Senin, 23 Oktober 2017

Saya PKI atau Bukan PKI

Minggu, 23 Oktober 2011

Pertanyaaan "P.K.I atau bukan P.K.I", "Marxis atau bukan Marxis" tidak
berbeda dengan pertanyaan " China atau bukan China", "Blasteran China atau Bukan Blasteran", "Arab atau bukan Arab" , "Islam ekstrim atau baukan Islam ekstrim" dll. Sebab pertanyaan serupa itu bukan mempersoalkan pendapat, melainkan hanya "warna" belaka. Kalau "Warna" tak cocok, maka pendapat juga tak cocok. Selain itu, saya menolak untuk menjawab pertanyaan serupa itu. Karena itu, saya akan memberikan alasan -alasannya dibawah ini.
Sebelumnya , mohon ma'af bila terlalu panjang. Ia tak bisa dihindarkan.

Sejak ia dipindahkan dari pabrik gula Semboro (daerah Jember Jawa Timur) ke pabrik gula Ngadirejo daerah kediri jawa timur pada tahun 1959, M. Kartawijaya menjabat sebagai direktur pabrik gula sampai tahun 1967. Antara tahun 1967 sampai 1968 ia menjabat sebagai inspektur pabrik gula di Semarang, kemudian pada tahun berikutnya menjadi direktur utama PNP XXI (daerah Situbondo) dan berkedudukan di Surabaya.

Jabatannya sebagai direktur pabrik gula di Ngadirejo tidak mudah. Sebab
mulai 1959, seluruh pabrik gula di Indonesia yang semula milik Belanda, di Nasionalisasikan dan ditangani oleh Departemen Pertanian. Lalu, politisasi politik dan polarisasi kehidupan politik serikat-serikat buruh sangat terasa . Di pabrik gula Ngadirejo sendiri, terdapat 3 serikat buruh, yaitu Serikat Buruh Gula (SBG - ormas PKI ), Serikat Buruh Muslimin Indonesia (SARBUMUSI - NU) dan Kesatuan Buruh Gula (KBG - PNI).

Meskipun pabrik gula telah di Nasionalisasi, tapi kehidupan sosialnya tidak
berubah (Budaya Belanda masih melekat). Di Pabrik Gula Ngadirejo, terdapat lapisan " Employe" (Direktur, wakil direktur, Sinder tebu, masinis ahli gula, kepala kendaraan dls - jumlah keseluruhan sekitar 30 sampai 40 orang) dan lapisan Buruh (buruh tetap dan Buruh musiman, supir, Waker/penjaga keamanan). Catatan saja: Buruh musiman hanya dipekerjakan pada musim"Giling", di pabrik gula Ngadirejo sekitar 4 -5 bulan dan dari pabrik ke pabrik berbeda. Ada yang cuma 3 bulan dalam satu tahun. Ini tergantung dari besar kecilnya pabrik gula dan luas tanah perkebunan tebu.

Setiap lapisan punya kenikmatan yang berbeda, misalnya :
1. Hanya anak-anak "Employe" yang berhak naik - bis sekolah yang disediakan oleh pabrik gula (gratis) untuk pergi sekolah (SD,SMP,SMA atau perguruan tinggi) di kota Kediri. Jarak Ngadirejo ke Kediri 14 km, Semboro -Jember 35 km. Bila anak-anak buruh hendak pergi kesekolah seperti SMP,SMA atau STM (SD letaknya sekitar pabrik gula), maka harus pergi kekota Kediri:
A. mengendarai sepeda (PP 28 km). Karena jalan raya yang menghubungkan antara Kediri dan Ngadirejo pararel dengan Sungai Brantas, maka angin bertiup cukup kencang. Bila angin bertiup dari utara ke selatan, maka pulang sekolah cukup enteng, karena sepeda didorong oleh angin. Tapi berangkat sekolah cukup berat bisa-bisa loyo sampai disekolah.
B. Naik kendaraan umum (bis, oplet) dan ongkos ditanggung sendiri.
C. Berjalan kaki / naik sepeda ke kota Ngadiluwih (4 km), kemudian naik
kereta api. Dan ongkos ditanggung sendiri.

2. Pemutaran filem yang bagus (biasanya filem-filem Barat, seperti Koboy, Drakula) bertempat digedung pertemuan (SUSITET) . Yang berhak menonton cuma keluarga "Employe".

3. Fasilitas pemandian, tenis, tenis-meja, cuma boleh dinikmati oleh
keluarga Employer (tak jarang keluar ucapan dari anak-anak employe, bahwa jika anak-anak buruh boleh berenang di pemandian tersebut, maka bisa-bisa mereka ketularan penyakit kulit, seperti Kadas dan Panu).

4. Buat keluarga Employe disediakan kendaraan buat rekreasi ke kota Kediri. Biasanya hari Rabu dan Sabtu sore/ malam.

5. Buat keluarga Employe disediakan kendaraan untuk pergi ke Rumah Sakit Pabrik Gula di kota Pare (25 km sebelah timur laut Kediri) dan 40 km dari pabrik gula Ngadirejo. Bagi Buruh, cukup Klinik Pabrik Gula. Kecuali kalau penyakitnya cukup parah. Bagi keluarga Employe Klinik tak menarik, sebab yang melayani cuman seorang mantri dan bukan Dokter (kecuali kalau perlu jodium atau spiritus buat luka-luka ringan). Sebaliknya, yang melayani pasien di Pare adalah Dokter.

6. Kalau menyelanggarakan pesta: "Buka Giling" buruh cuma boleh menikmati pasar malam atau wayang kulit semalam suntuk. Sedangkan Employe dapat menikmati pertunjukan-pertunjukan yang lebih TOP, misalnya pabrik gula Ngadirejo pernah mengundang Lilis Suryani (Penyanyi TOP Indonesia pada tahun 60 an)

Selain beberapa contoh kenikmatan diatas, bagi seorang direktur pabrik
gula , seperti M. Kartawijaya, disediakan sebuah rumah yang cukup besar: 2 ruang tamu [1 untuk tamu yang tidak penting dan dikenal, 1 untuk tamu yang dikenal dan penting], 1 kamar tidur khusus untuk tamu, 4 kamar tidur, 1 ruang makan, 3 kamar mandi + kakus, 3 kamar pembantu rumah, 1 dapur 1 kamar mandi + kakus bagi pembantu, 1 gudang barang, 1 gudang bahan-bahan pangan dan 2 garasi mobil [ 1 jeep Nissan dan 1 Mercedes 190 bersama 2 orang supir].Selain 3orang pembantu wanita [plus seorang anak lali-laki], juga bekerja disana 2 orang pembantu laki-laki.


P.K.I VERSUS KARTAWIJAYA;

25 km disebelah Timur Kediri, terletak puing-puing bekas pabrik gula,
yaitu di Jengkol. Dulunya, ia merupakan pabrik gula yang mandiri, tapi
hancur karena perang. Yang tersisa hanyalah rumah-rumah employe dan
perkebunan tebu yang luas dan tercecer dimana-mana.

