Rabu, 01 Mei 2019

100 Tahun Perayaan 1 Mei di Nusantara


Reporter  terakota - 01/05/2018 - Oleh: F.X. Domini B.B. Hera*

Tampak depan Gedung Serikat Buruh Perkapalan-Pelayaran dan Matros di Surabaya yang menjadi tempat Perayaan 1 Mei pertama kali di Nusantara (Foto Repro dari F. Tichelman [1985], Socialisme in Indonesië: De Indische Sociaal-democratische Vereeniging 1897-1917, Jilid I).

Terakota.id–Tanpa banyak disadari khalayak ramai, 1 Mei 2018 menjadi penanda tepat 100 Tahun Perayaan 1 Mei dirayakan di Nusantara. Surabaya menjadi tempat kehormatan yang menorehkan tonggak sejarah perburuhan ini. Surabaya sebagai kota pelabuhan, tempat di mana sektor jasa dan perniagaan di gerbang timur Nusantara, tak pelak menjadi tuan rumah perayaan bersejarah tersebut. Nomenklatur awal yang dikenal untuk Perayaan 1 Mei ialah Hari Kemenangan Buruh. Selama kurun waktu 100 tahun berjalan, dinamika nomenklatur ini begitu bergejolak mengikuti politik perburuhan sebagai bagian dari politik nasional dan internasional.

Nomenklatur awal yang tercatat bernama ‘Hari Raya Kaum Buruh Seantero Dunia’ pada tahun 1918. Pada masa berikutnya di republik muda sekurang-kurangnya ada 2 kali pergeseran nomenklatur, dari ‘Hari Kemenangan Buruh Sedunia’ (1946-1960) kemudian bergeser menjadi ‘Hari Buruh Sedunia’ (1961-1966). Pada masa berikutnya Hari Buruh Sedunia tidak lagi diperingati. Perayaan 1 Mei diganti oleh pemerintah Orde Baru dengan ‘Hari Karyawan Nasional’ yang diperingati setiap 20 Februari sejak tahun 1991. Barulah kemudian sejak sejak tahun 1999, pasca Orde Baru lengser, perayaan 1 Mei diperingati kembali.

Ini Vergadering Mesti Diteruskan dan Tiada Dimundurkan

Buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula (2016: 30-32) menginformasikan secara populer dengan penuh gambar Perayaan 1 Mei pertama di Nusantara. Secara ringkas, acara peringatan itu diselenggarakan di Gedung Serikat Buruh Pelayaran dan Matros (SBPM), Surabaya. H.J.F.M. Sneevliet atau Henk Sneevliet (1883-1942) dan Adolf Baars (1892-1944) turut menghadiri kegiatan itu pada malam 30 April 1918. Sneevliet sendiri kemudian mengabadikan perihal ini dalam Het Vrije Woord 10 Mei 1918 (hlm. 196-197) dengan judul tulisan ‘Perayaan 1 Mei Pertama Kita’ (Onze Eerste 1 Meiviering).

Peristiwa ini senantiasa menjadi acuan bagi banyak pemerhati sejarah perburuhan. Walaupun perayaan 1 Mei yang diselenggarakan SBPM itu sudah mengantongi izin dari Asisten Residen Surabaya, namun bayang-bayang pelarangan sewaktu-waktu dan pembubaran acara bisa terjadi tanpa diduga penyelenggara acara. Keberanian SBPM pasang badan dan siap mengambil resiko untuk menjamin apapun resiko yang terjadi memperlihatkan kebulatan tekad organisasi perburuhan pada zaman bergerak itu (An Age Motion), mengutip judul disertasi Sejarawan Takashi Shiraishi yang legendaris mengenai era pergerakan nasional. Para anggota SBPM mengatakan, 
“Ini vergadering (pertemuan) mesti diteruskan dan tiada dimundurkan besok, … Ini vergadering tiada peduli apa saja mesti terus. Perkara (urusan nanti) di belakang.” (Harian Pewarta Soerabaia, Rabu, 1 Mei 1918).
Tepat pukul tujuh malam, Sneevliet memulai pidatonya mengenai sejarah awal peringatan 1 Mei yang pertama kali bersumber dari peristiwa letusan bom saat terjadi aksi pemogokan buruh untuk menuntut 8 jam kerja di Chicago, Amerika Serikat pada 4 Mei 1886. Polisi lantas menyikapi hal itu dengan menembaki kerumunan buruh yang menimbulkan korban luka dan meninggal di tempat. Sneevliet menandaskan bahwa Perayaan 1 Mei menjadi gerakan perburuhan sedunia.

