Kamis, 29 Oktober 2015

Yang Terusir dari Tanah Air




MENGINGAT tanggal 30 September, membawa pikiran saya ke situasi sekitar setengah abad yang lalu ketika paspor kami dinyatakan tidak berlaku lagi oleh penguasa di Jakarta (pada Januari 1966). Pasalnya, kami dituduh sebagai agen G30S di luar negeri serta melakukan subversi.

Foto saya dimuat di koran Angkatan Bersenjata dan Berita Yuda, dengan huruf-huruf besar di bawahnya: GANTUNG IBRAHIM ISA. Penguasa militer di Jakarta ketika itu amat marah dan geram. Tapi apa alasannya?


Pada Mulanya

Sebelum Gestok, profesi saya adalah wakil Indonesia di Sekretariat Tetap AAPSO (Afro-Asian People’s Solidarity Organization) di Kairo, Mesir sejak tahun 1960. Sekretariat Tetap AAPSO adalah sebuah Badan Pimpinan Harian dari AAPSO. Dalam Sekretariat Tetap ini, terdapat juga wakil-wakil dari Mesir, RRT, Jepang, India, Indonesia, Vietnam Selatan, Tanzania, Aljazair, Guinea dan Kamerun. AAPSO, didirikan pada tahun 1957 sesudah Konferensi Pertama Setiakawan Rakyat-Rakyat Asia Afrika di Kairo, Mesir.

Sebagai Sekretaris Komite Perdamaian Indonesia, beberapa kali, kami mewakili Indonesia di berbagai konferensi internasional untuk perdamaian. Pada awal musim panas  tahun 1965, sebagai salah satu persiapan Indonesia menyelenggarakan Konferensi Bandung Ke II, saya  ambil bagian dalam Misi Safari Berdikari Pemerintah Republik Indonesia,  mengunjungi 14 negeri-negeri Afrika dan Timur Tengah, dalam kapasitas sebagai Penasihat Menlu RI Subandrio.

Ketika saya berada di Jakarta pada bulan Oktober 1965, saya melihat keadaan jungkir balik di Indonesia. Saat itu, sudah ada undangan untuk menghadiri Konferensi Solidaritas Asia-Afrika-Amerika Latin di Havana. Saya sudah memperhitungkan pasti pemerintah Indonesia tidak akan mengirimkan delegasi yang saya pimpin, sebab ini delegasi rakyat, yang isinya banyak simpatisan kiri dan sudah banyak di antaranya yang ditangkap atau hilang. Kami tidak akan mendapat dukungan sama sekali dari tanah air.

Pada Desember 65, saya menjelaskan kepada panitia organisasi bahwa di Indonesia terjadi pergolakan, sehingga tidak akan mampu mengirim orang ke Havana. Lalu, panitia mengatakan, kalau begitu Bung Isa saja yang mewakili karena Bung mewakili Indonesia di Kairo untuk Gerakan Asia-Afrika. Saya jawab, saya tidak bisa sendiri, mesti bersama-sama dengan yang lain. Kebetulan banyak teman lain yang ada di luar negeri. Saya meminta kepada mereka, akhirnya ada tujuh atau delapan orang membentuk delegasi Indonesia, dan berangkatlah kami ke Havana.


Dua Delegasi

Di Havana, tiba-tiba datang delegasi lain dari Indonesia, diketuai oleh Brigjen Latief Hendraningrat. Saya melihat komposisi delegasi ini, ketuanya jenderal, salah satu orang terpenting Letkol, yang lain-lain saya tidak kenal. Saya jelaskan pada panitia. bahwa ini bukan delegasi rakyat, tapi dikontrol militer.

Dilemanya, Latief adalah teman saya. Ia anggota parlemen komisi luar negeri, mewakili PNI (Partai Nasional Indonesia), tapi masih jenderal. Secara hirarkis, ia di bawah Soeharto. Ketika ketemu Pak Latief, saya bertanya apa yang mau dibicarakannya dalam konferensi. 