Pada tahun 1962, Departemen Pertanian merencanakan untuk menyatukan tanah-tanah perkebunan tebu didaerah Jengkol untuk kemudian diintegrasikan ke pabrik gula Ngadirejo. Dengan demikian, areal perkebunan tebu milik pabrik gula Ngadirejo menjadi luas dan kapasitas produksi meningkat. Cuma, rencana penyatuan tanah-tanah perkebunan harus mengorbankan rumah-rumah penduduk. Penduduk harus pindah, dan ditempatkan didaerah-daerah yang telah disediakan pemerintah.

Dan rencana ini ditentang oleh P.K.I bersama ormas-ormasnya, seperti
Barisan Tani Indonesia [BTI], Gerakan Wanita Indonesia [GERWANI], SBG atau Pemuda Rakyat. Karena protes mereka tak membawa hasil, akhirnya massa yang tergabung dalam PKI tak terkendalikan lagi. Mereka mengubur hidup-hidup sopir traktor dan seorang polisi.

Aksi ini menimbulkan reaksi pula. Tentara didatangkan, massa PKI
menentang. Menurut cerita, yang berbaris paling depan adalah GERWANI.
Mungkin dipikir, mana mau tentara menembak wanita ? Tapi akhirnya tentara menembak. Korban dipihak PKI berjatuhan. Begitu banyak korban yang berjatuhan, sehingga berita ini disiarkan oleh Radio Australia Siaran
Bahasa Indonesia.

Dan clash ini merupakan awal daripada pertentangan antara PKI [terutama SBG] dengan M. Kartawijaya.

Sejak itulah , dalam setiap kesempatan, baik dalam rapat-rapat atau
pawai-pawai mereka selalu muncul semboyan-semboyan : "retool Karta","Karta Kabir", "Karta ex Masyumi". "Karta 7 setan desa", dsb. -
istilah-istilah yang sedang populer pada masa itu.

Dan kelima putra Kartawijaya harus turut mendengar dan membaca cacian atau slogan-slogan yang terpajang dispanduk-spanduk mereka.
Telinga cukup panas, hati terasa terbakar, dan dendam semakin menumpuk.

Selain rapat-rapat dan pawai, SBG sendiri selalu mengadakan demonstrasi-demonstrasi dipabrik gula. Tuntutan a.l " Penyediaan bis buat anak-anak buruh yang hendak bersekolah di Kediri", selain " retool Karta", dlsbnya.
Meskipun M. Kartawijaya dimusuhi oleh SBG tapi dia dibela oleh
SARBUMUSI -juga N.U- dan KBG -juga PNI/FM. Cuma, menurut kabar, jumlah kedua anggota organisasi tsb. Seimbang dengan jumlah anggota SBG. Tampaknya, SBG lebih populer dan atraktif bagi buruh gula.

Menjelang G-30-S, kebijaksanaan Kartawijaya dalam menangani tuntutan SBG semakin tak disukaii. Sebab, misalnya dalam menangani buruh yang tergabung dan diorganisir oleh SBG, ia memotong upah buruh yang mogok. Dan dengan uang tersebut, ia memberikan uang ekstra kepada buruh-buruh yang tidak mogok [ tentunya yang tergabung dalam SARBUMUSI dan KGB ]. Pertentangan antara PKI dengan Kartawijaya, bukanlah merupakan satu-satunya pertentangan politis di daerah Kediri. Didaerah Gurah, 10km sebelah Timur Kediri, pernah seorang Lurah PNI dibacok oleh PKI karena urusan tanah pada tahun 1964. Tentu saja, PNI da NU tak tinggal diam [untuk memudahkan identitas, maka pada setiap pergelangan kiri pasukan gabungan diikat daun kelapa]. Dan Perang Romawi seperti dilayar film tak terelakkan lagi.

Maklum, senjata tak dimiliki, yang ada cuma senjata tajam. Pertentangan-pertentangan semacam ini meningkatkan suhu politik di daerah Kediri. Apalagi [ karena kita juga memiliki hari -hari besar dan pada waktu itu adalah masa Trikora-Dwikora ] pawai dan rapat-rapat raksasa sering diselenggarakan . "Retool Karta", "Karta Kabir", dll. Merupakan bahasa sehari-hari.

Suasana yang demikian panas juga menjalar ke sekolah-sekolah. Dimana
putra-putra Kartawijaya belajar. Tidak jarang, misalnya putra II Kartawijaya , menerima cacian sebagai "Anak Kabir", "Anak Bekas Masyumi", "Anak 7 Setan Desa", dll. Dari anggota-anggota Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia [ IPPI-PKI ].

Ditambah dengan rasa antipati terhadap PKI dan keinginan buaat membela orang tuanya. Maka putra II Kartawijaya menjadi anggota Gerakan Siswa Nasional Indonesia [ GSNI-PNI/FM ]. Meskipun keluarga ayahnya religius [orang Sunda dan pernah ke Mekkah] dan ia sendiri rajin sembahyang, tapi ia memilih PNI dan bukan NU. Sebab, ia termasuk pemuja Bung Karno, meskipun ia tak mengerti bahwa " Marhaenisme adalah Marxisme yang diterapkan dan disesuaikan dengan situasi si Indonesia" [begitu kursus yang pernah diterimanya pada kaderisasi anggota-anggota GSNI].

Semakin gencar serangan SBG-PKI terhadap Kartawijaya, semakin giat putra II Kartawijaya turut bergerak didalam aktifitas PNI. Dan dalam setiap kesempatan pawai, ia turut terlibat. Seperti seragam PNI lainnya,
pakaianpun hitam-hitam.

Menjelang G-30-S, SBG menyelenggarakan rapat digedung buruh di daerah Margosari [ perkampungan buruh ]. Putra II Kartawijaya dan sahabatnya, Maxkakiay [orang Ambon] pergi untuk memata-matai jalannya rapat tersebut. Dan yang hadir luar biasa banyaknya. Disana dikatakan segala " Keburukan Kartawijaya". Oleh karena itu, mereka sepakat untuk berdemonstrasi menentang Kartawijaya. Menurut rencana, bila Kartawijaya pergi ke kantor, maka ia harus dicegah agar ia tidak memasuki tempat kerjanya.

Tapi, kedua mata-mata tersebut tak sempat mendengarkan isi rapat. Sebab, bagian keamanan mereka kebanyakan dari Pemuda Rakyat-PKI, datang mengerumuni mereka berdua. Meskipun mereka berdua duduk berkerudung sarung. Mereka berdua sempat dimaki sebagai" anjing" 7Setan Desa, dllnya. Akhirnya, mereka berdua pergi meninggalkan tempat itu.

Rencana SBG yang bukan rahasia , menyebar dengan pesat. Dan kebetulan, SARBUMUSI seluruh Jawa Timur sedang berkonperensi di pabrik gula Ngadirejo. Ketika mereka mendengar rencana tersebut, kontan saja mereka mengerahkan massanya ditambah bantuan dari Santri-Sanri Pesantren /Pondok sekitar daerah Kediri. Tak ketinggalkaan , pihak PNIpun ikut mengerahkan massanya.