Sneevliet juga menyatakan bahwa sedang terjadi pemogokan buruh di Semarang oleh karenanya kaum buruh di manapun perlu memiliki rasa solidaritas untuk membantu perjuangan kaum buruh di manapun. Sesudah ceramah Sneevliet diakhiri, para istri pegiat SBPM meminta derma kepada para hadirin untuk menyokong kaum buruh yang sedang melakukan aksi mogok di Semarang. Solidaritas perlahan namun pasti disemai dalam masa-masa awal gerakan perburuhan ini. Di luar itu, terdapat informasi yang luput pada saat bersamaan perayaan ini dilaksanakan di Surabaya.

1 Mei dan Perkumpulan Kaum Buruh Tionghoa

Pada malam 30 April itu pula, Henk Sneevliet dan Adolf Baars tidak saja menghadiri acara 1 Mei di Gedung Serikat Buruh Pelayaran dan Matros. Dua pentolan ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeniging, Perhimpunan Sosial Demokrat Hindia Belanda) itu juga mendatangi dan meramaikan Perayaan 1 Mei yang diselenggarakan oleh perkumpulan kaum buruh Tionghoa di Surabaya bernama Soe Swie Kang Tong Tji Poo (SSKTTP) di gedung Bing Sien Soe Poo Sia. Sneevliet dan Baars disambut pengurus perkumpulan kaum buruh Tionghoa itu. Acara yang penuh dengan dekorasi warna merah sebagai simbol pergerakan pekerja sedunia itu ramai dikunjungi dengan pesta perjamuan menjadi malam resepsi 1 Mei yang diiringi musik dari Kiauw Tong Ja Hak.

Harian Pewarta Soerabaia, Rabu, 1 Mei 1918 menurunkan laporan bahwa pertemuan itu diperkirakan dihadiri 500 orang. Semangat berorganisasi dan membangun wadah perjuangan bagi buruh menjadi hal penting yang didengung-dengungkan dalam malam resepsi tersebut. Sedari masa kolonial hingga masa Republik Muda Indonesia (1945-1966), terdapat tiga kekuatan serikat buruh terbesar, antara lain Serikat Buruh Kereta Api, Serikat Guru, dan Serikat Buruh Pos, Telepon, dan Telegram.

Namun dua tuan rumah penyelenggara Perayaan 1 Mei pertama di Surabaya tersebut bukan berasal dari tiga kekuatan terbesar serikat buruh yang sudah disebut. Tuan rumah berasal dari SBPM dan SSKTTP yang notabene memiliki akses ke dunia internasional karena mobilitas mereka sebagai migran maupun kemampuan bermulti bahasa. Para pekerja migran dengan mobilitas spasial yang ditunjang penguasaan banyak bahasa memungkinkan percepatan arus informasi, ide hingga ideologi cepat menyebar.

Kehadiran Sneevliet dan Baars hingga dua tuan rumah serikat buruh berlainan dalam Perayaan 1 Mei pertama kali di Surabaya itu tentu menjadi kabar kurang sedap di kalangan tuan pemodal dan pemerintah Hindia Belanda. Penciptaan perbedaan ras maupun jender dalam bidang kerja hingga urusan pengupahan memudahkan kontrol kapitalisme kolonial terhadap pluralitas kaum pekerja yang tidak bisa dibendung. Geger Pacinan (1740-1743) sebagai akibat aliansi Cina-Jawa, terutama migran Cina yang datang mengadu nasib sudah cukup memusingkan sejarah kolonial di Nusantara.

