HUTAN MONGGOT

“Menurut taksiran, korban yang dieksekusi dan dibuang di lokasi ini tak kurang dari 2.000 orang”, kata saksi sejarah sambil menunjukkan lokasinya [Foto: Humas YPKP]

Jumat, 31 Mei 2019

Mengenang Kembali Sejarah Lahirnya Pancasila

Johanis Malingkas - 31 Mei 2019   18:55 Lambang Negara Pancasila (sumber:batam.tribunnews.com) Saat ini perhatian publik terfokus pada persoalan politik pasca pemilu 2019. Unjuk rasa peristiwa 21-22 Mei yang berujung terjadinya kerusuhan merupakan sesuatu yang memprihatinkan. Kemudian adanya informasi rencana pembunuhan terhadap 4 pejabat tinggi negara dan seorang pimpinan lembaga survei menimbulkan pertanyaan besar. Andaikan kesigapan...

Rabu, 29 Mei 2019

Kiri Indonesia Menunggu Ratu Adil?

29 May 2019 - Appridzani Syahfrullah Kredit ilustrasi: Reddit Kontribusi Untuk Perdebatan PROBLEMATIKA gerakan progresif di Indonesia pasca kejatuhan Soeharto masih sama; rekonsolidasi dan penyamaan persepsi dalam rangka pembangunan gerakan alternatif. Perdebatan yang terjadi dikalangan kaum progresif mengerucut pada dua hal.  Pertama mereka yang meyakini jalan infiltrasi kekuasaan sebagai langkah untuk menelurkan...

Minggu, 26 Mei 2019

Hari Maaf Nasional: Cara Australia Rekonsiliasi dengan Suku Aborigin

26 Mei 2018 6:12 WIB Suku Aborigin (Foto: Flickr/lookingleft) Setiap 26 Mei, Australia memperingati National Sorry Day, atau Hari Maaf Nasional. Peringatan ini didedikasikan sebagai ungkapan rasa bersalah publik atas pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dialami orang Aborigin dan penduduk asli Kepulauan Selat Torres sepanjang sejarah Australia. Dikutip dari The Independent, National Sorry Day dimulai dengan sebuah hari berkabung...

Kamis, 23 Mei 2019

Sebuah Masa Kelam yang Melahirkan Keterasingan Satu ke Keterasingan yang Lain

TITIK KARTITIANI - 23 MAY Buku kumpulan cerpen "Kata-Kata Membasuh Luka" karya Martin Aleida. FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani Kadang, ketakutan memang sengaja diwariskan. Apalagi ketakutan kolektif yang bisa digunakan kapan saja bila dibutuhkan. Pada sebuah bangsa yang miskin literasi, maka hoaks pun menjadi senjata pemusnah massal untuk membunuh nalar. Judul buku          : Kata-Kata...

Sejarah Kerusuhan di Jakarta: dari 1965 Hingga 2019

Putra/aww. Oleh: Iswara N Raditya - 23 Mei 2019 Sejumlah warga melintasi ban yang dibakar di tengah Jalan KS. Tubun, Petamburan, Jakarta Pusat, Rabu (22/5/2019). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Sejarah mencatat, Jakarta menjadi ajang bentrok sesama anak bangsa: Dari 1965 pasca-G30S, Malari 1974, tragedi Tanjung Priok 1984, kerusuhan Mei 1998, dan hingga aksi massa 22 Mei 2019. Kerusuhan yang melanda Jakarta, Selasa malam (21/5/2019) hingga...

Di Balik Kitab Suci Kaum Komunis: Inspirasi Jawa untuk Karl Marx

Mahandis Yoanata Thamrin - Kamis, 23 Mei 2019 | 07:00 WIB Karl Marx dan "Das Capital" pada sebuah perangko Soviet, 1967. Kapan Karl Heinrich Marx menjejakkan kakinya di Jawa? Sampai jenggotan dan ubanan pun, dia memang tidak pernah singgah ke Jawa. Marx, yang dikenal sebagai sang begawan ekonomi dan sosiologi sohor asal Jerman, pernah mempelajari sekelumit tentang Jawa. Marx melihat Jawa sebagai contoh bentuk...

Rabu, 22 Mei 2019

Film Guatemala tentang Pembantaian Masyarakat Adat Memenangkan Penghargaan di Festival Film Cannes

22 Mei 2019 Film Guatemala "Nuestros Madres" menjadi film pertama negara yang diberikan penghargaan di Festival Film Cannes di Prancis. | Foto: Twitter / @geo_movies Film Guatemala "Nuestras Madres" memenangkan penghargaan di "Critics 'Week" Festival Film Cannes, "menjadi film pertama bangsa yang mencapai pengakuan seperti itu.  "Nuestras Madres" (Our Mothers) adalah film Guatemala pertama yang diputar di Festival...

Senandung Sendu Seniman Ketoprak Ketika Terseret Pusaran Geger 1965

Mahandis Yoanata Thamrin - Rabu, 22 Mei 2019 | 16:00 WIB Seorang pemain ketoprak baru saja menyelesaikan rias wajahnya. Malam itu dia berperan sebagai warok yang digambarkan berbadan perkasa dengan bulu dada, wajahnya berkumis dan bercambang lebat. Rombongan ketopraknya berpentas di Wado, pinggiran Blora. “Di zaman PKI seniman sangat diperhatikan,” ujar Randimo. “Ya, karena ditunggangi itu setiap desa punya gamelan....