Di pagi hari , pada hari rencana SBG untuk memboikot Kartawijaya pergi ke kantor, jalanan didepan rumah Karta wijaya penuh oleh massa NU dan PNI, sambil menjaga rumah Kartawijaya. Bisa dibayangkan panasnya suhu politik pada waktu itu. Masing-masing pihak membawa dinamit dendam kesumat.

Untungnya clash tak sempat terjadi,karena tentara didatangkan untuk
mengamankan suasana. Sebenarnya kedudukan Kartawijaya tidak jelek. Karena ia dianggap sebagai lawan nomor satu bagi PKI, maka pihak NU, PNI serta Komandan KODIM misalnya memberikan simpati kepadanya. Tak jarang, tokoh-tokoh NU (misalnya Kyi Haji Machrus dari pondok Lirboyo) atau tokoh-tokoh PNI datang berkunjung ke rumah. Tentu saja, mereka diterima diruang tamu yang disediakan bagi tamu-tamu penting dan terdekat (catatan: pedagang-pedagang China, misalnya pedagang gula, onderdil mobil seperti pak Ang Kok yang mendapat julukan
"pendekar bungkuk", biasanya diterima ruang tamu depan).

Berbeda dengan oleh-oleh yang selalu dibawa oleh pedagang-pedagnag Cina (seperti makanan, koe Cina, tape recorder dll.), maka oleh-oleh yang dibawa oleh Kyai-kyai pondok/ pesantren biasanya berupa doa atau berkah. Pernah seorang Kyai memberikan ikat pinggang bertuliskan ayat-ayat al Qur'an atau tulisan tulisan ayat-ayat Al Qur'an yang untuk dipasang diatas pintu-pintu di dalam rumah. Semuanya dimaksudkan sebagai pelindung terhadap bahaya orang-orang kafir.

Tentang hubungan dengan pedagang-pedagang Cina : Kartawijaya pernah mengatakan kepada putra-putranya, bahwa sebenarnya seorang direktur pabrik gula tidak perlu korupsi (mengambil uang pabrik). Sebab, segala kebutuhan materi selalu dipenuhi oleh pedagang-pedagang Cina. Dan hadiah-hadiah yang diterima selalu melebihi gajinya. Para pedagang Cina cuma minta/ mengharapkan untuk diberi kesempatan (kalu bisa hak monopoli) supaya boleh membeli gula, besi-besi tua atau misalnya, menjual onderdil mobil, beras dan pakaian bagi kebutuhan para buruh pabrik gula.

Kalau Kartawijaya bertugas ke Surabaya atau pergi bersama keluarga, maka makan-makan di restoran Cina sudah merupakan kebiasaan. Habis, semuanya serba gratis. Pernah putra II Kartawijaya mengatakan pada ayahnya, "Cina-Cina itu kok baik". Kartawijaya cuma menjawab, "mereka bukannya baik.

Mereka sekarang sedang butuh sama bapak. Lihat saja nanti, kalau bapak
tidak menjabat lagi". Seperti halnya diluaran maka suasana disekolahpun cukup panas. Kelompok para siswa terbagi dalam kelompok Pemuda Nasionalis, Agama dan Komunis. Dan seperti juga diluar, pemuda Komunis (misalnya IPPI) berdiri sendirian. Sedangkan yang lain selalu bergabung, baik dalam kegiatan pawai maupun rapat.

Peningkatan suhu tersa menjelag tahun-tahun 1965, baik di sekolah maupun di luaran. Pada tahun 1965, putra II Kartawijaya duduk di bangku SMA Negri I Kediri kelas satu.

SITUASI SELAMA G30S 1965:

Sampai tahun 1965, front terbagi dua, yaitu: Front Komunis disatu pihak dan Front Gabungan Nasionalis dan Agama dilain pihak. Kekuatan pihak Komunis seimbang dengan kekuatan Gabungan Nasionalis dan Agama. Entah bagaimana, justru kekuatan PKI di daerah Kediri, Tulungagung dan Blitar begitu menonjol. Mungkin terjadi pergeseran kekuatan dari Madiun menuju Kediri.

Kejadian 1 Oktober 1965 merupakan sebuah peristiwa yang tak pernah dan mudah dilupakan. Sebab suasana sangat tegang, seolah semuanya menantikan sesuatu hal setelah diumumkannya peralihan kekuasaan di Jakarta. Kartawijaya hanya mengatakan kepada keluarganya, "Awas, jaga-jaga ada kejadian yang tak beres di Jakarta" . Yang biasanya pintu-pintu dan jendela-jendela rumah di tutup pada jam 22.00 maka dengan peristiwa 1 Oktober tsb, pintu-pintu dan jendela-jendela di tutup sekitar jam 19.00.

Ketakutan menghinggapi keluarga Kartawijaya, sebab desa-desus bahwa PKI yang melakukan perebutan kekuasaan dan melakukan pembunuhan terhadap para jendral telah meluas. Sikap PKI yang offensif dan cara pembunuhan mereka terhadap para jendral memperkuat dugaan keterlibatan PKI. "pembunuhan sekejam itu" hanya dapat dilakukan oleh orang-orang kafir, yaitu Komunis", begitu komentar yang ditangkap waktu itu. Tapi, keluarga Kartawijaya merasa bershukur, karena jendral Nasution lolos dari rencana pembunuhan tersebut. Cuma, sayangnya putrinya yang masih kecil tak tertolong.

Hampir selama 2 minggu tak ada kegiatan didaerah Kediri. Semuanya cuma ber-siap siap dan ber jaga-jaga. Suasana di SMA Negri I pun sangat panas. Kabar bahwa PKI yang memberontak tersebar dengan cepat. Setiap kesempatan, pihak nasionalis dan Agama memakai para siswa yang tergabung dalam IPPI di sekolah. Pihak IPPI mengelak dan menolak "tuduhan". Mereka tak tahu menahu katanya. Yang terjadi di Jakarta adalah persoalan Dewan Jendral katanya.

Selang dua minggu setelah kejadian 1 Oktober, pihak NU mulai bergarak
(terutama Pemuda Ansor) berdemonstrasi, yang diikuti oleh massa para
Santri dari berbagai pesantren/Pondok sekitar Kediri. Mereka menuntut
pembubaran PKI, agar nyawa 1 Jendral ditebus dengan 100.000 orang PKI.