Segregasi ras merupakan kunci untuk memadamkan aliansi atau akulturasi yang bisa menggoyahkan kolonialisme. Percampuran gerakan lintas rasial seperti yang dipertunjukkan dalam Perayaan 1 Mei di Surabaya tentu mengkhawatirkan penguasa dan pemodal kolonial. Hanya dalam tempo beberapa tahun kemudian, kampiun-kampiun pejuang perburuhan bermunculan seperti Semaun (1899-1901), pemimpin VSTP (Vereeniging van Spoor en Tramweg Personeel, Serikat Buruh Kereta Api dan Trem); Raden Panji Soeroso, aktivis perburuhan yang tembus hingga menjadi wakil rakyat di Volksraad  (parlemen era kolonial); dan Setiati Surasto (1920-2006), aktivis perempuan pentolan SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia) di masa republik muda yang kelak menjadi Sekretaris GSS (Gabungan Serikat Buruh Sedunia) tahun 1964 yang berkedudukan di Praha.

Sesudah 100 Tahun

Perayaan 1 Mei pertama kali di Nusantara itu diadakan dalam alam segregasi sosial yang begitu menganga akan rasialisme. Perbedaan upah dan fasilitas karena ras maupun jender menjadi tantangan yang tidak terkira. Di sisi yang lain, Perayaan 1 Mei pertama kali di Nusantara menjadi pionir di Asia Tenggara mengingat Vietnam baru merayakan 1 Mei pada tahun 1930. Perayaan itu pula menandakan kaum sosialis di Hindia Belanda lebih progresif mengingat negeri koloni Belanda lain belum merayakan 1 Mei pada saat yang sama. Di Negeri Belanda sendiri, Perayaan 1 Mei pertama kali dirayakan pada tahun 1890. Butuh 28 tahun kemudian kaum buruh di negeri koloni Hindia Belanda menikmati dan merayakan hari raya bagi pekerja seluruh dunia tersebut.

Perburuhan dan perjuangan pada keadilan sosial menjadi cetak biru peradaban modern dunia. Jam kerja, jaminan hari tua, jaminan kesehatan, jaminan rumah layak huni, dan semua jaminan sosial lainnya merupakan buah-buah dari kemenangan perjuangan kaum buruh di manapun di seluruh dunia. Di sanalah esensi perjuangan keadilan sosial bagi kaum pekerja menjadi esensi istilah ‘kemenangan buruh’ yang setiap 1 Mei menjadi Hari Kemenangan Buruh Sedunia. Politik perburuhan yang senantiasa tersandera oleh politik praktis pasca Reformasi 1998 menjadi tantangan tersendiri bagi kalangan pegiat dan serikat buruh, mengingat kini sesudah Orde Baru fase gerakan perburuhan Indonesia dalam tahap konsolidasi sesudah 32 tahun gerakan ini dibius secara represif.

Tidak mudah memang menjaga nyala api perjuangan keadilan sosial bagi kaum buruh Indonesia selama 100 tahun sejak pertama kali perayaan 1 Mei digelar. Masih banyak pekerjaan rumah dan soal-soal kesejahteraan sosial maupun politik perburuhan yang belum selesai. Namun pejuang dan perjuangan kaum buruh akan selalu ada berdatangan sekalipun mengalami represif sekalipun. Kaum pekerja seluruh dunia, bersatulah!

F.X. Domini B.B. Hera (Sumber: Arsip Penulis)
* Peneliti Sejarah Pusat Studi Budaya dan Laman Batas
Universitas Brawijaya, Malang.

0 komentar:

Posting Komentar