Rabu, 21 Oktober 2015

Liputan | Re(i)novasi Memori KKPK: Anak Muda dan HAM

21 October 2015 | Oleh: Siti Rubaidah


Suarakita.org – Kegiatan bertajuk “Anak Muda dan HAM” digelar di Conclave, Jl Wijaya 1 No 5C, Tandean, Jakarta Selatan pada Sabtu, 17 Oktober 2015. Sebagaimana tertera dalam undangan, acara tersebut menghadirkan narasumber-narasumber muda dan berjiwa muda seperti Lilik HS dari KKPK (Koalisi Keadilan dan Pengungkapan kebenaran), Inayah Wahid (Putri Gus Dur) yang tergabung dalam Positif Movement dan Grup Band Stone Head salah satu finalis lomba Re(i)novasi Memori. Acara dikemas cukup segar untuk mengajak anak-anak muda peduli pada masalah Hak Asasi Manusia (HAM).
Lilik HS dari KKPK menjelaskan bahwa gagasan penyelenggaraan acara ini bermula dari adanya fakta bahwa selama ini isu-isu tentang pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia sudah seringkali disuarakan akan tetapi belum juga menampakkan hasil yang menggembirakan. Sehingga perlu upaya mendorong pemerintah untuk menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM. Di samping itu penuntasan pelanggaran HAM di Indonesia juga perlu melibatkan peran serta masyarakat sipil sendiri. “Karena bagaimana kita akan mendorong pemerintah untuk bergerak manakala masyarakat sipilnya tidak terlibat, “ ungkap Lilik.
Ada kegelisahan yang menghantui para penggiat isu HAM, bahwa selama ini daya jangkau isu HAM belum bisa menggaet anak-anak muda. Padahal selama ini semua bicara bahwa anak muda adalah generasi penerus bangsa dan calon pemimpin masa depan. Berangkat dari sinilah, maka KKPK menggandeng Pamflet dan Cinta Indonesia yang notabene organisasi anak-anak muda untuk bersinergi mengemas tema acara untuk kawula muda seperti kompetisi Re(i)novasi Memori dan diskusi dengan tema Anak Muda dan HAM kali ini. Dengan jiwa mudanya, tentu mereka berhak memberi tafsir ulang atas isu-isu HAM dengan cara mereka sendiri.
Sementara Nay (panggilan akrab Inayah Wahid) yang berpenampilan smart dan kocak, yang merupakan narasumber utama menghapuskan image seram kegiatan Re(i)novasi Memori KKPK ini. Dengan gayanya yang spontan, Nay mengajak berdialog para peserta. Dalam dialog bersama para peserta Nay juga menangkap kegelisahan yang dirasakan oleh para peserta diskusi, di mana mereka menyatakan bahwa hak untuk berekspresi lewat sosial media, hak untuk menjalankan ibadah bagi kelompok Ahmadiyah yang merupakan hak paling hakiki sudah mulai terampas. Nay menceritakan bahwa dia mempunyai teman yang sampai detik ini tidak mau balik ke Indonesia, karena dia melihat ibu, adik dan kakaknya diperkosa di depan matanya bahkan kemudian di bunuh saat terjadinya gelombang reformasi tahun 1998.
“Penting bagi anak muda mengetahui apa yang terjadi pada negara kita tercinta, bagaimana penyelesaiannya dan bagaimana kaum muda mengambil bagian dalam proses penuntasan pelanggaran HAM. Gilang dari Ahmadiyah sudah mengalaminya, bagaimana haknya untuk beribadah dan menganut agama dan kepercayaannya dinistakan. Bisa jadi besok dan di masa yang akan datang, kita juga mendapatkan hal yang sama bahwa hak-hak kita dilanggar dan kita dinistakan,” papar Nay. Kondisi pelanggaran HAM di Indonesia diibaratkan oleh Nay ibarat kanker atau penyakit yang ganas. Sepuluh atau dua puluh tahun lagi kalau penyakit ini tidak diobati maka akan semakin ganas. “Kita semua tidak ada yang mempunyai impunitas (kekebalan), jika ada penyintas 65 yang sudah dinistakan selama sekian tahun bisa jadi besuk kita juga akan mengalaminya, “ lanjut Nay bertutur.

Di akhir acara Grup Band Stone Head, salah satu finalis kompetisi Re(i)novasi memori mempersembahkan dua buah lagu karya mereka sendiri. Lagu berjudul Ayo Lawan yang masuk dalam ajang finalis dinyanyikan dengan gegap gempita dan disambut dengan tepuk tangan meriah dari para hadirin.

Sumber: SuaraKita.Org 

0 komentar:

Posting Komentar