Kantor-kantor, gedung-gedung milik PKI diserbu dan dihancurkan oleh para demonstran. Kabarnya sekitar 11 orang PKI yang harus mati konyol karena merasa perlu untuk mempertahankan milik PKI.
Dalam kemelut yang diisi oleh dendam yang demikian tebal terhadap PKI, maka semuanya dianggap wajar, karena bukankah memerangi orang-orang kafir merupakan tugas bersama? Dan pembalasan terhadap PKI merupakan tindakan yang wajar, karena selama ini PKI dianggap kurang ajar. Karena itu, cuma 11 orang PKI yang mati, malahan dianggap belum cukup. Pemikiran demikian juga menghiggapi Putra II Kartawijaya.
Tapi, ada sebuah kasus yang menarik untuk dikemukakan disini:
Disebelah Timur Stasiun Bis Kota Kediri, terdapat sebuah kantor PKI. Sebenarnya ia, hanyalah rumah biasa. Cuma didepan rumah tersebut terpajang papan nama dari semua yang berbau PKI: mulai dari PKI, BTI, GERWANI, IPPI sampai ke Pemuda Rakyat.
Ketika para demonstran tiba didepan kantor tersebut, kebetulan duduk disana seorang kakek yang tampaknya sedang mencari udara segar diluar. Ia ditanya oleh para demonstran, apakah ia anggota PKI. "bukan", jawab nya, "saya anggota BTI" . "Wach sama saja", teriak beberapa demonsran sambil memukul sih kakek ia terjungkir sembari merintih kesakitan. Untung tak dibunuh.

Tapi rumah keburu hancur akibat luapan kemarahan massa. Dan seperti
biasanya, sebelum massa NU melakukan tugasnya mereka selalu berteriak "Allah Huakbar". Setelah demonstrasi berdarah ini, keadaan di Kediri menjadi tenang kembali. Cuma suasana tetap tegang dan keadaan begini berlangsung sekitar 3 sampai 4 minggu.

WANTED: ORANG-ORANG KOMUNIS:

Setelah ketenangan yang menghayutkan ini usai, maka dimulailah pembunuhan secara besar-besaran. Bukan hanya massa NU yang bergerak, tapi juga massa PNI. Dan tentara tak banyak turut campur.
Perkampungan buruh dipabrik gula mulai digerebek. Biasanya pada malam hari, untuk dibersihkan dari unsur-unsur Komunis. Caranya, satu desa dikepung oleh satuan-satuan pemuda Nasionalis dan pemuda Agama (baik Islam maupun Kristen, misalnya di Pare). Pemuda Ansor banyak didatangkan dari pesantren-pesantren/pondok-pondok di daerah Kediri. Rata-rata, di dalam opasi penggerebekan begini diikuti oleh sekitar 3000 oprang. Dengan dikepung nya desa, diharapkan agar tak ada unsur-unsur Komunis yang lolos.

Hasilnya juga lumayan. Setiap hari, kalau putra II Kartawijaya pergi atau
pulang dari SMA N I selalu melihat mayat-mayat PKI yang mengapung di sungai Brantas. Sebab, SMA- N I terletak di "kulon" (Barat) sungai Brantas. Dan mayat-mayat tersebut biasanya tidak berupa manusia lagi. Tanpa kepala. Lalu isi perut keluar dan baunya luar biasa. Supaya mayat tak tenggelam, sengaja mayat-mayat tersebut diikat dan disisipi oleh bambu. Pengiriman mayat dari daerah daerah Kediri lewat sungai Brantas mengalami masa keemasan, ketika mayat-mayat disatukan dan diletakan diatas rakit dengan bendera PKI yang terpajang megah di atas rakit tersebut. Tentu saja diderah-daerah yang tak dilalui sungai Brantas, mayat-mayat dikuburkan secara masal, seperti misalnya didaerah Pare. Didaerah ini umat kristen banyak bergerak. Tapi, pengiriman mayat lewat Brantas merepotkan kota Surabaya. Sebab, kabarnya air minum didapat dari penyaringan air sungai Brantas. Lalu mayat-mayat tersebut sudah hancur sesampainya dikota Surabaya. Setelah Surabaya protes, maka mayat-mayat PKI tidak lagi dibuang di Sungai Brantas, melainkan dikuburkan secara masal. Lubang yang disediakan cukup besar, dan sanggup menampung ber-puluh-puluh orang Komunis.
Kemudian, Jalan menuju ke gunung Klotok (sebelah barat kota Kediri) pernah dihiasi kepala-kepala PKI. Kira-kira 1 km disebelah utara pabrik gula Ngadirejo banyak ditemui rumah-rumah pelacuran. Ketika pembersihan terhadap unsur-unsur PKI berlangsung, tak ada lagi pengunjung yang hendak memuaskan hawa nafsunya lagi. Alasan: Banyak yang takut (baik pengunjung maupun para pelacur) karena didepan rumah-rumah tersebut banyak digantungi kemaluan laki-laki PKI/mirip jualan pisang. Tentu saja, pembunuhan massal demikian
disambut baik oleh pihak Nasionalis dan Agama. Malahan, target satu jenderal ditebus oleh seratus ribu orang PKI harus dicapai. Begitu juga, halnya Putra II Kartawijaya dan keluarganya. Apalagi setelah diperoleh kabar, bahwa untuk keluarga Kartawijaya, telah disiapkan lubang buaya yang akan digunakan bila PKI menang.

Suasana pembalasan dendam kesumat ini menjalar kemana-mana. Bukan saja diluar, tapi ia masuk ke sekolah-sekolah, misalnya SMA Negri I. Suasana demikian menjadi subur, karena sekolah-sekolah praktis macet, pelajaran tak berjalan sep[erti biasanya. Banyak siswa-siswa yang tak masuk sekolah, seperti Syom sahabat putra ke II Kartawijaya, karena ia harus banyak keliling turut membersihkan daerah Kediri dari unsur-unsur Komunis.

Putra II Kartawijaya banyak melihat bagaimana guru-guru SMA negri I dan anggota-anggota IPPI yang ditodong pisau oleh teman-temannya yang agama dan Nasionalis. Mereka diancam hendak dibunuh sembari ditodong pisau di leher mereka. Mereka menangis meminta ampun dan merasa menyesal atas perbuatan-perbuatan mereka selama di IPPI. Akhirnya semua rahasia (atau mungkin juga cerita palsu) keluar. Semuanya mencari selamat dengan mengorbankan orang lain. Mereka toch manusia juga, yang masih ingin menikmati hidup lebih lama.

Daerah Kediri tampaknya tak aman bagi orang-orang Komunis (anehnya, kecuali satu kasus mereka tak bergerak mengadakan perlawanan). Lalu kebanyakan dari mereka berusaha lari ke Surabaya atau mencari perlindungan di KODIM di kota Kediri. Tapi, dipenjarapun tidak aman, sebab terlalu banyak yang ingin mencari perlindungan dan penjara tidak sanggup menampungnya. Akhirnya, tentara sering mengangkut mereka dengan truk ke gunung Klotok (jalan menuju kesana harus melalui SMA Negri I) entah apa yang diperbuat oleh tentara terhadap mereka, tapi yang jelas pergi penuh muatan dan pulang kosong.

Selain dari pada itu, KODIM juga tak keberatan bila ada orang-orang
Nasionalis atau Agama datang kesana untuk meminta orang-orang komunis yang dibutuhkan. KODIM bersedia menyerahkan tawanan komunis, asal mereka-meraka yang membutuhkan membawa kendaraan (bukan sepeda motor tentunya).