Dia bilang: “Saya garis PNI, garis Presiden Sukarno, anti imperialisme, ganyang.” Saya tahu, dia tidak jujur dengan penjelasan ini. Karena itu saya jawab, panitia di Havana tidak mau dengar tentang itu. Mereka tahu ada pergolakan di Jakarta dan mereka ingin tahu bagaimana Presiden Sukarno. Sebab Presiden Sukarno diketahui sebagai tokoh yang mendukung gerakan kemerdekaan. Karena dia bilang tidak bisa menjelaskan hal itu, saya bilang saya yang akan menjelaskan. Tapi dia bilang tidak bisa. Tidak tercapai sepakat, maka diajukanlah ke komite. Komite akhirnya memutuskan untuk menerima perwakilan yang dipimpin oleh saya.

Selanjutnya sebagai Ketua Delegasi Indonesia dalam Konferensi Trikontinental, Havana, saya berpidato di muka kurang lebih 1000 hadirin yang terdiri dari para delegasi organisasi pejuang kemerdekaan anti kolonialisme, neo-kokonialisme dan imperialisme, dan wartawan internasional. Saya mengungkapkan apa yang sesungguhnya terjadi di Indonesia. Yaitu naik panggungnya suatu kekuasaan militer di bawah jendral Suharto yang mulai menggerogoti Presiden Sukarno.

Kontan saja, Jakarta marah sekali. Di Jakarta hanya ada dua koran, Berita Yuda dan Angkatan Bersenjata. Di situ dimuat bahwa Isa ini adalah orangnya G30S yang berada di luar negeri, melakukan subversi, menjelek-jelekkan Indonesia, dan sebagainya. Itulah yang menyebabkan paspor saya dan teman-teman dicabut tanpa proses, tanpa ditanya.

Getir. Karena paspor saya dicabut, dibatalkan. Pada permulaan Januari 1966, di Havana, berlangsung konferensi internasional untuk rakyat bangsa-bangsa Amerika Latin. Konferensi penting yang diselenggarakan oleh berbagai organisasi termasuk organisasi kami di Kairo, di mana saya duduk sebagai wakil Indonesia. Tapi, saya menerima berita duka.

Namun, kemudian ada penghiburan juga bagi kami, karena tiba-tiba Presiden Fidel Castro memerlukan mengunjungi teman-teman Delegasi Indonesia, di kamar kami di Hotel Habana Libre. Kunjungan ini merupakan suatu pernyataan politik penting Presiden Castro untuk menunjukkan bahwa Kuba berada di pihak rakyat Indonesia. Fidel Castro menawarkan fasilitas dan memberikan kami paspor Kuba, setelah mengetahui bahwa paspor kami dicabut oleh rezim militer Jakarta.

Sekitar setahun kemudian, atas undangan Tiongkok, saya  pindah ke Beijing dan bekerja pada sebuah Lambaga  Riset Asia-Afrika di sana. Selama di RRT kegiatan utama saya adalah mengadakan penerbian mingguan Suara Rakyat Indonesia dan OISRAA Bulletin dalam bahasa Inggris. OISRAA adalah Organisasi Indonesia Untuk Setiakawan Rakyat Asia-Afrika. Penerbitan tersebut memberikan informasi mengenai perkembangan politik Indonesia, mengkritik rezim Orde Baru dan mendukung Presiden Sukarno.

Pada akhir 1986, saya pindah ke Belanda dengan mengajukan permintaan suaka politik, yang diterima oleh pemerintah Belanda. Bersama kawan-kawan lainnya, kami mendirikan Yayasan Asia Studies.

Apakah saya menyesal? Tidak. Saya tidak menyesal. Kalau kita berbuat demi cita-cita yang kita anggap benar, adil, dan mulia, itu pasti ada risikonya. Ini saya anggap sebagai risiko yang harus dihadapi.

Ibrahim Isa, telah menulis tiga buku yang diterbitkan di Jakarta (Suara Seorang Eksil, Bui Tanpa Jerajak Besi dan Kabar dari Seberang).

0 komentar:

Posting Komentar