keluarganya pada bulan November 1965.

Sebagaimana pendapat umum para korban yang berhimpun itu, menurut Aruji yang akrab dipanggil Pak Kis, operasi militer ini dilancarkan dalam rangka penumpasan PKI. Dalihnya karena PKI mendalangi kudeta melalui gerakan yang disebut G30S. Dan itu di Jakarta, yang tak semua orang mengetahuinya, apalagi terlibat melakukannya.

Aruji tak melupakan itu dan setelah semua anaknya mentas ia aktif membangun kemandirian di kalangan para korban; dan beruntung karena sang istri mendukungnya...

0 komentar:

Posting Komentar