Kegiatan belajar di SMA N I pun berjalan santai. Praktis seperti liburan
panjang, taoi berkumpul disekolah. Pernah seorang guru bertanya kepada
Syom, sahabat putra ke II Kartawijaya, pergi keman selama ini, dan tak
pernah kelihatan. Dan memang dia jarang muncul disekolah. Jawabnya: "turne pak". Dan orang oun mengerti, apa yang dimaksudkan dengan "turne". Selain "turu kono-turu kene" (tidur sana-tidur sini) ia juga berarti bertugas membersihkan orang-orang Komunis. Syom adalah salah satu orang algojo. Dan ketenaran seorang algojo diukur dari berapa banyak korban yang berhasil direnggut nyawanya.

Biasanya, orang-orang Komunis yang berhasil dikumpulkjan, diserahkan kepada seorang algojo. Agar ia mau mengirimkan nyawanya kedunia lain. Tidak semua orang dpat membunuh (meskipun tersapat beberapa pengecualian). Menurut beberapa pengakuan beberapa algojo (karena putra II Kartawijaya banyak bersahabat dengan mereka), membunuh tak gampang. Setelah mencabut nyawa korban pertama, biasanya badan panas dingin, tak bisa tidur. Tapi kalau sudah banyak nyawa yang dikirimkan kedunia lain, maka pembunuhan menjadi kebiasaan."Seperti memotong kambing", demikian pengakuan mereka. Dan memang, putra II Kartawijaya yang sering diam-diam keluar rumah., entah hendak turut menjaga markas PNI yang berkedudukan dirumah pak Salim yang sopir bis sekolah disekolah Ngadirejo atau hendak menyaksikan pengiriman
nyawa manusia. Itupun membuat susah tidur. Terbayang, bagaimana ratapan para korban yang minta diampuni, bunyi letupan darah yang keluar dari tubuh korban, atau semprotan darah segar bila kepala korban dipancung.

Semuanya cukup membuat bulu roma berdiri. Belum lagi jeritan kesakitan seorang GERWANI karena lubang kemaluannya ditusuk oleh bambu runcing.

Mayatpun banyak menggelepar mirip ayam sehabis dipancung kepalanya.
Meskipun cukup mengerikan kejadian-kejadian begini, tapi semua partisipan merasa bersyukur, karena telah diberi kesempatan buat dapat turut menumpas orang-orang kafir. Belum cerita yang dibawa oleh Muja sahabat Putra II Kartawijaya yamg turut membersihkan komunis di daerah Pare. Ia seorang Kristen. Katanya, korban-korban diangkut oleh truk, lalu diturunkan untuk dihadapkan ke lubang yang telah disediakan. Lalu kepala mereka dipancung dengan samurai bekas peninggalan serdadu Jepang dahulu. Bila misi selesai, maka lubang pun ditutup oleh tanah.

Di antara sekian banyak kejadian, tentu ada beberapa yang tetap merupakan kenangan"indah" pada diri putra II Kartawijaya. Misalnya, dalam pengepungan salah satu desa di sebelah timur pabrik gula oleh pemuda Ansor, maka ada beberapa rumah yang didatangi untuk dibersihkan dari unsur-unsur komunis.

Dalam sebuah rumah, kebetulan berdiam 2 orang anak yang menurut daftar aktifis pemuda rakyat. Ketika rumah tersebut diketuk yang keluar menyambut mereka adalah orang tua kedua pemuda yang dicaari. "Mana anak-anakmumu?".

"Kalau bisa, anak-anak saya jangan dibunuh", demikian permintaan mereka berdua. Dan sebagai gantinya mereka berdua bersedia untuk dibunuh. Tawaran mereka bukan saja diterima , malahan selain kedua orang tua tersebut, para pembersih juga membunuh anak-anak mereka.
Kemudian, meskipun Kartawijaya dimusuhi olleh PKI, tapi mereka pernah
menyuruh PutraII Kartawijaya untuk pergi kerumah pak Haryo, seorang Employe yang tinggal disebelah rumah dan aktifis SBG. Kartawijaya berpessan, agar pak Haryo dipanggil kerumah dan disuruh tidur disana dan disuruh membawa pakaian secukupnya. Tapi, ketika itu malam cukup larrut, sehingga ketukan putra II Kartawijaya tidak digubris oleh keluarga pak Haryo. Mungkin mereka takut, kalau-kalau malaikat pencabut nyawa datang kesana. Keesokan harinya, Kartawijaya daatang sendiri kesana untuk menjemput pak Haaryo.

Akhirnya ia dibawa ke Surabaya oleh Kartawijaya untuk disembunyikan disana. Tentu saja, menolong orang-orang PKI tida k sesuai dengan konsep putra II Kartawijaya. Lalu ia bertanya, " Kenapa justru bapak justru melindungi pak Haryo?". "Pak Haryo tak tahu apa-apa, dan kasihan karena anak-anaknya banyak".Kartawijaya selalu beruntung, karena ia selalu diberitahu "siapa-siapa" yang bakal dicabut nyawanya. Dan banyak orang-orang PKI yang pernah mencaci maki Kartawijaya datang ke rumahnya untuk meminta perlindungan . Dia pernah menyediakan ruangan khusus di ruang pertemuan buat orang-orang yang minta perlindungan untuk bermalam disana.

Selama pembersihan terhadap unsur-unsur komunis mesjid-mesjid jadi penuh dan ramai dikunjungi oleh orang - orang PKI. Sampai -sampai gedung buruh khusus dijadikan tempat sembahyang Jum'at. Dengan demikian , banyal orang menilai bahwa para PKI telah menjadi sadar. Dan harapan untuk selamat jadi besar. Dalam kesempatan sembahyang Jum'at, Kartawijaya pernah diminta untuk berpidato dihadapan orang-orang yang bersembahyang katanya, bahwa sembahyang bukan merupakan keharusan.Jangan dipaksakan yang mau sembahyang ya sembahyang lah yang tidak mau ya tak usah lah. Yang menarik adalah,
meskipun Kartawijaya berpidato demikian (bayangkan pada masa demikian, salah-salah bisa dituduh Komunis), dan meskipun dia banyak melindungi orang-orang PKI, tetapi ia tak pernah dituduh PKI atau terlibat G30S.

Malahan, dengan kemenangan golongan Nasionalis dan Agama atas golongan Komunis, Kartawijaya diangkat menjadi penasehat SARBUMUSI dan KBG seluruh Jawa Timur. Dan sahabat-sahabatnya terutama tokoh-tokoh Islam (sampai sekarang) banyak yang datang kerumahnya. Rupanya, karena di Ngadirejo sendiri ia bersahabat dengan Pak Maksum yang ketua SARBUMUSI pabrik gula Ngadirejo, maka pidatonya didepan sembahyang Jum'at tak menjadi persoalan.

