Jumat, 15 November 2019

Amir Sjarifuddin: Pahlawan yang Dilupakan

Akbar Sukimin



Tanggal 10 November 1945 adalah hari dimana massa rakyat dari berbagai elemen berhasil mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia yang baru saja diproklamirkan dari serangan Inggris dengan persenjataan modern yang memboncengi kekuasaan (NICA) Belanda di Surabaya. Peristiwa ini yang kemudian diperingati sebagai hari pahlawan oleh bangsa Indonesia.

Mereka yang terlibat dalam pertempuran dengan Inggris adalah merupakan gabungan dari para pejuang sipil (dari berbagai kalangan) maupun dari sebagian kalangan militer yang merupakan bekas KNIL[1] dan PETA[2]. Namun, hingga hari ini mereka-mereka yang dianggap sebagai “pahlawan” masih saja didominasi oleh unsur-unsur seperti militer, berkat propaganda Soeharto pada masa orde baru.

Sejak rezim Orba berkuasa selama 30-an tahun, praktis nama-nama mereka yang berada di simpang kiri jalan (meminjam istilah Soe Hok Gie), sengaja dilupakan, dimanipulasi atau bahkan dihapuskan sama sekali dalam catatan sejarah resmi pemerintah. Dan mereka-mereka yang ditonjolkan dalam peristiwa-peristiwa besar sejarah hampir selalu adalah mereka yang berlatar belakang militer. Semua itu dilakukan untuk menunjukkan, seolah-olah hanya militer lah yang paling terdepan melawan penjajahan, hanya dengan menjadi militer lah baru bisa disebut sebagai pahlawan bangsa.

Bukan percuma film seperti Janur Kuning diproduksi pada zaman Orba (1979) berkuasa yang sangat mengultuskan peran Suharto dalam perang kemerdekaan dengan perannya sebagai militer. Yang sangat menyedihkan, film yang sangat manipulatif seperti Pengkhianatan G 30 S PKI masih juga sempat-sempatnya diberi tempat oleh pemerintah Jokowi yang konon sebagai sosok “sipil”.

Kedua film tersebut selain begitu manipulatif dalam fakta-fakta sejarah, juga memberi tahu ke kita kalau militerlah yang paling jago dalam hal apa pun, sedangkan para pemimpin sipil seperti Sukarno-Hatta[3] dikerdilkan perannya atau ditiadakan sama sekali dalam sejarah seperti Amir Sjariffudin[4].

Padahal bila melihat proses kemerdekaan kita para pemimpin sipil terutama Sukarno, Hatta, Sjahrir, dan Amir Sjariffudin, dll., sangat berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan, sampai-sampai hampir meregang nyawa.

Bila Sukarno, Hatta, dan Sjahrir mendapatkan konsekuensi penjara dan pembuangan, maka Amir Sjariffudin juga mengalami hal serupa. Bahkan Amir sampai mendapatkan perlakuan keji dari tentara (fasis) Jepang saat dipenjara. Jika Sukarno dan Hatta masih menyimpan harapan pada Jepang untuk kemerdekaan Indonesia, Amir adalah orang yang paling tidak mau mengharapkan belas kasih dan berkolaborasi dengan penjajah Jepang.

Sebelum dijatuhi hukuman mati oleh Mahkamah Militer Jepang pada 29 Februari 1944, Amir dipaksa tentara Jepang untuk berkhianat pada rakyat Indonesia. Hampir setiap hari Amir disiksa agar mau membongkar jaringan Gerakan Anti Fasis (GERAF). Pernah, di sebuah sumur, dalam keadaan kaki terikat di atas dan kepalanya berada dibawah, tubuhnya diturunkan ke air sumur kemudian dinaikkan ke atas lagi. Itu dilakukan berkali-kali, yang hampir membuat Amir meregang nyawa. Tetapi, Amir tidak pernah menyerah pada kekuasaan penjajah, malahan dia menertawakan para tentara Jepang yang menyiksa dia[5].

Amir yang masih dipenjara saat saat proklamasi kemerdekaan, baru bebas dari penjara enam minggu setelahnya, yakni pada 1 Oktober 1945. Tetapi, walaupun masih dipenjara, Amir sudah diangkat menjadi Menteri Penerangan oleh Sukarno.

Saat menjadi Menteri Penerangan, Amir begitu lugas menjelaskan apa makna kemerdekaan bagi rakyat Indonesia, hingga mampu menjawab fitnahan pers dunia Barat dari Inggris dan Amerika Serikat yang mengatakan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan “pemberian” Jepang.

Apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya ini tentunya merupakan taktik untuk memecah belah rakyat Indonesia. Tetapi Amir menjawab fitnahan itu dengan gamblang, terlebih secara pribadi dia memang tak pernah kompromi dengan penjajahan Jepang, sehingga rakyat sangat mempercayainya.

Empat hari setelah peristiwa 10 November 1945 yang begitu heroik, Amir mendapatkan amanah untuk juga menjabat sekaligus sebagai Menteri Keamanan Rakyat disamping Menteri Penerangan.

Tetapi semua itu tidak membuat bangsa kita saat ini menghormati jasa-jasa Amir Sjariffudin, bukan hanya karena dia seorang sipil, tetapi terlebih karena dia sebagai seorang komunis dan didaulat “bersalah” dalam peristiwa konflik internal militer yang membuahkan malapetaka di Madiun pada 1948.

Tambah lagi peristiwa 1965 yang mengibliskan semua orang komunis dan tujuannya juga untuk menaikkan citra para pemimpin militer sebagai malaikat penyelamat bangsa.
___

Catatan Akhir:
1 Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL)—Tentara Kerajaan Hindia Belanda.
2 Pembela Tanah Air—tentara bentukan Jepang saat menjajah Indonesia.
3 Dalam narasi-narasi Orba, peran Sukarno-Hatta direduksi sekadar menjadi proklamator saja.
4 https://islambergerak.com/2016/08/amir-sjarifuddin-seorang-komunis-sekaligus-kristen-taat-bagian-1
5 Amir Sjarifuddin lahir di Medan tanggal 27 Mei 1907. Catatan mengenai tanggal lahir Amir Sjarifuddin kebanyakan mengacu kepada buku “Antara Negara dan Revolusi”-nya Jacques Leclerc, yang menyatakan bahwa Amir lahir pada tanggal 27 April 1907. Berdasarkan catatan yang dimiliki keluarga, Amir lahir di Medan pada tanggal 27 Mei 1907.

Akbar Sukimin, aktivis Pro-demokrasi Malang

0 komentar:

Posting Komentar