Selasa, 10 Mei 2016

Surat Terbuka untuk Generasi Kelahiran 90an (Membongkar dan Meluruskan Sejarah)




USIA saya memang baru 23 tahun, mungkin akan ada sinisme dari beberapa orang yang benci kalau anak muda banyak bicara. Dan saya sadari memang kami, generasi yang lahir di era 90an, adalah generasi yang setengah matang, baik dalam hal pengetahuan ataupun pengalaman.

Kita tidak tahu pasti apa yang terjadi sebenarnya pada tahun-tahun yang dianggap besar di Indonesia, seperti tahun 1965 dan 1998. Namun bukan berarti bahwa, kita sepenuhnya buta dengan sejarah pasca-proklamasi tersebut. Masih jelas ingatan saya ketika berusia lima tahun selagi menonton televisi, melihat tayangan langsung ramainya orang-orang yang berkumpul di suatu gedung. Beberapa dari mereka menggunakan jas yang warnanya sama, menunjukkan identitas yang sama. Kemudian seorang pria yang mengenakan kopiah hitam di kepalanya, orang yang saya lihat fotonya setiap hari di dalam kelas Taman Kanak-Kanak, tengah berdiri di atas podium dan mengucapkan kalimat-kalimat yang belum bisa saya pahami sepenuhnya. Tak lama kemudian riuh pun pecah, orang-orang di luar gedung bersorak di jalanan yang kotor.

Saya juga melihat sekilas senyuman tipis di bibir ibu, sebuah senyuman yang baru bisa saya terjemahkan beberapa tahun kemudian.

Ibu saya adalah saksi sejarah bagaimana bapaknya ditangkap sebagai tahanan politik karena dituduh komunis, imbas besar dari tragedi ’65. Dan bapak saya juga saksi sejarah Mei 1998 saat ia menjadi mahasiswa berjas kuning pada saat itu, sedangkan saya? Saya hanya salah satu anak Indonesia yang lahir di era 90an yang bisanya hanya meraba-raba.

Selama sekolah, kita menempuh mata pelajaran sejarah, yang kejadiannya hanya bisa kita baca dari tulisan atau gambar, atau kita dengar dari guru yang bisa jadi juga seorang obyek propaganda. Saya sendiri sempat mendapatkan paparan sumber ilmu yang berlawanan, antara yang ada di sekolah dan di rumah, antara buku paket sejarah dengan cerita pengalaman kakek saya sebagai tapol. Dari paparan itulah pola pikir, bahkan ideologi, kita terbentuk. Karena itulah kita sebenarnya tidak sepenuhnya buta akan sejarah walau kita tidak pernah menjadi saksi sejarah.

Sekarang saya lihat generasi kita terpecah belah. Kita adalah penerus ajaran adu domba yang diajarkan oleh pemerintah Orde Baru. Kita mungkin sama dalam hal gaya hidup, di mana sebagian besar dari kita adalah pengguna aktif teknologi canggih. Juga dalam orientasi masa depan, di mana kita secara tidak sadar dituntut untuk berprestasi, bersekolah tinggi di luar negeri, dan berproduksi di usia muda. Tapi lihat apa yang kita lakukan pada kesadaran akan sejarah negeri sendiri. Apakah ada keinginan untuk mencari kebenaran atau sekedar ikut karena takut?

Kita mulai berbicara tentang darurat demokrasi, di mana seakan saat ini sejarah terulang kembali. Di timur sekelompok orang melakukan diskusi tentang buku, gender, ideologi, film, atau tokoh perjuangan suatu masa, dan dari barat datanglah sekelompok orang untuk menyerang dan memberedel. Baru saja sempat saya tuliskan di kata pengantar buku saya pribadi;
Banyak hal lain di zaman seperti ini yang mengalihkan perhatian kita dari menariknya sejarah. Tuntutan, atau hal-hal yang memabukkan dan membuat kita hanya melihat ke depan dan membiarkan yang sudah terjadi sebagai sampah residu kehidupan. Bukan berarti kita harus mengubur diri dalam masa lalu, namun seperti salah satu tulisan George Santayana yang paling dikenang, “those who cannot remember the past are condemned to repeat it”– siapa yang tidak bisa mengingat masa lalunya akan ditakdirkan untuk mengulanginya lagi (Buku Harian Keluarga Kiri).
Coba tanya, apakah kita sudah benar-benar mengingat? Apakah mungkin kita terlalu larut dalam layar teknologi canggih saat kakek, nenek, atau orang tua ingin membagi cerita mereka? Apakah mungkin kita lebih suka film roman atau aksi dan membuang semua buku-buku? Dan coba tanya, apa yang bisa kita lakukan?

Kepala saya terus saja penuh setiap kali mendapati berita tentang terpecahnya ideologi kita sebagai pemuda. Apakah ini saatnya kita dihukum sehingga akan terus terjadi aksi saling serang demi kepentingan masing-masing tanpa bisa berjalan seiringan? Apakah terlalu terlambat untuk mengenang dan belajar?

Dhianita Kusuma Pertiwi, beberapa karya tulisnya meliputi cerita pendek, artikel, dan naskah drama; beberapa telah diapresiasi, dimuat, dan dipentaskan. Novel pertamanya adalah Buku Harian Keluarga Kiri. Saat ini aktif di dunia kepenulisan, teater, dan translasi.

0 komentar:

Posting Komentar