Sembahyang boleh dan sembahyang jangan dipaksakan memang merupakan pendidikan "kebebasan individual" yang diajarkan oleh Kartawijaya kepada putra-putranya.
Putra I Kartawijaya yang tergabung dalam KAMI dan aktif bergerak di Bandung sering harus berbeda pendapat dengan putra II yang aktivis GSNI. Sebab, Bung Karno mulai dipertanyakan oleh KAMI. Bung Karno dituduh terlibat G30S karena ia melindungi PKI. Tapi PNI atau FM daerah Kediri tak pernah mempersoalkan Bung Karno. Yang jelas, PNI kediri tetap berdiri belakang Bung Karno dan anti Komunis. Persetan dengan PNI ASU atau PNI Osa/Usep.

Kalau perbedaan pendapat antara putra I dan putra II sedah masuk dalam rumah tangga Kartawijaya tak banyak turut campur. Ia tak pernah melarang putra-putranya buat memihak kemana. Pokoknya setiap orang harus tahu apa yang diperbuat. "sana, urus sendiri-sendiri". Salah satu kejadian yang tak pernah dilupakan oleh putra ke II Kartawijaya adalah: setelah unsur-unsur Komunis ditumpas habis di daerah Kediri, maka bila ia hendak berkibur ke rumah kakeknya di Bandung, ia harus naik kereta api dari Kertosono. Di stasiun K.A ini ditemui pemandangan yang cukup menyayat hati. Banyak anak-anak yang berumur sekitar 5 sampai 10 tahun berkeliaran disana minta belas kasihan dari penumpang K.A agar mereka memberi makan sekedarnya. Bila makanan dilemparkan dari jendela K.A, maka dibawah sana bertebaran anak-anak tsb memperebutkan makanan. Disitulah tak terdapat perbedaaan antaran anjing dan manusia. Pemandangan serupa ini tak ditemui sebelum G30S meletus.

Orang tahu, bahwa anak-anak yang berkeliaran tak menentu ini adalah
anak-anak orang Kominis. Orang tua sudah tidak ada, maka apalagi yang
mereka harapkan ?

Tapi, meskipun banyak peristiwa yang mengetuk hati, putra Kartawijaya
merasa bersyukur, bahwa sekalah-sekolah milik orang Cina diambil alih oleh elemen-elemen non Komunis. Bukan kah mereka berhubungan terlalu rapat dengan RRC?.

ORDE BARU MEMAKAN SEKUTUNYA:

Selang setelah kejadian G30S, ketika unsur-unsur Komunis dibersihkan dari daerah Kediri angin Orde Baru teras bertiup disana dengan masuknya pasukan RPKAD. Mereka masuk secara diam-diam dan kabarnya mereka menginap di SEMEA Kediri. Dengan masuknya RPKAD disana, ternyata yang dicari bukan lagi unsur-unsur Komunis, melainkan PNI/FM.

Suatu ketika, pada kesempatan rapat raksasa, yang diselenggarakan oleh
unsur-unsur Nasionalis dan Agama di stadion sepek bola Kediri, putra II
Kartawijaya sempat turut menghadiri. Ia turut berbaris didalam barisan
GSNI. Sesampai disana, kontan saja barisan PNI dengan Ormas-orasnya
disambut dengan teriakan-teriakan "Ganyang PNI ASU", "hancurkan sisa –sisa Orde Baru", (Sampai detik itu, PNI daerah Kediri masih mengakui Ali Surahman sebagi ketua dan sekretaris PNI, karena belum ada keputusan siapa yang menjadi ketua PNI seluruh Indonesia, tapi PNI daerah Kediri tetap anti Komunis). Mendengar teriakan-teriakan tersebut, apalagi suasana begitu panas, maka putra II Kartawijaya pilang ketekutan. "Aneh, pikirnya, dulu sama-sama teman seperjuangan, kok sekarang jadi musuh?"

Proses penghancuran PNI, Sukarnoisme bersamaan dengan terbentuknya
KAMI?KAPPI. Jika dulu SMA Negri 1 siswa-siswa yang dituduh "jabangnya PKI diburuh oleh siswa-siswa kelompok Agama dan Nasionalis, maka sekarang posisi para siswa kelompok Nasionalis jadi terbalik. Sekara mereka diburu oleh para siswa kelompok Agama yang trgabung dalam KAPPI. Dan para siswa kelompok Nasionalis dituduh sebagai unsur-unsur Orde Lama.

Pada masa inilah putra II Kartawijaya banyak melihat, bagaimana fitnah
mulai berlangsung. Siapa yang dapat bertahan, biar prisip mengatakan bahwa Marhaen akan tetap menang, tapi dilain pihak Orde Baru siap merenggut nyawa? Arus perubahan ideologi sangat cepat mengalir. Tergantung pada kekuatan belaka.

Putra II Kartawijaya pun melihat, bagaiman RPKAD turut terlibat
menghancurkan gedung PNI Pusat dijalan Daha Kediri. Lalu, jendela kaca
sudah hancur dan trpaksa diganti oleh papan-papan kayau maka jendela-jendela tersebut dijadikan latihan bermain pisau. Bukan kah RPKAD terkenal sebagai pasukan istimewa yang mahir bermain pisau?

Dalam keadaan yang genting begini bagi golongan Nasiomalis, tapi untung KKO/Angkatan Laut berada dipihak mereka. Sehingga sepak terjang RPKAD dapat tertahan. Meskipun kedudukan putra II KArtawijaya tak gampang, karena ia anggota GSMI, tapi karana dan ini yang penting kedudukan ayahnya tetap stabil. Sebab ia termasuk orang yang berjasa turut menghancurkan PKI di daerah Kediri. Apalagi sahabat-sahabatnya banyak berasal dari golongan Agama (NU). Jadi elemen-elemen Orde Baru Juga. Hubungan ini ternyata banyak membantu, ketika putra II Kartawijaya harus mendekam di Penjara.

Kejadiannya begini: Sekitar tahun 1967, di Kediri diselenggarakan pawai.
SMA Negri I mengirimkan satu barisan yang berpakaian beraneka ragam. Ada yang berbusana sarung, Celana tambal sulam dsb. Hanya, salah satu peserta berpakaian haji. Dan selama pawai, dia menghitung uang. Rupanya, dia hendak menyindir kebiasaan para haji yang suka menghitung kekayaan. Akhirnya ia diculik oleh pemuda Ansor ketika barisan ini berada di jalan Daha. Seusai pawai, baru diketahui bahwa peserta ini tak muncul dan karena putra II Kartawijaya pemimpin pawai SMA N I, maka ia harus bertanggung jawab perbuatan sang peserta yang berpakaian haji tsb kar4na itu ia dipanggil oleh KODIM.

Sesampai disana, maslahnya bukan masalah kenapa yelah dibiarkan ada peserta yang berpakaian haji sambil menghitung uang, tapi merembet ke masalah ORLA dan ORBA. "Saudara aktif di organisasi apa?", "Bagaimana pendapat saudara tentang ORLA dan ORBA" dsb. Interogasinya cukup lama : dari sore sampai tengah malam.

