USIA saya
memang baru 23 tahun, mungkin akan ada sinisme dari beberapa orang yang
benci kalau anak muda banyak bicara. Dan saya sadari memang kami,
generasi yang lahir di era 90an, adalah generasi yang setengah matang,
baik dalam hal pengetahuan ataupun pengalaman.
Kita tidak
tahu pasti apa yang terjadi sebenarnya pada tahun-tahun yang dianggap
besar di Indonesia, seperti tahun 1965 dan 1998. Namun bukan berarti
bahwa, kita sepenuhnya buta dengan sejarah pasca-proklamasi tersebut.
Masih jelas ingatan saya ketika berusia lima tahun selagi menonton
televisi, melihat tayangan langsung ramainya orang-orang yang berkumpul
di suatu gedung. Beberapa dari mereka menggunakan jas yang warnanya
sama, menunjukkan identitas yang sama. Kemudian seorang pria yang
mengenakan kopiah hitam di kepalanya, orang yang saya lihat fotonya
setiap hari di dalam kelas Taman Kanak-Kanak, tengah berdiri di atas
podium dan mengucapkan kalimat-kalimat yang belum bisa saya pahami
sepenuhnya. Tak lama kemudian riuh pun pecah, orang-orang di luar gedung
bersorak di jalanan yang kotor.
Saya juga melihat sekilas senyuman tipis di bibir ibu, sebuah senyuman yang baru bisa saya terjemahkan beberapa tahun kemudian.
Ibu saya
adalah saksi sejarah bagaimana bapaknya ditangkap sebagai tahanan
politik karena dituduh komunis, imbas besar dari tragedi ’65. Dan bapak
saya juga saksi sejarah Mei 1998 saat ia menjadi mahasiswa berjas kuning
pada saat itu, sedangkan saya? Saya hanya salah satu anak Indonesia
yang lahir di era 90an yang bisanya hanya meraba-raba.
Selama
sekolah, kita menempuh mata pelajaran sejarah, yang kejadiannya hanya
bisa kita baca dari tulisan atau gambar, atau kita dengar dari guru yang
bisa jadi juga seorang obyek propaganda. Saya sendiri sempat
mendapatkan paparan sumber ilmu yang berlawanan, antara yang ada di
sekolah dan di rumah, antara buku paket sejarah dengan cerita pengalaman
kakek saya sebagai tapol. Dari paparan itulah pola pikir, bahkan
ideologi, kita terbentuk. Karena itulah kita sebenarnya tidak sepenuhnya
buta akan sejarah walau kita tidak pernah menjadi saksi sejarah.
Sekarang saya
lihat generasi kita terpecah belah. Kita adalah penerus ajaran adu domba
yang diajarkan oleh pemerintah Orde Baru. Kita mungkin sama dalam hal
gaya hidup, di mana sebagian besar dari kita adalah pengguna aktif
teknologi canggih. Juga dalam orientasi masa depan, di mana kita secara
tidak sadar dituntut untuk berprestasi, bersekolah tinggi di luar
negeri, dan berproduksi di usia muda. Tapi lihat apa yang kita lakukan
pada kesadaran akan sejarah negeri sendiri. Apakah ada keinginan untuk
mencari kebenaran atau sekedar ikut karena takut?
Kita mulai
berbicara tentang darurat demokrasi, di mana seakan saat ini sejarah
terulang kembali. Di timur sekelompok orang melakukan diskusi tentang
buku, gender, ideologi, film, atau tokoh perjuangan suatu masa, dan dari
barat datanglah sekelompok orang untuk menyerang dan memberedel. Baru
saja sempat saya tuliskan di kata pengantar buku saya pribadi;
Banyak hal lain di zaman seperti ini yang mengalihkan perhatian kita dari menariknya sejarah. Tuntutan, atau hal-hal yang memabukkan dan membuat kita hanya melihat ke depan dan membiarkan yang sudah terjadi sebagai sampah residu kehidupan. Bukan berarti kita harus mengubur diri dalam masa lalu, namun seperti salah satu tulisan George Santayana yang paling dikenang, “those who cannot remember the past are condemned to repeat it”– siapa yang tidak bisa mengingat masa lalunya akan ditakdirkan untuk mengulanginya lagi (Buku Harian Keluarga Kiri).
Coba tanya,
apakah kita sudah benar-benar mengingat? Apakah mungkin kita terlalu
larut dalam layar teknologi canggih saat kakek, nenek, atau orang tua
ingin membagi cerita mereka? Apakah mungkin kita lebih suka film roman
atau aksi dan membuang semua buku-buku? Dan coba tanya, apa yang bisa
kita lakukan?
Kepala saya
terus saja penuh setiap kali mendapati berita tentang terpecahnya
ideologi kita sebagai pemuda. Apakah ini saatnya kita dihukum sehingga
akan terus terjadi aksi saling serang demi kepentingan masing-masing
tanpa bisa berjalan seiringan? Apakah terlalu terlambat untuk mengenang
dan belajar?
Dhianita Kusuma Pertiwi,
beberapa karya tulisnya meliputi cerita pendek, artikel, dan naskah
drama; beberapa telah diapresiasi, dimuat, dan dipentaskan. Novel
pertamanya adalah Buku Harian Keluarga Kiri. Saat ini aktif di dunia kepenulisan, teater, dan translasi.







0 komentar:
Posting Komentar