Selasa, 20 Oktober 2015

Adik Pramoedya Ananta Toer Raih Penghargaan dari Rusia


Marieska Harya Virdhani, Jurnalis · Selasa 20 Oktober 2015 21:15 WIB


DEPOK - Koesalah Soebagyo Toer, adik Pramoedya Ananta Toer, maestro sastrawan Indonesia, mendapatkan penghargaan dari Kedutaan Besar Rusia. Koesalah berjasa dalam dunia sastra khususnya bagi masyarakat Rusia lantaran telah mengabdikan hidupnya untuk menerjemahkan karya–karya sastra dari Rusia ke dalam Bahasa Indonesia.

Buku –buku yang sudah ia terjemahkan di antaranya karya Anton P Chekhov, Nikolai Gogol, Leo Tolstoi, Mikhail Lermontov, seluruhnya sudah diterbitkan. Sedangkan buku – buku yang belum terbit di antaranya Aleksandr Pushkin, Irvan Turgenyev, dan Leo Tolstoi.
“Ini menjadi kekayaan budaya dunia, salah satu karya penting bagi kami warga Rusia. Kepentingan kami memastikan karya ini akan diterbitkan di Indonesia. Kerjasama pemerintah Rusia di Indonesia,” kata Direktur Pusat Ilmu dan Kebudayaan Rusia Kedutaan Besar Rusia Glinkin Vitaly di kediaman Koesalah di Jalan Turi III, Beji, Depok, Selasa (20/10/2015).
Dalam pertemuan tersebut juga hadir Dosen Sastra Rusia yang berkebangsaan Rusia dan mengajar di Universitas Indonesia, Elena Vitaly. Elena mengapresiasi karya sastra yang sudah diterjemahkan oleh Koesalah.
“Buku – buku yang diterjemahkan Pak Koesalah itu jadi bacaan wajib di semua fakultas Sastra di dunia. Jurusan Liberal Arts. Di dunia barat dan Eropa jadi bacaan wajib. Di sekolah juga sudah wajib. Ini jadi sumbangan emas dan warisan kebudayaan dunia. Di dunia barat, dunia berperadaban modern sebagai karya klasik setara dengan karya William Shakespeare,” jelas Elena.
Elena akan membawa buku tersebut sebagai bahan panduan mengajar dan menerapkannya kepada mahasiswanya. 
“Akan saya bawa buku – buku ini ke kampus sebagai bahan ajar. Buku – buku ini sangat terkenal berisi tentang falsafah kehidupan manusia dan perspektif hidup,” ungkapnya.
Koesalah di usia senja hampir menginjak usia 81 tahun masih bersemangat menulis. Ia tetap bersemangat dan memiliki arti yang dalam tentang Rusia meskipun sempat dihalang – halangi di era rezim Soeharto.
“Buku ini penting bagi orang Rusia untuk menghayati kehidupan. Penting bagi identitas mereka. Di Indonesia sejak tahun 1965 sejak rezim Soeharto, semua karya sastra Rusia dihalang - halangi ditutup. Selama puluhan tahun tak mendengar itu. Saya translate hingga terbaca dan semua orang tau,” kata pria kelahiran Blora 27 Januari 1935 ini.
(ful)

0 komentar:

Posting Komentar