Setelah itu, ia dimasukkan ke dalam sel digedung bekas sekolah Cina.
Di gedung juga banyak sisa sisa ORLA yang harus meringkuk disana. Di dalam sel tsb, ia bertemu kembali dengan sang peserta pawai yang berpakaian haji tadi. Dia menyumpaj-nyumpah. "sialan benar. Wong sama-sama KAPPI nya kok diculik? Kok dimasukkan penjara?". Mereka berdua menghabiskan waktunya didalam sel. Kadang-kadang boleh keluar kalau terpaksa harus ke WC. Mereka berdua sama-sama bingung, kenapa merka harus nongkrong didalam penjara. Dan orang Komunis juga bukan yang satu dituduh telah menghina agama Islam, karena berpakaian haji sambil menghitung uang. Padahal, begitu tuturnya, yang hendak disindir adalah prilaku kebanyakan Haji. Kemudian, dia sekeluarga orang Islam yang lebih dekat ke Masyumi daripada ke NU.

Kakak-kakaknya tergabung dalam barisan HMI. Putra II Kartawijaya sendiri tak mengerti, kenapa dia harus dimasukkan ke dalam sel. Kok persoalannya merembet keaktivitasnya di GSNI? Bagaimana dia dapat mengerti dengan perubahan jaman yang begitu cepat? Dari kegembiraan karena telah turut menghancurkan PKI, lalu menjadi kebingungan karena sekarang dia digilas oleh ORBA. Tapi untungnya, dia tak lama mendekam disana. Sebab relasi keluarganya cukup kuat.

Pada tahun 1967, Kartawijaya dipindahkan ke Semarang untuk memangku jabatan inspektur pabrik gula disana. Dan pada tahun berikutnya, ia dipindahkan ke Surabaya untuk menjabat direktur utama pabrik gula daerah Situbondo.
Sekitar 5 pabrik gula harus dia bawahi. Jabatan semakin tinggi, sejarah masa lalu dengan PKI sedikit demi sedikit mulai menguap dan pedagang-pedagang Cina semakin banyak yang datang. Karena jabatannya praktis lebih tinggi dibanding direktur pabrik gula, maka hadiah-hadiah yang dibawa para pedagnag China pun tak kepala tanggung.
Mercedes 280, FIAT 125, beberapa sepeda motor (Sampai-sampai tak bisa dipakai semua, maka sepeda motor tsb harus dipak dalam karton untuk disimpan digudang sebagai persediaan), lemari Es, AC, Sterio dlsb.

Para pedagang Cina bukan kaliber kota kecil, tapi kaliber kota besar. Mereka tetap "baik" seperti ketika di Kediri. Tapi, "kebaikan" mereka harus menghadapi ujian. Sebab, pada tahun 1970 Kartawijaya harus menyisihkan jabatannya karena seorang Brigjen Tentara mau duduk di jabatan tsb. Alasan pergeseran pun ber-macam-macam, misalnya korupsi, manipulasi. Dan kasus ini pernah dimuat di majalah sketmasa ( nama majalah tak ingat benar). Kartawijaya berniat untuk mengajukan ke depan pengadilan, karena namanya merasa dirugikan. Akhirnya, ia harus membatalkan niatnya, karena oleh pengacaranya disarankan tak menuntut ke pengadilan.

Katanya, pergeseran ini bersifat politis. Jadi tidak dapat diganggu gugat.
Nanti yang celaka malahan keluarga. Alasan politis? Komunis bukan. Yach, siapa yang berani melawan "pahlawan-pahlawan" Orde Baru seperti tentara? Meskipun begitu, setahun setelah mengenggur, ia boleh memangku jabatan lagi. Mula-mula di Solo, kemudian di Surabaya. Ini semua berkat relasi keluarga. Yang menarik adalah selama masa menganggur 1 tahun, kemana para pedagang Cina yang suka memberi
hadiah menghilang tanpa bekas. Rupanya mereka telah mendapat tuan baru.

Sejak tahun 1969 putra II Kartawijaya mulai duduk dibangku kuliah ITB.
Setahun kemudian, meletus peristiwa RENECONRAD, yaitu seorang mahasiswa ITB yang mati ditembak oleh BRIMOB. Kabarnya koma sih penmbak adalah seorang siswa AKABRI kepolisian dan anaknya seorang Jendral. Cuma yang harus menerima beban adalah anggota korps BRIMOB yang berpangkat rendah. Akhirnya dia musti dipecat, dan mahasiswa Bandung mengumpulkan dana untuk menolong keluarga prajurit yang berpangkat rendah tersebut. Peristiwa ini memberi pelajaran betapa gampangnya pihak tentara menggunakan senjata api. Tapi
pada sa'at itu juga, mereka tak sanggup melawan massa yang begitu banyak, biar panser mereka beertebaran dijalan.

DI JERMAN BARAT: PENGALAMAN BARU

Bekal yang dibawa oleh putra II Kartawijaya cukup banyak. Pengalaman
sekeluarga menghadapi PKI, lalu kasus Orde Baru menggerogoti keluarga
karena mungkin Kartawijaya "cuma" orang sipil saja. Tapi, dari dua jaman, baik ORBA maupun ORLA ada pelajran yang menarik: meskipun Kaetawijaya tidak pernah giat dn ikut partai politik, tapi karena jabatannya sebagai direktur pabrik pabrik gula, maka ia harus dilalap oleh PKI. Kartawijaya termasuk type keluarga yang maunya hidup tenang, tak ikut-ikutan, asal kerja buat anak istrinya.

Pada jaman ORBA, karena pengaman pos-pos penting dan pembagian rejeki oleh dan diantara tentara-tentara (kalau bukan begitu, maka jamannya juga bukan Orde Baru), maka ia tergilas dalam kebijaksanaan Orde Baru. Oleh karena itu, tak usah heran bila keluarga Kartawijaya sering tidak mengerti dengan cepatnya perubahan jaman. Ter lebih-lebih istri Kartawijaya yang akhirnya mencari perlindungan dari Tuhan: semakin susah jamannya, semakin banyak sembahyang nya. Karena hukum yang dibuat oleh manusia ternyata hanya melindungi yang punya kekuasaan belaka. Pengalaman-pengalaman masa lalu dibawa ke Jerman Barat. Pergaulan dengan orang-orang Jerman banyak membuka matanya.

Satu hal yang menarik: orang-orang Jerman teman bergaulnya tak dapat menerima sesuatu alasan hanya kareana misalnya "Konmunis jelek", "Liberal jelek", "Orang yang tak bertuhan jelek", "Kiri jelek" dsb tanpa
alasan. Dan memang putra II Kartawijaya terlalu banyak mendengar dn
mengalami masa pahit selama PKI Jaya. Tapi dari pengalaman tsb ia banyak belajar, bahwa ternyata banyak yang harus dibunuh, karena tidak tehuan mereka. Dan dia turut terlibat menghancurkan PKI karena ketidak tahuan belaka/ cuma alasan emosional, karena sang ayah di retool oleh PKI, lalu dia berusaha membela.

Lalu kenapa banyak orang PKI harus mati, padahal sebelum mereka dibunuh menangis meminta ampun dan kebanyakan dari mereka orang-orang biasa saja. Tak tahu menahu. Apa Komunisme pun tak tahu. Coba bayangkan, kebanyakan golongan Agama da Nasionalis bernggapan, orang-orang Komunis tak bertuhan.

Pernah seorang tukang tambal ban sepeda diajak ngobrol oleh putra II
Kartawijaya tentang asalah ini. Dia cuma bilang, "ach den, itu tidak benar. Orang-orang Komunis juga, yang mau sembahyang ya sembahyang. Yang tidak ya tidak. Teserah saja". "Yach, Komunis macam apa?", pikir putra II Kartawijaya.

Lalu, kenapa siswa-siswa yang tergabung dalam IPPI (bayangkan, masih kelas 1 SMA) pun harus membayar dengan nyawa mereka. Taunya apa? Sedangkan pentolan-pentolan PKI nya seperti ketua SBG Ngadirejo sempat selamat.
Karena kesempatan buat mempelajari semua ideologi demikian bebas di Jerman Barat, maka ia juga membuka pemikiran-pemikiran baru. Kalau orang belajar sosiologi disini harus membaca teori-teorinya KARLMARX lalu setuju, maka kenapa harus salah? Terpengaruh ? Lalu siapa yang salah? Yang mempengaruhi atau uang dipengaruhi? Kenapa universitasnya saja yang tidak dihancurkan, agar teori-teori itu tidak "merusak" pikiran orang Indonesia?

Lalu kalau bertahun-tahun bekerja dikantoe\rnya orang-orang Jerman yang kiri dan di sana tak dikenal istilah bos atau bawahan, kemudian dianggap baik oleh putra II Kartawijaya, kenapa tidak boleh? Semuanya kahn Cuma persoalan pendapat belaka. Diterima atau tidak. Kalu tidak diterima Yan syukur, diterima yach syukur juga. Tapi kenapa harus dilarang, dituduh?

Kenapa orang harus dibunuh karena ia mengnut suatu IDE? Toch waktu itu PKI tidak dilarang. Kalau tak dilarang kan orang juga boleh masuk PKI? Itu kan urusan mereka sendiri. Mungkin menurut mereka baik. Ya urusan pencernaan IDE oleh otak mereka. Kalau anggota PKI banyak, itu cuma membuktikan kepopulersn mereka saja. Mungkin mereka pandai jual obat.

Dilain pihak, kalau DI memberontak kenapa orang-orang Islam tidak dibunuh semua? Lalu kenapa PNI digencet, meskipun mereaka telah turut menghancurkan PKI di daerah Kediri? Lalu, kalu pimpinan AD memberontak, seperti pada masa-masa silam, kenapa AD tidak dibubarkan saja kemudian, kalau PKI dianggap berontak, kenapa Bung Karno harus turun dari Jabatan? Kenapa dia tidak diadili?

Yang jelas, persoalan ORLA dan ORBA (kenapa dia demikian gampang memakan anaknya sendiri) adalah persoalan sistim. Begiru kesimpulan yang didapat oleh putra II Kartawijaya ini. Dan siapakah dimaksud dengan putra II Kartawijaya ini? Dia adalah saya sendiri, PIPIT ROCHIJAT KARTAWIJAYA.

PKI DAN BUKAN PKI TIDAK PENTING:

Dengan sedikit latar belakang kehidupan tersebut (komplitnya sedang
dibuat), maka akan saya jawab pertanyaan apakah saya PKI atau bukan.
Pertanyaan demikian, secara prinsip al tak akan saya jawab. Sebab
pertanyaan serupa itu sama dengan pertanyaan: kamu Cina ya? Kamu blasteran Cina ya? Kamu Arap ya? Dlsb. Kalau kamu PKI, maka pendpat mu tak benar.

Kalau kamu Cina (apalagi) maka pendapat mu/niatmu juga tidak benar.
Pertanyaan serupa ini hanya hendak menunjukkan saja bahwa yang dipentingkan bukan lah pendapat, tapi warnanya belaka.

Terlepas Komunis atau tidak, Mao dapat memberi makan rakyat RRC yang demikian banyaknya. Terlepas Islam atau tidak, Gaddafi dapat menciptakan masyarakat yang boleh dicontoh. Dan buat apa kita mengaku punya Pancasila, tapi rakyat hidup setengah mati disatu pihak, dan penguasa ber foya-foya di lain pihak. Seperti juga kata ayah saya, "mau jadi Komunispun boleh (meskipun ia tidak suka ide ini), asal punya prinsip maka begitu juga saya.

Mau dikatakan apapun boleh, terserah penilaian situ. Dan saya saya tak
melarang penilaian demikian. Situ mau berbuat apa yang dianggap benar, ya terserah situ. Mau bermental seperti pedagang Cina ketiak ayah saya
menjabat, juga boleh (kalau butuh muka distel manis). Mau berbaik sama
orang Komunis karena dapat fasilitas hidup, tapi se olah-olah lupa kalau
suasananya sedang mentertawakan "antek-antek" PKI, juga boleh. Mau
berteriak paling "revolusioner" karena banyak dapat teman disana, tapi lalu terpaksa perseneling dipasang mundur, gara-gara urusan hidup, depan orang kiri mengaku kiri, didepan penguasa mengaku paling setia, juga boleh.

Oleh karena itu, hai "kawan-kawan" ku (hati-hati memakai istilah "KAWAN", sebab setahu saya yang memakai istilah begini cuma Aidit, raja Komunis Indonesia dulu. Bisa-bisa kamu dituduh komunis juga), jangan bertanya terus, saya ini apa. Sebab, saya juga tidak pernah peduli dari mana kamu berasal dan apa warna kamu. "Sana, urus sendiri-sendiri pokoknya punya prinsip saja".

Sebagai penutup. Sebenarnya saya berkhayal demikian: Alangkah baiknya bila Komunis dihancurkan secara total, sehingga dunia ini bersih dari komunisme.
Maka pertanyaan PKI dan bukan PKI tak mungkin ada. Setelah dunia bersih, lalu Islam Ekstrim juga dibabat. Dan pertanyaan Islam Ekstrim dan bukan Islam Ekstrim tidak akan muncul. Kalau perlu Islam yang tidak Ekstrim.

Setelah itu Cina juga dihabisi sampai ke jabang-jabangnya. Lalu, pertanyaan Cina dan bukan Cina juga tak ada. Pokoknya apa-apa yang dianggap kotor dibersihkan. Bila dunia ini sudah bersih, akhirnya yang tinggal cuma satu pertanyaan saja. Yaitu:" You saudaranya pak Harto bukan?. Nah, apa yang akan trjadi?

Berlin Barat Februari 1984.

Pipit Rochijat

Sumber : Majalah gotong royong, perhimpunan pelajar Indonesia - Berlin
(April 1984)


0 komentar:

Posting Komentar